SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)

SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)
26


__ADS_3

Malam ini Roy bersenang senang dengan banyak wanita. Dengan uang satu milyar yang diberikan oleh Aiden bisa membuat Roy membeli banyak wanita di club itu.


Roy menatap tiga gadis seksi yang kini berada di kamar yang Ia sewa untuk menikmati para gadis muda yang cantik.


"Kau membuang sampah dan kini kau mendapatkan berlian." gumam Roy tersenyum girang lalu memasuki kamar itu dan langsung disambut oleh para wanitanya.


"Tuan, bisakah kita mulai pesta sekarang? aku sudah tidak tahan lagi." kata salah seorang wanita menghampiri Roy.


"Tentu saja sayang, aku juga tak sabar ingin menikmati kalian satu persatu."


"Tuan, minumlah lebih dulu agar lebih santai." Salah seorang wanita mengulurkan satu gelas minuman beralkohol yang langsung di teguk habis oleh Rey.


"Minuman nya sangat manis, semanis aku saat melihatmu." Rayu Roy membuat wanita itu tersenyum.


Roy duduk di tengah gadis seksi, tangan nya tak bisa diam mengerayangi ketiga gadis seksi itu bergantian, namun saat akan membawa salah satu gadis ke ranjang, seseorang dari luar mengetuk pintu cukup keras dan semakin lama bertambah keras hingga pintu di dobrak.


"SIAPA KALIAN?" Roy tampak marah melihat beberapa pria memasuki kamar.


"Kami polisi," salah satu pria yang masuk itu memperlihatkan id card nya.


"Kami ingin memeriksa apakah anda membawa narkoba atau tidak."


Roy tersenyum sinis, "Silahkan saja. kau tidak akan menemukan apapun."


Para polisi itu mengeledah kamar, memang tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.


"Bisakah kami memeriksa Anda?" tanya salah satu polisi pada Roy.


"Tentu saja, periksa aku dan segera pergi." kata Roy merentangkan tangan nya.


Polisi segera memeriksa tubuh Roy, tepat saat di celana yang dipakai Roy, polisi merogoh kantongnya lalu menemukan sesuatu yang membuat Roy terkejut.


"Milik siapa?"


"Bukan milik ku, aku tidak tahu itu milik siapa!" lawan Roy yang memang tidak pernah membawa apalagi memakai barang haram sejenis narkoba itu.


Salah satu polisi langsung mencekal Roy, "Katakan nanti di kantor polisi."


"Lepas, aku tidak pernah menggunakan barang haram itu!"


"Katakan nanti di kantor polisi!"


Para polisi menyeret Roy keluar meskipun Roy berteriak tidak terima dengan penangkapan ini.


Salah satu gadis yang masih berada disana tampak menghubungi seseorang melalui ponselnya,


"Semua nya beres Tuan." ucap gadis itu tersenyum lalu mengakhiri panggilan nya.


"Ada apa Tuan? kenapa Tuan tersenyum?" tanya Raka saat baru memasuki ruangan Aiden dan melihat Aiden tersenyum.

__ADS_1


"Satu masalah sudah selesai membuatku bisa tersenyum."


"Masalah yang mana Tuan?"


"Roy." balas Aiden sambil menatap Raka membuat Raka tersenyum mengerti apa yang dilakukan Aiden saat membereskan orang seperti Roy.


"Jadi apa yang kau dapatkan hari ini?" tanya Aiden pada Raka.


"Saya mendapatkan bukti baru siapa saja yang menjadi mata mata Hutama."


"Siapa yang kau curigai?"


"Para penjaga pintu masuk. mereka membiarkan masuk Hutama dan sepertinya membantu melakukan aksi pembunuhan."


Aiden mengangguk paham, "Berarti ada banyak orang yang tidak bisa dipercaya disini." gumam Aiden.


"Dan untuk hasil autopsi, tidak ada tanda kekerasan pada tubuh Friska, saya merasa Friska di ancam hingga akhirnya Ia memilih bunuh diri." jelas Raka.


"Pria tua bangka itu pasti bermain bersih, dia tidak ingin meninggalkan jejak apapun." sahut Aiden.


"Tuan, ada yang ingin saya tanyakan pada Tuan."


"Katakan saja!"


"Sewaktu saya cuti, apa Tuan mengirim seseorang untuk mengikuti saya?"


Aiden mengangguk, "Waktu itu aku memang mencurigaimu."


Aiden terkejut, "Kau mengenalnya? mustahil. bahkan kau belum pernah bertemu dengan nya."


"Bukankah pria yang mengikuti ku Rendi, yang biasa Tuan pakai untuk menyelidiki orang?" tanya Raka merasa aneh.


"Tidak, aku sudah tidak menggunakan nya lagi. ada orang baru yang memang mengikutimu dan itu bukan Rendi, kau belum mengenalnya."


Raka diam, Ia benar benar melihat dengan jelas waktu itu memang Rendi yang mengikuti saat dirinya bersama Friska.


"Jadi kau di ikuti Rendi?"


Raka mengangguk,


"Sudah ku duga, dia memang anjing liar milik Hutama."


Raka terkejut, menatap Aiden masih tak mengerti.


"Ingatkah kau saat kita menangani banyak kasus dan meminta Randi mengikuti orang, pasti saat itu pula Hutama bisa tahu segala sesuatu yang ku lakukan. aku sangat mencurigai Rendi waktu itu dan aku memilih tidak menggunakan jasa nya lagi dan ternyata dugaan ku benar. memang dia anjing liar milik Hutama." jelas Aiden yang akhirnya membuat Raka paham.


"Jadi sekarang Hutama sudah mengetahui hubungan saya dengan Friska?"


Aiden mengangguk, "Mungkin itu alasan Hutama menghabisi Friska karena merasa Friska akan menghalangi setiap jalan Hutama."

__ADS_1


Raka menghela nafas panjang, "Jika saja malam itu saya menemani Friska mungkin semua ini tidak akan terjadi."


Aiden berdiri dan berjalan mendekati Raka, Ia menepuk bahu Raka, "Jangan menyalahkan diri, apapun yang terjadi sudah menjadi takdir Friska, sekarang kita hanya perlu menguatkan bukti dan mendapatkan keadilan untuk Friska."


Raka mengangguk setuju,


"Lalu dimana kamu membawa adik Friska?"


"Saya membawanya ke asrama, dia bisa belajar dengan baik disana."


Aiden mengangguk, "Itu lebih baik dari pada harus menjadi tawanan Hutama."


Raka tersenyum, "Lalu apa Tuan akan memberikan hukuman yang sama pada Ayah Friska?"


"Jika masalah itu, aku serahkan semua padamu. lakukan apa yang ingin kau lakukan pada Ayah Friska."


Ucapan Aiden membuat Raka tersenyum girang karena Ia sudah mempunyai rencana untuk melampiaskan kekesalan nya pada Ayah Friska.


"Tuan tidak pulang lagi? bukankah kita sudah dua hari berada disini?" tanya Raka.


"Masih ada banyak urusan yang harus ku selesaikan di sini."


"Tuan tidak merindukan nona Lara?"


Lara? tentu saja Aiden merindukan gadis itu. namun Aiden tidak ingin fokusnya terbagi jika sudah berada di villa rasanya Ia malas untuk pergi ke club. Aiden ingin menyelesaikan kasus Friska lebih dulu.


"Pulanglah Tuan, jangan menahan diri." kata Raka.


"Baiklah jika kau memaksa, kita pulang sekarang." ajak Aiden membuat Raka tersenyum geli.


Sementara itu, di kantor polisi, Roy masih tak terima dengan apa yang di tuduhkan padanya.


"Ambil sampel urin mu dan kita akan memeriksanya, jika benar kau tidak menggunakan barang itu dan hanya dijebak, aku akan membebaskan mu." kata polisi itu memberikan tub kecil pada Roy.


Dengan penuh percaya diri, Roy pergi ke kamar mandi dan memberikan sampel urin nya.


"Jika sampai hasilnya negativ, kalian akan malu karena menangkap orang yang salah." ucap Roy.


Setelah beberapa jam menunggu, polisi kembali datang dan meleparkan kaos berwarna orange pada Roy.


"Pakai seragam baru mu dan nikmatilah hari harimu disini."


"Apa maksud mu?"


"Hasilnya positif, tentu saja kami akan menahan mu."


Roy terkejut, "Tidak, tidak mungkin!"


BERSAMBUNG....

__ADS_1


jangan lupa like vote dan komenn


__ADS_2