
Setelah berbicara dengan Lara, Hutama berlari memasuki rumah karena Ia ingin segera memberitahu Reni.
"Hey pak Tua, jalan lah pelan pelan nanti kau jatuh!" teriak Aiden saat melihat Hutama berlari.
"Tutup mulutmu, aku sedang senang saat ini." kata Hutama berhenti sejenak membalas ucapan Aiden.
"Kau senang karena berhasil mengelabui istriku dengan tangisanmu? dasar licik!" umpat Aiden.
Hutama tertawa, "Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan semua yang ku inginkan." kata Hutama langsung meninggalkan Aiden.
Hutama mencari Rena keseluruh ruangan yang ada di Villa namun tak berhasil menemukan keberadaan Rena dan yang terakhir adalah kamar Nana.
Hutama hendak mengentuk pintu namun pintu sudah lebih dulu terbuka.
"Aku mencarimu kemanapun." kata Hutama saat melihat Rena yang membuka pintu. ternyata Rena berada dikamar Nana.
"Ada apa? kenapa matamu merah seperti habis menangis?" tanya Rena penasaran dengan apa yang terjadi pada Hutama.
"Ada hal penting yang ingin ku katakan padamu."
"Hal penting apa?"
"Jangan disini, ayo cari tempat lain."
Rena menurut, Ia mengikuti Hutama keluar dari Villa. mereka berbicara didalam mobil Hutama.
"Apa yang ingin dibicarakan sampai membawaku kesini?" tanya Rena terlihat sangat penasaran.
"Kita bisa segera menikah." kata Hutama.
"Apa maksudmu? aku belum mengatakan set-"
"Lara sudah merestui hubungan kita, aku pikir cukup agar kita bisa segera menikah."
"Ta tapi bagaimana dengan Roy?"
Hutama mendengus sebal karena Rena masih saja memikirkan pria lain saat bersamanya.
"Jangan salah paham, jika di ingat aku ini masih istrinya Roy." jelas Rena tak ingin Hutama marah.
"Jangan pikirkan tentang itu, aku yang akan mengurusnya. bersiapkan kita akan segera menikah." kata Hutama terdengar sudah sangat yakin.
"Entah kenapa rasanya terdengar aneh untuk ku."
"Ck, lalu apa kau ingin kembali pada Roy?"
"Bukan, tidak seperti itu. aku hanya berpikir kita terlalu tua untuk memikirkan tentang menikah." ungkap Rena.
"Jangan berkata seperti itu, bahkan masih banyak yang lebih tua dari kita dan mereka tetap menikah."
Rena tersenyum, "Baiklah, aku juga tidak akan bisa menolak bukan?"
__ADS_1
Hutama tersenyum, "Tentu saja karena kau milik ku sampai kapanpun."
Keduanya keluar dari mobil dan kembali ke villa.
Hari sudah malam, semua orang yang berada di villa baru saja selesai makan malam termasuk Raka yang sudah kembali ke Villa. Mata Raka tak henti hentinya menatap tajam Hutama yang sama sekali tidak memandang keberadaannya. Hutama sibuk bercanda ria dengan Rena juga Lara, sesekali Aiden ikut menyahuti yang entah mengapa membuat Raka sangat kesal.
"Apa kau tidak pulang?" tanya Aiden pada Hutama selesai makan malam.
"Kau mengusirku?"
"Tentu saja. kamar sudah penuh. jika kau mau tidur di sofa silahkan saja." kata Aiden dengan santai lalu meninggalkan Hutama begitu saja.
"Ck, sial. setidaknya aku bisa tidur dikamar Rena, dasar mantu menyebalkan!" umpat Hutama akhirnya keluar dari Villa Aiden.
"Aku ada tugas penting untukmu." kata Hutama saat memasuki mobil dimana sudah ada Vans disana.
"Apa yang bisa saya kerjakan Tuan?"
"Urus pernikahanku dengan Rena, aku ingin segera menikah dengannya." perintah Hutama terdengar bucin membuat Vans menahan tawa.
"Apa yang kau tertawakan?" kesal Hutama.
"Tidak Tuan, tidak ada. saya akan mengurus pernikahan secepat mungkin."
"Kau sudah mengurus akta cerai Rena dan Roy jadi seharusnya tidak membutuhkan waktu lama untuk mengurus pernikahanku."
Vans mengangguk, "Tentu saja Tuan, saya pastikan dua hari lagi Tuan sudah menikah."
"Bagus, aku sudah sangat tak sabar." gumam Hutama tersenyum membayangkan jika Ia bisa memiliki Rena seutuhnya.
Aiden memasuki kamar, Ia lihat istrinya belum tidur. hanya berbaring dan terdiam melamunkan sesuatu.
"Apa terjadi sesuatu sayang?" tanya Aiden yang kini sudah berbaring disamping istrinya.
"Aku bingung memikirkan tentang Ibu dan Pria itu."
"Apa yang kau maksud pria itu adalah Ayahmu?"
"Ck, jangan diperjelas." protes Lara mendengus sebal.
"Aku tidak memperjelas, aku hanya bertanya saja." kata Aiden tak mau kalah.
"Ya, pria yang ku maksud adalah Ayahku. puas!"
Aiden tertawa, "Apa yang kau pikirkan sayang?"
"Mereka akan segera menikah. aku bingung harus bagaimana." ungkap Lara.
"Apa kau ingin mereka menikah?"
"Aku tidak tahu, rasanya aku masih kesal dengan pria itu tapi melihat Ibu sangat mencintainya, aku tidak sanggup jadi penghalang cinta keduanya."
__ADS_1
"Restui saja mereka, biarkan mereka bahagia." saran Aiden.
"Tapi aku takut dia menyakiti Ibu lagi."
Aiden mengenggam tangan Lara, "Percayalah, dia tidak akan mengulangi kebodohan untuk yang kedua kalinya."
Lara terdiam memikirkan ucapan Aiden yang memang ada benarnya.
"Ya sudah, aku akan mencoba menerima semuanya."
Aiden tersenyum dan langsung memeluk Lara.
Pagi ini, Rena dan Nana di sibukan memasak bersama didapur. Sudah bertahun tahun lamanya akhirnya mereka bisa kembali bersama.
"Kau membuat sarapan banyak sekali." kata Rena saat Nana menyiapkan banyak mangkuk dan mengisinya dengan bubur ayam buatannya.
"Tentu saja, sebentar lagi pasti ada yang datang menumpang sarapan."
"Siapa?" tanya Rena penasaran dengan orang yang dimaksud Nana.
"Siapa lagi jika bukan kekasihmu itu!"
Rena tersenyum, "Hutama yang kau maksud?"
"Aku masih kesal dengan pria itu!"
"Sudahlah, semua sudah berlalu sekarang waktunya membuka lembaran baru, menjadi seseorang yang lebih baik."
"Apa kau yakin dia tidak akan menyakitimu lagi" tanya Nana tampak khawatir.
"Tidak, tidak akan jadi jangan khawatir lagi."
Nana menatap Rena sebal, "Baiklah, kau memang selalu membelanya!"
Rena tertawa kecil, "Sebentar lagi mungkin aku akan menikah dengannya."
Nana terkejut, sangat terkejut, "Apa kau gila? menikah dengan pria yang sudah memisahkan mu dan putrimu selama bertahun tahun?"
"Na, semua sudah berakhir. tidak bisakah kau melupakan semua kesalahannya?"
"Entah kau bodoh atau terlalu baik, tetapi tidak seharusnya kau memaafkannya begitu mudah."
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Rena tampak bingung melihat semua orang tidak menyukai Hutama.
"Tentu saja kau akan tetap menikah denganku." suara Hutama terdengar membuat Rena dan Nana berbalik, melihat Hutama sudah berada dibelakangnya.
"Ck, sudah ku duga kau pasti akan datang kesini lagi." kata Nana menatap Hutama kesal.
"Calon istriku berada disini tentu saja aku datang kesini dan ingat jangan coba coba meracuni calon istriku dengan ucapan sampahmu itu." protes Hutama yang sempat mendengar pembicaraan Rena dan Nana.
"Aku tidak mengucapkan kata sampah, memang itu kenyataanya. kau hanya akan menyakiti Rena nantinya."
__ADS_1
Hutama tersenyum, "Semua orang bisa berubah dan hanya Rena yang mampu mengubahku menjadi seseorang yang lebih baik, jadi jangan berniat untuk memisahkan kami karena kami tidak akan terpisahkan. bukan begitu sayang?" Hutama menatap Rena dengan tatapan mengoda.
"Dasar pria tua lupa umur!" umpat Nana kesal dan pergi meninggalkan Rena dan Hutama.