
Lara merasa takut, bingung dan pusing. Pikiran nya melayang kembali mengingat saat pertama kali Ia dibawa paksa oleh para anak buah Aiden sewaktu Ia di jual oleh Ayahnya.
Disampingnya ada Nathan yang tak kalah ketakutan membuat Lara merasa bersalah sudah membuat Nathan masuk ke dalam masalahnya.
Mobil mereka berhenti di Villa dan para pria kekar itu memaksa Nathan dan Lara masuk ke Villa dimana sudah ada banyak orang disana menunggu mereka.
Aiden, Raka, Mbok Nah juga para maid yang menatap ke arah dirinya dan Nathan dengan tatapan yang tak bisa dibaca.
Tubuh Nathan di banting hingga membuatnya jatuh tersungkur di lantai,
"Jangan lakukan itu padanya!" protes Lara tak terima dengan perlakuan anak buah Aiden pada Nathan.
Aiden memandang tajam ke arah Lara membuat Lara menunduk takut,
"Apa yang kalian lakukan di luar?" tanya Raka.
Lara dan Nathan diam, tidak berani menjawab.
"JAWAB!" suara keras Aiden mengelegar, Aiden terdengar sangat marah.
"Saya saya mengajak Nona kabur." jawab Nathan yang membuat semua orang terkejut tak terkecuali Lara.
"Tidak, bukan seperti itu. Aku yang meminta tolong padanya untuk membantu ku kabur, aku yang meminta tolong. percaya padaku." kata Lara membela Nathan.
Dorr... suara tembakan mengema, Aiden sangat cepat mengeluarkan pistol lalu menembakkan perut Nathan membuat Nathan tersungkur dan keluar banyak darah.
Lara menatap Nathan, bibirnya terasa berat untuk mengatakan sesuatu, Ia hanya bisa melihat, tubuhnya pun terasa kaku untuk di gerakan.
"TIDAKKKK..." suara Risa salah satu maid disana menjerit membuat semua orang ikut terkejut, seketika Risa pingsan melihat Nathan tertembak.
"Buang mayat pengkhianat itu!" perintah Aiden dengan suara dingin.
"Dan bawa dia ke kamarnya, kurung dia disana jangan biarkan dia keluar!" perintah Aiden.
Lara di bawa masuk ke kamarnya, Ia dikunci dari luar. Lara duduk di pinggir ranjang, Ia masih shock dengan apa yang baru saja Ia lihat. Aiden, Aiden dengan mudahnya menembak kan pistol, membunuh orang tanpa belas kasihan.
"Dia bukan orang baik, dia orang jahat. Ak aku yang membuat Nathan terbunuh, aku yang membuat Nathan terbunuh, semua salahku." gumam Lara lalu menangis sesenggukan.
Sementara dikamarnya, Aiden menghisap rokoknya dalam dalam sambil melihat ke jendela, Raka tampak masuk ke kamar mendekati Aiden,
"Tuan, apakah harus melakukan ini? bukankah seperti ini malah membuat Nona semakin takut pada Tuan?"
"Biarkan saja, dengan begitu dia tidak akan membangkang lagi."
__ADS_1
"Tapi mungkin dia akan membenci Tuan." kata Raka lagi.
Aiden menghela nafas panjang, "Kau sudah selesai mengurus Nathan?"
Raka mengangguk, "Semua sudah aman Tuan."
"Baguslah,"
Aiden mengerus rokoknya, Ia keluar dari kamar nya dan memasuki kamar Lara dimana Ia melihat Lara meringkuk di ranjang, memeluk tubuhnya Sendiri.
Aiden berjalan dan duduk di sofa, memandangi Lara yang menangis.
Lara yang melihat ada Aiden tampak menatap tajam Aiden,
"Bagaimana rasanya? kau yang membangkang dan orang lain yang kena imbasnya." kata Aiden.
"Seharusnya kamu membunuhku bukan Nathan, aku yang bersalah, Nathan hanya membantu ku." balas Lara masih tak terima.
"Bukankah sudah ku katakan padamu sebelumnya, aku tidak suka pada gadis pembangkang dan ini akibat nya kamu tidak menurut padaku." kata Aiden masih santai.
"Siapa kamu hingga aku harus menurut padamu? kamu hanyalah pria kejam yang dengan mudahnya mengambil nyawa seseorang tanpa belas kasihan!" ucap Lara.
"Jika kamu tidak membangkang aku tidak akan melakukan semua ini."
"Iblis katamu?" Aiden tersenyum mendengar ucapan Lara,
"Ya, kau iblis yang sangat jahat!"
Aiden berdiri, Ia berjalan mendekati Lara, melepaskan dasinya dan membuka beberapa kancing kemejanya, "Baiklah, akan ku perlihatkan bagaimana iblis ini akan memperlakukan mu!"
Lara bangun saat Aiden mendekatinya, Ia ingin turun dari ranjang namun sayangnya Aiden menarik tangan nya dan menindih Lara.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Lara mulai panik.
"Memperlihatkan bagaimana iblis memperlakukan seoarang wanita.
Wajah Lara memucat, "Tidak, jangan lakukan itu padaku ku mohon." teriak Lara ketakutan.
Aiden tidak mengubris teriakan dan tangisan Lara. Ia sudah sangat marah, kata kata Lara membuatnya marah hingga tak bisa lagi mengendalikan pikiran nya.
Lara memberontak sebisanya, Ia memukul, menendang Aiden agar bisa terlepas dari Aiden namun sayangnya, tenaga Aiden lebih kuat dari tenaga Lara.
Bahkan kedua tangan Lara di ikat mengunakan dasi milik Aiden sehingga Lara tidak bisa melakukan apapun, Aiden dengan kasar membuka baju Lara hingga sobek dan Lara polos tanpa mengenakan sehelai benangpun.
__ADS_1
"Ku mohon maafkan aku, jangan lakukan ini padaku." tangis Lara saat Aiden menatap kagum tubuhnya.
Namun sayangnya Aiden sudah tidak bisa mengendalikan dirinya, Ia sangat menginginkan Lara hingga akhirnya hanya teriakan kesakitan Lara yang terdengar di kamar itu.
"Sakit Tuan, ku mohon berhentilah." pinta Lara sambil menangis.
Aiden tidak mengubris, Ia terus memaksa masuk hingga darah mengucur dari bawah sana membuat tangis Lara semakin keras.
"Sebentar lagi dan kamu akan merasakan kenikmatan duniawi sayang." bisik Aiden yang membuat Lara jijik mendengarnya.
Tak cukup sekali, Aiden melakukan beberapa kali hingga Lara tak tahan lagi dan akhirnya pingsan.
"Aku sudah menjadi malaikat untukmu dan kau meminta ku menjadi iblis, jangan salahkan aku, kau yang membuatku melakukan ini." ucap Aiden lalu mengecup kening Lara yang pingsan.
Aiden keluar dari kamar Lara, "Bersihkan tubuhnya dan aku akan memanggil dokter." perintah Aiden pada Mbok Nah.
Mbok Nah mengangguk, langsung memasuki kamar Lara dan terkejut setelah melihat apa yang terjadi pada Lara.
Mbok Nah segera merawat Lara, membersihkan tubuh Lara dan mengganti sprei yang berlumuran darah di bantu beberapa maid.
Setelah Lara berpakaian rapi, semua maid keluar dan sudah ada Dokter Devan di luar kamar. Dokter Devan adalah teman Aiden saat masa sekolah dan keduanya berteman sampai sekarang.
Beruntung Dokter Devan bertugas di sekitar kampung dekat Villa jadi tidak sulit Aiden menemukan Dokter pribadi untuknya.
"Cepat periksa dia." kata Aiden dengan wajah khawatir.
Devan segera masuk dan memeriksa Lara, Devan menggelengkan kepalanya saat tahu apa yang terjadi pada Lara.
"Apa yang kau lakukan pada gadis kecil ini kawan?"
"Hanya memberinya sedikit hukuman."
Devan menghela nafas panjang, "Dia mungkin akan mengalami trauma dan shock beberapa saat, sebaiknya kau jangan menemui nya dulu untuk sementara waktu."
"Tidak mungkin, aku tidak bisa melakukan itu." protes Aiden.
Devan tertawa, "Apa ini artinya kau sangat menyukai gadis ini? wah teman ku sudah merasakan jatuh cinta ternyata." ejek Devan membuat Aiden kesal.
"Sialan, Kau mengerjai ku!"
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komeen
__ADS_1