
Malam ini adalah malam yang sangat di nanti oleh Aiden karena malam ini adalah malam dimana Ia akan bertunangan dengan Adira putri dari menteri Hendra Kurniawan, menteri yang terkenal akan kebaikan hati dan keramahan nya pada Masyarakat. Namun di balik itu semua ada sisi yang tidak semua orang tahu tentang Hendra kurniawan.
Acara pertunangan ini akan menjadi acara yang paling mewah dan meriah karena di siarkan di salah satu stasiun televisi swasta.
"Kau sudah pastikan di villa tidak akan tersiar acara ini?" tanya Aiden saat masih di dalam mobil.
"Aman tuan, orang Villa tidak akan melihat acara ini." kata Raka penuh keyakinan.
"Bagus, aku tidak sabar ingin segera masuk." kata Aiden yang langsung di angguki Raka.
Raka membuka kan pintu untuk Aiden setelah itu Ia mengawal Aiden sampai dalam hotel.
Raka juga sudah menyewa beberapa orang untuk mengawal mereka saat pulang nanti karena Raka tahu setelah pulang dirinya dan Aiden tidak akan baik baik saja.
"Wah calon pengantin kita sudah datang." suara Hutama terdengar membuat Aiden tersenyum dan berjalan mendekat sementara Raka sedikit menghindar, Raka tak ingin melihat wajah Hutama.
"Selamat malam Ayah dan calon ayah mertua." sapa Aiden begitu ramah membuat Hutama dan Hendra sedikit curiga.
"Ada apa ini? aku kau sudah memiliki rencana?" tanya Hutama.
Aiden tertawa, "Ada apa dengan Ayah? jika aku ramah, Ayah malah menuduhku seperti itu."
"Sebaiknya kau menyusul calon istrimu di ruang ganti karena acara akan segera di mulai." perintah Hutama yang akhirnya di angguki Aiden.
"Kau yakin dia tidak akan melakukan sesuatu yang akan membuat kita malu?" tanya Hendra terlihat khawatir.
"Aku akan langsung membunuhnya jika dia melakukan itu." balas Hutama.
Aiden berjalan menuju kamar ganti dimana ada Adira disana, di belakangnya ada Raka yang setia mendampingi Aiden.
"Cantik sekali calon tunangan ku." puji Aiden saat memasuki ruang ganti dan melihat Adira tengah di bantu beberapa orang mengenakan aksesoris.
Bukan nya tersenyum, Adira malah cemberut menatap Aiden.
"Kau masih marah?"
"Kau menyebalkan!" kata Adira.
__ADS_1
Semua orang yang ada diruangan itu keluar dan kini tinggalah Aiden dan Adira.
"Hari adalah hari bahagia kita kenapa wajahmu seperti ini hmm?"
"Kau membuat ku kesal kemarin, kenapa tidak datang di acara gladi resik?"
"Aku sangat sibuk menyiapkan sesuatu jadi aku tidak bisa datang. maafkan aku." kata Aiden yang entah mengapa malah membuat Adira tersenyum.
"Apa dia menyiapkan pernikahan kami secara diam diam di Kua, jadi benar dugaan ku kemarin." batin Adira tak hentinya mengulas senyum di bibirnya.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Aiden melihat Adira hanya diam dan tersenyum.
"Lalu apa yang kau rencanakan untuk hari ini?" Adira malah balik bertanya.
"Tentu saja sesuatu yang akan membuatmu terkejut."
Adira kembali mengulas senyum lebar, "Rasanya aku tidak sabar. bisa kita keluar sekarang?"
Aiden melirik jam tangan miliknya, "Sepuluh menit lagi, tunggu intruksi dari pihak Wo."
Adira mengerutkan keningnya, "Kau mengetahui acaranya padahal kemarin kau tidak ikut gladi resik."
Adira terlihat kagum, "Kau memang luar biasa, aku beruntung bisa memilikimu." kata Adira ingin memeluk Aiden namun langsung mendapatkan penolakan dari Aiden.
"Jika acara sudah selesia, kau bisa memeluk ku sepuasnya." kata Aiden.
"Baiklah, kita akan menyewa kamar dan menghabiskan malam bersama." kata Adira yang langsung di angguki Aiden.
Kini tiba waktunya Aiden dan Adira untuk turun ke aula tempat diadakan acara. Mereka berdua saat ini tengah menjadi bahan pembicaraan tamu yang hadir karena kecantikan dan ketampanan nya, bahkan kamera terus menyorot langkah mereka berdua. suara musik romantis juga sahutan para host yang membuat acara malam ini sangat meriah.
"Dan Kini tiba waktu yang ditunggu kita semua dimana Mr Aiden melamar Mrs Adira dengan kata kata yang romantis." kata Mc pembawa acara.
Tampak seseorang berlari ke arah Aiden untuk memberikan mic dan juga kotak kecil berisi cincin yang akan di kenakan mereka berdua.
Adira tersenyum sangat lebar, tampak tak sabar menunggu Aiden merangkai kata romantis untuknya dan memasangkan cincin di jarinya.
"Aku ingin semua kamera menyorot ke arah ku." pinta Aiden yang langsung membuat semua kameramen menghadap ke arah Aiden.
__ADS_1
Hutama yang berada tak jauh dari Aiden tampak kesal karena tahu Aiden pasti merencanakan sesuatu, Ia sudah mengantongi pistol namun jika kamera menyorot Hutama tidak mungkin menembak Aiden.
"Aku berdiri disini bukan untuk bertunangan dengan gadis cantik yang ada didepan ku namun juga ingin memgungkap sebuah fakta yang membuat kalian pasti akan terkejut." kata Aiden yang membuat semua orang langsung terkejut tak terkecuali Adira, Hendra juga Hutama yang mulai mengeluarkan ponselnya.
"Kau gila, apa yang kau lakukan?" tanya Adira menahan emosi.
"Apa yang kau lakukan!" Hendra pun tak kalah emosi.
"Ayah, akhirnya aku bisa memanggil mu Ayah." kata Aiden pada Hendra yang membuat Hendra sangat terkejut.
"Apa sebenarnya yang kau katakan itu!" bentak Hendra pada Aiden.
"Wohooo lihatlah pak menteri kita sudah naik pitam, pernahkan kalian lihat menteri yang dikenal sangat baik hati dan ramah pada masyarakat bisa marah bahkan menodongkan pistol seperti ini." kata Aiden saat Hendra yang kini sudah mengeluarkan pistolnya.
Semua orang tampak menatap Hendra dengan tatapan tak menyangka, Hendra akhirnya kembali memasukan pistol di saku celananya.
"Aku bukanlah Putra dari Hutama, aku hanyalah anak angkat yang beruntung karena dengan kebaikan Hutama bisa membuatku tubuh seperti sekarang. aku benar bener ingin membalas kebaikan Tua Hutama suatu hari ini." ungkap Aiden tersenyum menatap Ayah angkatnya yang menatap nya dengan tatapan penuh kebencian.
"Aku berdiri disini untuk membalaskan perbuatan kejam seorang pria terhadap wanita yang sangat mencintainya bahkan mencintai pria itu lebih dari hidupnya."
"Wanita itu bernama Miranti, wanita yang tewas di gubuk nya karena dibakar oleh orang yang tak lain adalah kekasih sendiri dan aku adalah anak dari Miranti, anak haram yang tidak di inginkan oleh Ayahnya yang tak lain adalah Hendra bapak menteri yang selama ini kita hormati." ungkap Aiden yang membuat semua orang terkejut sangat terkejut.
Semua orang yang menjadi tamu undangan ataupun yang melihat siaran di televisi sangat tak menyangka dengan kekejaman menteri mereka.
"Tidak mungkin, ayah ku tidak mungkin seperti itu!" bela Adira.
"Kau tidak akan ingat karena waktu itu kau belum lahir. aku lahir lebih dulu sebelum kau. Ayahmu menjadi kekasih ibuku dan meninggalkan nya begitu saja saat tahu ibu ku hamil, bahkan saat aku umur lima tahun, Ayahmu tega membakar rumah ibuku hingga ibuku tewas bersamanya." ungkap Aiden yang membuat Adira tak tahan lagi dan akhirnya pingsan.
"Tembak dia, kau bilang ingin membunuhny!" perintah Hendra pada Hutama.
Namun bukan nya menembak, Hutama malah menatap kosong ke arah Aiden.
"Jadi dia bukan anak Reni?"
BERSAMBUNG...
kemarin libur ga update sekarang bayar utang gays hehe
__ADS_1
jangan lupa like vote dan komen yaaa