SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)

SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)
79


__ADS_3

Aiden baru saja sampai divilla dan langsung mendengar kabar mengejutkan. Ya semua penjaganya tewas dan Para maidnya menangis ketakutan karena Nona mereka diculik.


"Mereka membawa Nona dan mengikat kami." jelas Mbok Nah pada Aiden.


Seketika amarah Aiden memuncak, Ia menarik kerah baju Raka lalu memukulinya secara brutal.


"Tak cukupkah hanya aku saja hah? tak cukupkah hanya aku saja, kenapa harus istriku!" ucap Aiden masih terus memukuli Raka.


Raka hanya diam dan pasrah, menerima setiap pukulan Aiden, dia menyadari memang semua salahnya.


"Cukup Aiden, hentikan!" lerai Hutama yang baru saja sampai di villa.


"Rasanya aku ingin membunuhnya sekarang juga!" kata Aiden mengeluarkan pistolnya dan menodongkan tepat dikepala Raka.


"Jangan Aiden, sudahlah. sebaiknya kita berpikir untuk mencari jalan keluar, jangan membunuhnya!" kata Hutama membuat Aiden menjatuhkan pistolnya.


"Tapi dia pengkhianat, dia sudah mengkhianatiku!"


Hutama menghela nafas panjang, benar benar mengerti apa yang Aiden rasakan.


"Sebaiknya kita tanyakan baik baik pada Raka, kenapa dia mengkhianatimu dan dimana Hendra menyembunyikan Lara dan Ibu Rena."


"Ibu Rena?" Aiden sangat terkejut.


"Ya, dia juga menculik Ibu Rena." kata Hutama terdengar sedih.


"Tidak mungkin, Hendra hanya mengincar Lara, Ia sakit hati karena Tuan Aiden lebih memilih Lara dari pada Adira."


"Lalu kenapa kau mengkhianati Tuanmu?" tanya Hutama.


Raka menatap tajam ke arah Hutama, "Semua karena kau, kau membunuh Friska! semenjak Tuan Aiden menjadi menantumu, Ia melupakan misi balas dendamnya padamu, Tuan tidak lagi memikirkan perasaanku yang sudah kehilangan Friska!" ungkap Raka membuat Aiden terkejut. Aiden tak menyangka jika Raka masih memiliki dendam pada Hutama tentang kematian Friska


Aiden pikir Raka akan sepertinya yang memaafkan Hutama yang sudah bertobat.


"Aku tidak membunuhnya, dia bunuh diri!" balas Hutama tak terima.


"Jika tidak mendapatkan tekanan dari mu pasti dia tidak akan bunuh diri." kata Raka kekeh dengan apa yang Ia pikirkan.


Hutama tersenyum sinis, "Kau hanya tidak tahu saja bagaimana wanita ular itu bermain, dia pantas mati dari pada hidup yang akhirnya akan menyakitimu." kata Hutama membuat Raka tak terima hendak memukul Hutama namun dengan cepat Vans melindungi Hutama.


"Sebaiknya katakan saja dimana Nona Lara dan Nyonya Rena, itu lebih penting sekarang!" kata Vans pada Raka.


"Kita masih belum selesai!" Raka menunjuk Hutama dengan jarinya.


"Katakan dimana Hendra membawa istri dan Ibuku!" giliran Aiden yang berbicara.

__ADS_1


"Hendra membawa mereka ke istananya."


"Jangan bercanda, siang tadi kami menggeledah semua tempat di istana Hutama namun tidak menemukan apapun."


"Tentu saja karena mereka disembunyikan diluar lebih dulu. jika kalian geledah sekarang sudah pasti ada disana." jelas Raka.


"Sebaiknya kita kesana sekarang sebelum terlambat." ajak Hutama yang langsung diangguki semua orang.


Meskipun dengan kecepatan tinggi, mereka sampai di istana Hendra pada malam hari. Suasana rumah Hendra masih ramai, banyak orang yang berjaga seolah tahu akan diserang.


Tanpa basa basi lagi, Hutama mengerahkan semua anak buahnya untuk menghabisi anak buah Hendra agar mereka bisa masuk.


"Dimana kamar Tuanmu?" bentak Aiden pada salah satu maid Hendra.


"Di disana Tuan." Maid yang ketakutan itu menunjuk arah ke kamar Hendra.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Hutama dan Aiden segera berlari menuju kamar Hendra.


Brakkk, Aiden membuka paksa pintu kamar Hendra dan seketika tembakan melayang mengenai lengan tangan Hendra yang hampir saja menyentuh Rena.


"Brengsek!" umpat Hendra kesakitan.


Baru ingin mendekat namun langkah Aiden terhenti kala Hendra mengambil pistolnya lalu ditodongkan tepat di kepala Rena.


"Jauhkan pistolmu dari kepala istriku!" Hutama terlihat geram pada Hendra, Ia bahkan kembali menodongkan pistolnya ke arah Hendra.


Hendra tertawa, "Tentu saja tidak semudah itu kawan. jika kalian mendekat dan melawan aku akan segera membunuh wanita mu ini." kata Hendra membuat Hutama menurunkan pistolnya.


"Aku yang kau incar, jangan sentuh siapapun. bunuh aku sekarang." kata Aiden akhirnya.


Lara menggelegkan kepalanya, "Tidak, jangan. jangan bunuh siapapun." ucap Lara sambil menangis, Rena yang berada didepan Hendra juga ikut menangis dan ketakutan.


"Aku memang ingin membunuhmu, tidak, aku ingin melihatmu mati didepan ku." kata Hendra sambil tertawa.


"Turunkan pistolmu dari kepala ibuku dan bunuh saja aku sekarang." pinta Aiden membuat Lara semakin histeris.


"Aku tidak bodoh, jika kau ingin mati melompatlah dari sini dan aku akan melepaskan semua orang." kata Hendra memperlihatkan balkon kamarnya, mereka berada di lantai tiga.


"Baiklah, aku akan melompat sekarang."


Aiden berjalan keluar balkon kamar, di ikuti Hendra yang masih mencekal Rena sementara Hutama melepaskan ikatan Lara.


""Jangan, jangan lakukan itu!" pinta Lara sambil menangis, menyusul Aiden.


Kini semua orang sudah berada di balkon kamar, Aiden tampak berada ditepian dan siap untuk melompat.

__ADS_1


"Kau pantas mati, kau sudah menghancurkan reputasiku!" ucap Hendra lalu tertawa sangat keras.


"Bukan aku yang menghancurkan reputasimu namun kamu sendiri yang melakukannya. kamu melakukan segala cara untuk mendapatkan harta dan tahta mu itu bahkan rela meninggalkan wanita yang sangat mencintaimu!"


"Omong kosong, aku tidak pernah mencintai ibumu. dia yang mengoda ku lebih dulu!" ucap Hendra membuat Aiden mengepalkan tangannya.


"Jadi memang benar, ibuku sangat bodoh karena mencintai pria brengsek sepertimu!"


Hendra tertawa, "Ibumu hanyalah gadis kampung miskin yang mengira aku menyukainya padahal aku hanya menginginkan tubuhnya saja!"


Aiden benar benar sudah emosi, Ia hendak maju untuk menghajar Hendra namun baru selangkah, Hendra siap menembak Rena membuat Aiden berangsur mundur.


"Baiklah, jika kematian ku membuatmu puas, aku akan terjun sekarang." kata Aiden sudah bersiap untuk melompat kebawah.


Hendra tertawa puas, akhirnya Ia bisa melihat Aiden mengakhiri hidupnya sendiri.


Dorrr...


Dorr...


Dua tembakan terdengar membuat semua orang terkejut dan tak berapa lama, Hendra melepaskan Rena lalu jatuh tergeletak dilantai.


Tembakan baru saja mengenai punggung Hendra, segera Rena lari mendekat ke arah Hutama.


"Kau baik baik saja sayang, maafkan aku." ucap Hutama memeluk Rena.


Aiden tersenyum melihat si penembak yang kini masih berada dipohon besar.


Si penembak memang sengaja naik ke atas pohon agar tembakannnya bisa mengenai Hendra.


"Kau baik baik saja sayang." Aiden memeluk Lara erat, Lara yang kini menangis histeris.


"Sudah, semua sudah baik baik saja sekarang." kata Aiden mengelus punggung Lara.


"Sebaiknya kita segera turun, aku akan lapor ke polisi agar polisi membereskan masalah ini." kata Hutama yang langsung diangguki semua orang.


Hutama, Rena dan Lara berjalan lebih dulu dan Aiden berada dibelakangnya.


Dorr ...


Suara tembakan terdengar dan kali ini Aiden yang terjatuh di lantai.


BERSAMBUNG....


Jangan lupa like vote dan komenn

__ADS_1


__ADS_2