
Hutama memasuki kamar, melihat Rena sudah menunggunya dengan wajah cemas. Ia tersenyum dan langsung memeluk istrinya.
Kali pertamanya ada yang cemas dengan keadaannya mengingat selama ini apapun yang terjadi pada Hutama tidak ada satupun yang mencemaskannya.
"Apa yang terjadi? apa dia pria yang jahat?" tanya Rena dengan wajah khawatir.
"Tidak, tidak perlu mengkhawatirkanku. aku baik baik saja. dia temanku." balas Hutama namun tidak membuat Rena yakin mengingat ucapan pria yang sempat Ia dengar tadi terdengar nakal.
"Tapi dia terlihat bukan orang baik."
"Bagaimana dengan kamar ini? apa kau suka?" tanya Hutama mengalihkan pembicaraan.
"Ck, jawab dulu apa yang ku tanyakan!"
Hutama tersenyum, "Baik atau tidak baik jangan dipikirkan lagi, kami memang sedikit bermasalah tapi kamu tidak perlu cemas, aku akan menyelesaikan permasalahan ini segera."
Terlihat wajah Rena semakin cemas, "Aku takut terjadi sesuatu padamu."
"Kau sangat mencemaskanku, apa kau takut kehilangan aku?"
Rena menepuk lengan Hutama, "Jangan bercanda."
Hutama terkekeh, "Aku hanya bertanya."
Hutama kembali memeluk Rena, entah mengapa setelah emosi hanya memeluk Rena membuatnya lebih tenang.
"Bagaimana dengan kamar ini? aku menyukainya?" tanya Hutama membawa Rena berbaring di ranjang agar keduanya lebih nyaman mengobrol.
"Kamarnya sangat bagus dan besar, aku menyukainya, apa kamar ini dulu kau gunakan bersama mantan istrimu juga?" tanya Rena penasaran karena sempat melihat foto pernikahan Hutama di laci yang ada di kamar itu.
Hutama menggeleng, "Tidak, kami tidur terpisah, kamarnya ada disamping kamar ini."
"Kenapa kalian tidur terpisah?"
"Karena aku tidak menyukainya." balas Hutama lalu mencium pipi Rena, gemas karena Rena banyak bertanya dan Ia tidak mampu untuk tidak menjawabnya.
"Itu terdengar sangat kejam, apa aku juga tidak memperdulikannya selama ini?"
"Kami tidak peduli satu sama lain. kita menikah karena perjodohan orangtua, tidak ada cinta dan perasaan apapun untuknya." ungkap Hutama.
"Lalu dimana dia sekarang? apa kalian sudah bercerai?"
Hutama kembali mencium gemas pipi Rena kali ini Ia memberikan ciuman bertubi tubi hingga membuat Rena terkikik geli.
__ADS_1
"Hentikan, apa yang kau lakukan." protes Rena tak tahan dengan rasa gelinya.
"Kau terlalu banyak bertanya jadi aku menghukum mu." balas Hutama kembali memberikan ciuman pada Rena.
"Baiklah aku tidak akan bertanya lagi, ku mohon hentikan!"
Hutama akhirnya menghentikan ciumannya, Ia melihat wajah Rena sudah memerah terlalu banyak tertawa.
"Kau belum menjawab ku-"
Rena kembali tertawa geli karena Hutama kembali menciuminya.
"Baiklah, aku benar benar tidak akan bertanya lagi!"
"Jangan tanyakan apapun dengan dia yang sudah menjadi masa lalu, kita sudah tidak tinggal disana, lebih baik sekarang kita pikirkan hubungan kita saja." pinta Hutama pada Rena.
"Baiklah Tuan, aku tidak akan bertanya lagi."
Hutama tersenyum, Ia memeluk erat Rena. Setelah bertahun tahun terpisah karena ego dan kebodohannya, sekarang akhirnya mereka kembali bersama.
Tak berbeda jauh, di Villa milik Aiden pun juga merasakan hal yang sama. Aiden dan Lara yang saat ini asyik bercanda di ranjang mereka.
"Kenapa menciumku terus? aku tidak bisa fokus membaca buku jika kau mengangguku terus." ucap Lara kesal saat ini posisinya tengkurap sambil membawa buku dan sedari tadi Aiden menganggu fokusnya membaca novel yang baru saja dibelikan Aiden.
"Jangan mengangguku kak, kau kakak yang sangat menyebalkan."
Aiden mendengus kesal, akhir akhir ini Lara selalu mengodanya dengan sebutan kakak padahal mereka sudah menjadi suami istri dan Aiden tidak suka Lara memanggilnya kakak.
"Berhenti memanggilku kakak, aku ini suamimu bukan kakakmu!"
Lara tersenyum tengil, "Kakak, kakak, kakak," goda Lara membuat Aiden kesal, membuang novel ke lantai dan langsung mengunci tubuh Lara dengan kedua tangan dan kakinya.
"Astaga kak, ini masih sore hari apa kakak juga menginginkannya?"
"Berhenti memanggilku kak atau kau akan menyesalinya."
"Tidak akan, kakak yang lebih dulu mengangguku!"
Giliran Aiden yang tersenyum tengil, dengan gemas Ia akhirnya ******* telinga Lara membuat Lara tersentak dan menjerit merasa tak tahan dengan rasa gelinya.
Telinga adalah kelemahan Lara, selama ini jika bercinta Lara paling tidak menyukai jika telinganya dilumat menggunakan bibir Aiden, Lara tidak tahan dengan rasa gelinya.
"Astaga Kak, hentikan! hentikan!" teriak Lara sambil tertawa merasakan geli yang sangat luar biasa.
__ADS_1
Aiden tak mengubris, Ia terus saja ******* telinga Lara hingga akhirnya Lara menyerah, "Baiklah sayang, kumohon hentikan jangan lakukan lagi." ucap Lara yang akhirnya membuat Aiden terhenti.
"Apa terasa nikmat sayang?"
Lara memukul lengan Aiden, "Geli, aku tidak suka."
"Lalu bagian mana yang aku sukai? apa disini?" tanya Aiden tangannya sudah mengenggam salah satu gundukan kembar milik Lara.
Wajah Lara memerah malu, merasa memang gundukan itu bagian yang Ia sukai saat mendapatkan sentuhan dari Aiden.
"Baiklah sayang, mari kita bersenang senang dengan ini."
Lara pasrah saja saat tangan dan bibir Aiden mulai nakal menyentuh dan menikmati gundukan kembarnya, Ia menyukai sentuhan itu, sangat.
Lara terbangun saat tengah malam, keduanya terlelap setelah kelelahan bercinta hingga akhirnya ketiduran.
Lara menyingkirkan tubuh Aiden yang masih memeluknya erat. Ia ingin mandi malam ini karena tubuhnya terasa lengket.
Selesai mandi, Lara yang sudah cantik mengenakan piyama segera turun ke bawah untuk membuat susu hangat.
Dibawah sudah sepi, Mbok Nah dan para maidnya sudah terlelap karena ini memang sudah pukul satu pagi.
Selesai membuat susu, Lara ingin kembali ke kamarnya namun langkahnya terhenti kala melihat pintu utama terbuka.
Lara mendekat ke pintu untuk menutup pintu itu namun Ia malah melihat seseorang berbicara diluar.
"Raka? apa yang dia lakukan malam malam begini?" heran Lara melihat Raka sedang berbicara diluar bersama seseorang yang tidak Lara kenali.
"Sepertinya dia bukan salah satu anak buah Aiden, lalu siapa?" gumam Lara.
Lara hendak keluar untuk bertanya pada Raka namun langkahnya terhenti kala melihat ada seseorang yang pingsan tepat didepan pintu.
Lara terkejut melihat pria yang pingsan adalah anak buah Aiden dan saat Lara keluar semua anak buah Aiden pingsan di depan villa.
Lara yang terkejut akhirnya menjatuhkan gelasnya dan ....
Pyarrr... suara gelas mengejutkan Raka dan sosok pria misterius itu.
Raka dan pria itu menatap ke arah Lara yang ketakutan, tak menunggu lama Raka berjalan mendekat ke arahnya membuat Lara berjalan mundur ingin kembali ke dalam.
"Nona..." panggil Raka hendak meraih tangan Lara membuat Lara lari dan bersamaan itu Lara menabrak tubuh seseorang.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komenn yaahh