
Rendra Ayah Friska menyeret tangan Nila dan membawanya ke belakang untuk berbicara secara pribadi dengan putri kandungnya itu.
"Ayah, Nila tidak mau ikut dengan pria itu, Nila masih ingin sekolah!" kata Nila pada Rendra.
"Dasar bodoh, bukankah lebih baik ikut dengan pria tampan itu dari pada kamu harus diambil Tuan Hutama!" kata Rendra membuat Nila terdiam.
"Dia masih muda, tampan dan kaya. pikirkan baik baik jika kau hidup dengan pria seperti itu, kehidupanmu akan terjamin nantinya. tapi jika kau memilih bersama Tuan Hutama, terserah. Tinggalah disini dan tunggu lah di jemput Tuan Hutama." kata Rendra santai.
"Aku tidak mau Ayah, aku tidak mau! aku masih ingin sekolah!" kata Nila melawan.
"Kau pikir jika sekolah siapa yang akan membiayai mu?"
"Jika Ayah tidak bermain dengan pelacur itu pasti Ayah bisa menggunakan uang Ayah untuk biaya sekolahku."
Plakkk... Rendra menampar pipi Nila.
"Tutup mulutmu, kau hanya akan menyusahkan ku. sebaiknya kau pikirkan dan pilih sekarang, mau ikut dengan Tuan Aiden atau Tuan Hutama." kata Rendra membuat Nila terdiam.
Tak berapa lama, Rendra dan Nila kembali keluar untuk menemui Aiden.
"Putri saya mau ikut dengan Tuan, jadi Tuan bisa membawanya sekarang dan langsung mentransferkan uangnya ke rekening saya." kata Rendra pada Aiden.
"Baiklah, Raka yang akan mengurus semuanya. Besok Raka akan kembali kesini untuk menjemput putrimu jadi katakan pada putrimu untuk mengemasi barang barangnya." kata Aiden lalu pergi dari sana di ikuti oleh Raka.
Aiden dan Raka memasuki mobil. Aiden masih berada dikemudi untuk menyetir karena Ia tahu pikiran Raka masih kacau.
"Kenapa kita menemui banyak pria tua yang kejam Tuan?" tanya Raka masih tak menyangka dengan Rendra yang rela menukar putrinya dengan uang bahkan di hari kematian putrinya sendiri.
"Mereka di butakan oleh nafsu dan wanita hingga melakukan segala cara untuk mendapatkan uang." balas Aiden.
Raka menghela nafas panjang, "Sepanjang hidup Friska sangat menderita bahkan di sisa terakhir hidupnya tidak ada yang menyelamatkan dirinya dari penjahat itu." kata Raka membuat Aiden menghentikan laju mobilnya.
Aiden menepuk bahu Raka, memberikan ketenangan untuk Raka, "Akan ada saatnya kita membalaskan semua rasa sakit ini. Kamu hanya perlu bersabar sebentar lagi."
"Apa tidak apa apa jika saya membenci Ayah angkat Tuan?" tanya Raka.
Aiden tersenyum, "Kau pikir aku menyukai Ayah angkatku? sekalipun dia sudah membiayai hidup ku selama ini, aku sangat membencinya." ungkap Aiden membuat Raka tersenyum.
__ADS_1
"Aku hanya ingin menolong adik kekasihmu itu, jika kita tidak mengambil dia dari tangan Ayahnya mungkin nanti dia akan di jual pada Hutama, aku hanya tidak ingin itu terjadi pada gadis kecil itu." kata Aiden lagi.
Raka mengangguk setuju, "Jadi besok saya akan membawanya ke asrama sekolah."
"Ya, jangan sampai ada yang tahu. biarkan dia aman disana."
"Baik Tuan. Sekarang apa kita kembali ke villa?"
Aiden menggelengkan kepalanya, "Tidak, banyak yang harus kita urus disini. kita ke devil club sekarang."
Aiden kembali melajukan mobilnya menuju Devil club. Dia ingin mencari bukti pembunuhan Friska, meskipun Aiden tahu semuanya akan sia sia karena Hutama pasti sudah membereskan semua tanpa ada jejak yang tertinggal.
Sampai di club malam, Aiden sudah di tunggu wanita yang sangat tidak ingin Ia temui, Adira.
"Sayang, aku susah menghubungimu. kamu selalu menolak panggilan dari ku." kata Adira menempel pada Aiden.
"Lepaskan aku, apa yang kau lakukan disini?"
"Tentu saja untuk menemui mu, apa kau lupa tiga hari lagi kita akan bertunangan, kau bahkan belum mencoba jas yang sudah ku pesankan untukmu."
"Besok pagi aku akan kesini lagi menjemputmu atau aku akan mengadukan pada Ayahmu." ancam Adira membuat Aiden langsung kesal.
"Tidak bisakah mengerti aku sedang sibuk?" bentak Aiden akhirnya tak tahan.
"Kau membentak ku? kau membentak ku Aiden? kau tidak bisa membentak ku!" ucap Adira menampar pipi Aiden membuat semua orang menatap kearah keduanya.
Aiden menatap tajam Adira, tangan nya mengepal dan dia memasuki club tanpa menghiraukan teriakan Adira.
"Kau tidak bisa melakukan ini padaku!" kata Adira membuka pintu ruangan Aiden kasar hingga menimbulkan suara sementara Raka langsung keluar saat Adira memasuki ruangan.
"Dan lakukan apapun yang kau mau!" balas Aiden acuh malah membuka laptopnya.
"Kita akan bertunangan, kau dan ayahmu bisa mengambil keuntungan dari ku karena Ayahku seorang menteri. kau harus tunduk padaku Aiden!" kata Adira yang membuat Aiden tak tahan lagi.
Aiden berdiri dari duduknya lalu menyeret Adira di dinding dan mencengkeram rahang Adira. sorot mata Aiden saat marah membuat Adira menciut dan takut.
"Dengar Adira, kau pikir aku menyukai pertunangan ini huh? aku bisa saja membatalkan pertunangan ini jadi jangan membuat kesabaranku habis atau kau akan menyesal nanti!" kata Aiden lalu melepaskan cengkeraman nya.
__ADS_1
"Tidak, tidak Aiden kau tidak bisa membatalkan pertunangan ini, tidak bisa!" Adira mulai panik.
"Aku bisa melakukan apapun yang ku mau. jadi buang jauh pikiranmu tentang aku yang akan tunduk padamu, aku tidak akan tunduk pada siapapun termasuk wanita sepertimu!"
Adira terlihat sangat panik, "Aiden... dengarkan aku, tadi aku tidak bermaksud mengatakan itu padamu, aku hanya-"
"Sebaiknya kau pergi sekarang!"
"Tidak Aiden, sebelum kau memaafkan apa yang baru saja ku lakukan, aku tidak akan pergi."
Adira hendak mendekat namun Aiden mengacungkan jarinya, menolak Adira mendekat, "Pergis sekarang atau aku meminta penjaga untuk menyeretmu!"
"Tidak Aiden, kau tidak bisa melakukan ini padaku." kata Adira masih tak menyerah.
"Baiklah jika kau tidak mau pergi sendiri." Aiden mengangkat gangang telepon untuk menghubungi seseorang, "Datang ke ruanganku dan seret wanita yang ada di ruanganku."
"TIDAKK!" teriak Adira histeris, "Aku benar benar akan mengadukan mu pada ayahmu!" ancam Adira.
Pintu terbuka, dua orang pria berbadan kekar memasuki ruangan Aiden, hendak menangkap Adira namun dengan cepat Adira menyingkir.
"Jauhkan tangan kotor kalian!"
Adira menatap tajam Aiden, "Aku akan pergi sekarang, jangan lupa besok aku akan datang lagi. Kita harus ke butik untuk fitting baju kita." kata Adira lalu berbalik dan keluar dari ruangan Aiden.
Setelah Adira keluar, Raka memasuki ruangan Aiden.
"Wanita itu sangat brutal." kata Raka.
"Tapi kita sangat membutuhkan nya." balas Aiden terdengar santai.
"Apa Tuan yakin akan melanjutkan pertunangan? bukankah jika Tuan bertunangan sama saja menuruti perintah Hutama dan akan menyenangkan Hutama?"
Aiden tersenyum, "Aku justru memiliki rencana yang sangat bagus untuk Hutama dari pertunangan ini."
BERSAMBUNG ....
jangan lupa like vote dan komen biar tambah semangat nulisnya hehe
__ADS_1