SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)

SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)
46


__ADS_3

Risa terlihat sangat ketakutan, Ia tak mampu menjawab padahal Aiden masih berdiri didepan nya menunggu jawaban Risa.


"Jadi siapa yang ingin kau hancurkan hidupnya? aku ingin tahu, mungkin aku bisa membantu." tawar Aiden tersenyum penuh arti.


"Ti tidak ada Tuan." balas Risa dengan bibir bergetar.


"Tidak Risa, tentu ada, kau tadi mengatakan jika wanita itu sudah membuatmu dan Nathan putus jadi kau ingin menghacurkan nya. jadi siapa wanita itu? apakah dia Lara? ah bukan tentu saja bukan Lara karena Lara itu istriku, dia majikan mu disini jadi bukankah kau harus menghormatinya?" kata Aiden yang membuat Risa menunduk diam karena merasa tersindir dengan ucapan Aiden dan Nathan yang masih ada disana pun hanya diam, tidak membantu ataupun membela Risa.


"Katakan saja Risa, jangan ragu aku pasti akan membantu mu. jadi siapa wanita yang kau maksud?" tanya Aiden.


Risa diam, hanya diam ketakutan tidak berani menjawab Aiden.


"JAWAB SEKARANG RISA! SIAPA YANG AKAN KAU HANCURKAN HAH!" Teriak Aiden akhirnya membuat Risa tersungkur dan berlutut di kaki Aiden.


"Maaf, maafkan saya Tuan." Risa berlutut memohon maaf pada Aiden.


"Jadi benar Lara yang ingin kau hancurkan? benar kau yang membuat Lara berteriak baru saja bahkan sampai menangis?"


"Ampun Tuan, saya minta maaf." Risa akhirnya menangis.


Nathan yang masih berada disana merasa kasihan dengan Risa namun Ia juga tidak bisa berbuat apapun untuk membantu karena Risa sudah bersalah, Ia sudah memperingatkan Risa berulang kali namun nyatanya tidak di gubris oleh Risa.


"Tadinya aku tidak ingin mempercayai ini, aku pikir ucapan Lara benar jika tadi kalian hanya bercanda namun sekarang, rasanya tidak percaya jika kau ternyata seperti ini, ku pikir kau gadis pendiam yang baik hati tapi ternyata aku salah."


"Tuan, maafkan saya. maafkan saya." kata Risa masih menangis.


"Sebaiknya kau segera kemasi barang barang mu dan pergi dari sini Risa sebelum aku melakukan hal yang tidak ingin ku lakukan!"


Risa terkejut dengan ucapan Aiden, "Tuan saya mohon, jangan pecat saya Tuan saya mohon!" pinta Risa masih menangis.


"Maaf Risa, ku pikir di villa ini sudah tidak membutuhkan wanita pendendam seperti mu jadi sebaiknya kau pergi atau aku akan melakukan hal lain." kata Aiden yang akhirnya membuat Risa ketakutan dan memilih masuk untuk mengemasi barangnya.


"Dan kau, apa kau juga akan dendam jika wanita yang pernah menjadi kekasihmu ku pecat?" tanya Aiden pada Nathan.


Nathan menggelengkan kepalanya, "Tidak Tuan, tentu saja tidak."


Aiden memasuki Villa, Ia kembali ke kamar Lara dimana Lara masih sesenggukan menangis.

__ADS_1


"Candaan apa yang di ucapkan Risa sampai membuatmu menangis seperti ini?" tanya Aiden mengejutkan Lara membuat Lara segera menghentikan tangisnya.


"Ak aku tidak menangis." Lara menyembunyikan wajahnya di dalam selimut.


Aiden membuka paksa selimut Lara, "Lalu kau tertawa hingga mengeluarkan air mata, begitu maksudmu?"


Lara menunduk karena Ia sudah ketahuan menangis. Lara ingin menahan diri untuk tidak menangis dan memikirkan ucapan Risa namun rasanya sulit sekali, hatinya terasa sakit karena ucapan Risa dan menangis jadi satu satunya penenang untuk dirinya.


"Jangan sembunyikan apapun lagi dariku, sekarang kau sudah memiliki suami, jika ada yang menyakitimu, katakan padaku." kata Aiden yang akhirnya membuat Lara memganggukan kepalanya.


Aiden yang tak tega melihat wajah sembab Lara akhirnya memeluk Lara, "Sebenarnya apa yang dia katakan hingga membuatmu menangis seperti ini hmm."


"Dia ... dia..." Lara kembali menangis karena tak sanggup mengatakan pada Aiden.


"Sudah sudah, jangan katakan apapun lagi." Aiden mempererat pelukan nya.


Sementara Risa dikamarnya juga sesenggukan menangis sambil mengemasi barang barang miliknya.


"Bukankah aku sudah menasehatimu setiap hari untuk tidak menganggu Nona?" tanya Mbok Nah melihat Risa dipecat.


"Aku tidak tahu, semua salah perempuan itu!" umpat Risa masih menangis.


"Kau masih menyalahkan Nona? sebenarnya apa yang kau lakukan pada Nona hingga membuat Tuan marah padamu?" tanya Mbok Nah penasaran.


"Aku tidak melakukan apapun, aku hanya mengatakan jika bayinya pergi karena tidak ingin memiliki ibu seperti dia." kata Risa menghentikan tangisnya.


"Pantas saja Tuan marah, kau sudah menyakiti Nona."


"Bukan aku yang menyakiti dia yang mengoda Nathan dan membuat Nathan memutuskan ku, dia yang sudah menyakiti ku!" umpat Risa terlihat sangat membenci Lara.


Mbok Nah menggelengkan kepalanya tak percaya, karena cinta nya pada Nathan membuat Risa buta akan segalanya.


"Nathan memutuskan mu karena sikapmu yang tidak pernah mempercayainya, bukan karena Nona. lagipula Nona sudah menikah dengan Tuan mana mungkin Nona mengoda Nathan."


"Tidak, aku pernah melihat Dia berbicara akrab dengan Nathan."


"Astaga Risa, buka matamu. jangan seperti ini. kau terlalu mencintai Nathan hingga membuatmu buat akan segalanya."

__ADS_1


"Aku mencintai Nathan, aku bahkan sudah memberikan segalanya untuknya namun sekarang dia malah mencampakan ku seperti ini!"


Mbok Nah akhirnya menyerah, Ia bangun dari duduknya lalu pergi meninggalkan Risa seorang diri, Mbok Nah sudah sangat lelah menasehati Risa yang bebal.


"Jika saja dia tidak datang kesini, hubungan ku dengan Nathan akan baik baik saja dan aku juga tidak mungkin di pecat!" ucap Risa penuh dendam.


Risa menyeret kopernya, Ia sudah ingin keluar namun Nathan malah masuk ke kamarnya. Terlihat wajah Nathan sangat khawatir padanya.


"Untuk apa kau kemari? apa kau ingin menertawakan ku?"


"Apa yang kau katakan itu, aku kemari karena-"


"Sudah cukup, jangan katakan apapun lagi." potong Risa.


"Kau seharusnya senang, aku sudah dipecat dan tidak akan tinggal disini lagi jadi kau bisa bersenang senang dengan gadis itu tanpa takut ku ganggu!"


"Apa yang kau bicarakan, kau masih menuduhku seperti itu? aku pikir setelah kita putus kau berubah lebih baik nyatanya aku salah. kau masih sama saja." kata Nathan terdengar kecewa.


"Minggir, aku harus pergi sekarang. aku sudah muak dengan segalanya."


Risa keluar dari kamarnya, tanpa berpamitan dengan siapapun Risa keluar dari Villa itu.


Ia menyeret kopernya berjalan menuju jalan karena memang letak Villa Aiden sangat terpencil, jauh dari jalan dan keramaian.


Sampai dijalan, Ia ingin menyebrang jalan namun karena tidak melihat Ia ada mobil yang berhenti hampir menabraknya.


"Hey, jangan bodoh. lihatlah jalan jika ingin menyebrang." omel seorang pria pengemudi dari kaca mobil.


"Ma maafkan saya." ucap Risa dengan tangan gemetar.


Seorang pria paruh baya tampak keluar dari mobil dan berjalan mendekatinya,


"Kau baik baik saja Nona?" tanya Pria paruh baya yang terlihat masih tampan itu.


BERSAMBUNG...


jangan lupa like vote dan komenn

__ADS_1


__ADS_2