SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)

SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)
42


__ADS_3

Suara tembakan mengema di aula tempat acara membuat semua orang yang ada disana panik. Bukan Hutama bukan pula Hendra yang menembak namun seseorang suruhan Hendra yang melepaskan tembakan tepat di dada Aiden.


Raka yang sedari tadi berada di belakang Aiden pun segera melindungi Tuan nya dan langsung membawa Tuan nya keluar dari hotel.


Aiden membuka bajunya, Ia ditembak tepat di dada nya namun beruntung peluru itu tidak tembus karena di dalam Ia memakai rompi anti peluru jadi peluru itu bisa meleset tidak mengenai dirinya.


"Ini sangat membahayakan nyawa Tuan." ucap Raka yang kini sudah melajukan mobilnya keluar dari hotel.


Sejak awal Raka memang tidak tahu menahu soal rencana Aiden sebenarnya, Aiden hanya mengatakan jika Ia akan membatalkan pertunangan namun tidak menyangka ada fakta mengerikan di balik itu semua.


"Mereka terlihat mengejar kita." kata Aiden saat melihat ke belakang ada mobil yang mengikuti nya.


"Saya sudah membawa beberapa pengawal mungkin mereka bisa melindungi kita." kata Raka.


Benar saja, saat sampai di dekat hutan sudah tidak ada lagi yang mengikuti mobil Aiden. Aiden merasa lega dan puas dengan apa yang Ia lakukan hari ini.


Dendan yang Ia simpan selama hampir dua puluh tahun sudah terbayarkan. Kini menteri yang di anggap baik sudah tercemar namanya dan mungkin semua orang sudah tidak ada lagi yang akan mempercayai semua kebusukan Hendra.


"Nona Adira pasti sangat shock mengetahui fakta ini Tuan." kata Raka yang entah mengapa merasa kasihan dengan Adira.


"Ck, jangan pikirkan tentang dia, wanita sombong itu pantas mendapatkan nya!" kata Aiden.


"Untuk beberapa saat ke depan kita tidak akan pergi ke kota. kita berada di villa lebih dulu." kata Aiden.


"Lalu bagaimana dengan club Tuan?"


"Jangan pikirkan tentang itu, aku sudah memiliki banyak uang untuk hidup beberapa puluh tahun, lagi pula sebentar lagi Devil Club pasti akan di hancurkan." kata Aiden.


Raka diam, mengingat musuh Aiden adalah orang orang yang sangat berpengaruh tentu saja akan sangat mudah membuat Aiden hancur.


"Jadi untuk sementara kita berada di kandang Tuan?" tanya Raka yang sontak membuat Aiden tertawa.


"Kau pikir kita kambing huh!"


Raka tersenyum, "Hanya mencairkan ketegangan Tuan, saya tidak menyangka Tuan memiliki masa lalu yang begitu kelam." kata Raka.


Aiden tersenyum, "Apa yang kuceritakan tidak seberapa, kenyataan nya hidup ku lebih kelam dari itu. sekarang masih tersisa satu musuh lagi yang juga harus ku buat hancur."


"Apa dia Hutama?"


Aiden mengangguk, "Bukankah ini juga yang kau inginkan?"


"Ya Tuan, saya sangat menginginkan dia hancur." kata Raka yang nyatanya memiliki dendam pada Ayah Angkat Tuan nya itu.

__ADS_1


Aiden dan Raka sampai di villa tengah malam, keadaan Villa sangat sepi karena mungkin penghuni di dalam nya sudah tidur.


Aiden memasuki Villa dan ternyata masih ada Mbok Nah yang menunggunya. Mbok Nah berjalan mendekat dan wajahnya terlihat khawatir.


"Saya pikir Tuan tidak akan pulang malam ini." kata Mbok Nah.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Aiden melihat Mbok Nah yang berbeda tidak seperti biasa.


Mbok Nah mengangguk,


"Apa yang terjadi?" Raut wajah Aiden berubah khawatir.


"Apa benar jika Tuan hari ini bertunangan?" tanya Mbok Nah yang tentu saja membuat Aiden terkejut.


"Dari mana Mbok Tahu? lalu bagaimana dengan Lara?"


"Nona Lara juga tahu jika Tuan bertunangan hari ini."


Dengan raut wajah gelisah, Aiden berlari menuju kamar Lara dimana sudah Ia melihat Lara yang duduk di balkon kamar belum tidur padahal ini sudah tengah malam.


Aiden berjalan mendekati Lara, Ia langsung menyelimuti tubuh Lara dengan selimut, udara malam ini sangat dingin dan Lara hanya mengunakan piyama lengan pendek.


"Sudah malam jangan duduk disini kau bisa sakit." kata Aiden namun Lara hanya diam saja, masih termenung sambil menatap kosong ke depan.


"Kenapa? kenapa kau melakukan ini padaku?" tanya Lara masih menatap kosong ke depan, tidak melihat ke arah Aiden.


"Aku ada alasan melakukan ini semua. lagipula sekarang semua sudah berakhir, pertunangan itu hanyalah drama saja." jelas Aiden akhirnya.


"Kau bohong!"


"Aku mengatakan yang sebenarnya."


"Kau pembohong."


"Baiklah, jika memang kau marah aku bisa mengerti tapi jangan menyiksa diri mu seperti ini. ingat ada baby kita di perut mu."


"Aku sangat membencimu!" ucap Lara yang entah mengapa membuat dada Aiden terasa nyeri.


"Ayo kita masuk." Aiden hendak membantu Lara, menyentuh bahu Lara namun seketika Lara menolak.


"Jangan menyentuh ku!"


"Baiklah tapi kau harus masuk." kata Aiden khawatir.

__ADS_1


Meski sedang marah, Lara akhirnya menurut, masuk ke kamar dan berbaring di ranjang memunggungi Aiden.


"Apa kehamilan ku membuat mu terpaksa menikahi ku?" tanya Lara saat merasa Aiden ikut berbaring di sampingnya.


"Tidak, aku memang ingin menikahimu."


"Kenapa saat aku hamil? kenapa tidak saat pertama aku kesini?"


Aiden terdiam,


"Benar kan? kau menikahi ku karena aku hamil dan mungkin jika aku tidak hamil kau tidak harus menikahiku. kau pasti sudah bahagia dengan gadis itu." kata Lara tanpa sadar Lara sudah terisak menangis.


"Sayang, tidak seperti itu. jangan salah paham." Aiden menyentuh bahu Lara namun Lara menolak tubuhnya disentuh.


"Pertunangan itu terjadi hanya karena bisnis, tidak lebih dari itu."


"Lebih baik ceraikan aku dan kembalikan aku ke kota, aku tidak ingin berada disini. aku tidak ingin menganggu hubungan mu dengan gadis itu." kata Lara yang langsung membuat Aiden mulai tersulut emosi.


"Apa yang kau katakan itu! jangan gila."


Lara berbalik dan memukuli dada Aiden, "Kamu yang gila, kamu yang gila kamu sudah membohongiku, kamu sudah mengkhianatiku."


Aiden mencekal kedua tangan Lara, "Ini hanya salah paham lagipula aku sudah tidak bertunangan dengan Adira, semua ini hanya drama. mengertilah!"


"Aku sudah tidak mempercayaimu lagi!"


"Terserah tapi kau harus tetap disini, kau tidak bisa kemana mana!" kata Aiden melepaskan tangan Lara lalu bangun dan berjalan ke kamar mandi.


Aiden menguyur tubuhnya dengan air dingin, setelah Lara mengatakan cerai entah mengapa membuat Aiden sangat marah.


Ia sangat mencintai Lara, Ia sangat ingin bersama Lara namun Lara malah ingin berpisah dengan nya.


"Tidak Lara, kau tidak akan kemana pun. tempatmu di sini. aku tidak akan membiarkan mu pergi. kau milik ku!"


Aiden keluar dari kamar mandi, Ia sudah merasa segar sekarang.


"To tolong aku.."


Aiden terkejut saat Lara tersungkur di lantai dan ada darah mengalir di kakinya.


Aiden panik seketika Ia mengendong tubuh Lara dan membawanya ke mobil.


"Antar ke klinik sekarang!"

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2