
Aiden mengetuk dengan keras pintu kamar Nathan mendengar jika Lara dan Mbok Nah di culik tentu saja Ia sangat marah meskipun yang menculik adalah ayah angkatnya sendiri.
Pintu terbuka, terlihat Risa yang membuka pintu dengan wajah pucat dan tangan gemetar.
"Kau? kenapa kau bisa disini?" tanya Aiden pada Risa yang sudah di usir beberapa hari yang lalu.
"Tuan maaf, maaf jika saya membawa dia kesini." Nathan yang baru saja terlelap terlihat bangun saat mendengar suara Aiden.
"Ada apa dengan wajahmu?"
"Saya melihat Risa dibawa ke dalam hutan siap untuk dibunuh, saya berniat menyelamatkannya malah berakhir seperti ini."
"Lalu bagaimana dengan Istriku dan Mbok Nah? kau tidak menyelamatkan mereka?" tanya Aiden terlihat kesal.
"Saat itu saya berada ditaman belakang Tuan, saya mendengar keributan diluar namun sudah terlambat karena Nona dan Mbok Nah sudah dibawa ke mobil dan para penjaga sudah pingsan karena ada yang terkena luka tembakan." jelas Nathan.
"Sial!" umpat Aiden terlihat sangat marah, tak menyangka Ayah angkatnya akan memgetahui keberadaannya.
"Mungkin mereka tidak membawa Nona ke kota Tuan."
Aiden menatap Risa yang baru saja berbicara, "Apa maksudmu?"
"Tuan Hutama memiliki Villa disekitar sini Tuan."
Aiden langsung menatap Risa curiga, "Maafkan saya Tuan, saya tidak tahu siapa Tuan Hutama. saat saya pergi dari sini mobil Tuan Hutama hampir menabrak saya. Dia memberikan pekerjaan pada saya dan membeli Villa disekitar sini dan-"
"Dia tahu aku tinggal disini?"
"Maafkan saya Tuan, sekali lagi maafkan saya." ucap Risa sambil menangis.
Aiden tidak mengubris ucapan Risa, Ia pergi begitu saja karena saat ini menyelamatkan istrinya dan Mbok Nah lebih penting dari apapun juga.
"Tuan bagaimana?" tanya Raka yang ikut khawatir.
"Kita kesana sekarang juga!"
"Kita ke kota Tuan?"
"Tidak, dia tinggal disekitar sini." kata Aiden membuat Raka terkejut, Raka merasa sejak beberapa hari terakhir memang ada yang mengawasi Villa mereka dan Raka tak menyangka jika itu salah satu anak buah Hutama.
Raka dan Aiden keluar dari villa, mereka pergi ke Villa Hutama dengan jalan kaki karena jaraknya tidak terlalu jauh.
Mereka sampai disana, meski sudah tengah malam Aiden tetap mendobrak gerbang Villa Hutama.
"Hey apa yang kau lakukan!"
Dor, Aiden langsung mengeluarkan tebakan saat anak buah Hutama berteriak padanya.
Aiden dan Raka memasuki Villa, keadaan terlihat sepi karena mungkin semua orang sudah tidur.
__ADS_1
Aiden melirik Raka dan segera Raka mendobrak pintu utama Villa hingga rusak dan terbuka.
"Wah wah, lihat siapa yang datang." ucap Hutama yang ternyata sudah menunggu mereka.
"Dimana istriku dan Mbok Nah?" tanya Aiden menatap Hutama marah.
"Kenapa kau menanyakan padaku, memang aku tahu." balas Hutama santai.
"Sudah cukup sandiwaramu, apa yang kau inginkan?"
Hutama diam, "Aku hanya ingin mengenal anak mantu ku. itu saja." balas Hutama membuat Aiden tertawa seketika.
"Kau pikir aku bodoh, kau pasti ingin balas dendam karena aku membatalkan pertunangan dengan Adira. membuatmu rugi dan sekarang kau menculik istriku!"
Hutama tertawa, "Kau terlalu berlebihan Nak, aku tidak sejahat itu."
"Katakan dimana istriku!" Aiden langsung menodongkan pistol ke arah Ayah angkatnya itu.
"Wow, kau ingin membunuhku?"
"Sebelum kau membunuh istriku, lebih baik aku membunuhmu lebih dulu!"
"Lalu bagaimana jika istrimu sudah ku bunuh?"
Mendengar ucapan Hutama membuat tubuh Aiden melemas seketika, Ia menjatuhkan pistolnya bahkan matanya pun berkaca kaca.
Aiden kembali mengingat beberapa tahun yang lalu saat dirinya masih kecil harus menjadi yatim piatu tinggal di panti asuhan karena ibunya meninggal di bunuh.
"Halo kakak, apa yang kau lakukan disini?" tanya Wanita itu sangat ramah dan cantik serta membawa bayi lucu yang di gendongnya.
Aiden menunduk diam tidak mengatakan apapun Ia takut berbicara dengan orang asing.
"Kau tinggal dimana?" tanya wanita itu lagi dan Aiden menunjuk ke arah panti yang tak jauh dari Ia berdiri.
"Apa kau ingin bakpao itu?" tanya wanita itu lagi membuat Aiden mendongak dan menatap Wanita itu penuh harap.
Wanita itu tersenyum seolah mengerti apa yang Aiden inginkan, "Kau ingin yang rasa apa? coklat atau stroberi?" tawar wanita itu membuat Aiden malu malu.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Wanita itu mendekati penjual bakpao, membelikan lima bakpao dan memberikan pada Aiden.
"Ternyata ada lima rasa, kau bisa mencoba satu satu."
Aiden menerima bakpao itu namun kepalanya masih menunduk,
"Terimakasih Nyonya."
Wanita itu tertawa, "Jangan panggil aku Nyonya, panggil saja Ibu, ibu Rena." kata wanita itu yang tak lain adalah Rena.
"Bolehkah aku memanggil Ibu?"
__ADS_1
"Tentu saja boleh."
Aiden tersenyum namun seketika senyumnya hilang, "Bagaimana jika bayi ini cemburu dan marah padaku!"
Rena tertawa, "Putriku sangat baik hati, dia tidak mungkin marah jika memiliki kakak sepertimu." kata Rena membuat Aiden kembali tersenyum.
"Aaiideeennn." suara teriakan dari dalam panti membuat Aiden terkejut.
"Aku harus kembali kesana."
Rena mengangguk, "Baiklah, kembali lah."
Aiden baru berbalik namun kembali lagi, "Siapa nama adik cantik ini?"
"Namanya Lara, namanya Senandung Lara."
"Lara, baiklah aku akan mengingatnya." ucap Aiden lalu pergi berlari memasuki panti.
Setelah hari itu, Rena sering mengunjungi panti untuk menemui Aiden. mengajaknya bermain, membelikan makanan yang belum pernah Ia makan dan memgajarinya belajar.
"Apa orangtuamu tahu kau tinggal dipanti?" tanya Rena suatu hari.
"Ibuku sudah mati dan pria itu membunuh ibuku."
"Jangan menyebut ibumu mati Aiden." kata Rena penuh kelembutan.
"Lalu aku harus menyebutnya apa? mereka meninggalkan ku!"
"Ibumu meninggal Aiden. bukan keinginannnya karena itu kehendak Tuhan yang menciptakan kita." kata Rena yang entah mengapa membuat Aiden berhenti membenci ibunya berhenti membenci keadaannya.
Hampir lima tahun lamanya mereka bersama, meskipun Rena tidak mengadopsi Aiden namun Rena tetap menyayanggi Aiden dan menganggapnya seperti putranya sendiri.
Dan Hari itu hari yang tak pernah dilupakan oleh Aiden, Rena baru saja mendapatkan gaji dari usaha menjahitnya dirumah, Ia membawa Aiden dan Lara pergi untuk berjalan jalan ke kota.
Namun siapa sangka hari itu adalah hari terakhir kebersamaan mereka.
Saat Rena ingin mengambil boneka Lara yang terjatuh saat menyebrang, Rena ditabrak mobil membuat Aiden dan Lara terkejut. Lara langsung menangis saat itu juga.
Seorang pria keluar dari mobil dan menatap Rena sambil tersenyum, jelas saja membuat Aiden tak terima karena ibunya sedang kesakitan, pria itu tidak menolong dan malah tersenyum senang melihat Rena terkapar.
"Pergi, bawa adikmu pergi." ucap Rena kala itu yang masih dimengerti oleh Aiden meskipun Rena tidak mengeluarkan suara.
Aiden menangis, ingin tetap menghampiri ibu angkatnya itu namun Rena kembali mengatakan sesuatu yang membuat nyali Aiden menciut,
"Pergi, selamatkan adikmu dari orang jahat ini."
Seketika Aiden mengandeng tangan Lara dan mengajaknya berlari memasuki hutan.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komeenn