
Saat ini Rena sedang berada dimobil bersama Hutama. Keduanya menempuh perjalanan yang lumayan jauh untuk ke suatu tempat dimana putri mereka berada.
Setelah bertahun tahun menanti, Rena sangat merindukan putrinya bahkan Rena belum mengetahui secantik apa putrinya sekarang.
Rena mengenggam tangannya sendiri, ada rasa khawatir juga ketakutan jika nanti kedatangannya tidak diterima oleh Putrinya karena sudah pergi selama bertahun tahun meskipun itu semua bukan keinginan Rena.
Rena melamun menatap jalanan hingga Ia merasa ada tangan hangat yang ikut mengenggam tangannya.
"Apa yang kau pikirkan? apa kau sakit?" tanya Hutama saat melihat wajah pucat Rena.
"Aku sedikit pusing, mungkin mabuk perjalanan karena aku sudah lama tidak naik mobil."
Hutama menepuk bahunya, "Bersandarlah disini jika lelah."
Rena menggelengkan kepalanya membuat Hutama gemas dan memaksa kepala Rena bersandar di bahunya.
"Dasar pemaksa!" cibir Rena membuat Hutama tertawa.
"Tidak perlu khawatir tentang apapun, aku yang bersalah disini. putri kita tidak akan membencimu."
Rena mengangguk, "Aku hanya tidak ingin Lara membencimu dan tidak menerima mu sebagai Ayah."
Hutama tersenyum, "Itu sudah menjadi resiko ku karena aku sudah jahat selama ini."
"Aku tahu tapi seharusnya Lara ti-"
"Hsssttt, jangan katakan apapun lagi. kita lihat saja apa yang akan terjadi nanti." potong Hutama yang akhirnya diangguki Rena.
"Kenapa kamu memberikan nama Lara untuk putri kita?" tanya Hutama yang sudah penasaran sejak mengetahui jika Lara putri kandungnya.
"Senandung Lara, kelahirannya kebahagiaan untuk ku karena dia buah cinta bersama pria yang sangat ku cintai namun juga kesedihan untuk ku karena pada waktu itu kita tidak bersama. aku memberi nama Senandung Lara agar Ia selalu tegar dan kuat menghadapi kebahagiaan dan kesedihan dalam hidup."
Hutama memeluk Rena, "Maaf, maafkan aku. semua salahku."
"Sudah, tidak perlu seperti ini. sebaiknya kita perbaiki semua kesalahan di masa lalu."
"Pasti berat menjadi kamu sayang." kata Hutama.
Rena tersenyum, "Berat sangat berat tapi sekarang aku bahagia karena akhirnya kamu mempercayai ku lagi."
Hutama tak lagi menjawab, Ia menatap Rena hingga membuat Rena salah tingkah.
"Apa masih jauh? kita bahkan sudah berangkat subuh tadi dan masih belum sampai." kata Rena memalingkan wajahnya karena tak tahan dengan tatapan Hutama.
Hutama tersenyum, "Satu jam lagi kita sampai sayang."
__ADS_1
"Kenapa jauh sekali, kau menyembunyikan ku sangat jauh." kata Rena.
Hutama tidak mengatakan apapun lagi, Ia merengkuh tubuh Rena ke dalam pelukannya. Perasaan nyaman yang sering Ia rasakan akhir akhir ini saat memeluk Rena.
Satu jam berlalu, Mobil Hutama dan mobil pengawalnya memasuki sebuah Villa mewah. Hutama keluar lebih dulu disusul oleh Rena.
Tak jauh dari sana seorang pria berdiri menatap Hutama dan sangat terkejut saat melihat Rena.
"Ti tidak mungkin." gumam Aiden saat melihat wanita yang baru saja keluar dari mobil.
"Ada apa?" tanya Lara yang sudah memasuki mobil.
Aiden tidak menjawab dan malah berjalan mendekati pria dan wanita yang tak lain adalah Hutama dan Rena.
Karena penasaran, Lara akhirnya keluar melihat Hutama dengan seorang wanita yang menatap ke arahnya.
"I ibu..." kata Aiden saat sudah berada didepan Rena.
Rena mengerutkan keningnya heran dengan Aiden yang berdiri didepannya. Tubuh Aiden menutupi Rena yang ingin melihat gadis yang baru saja keluar dari mobil, Lara.
"Siapa dia?" tanya Rena sedikit berbisik pada Hutama.
"Suami Lara, mungkin kau sudah mengenalnya." balas Hutama.
Aiden menatap Rena hingga tak sadar ingin meneteskan air matanya tak percaya, "Ibu masih hidup?"
Rena terkejut, Ia ingat tentu saja Rena ingat karena Aiden juga sudah Ia anggap sebagai putranya.
"Aiden, kau Aiden. astaga kau sangat tampan." kata Rena memeluk tubuh putranya yang kini sudah beranjak dewasa itu.
Lara yang penasaran melihat dari jauh, akhirnya dia mendekat ke arah Aiden.
Rena melepaskan pelukannya, Ia kini menatap Lara yang mendekat ke arahnya.
"Apa ini Lara?" tanya Rena dengan bibir bergetar.
"Ya ini Lara, putri kita."
Lara menatap Rena dan Hutama secara bergantian, Ia bingung dengan apa yang baru saja mereka ucapkan.
Rena mendekati Lara, mengelus kedua pipi Lara lalu menangis.
"Kenapa kamu sudah sangat besar nak." ucap Rena.
"Anda siapa?" tanya Lara bingung.
__ADS_1
Rena terkejut, "Apa kau sudah lupa dengan wajah Ibu nak? kau melupakan wajah ibumu ini?"
Lara menatap Rena masih dengan tatapan bingung, "Ibu? bukankah Ibu ku sudah meninggal?"
"Pada saat Ibu kecelakaan, Lara jatuh membentur batu yang membuatnya menjadi lupa ingatan. Lara sudah lupa dengan masa kecilnya termasuk wajah Ibu." jelas Aiden yang mengetahui kejadian pada waktu itu.
Tangisan Rena semakin keras, bahkan tubuh Rena melemas setelah mendengar apa yang terjadi pada putrinya itu.
"Maafkan Ibu, maafkan ibu." ucap Rena.
"Dia ibumu sayang, dia ibumu. ibu kita masih hidup. peluklah dia." bisik Aiden ditelinga Lara.
Lara kini akhirnya paham dengan apa yang mereka katakan. wanita yang menangis didepannya itu adalah Ibunya, ya ibu Rena yang ternyata masih hidup.
"Ibu..." Lara mendekati Rena lalu memeluk tubuh Rena.
"Ibu..." Lara ikut menangis bersamanya.
Bertahun tahun Lara kesepian, tidak merasakan sosok seorang ibu kini Ia kembali merasakan kehangatan memeluk ibunya.
Melihat Rena dan Lara menangis dan memeluk satu sama lain membuat perasaan Hutama semakin merasa bersalah. Ia yang salah paham dan menyebabkan semua orang menderita.
Hutama tak tahan akhirnya pergi dari sana. menjauh dari Rena dan Lara.
Hutama berada ditaman belakang Villa, Ia mengambil satu rokok lalu menyalakannya. Ia hisap rokok itu dalam dalam dan mengeluarkan asapnya, memberikan rasa tenang untuk dirinya.
"Kau sangat licik." suara Aiden yang tiba tiba berada dibelakangnya.
Hutama tak menjawab, Hanya tersenyum kecut.
"Memisahkan Ibu dan Anak selama bertahun tahun apa kau tidak merasa bersalah?"
Hutama membuang rokoknya dan menginjaknya sampai rokok itu mati, "Jika aku tahu apa yang sebenarnya terjadi, aku tidak akan mungkin melakukan ini semua." balas Hutama santai.
"Karena kau bodoh, jika saja kau mencari tahu tentang semua ini sejak awal, mereka tidak akan menderita." kesal Aiden.
"Kau sudah mengatakan aku bodoh berulang kali. ingatlah biar bagaimanapun aku ini Ayah angkatmu dan sekarang aku Ayah mertuamu. setelah Lara memaafkan ku, aku tidak akan memberikan restu untukmu dengan mudah!" kata Hutama berjalan melewati Aiden.
"Aku bahkan sudah menikah dengan Lara, apa yang ku takutkan." ejek Aiden.
"Ingat, kau belum mendapatkan restu dari Ibunya."
Aiden terdiam, beberapa saat Ia akhirnya tersenyum, "Aku akan segera mendapatkannya, dan ...
Terima kasih sudah membuat Ibu Rena tetap hidup."
__ADS_1
BERSAMBUNG...
jgan lupa like vote dan komenn yahh