SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)

SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)
21


__ADS_3

Lara baru saja bangun setelah mendengar suara burung berkicau menandakan waktu sudah pagi.


Lara menatap ranjang disampingnya yang masih kosong, semalam Aiden tidak menyusulnya kesini.


"Apa dia masih kesal?" batin Lara mengingat hari kemarin mood Aiden sangat buruk.


"Ck, untuk apa aku memikirkan ini, bagus jika Ia tidak tidur di sini semalam." ucap Lara lalu bangun dan berjalan ke kamar mandi.


Lara keluar dari kamar untuk sarapan namun di meja makan tidak ada Aiden.


"Apa dia belum bangun?" gumam Lara yang didengar oleh Mbok Nah dan membuat Mbok Nah tersenyum.


"Tuan pergi sejak semalam Nona."


Lara terkejut, "Pergi?"


Mbok Nah mengangguk, "Sepertinya ada urusan penting dengan Den Raka, mereka berdua pergi dan terlihat buru buru." jelas Mbok Nah yang entah mengapa membuat Lara lesu seketika.


"Dia tidak mengatakan apapun padaku, menyebalkan."


"Nona harus terbiasa dengan keadaan ini, Tuan memang sering pergi tanpa pamit dan mungkin bisa berhari hari."


Lara menghela nafas panjang, nafsu makan nya hilang seketika mendengar Mbok Nah mengatakan itu.


Selesai sarapan, Lara memilih pergi ke taman belakang. Setelah tidak ada Nathan, Ia jarang datang ke taman juga tidak pernah merawat tanaman yang ada disini namun Lara di buat heran saat melihat semua tanaman tumbuh dengan baik padahal tidak ada yang merawatnya.


"Kenapa bunga nya terawat, siapa yang mengurus taman ini?"


"Tentu saja saya Nona." suara seorang pria mengejutkan Lara. Lara sangat mengenal suara itu dan saat berbalik...


"Nathan..." raut bahagia Lara terpancar, Ia tak menyangka melihat Nathan masih dalam keadaan sangat bugar, tidak ada luka di tubuhnya seperti yang terakhir Ia lihat.


"Apa benar ini kau?" Lara mendekat namun Nathan sedikit menghindar, memberi batasan diantara mereka.


"Ya, benar ini saya Nona."


"Kau baik baik saja?"


Nathan mengangguk, "Berkat kebaikan Tuan saya baik baik saja."


"Aku pikir kamu sudah..."

__ADS_1


"Tidak Nona, waktu itu saya di tembak, hanya pingsan dan Tuan langsung membawa saya kerumah sakit." jelas Nathan membuat Lara terkejut namun juga merasa lega. setelah peristiwa penembakan Nathan, Lara tak henti hentinya menyalahkan dirinya sendiri karena Lara penyebab Nathan di tembak namun siapa sangka Aiden justru menyelamatakan nyawa Nathan waktu itu.


"Saya bersalah waktu itu karena ingin mengajak Nona kabur dari sini dan saya pantas mendapatkan hukuman itu jadi Nona tidak perlu menyalahkan diri lagi."


Lara menggeleng tak setuju, "Tidak Nathan, aku yang meminta mu membantu ku kabur, tentu saja aku yang bersalah."


Nathan tersenyum, "Saya bersalah Nona telah menyukai Nona yang tidak akan pernah bisa saya miliki." batin Nathan.


"Kita lupakan saja Nona, sekarang saya sudah baik baik saja."


Lara mengangguk setuju, "Aku hanya heran saja, bagaimana bisa Aiden menyelamatkanmu padahal dia sendiri yang menembakmu."


"Karena Tuan memang tidak pernah membunuh siapapun Nona, bahkan pistol yang di gunakan Tuan hanya pistol mainan yang tidak akan menyebabkan mati."


Lara lagi lagi dibuat terkejut, "Bukankah dia mafia? aku tidak percaya jika dia belum pernah membunuh siapapun."


"Mafia hanyalah pekerjaan Tuan tapi saya bisa pastikan jika Tuan belum pernah membunuh siapapun."


Lara tersenyum, "Syukurlah jika begitu."


Tampak Risa datang mendekati Nathan, "Kau baik baik saja?" tanya Risa pada Nathan sambil sesekali melirik sinis ke arah Lara.


"Jangan seperti itu, Nona adalah majikan mu, kamu harus menghormatinya." kata Nathan menasehati Risa yang tidak menyukai Lara.


"Aku tidak akan membuat masalah lagi, tenanglah Risa." kata Lara menyela ucapan Risa.


"Lanjutkan obrolan kalian, aku akan masuk." kata Lara yang akhirnya pergi meninggalkan Risa dan Nathan.


"Tidak seharusnya kamu seperti itu Risa." kata Nathan lagi merasa tak enak dengan Lara.


"Kenapa? apa kau terlalu menyukai dia sampai membela dia seperti itu, ingat kemarin bahkan kau hampir mati karena wanita itu Nathan!" Kata Risa sambil menatap Nathan kesal.


"Itu kesalahanku, jangan menyalahkan Nona lagi."


"Jika kau menyukai wanita lain pikirkan perasaan ku, jangan seperti ini!" Risa pergi meninggalkan Nathan.


Nathan menatap punggung Risa sambil menghela nafas berkali kali, Ia merasa sudah bersalah karena menyukai wanita lain disaat Ia sudah memiliki Risa yang selama ini menemaninya.


"Maafkan aku Risa, maaf." gumam Nathan disaat punggung Risa sudah tidak terlihat lagi.


Sementara itu Lara kembali memasuki kamarnya, Ia sedikit kesal dengan sikap Risa. Lara cukup mengerti tentang kekhawatiran Risa hanya saja, Lara sudah berjanji tidak akan melakukan lagi, tidak akan membuat Nathan bermasalah lagi, tidak kah Risa memaafkan apa yang terjadi kemarin?

__ADS_1


"Tentu saja dia marah, kekasihnya bahkan hampir mati karena ku."


....


Aiden memasuki sebuah rumah yang kini ramai orang. saat ini Ia berada dirumah Friska. Acara pemakaman baru saja selesai, semua orang masih berduka. Raka, Ayah Friska juga Nila adik kandung Friska yang tak henti hentinya menangis.


"Siapa yang akan menanggung hidup kami setelah Friska meninggal? selama ini dia menjadi tulang punggung dan sekarang..." keluh Ayah Friska saat Aiden duduk didepan nya.


"Bekerja lah di tempat ku jika anda mau." tawar Aiden.


"Apa yang bisa di lakukan tubuh tua renta ini Tuan?"


Raka menatap Ayah Friska kesal, Ia melihat Ayah Friska masih sehat segar bugar dan masih bisa bekerja namun selama ini Ayah Friska malah menjadikan Friska atm berjalan nya.


"Jika Anda mau bisa bekerja di club malam sebagai cleaning service dan saya akan memberikan gaji cukup untuk menghidupi putri Anda." kata Aiden melirik ke arah Nila yang masih terlihat belia karena memang Nila masih sekolah menengah.


Ayah Friska hanya diam tak menjawab.


"Bagaimana? apa anda menerima tawaran saya?" tanya Aiden.


"Apa tidak ada uang kematian untuk Friska, bukankah kamu bosnya dan Friska bekerja ditempatmu, sudah seharusnya kamu memberikan uang kematian yang cukup banyak pada kami." kata Ayah Friska penuh percaya diri.


Aiden tersenyum, "Berapa yang kamu minta?"


"Satu milyar saja sudah cukup menggantikan nyawa Friska."


"Ayah!" Sentak Nila tak terima.


Raka juga terlihat mengepalkan tangan nya, jika saja bukan Ayah Friska mungkin Raka sudah menghabisi pria mata duitan didepan nya saat ini.


"Saya bahkan bisa menambahkan satu milyar untuk anda, asalkan..."


"Jadi Dua milyar? Tuan akan memberikan uang dua milyar pada saya?" tanya Ayah Friska tak percaya.


"Tentu saja namun ada syaratnya,"


"Apapun syaratnya akan ku lakukan Tuan," kata Ayah Friska tampak bersemangat.


"Aku meminta putrimu yang ini."


Aiden menunjuk ke arah Nila membuat Nila terkejut dan ketakutan.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komennn


__ADS_2