SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)

SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)
40


__ADS_3

Tangan Lara mendadak gemetar, Ia menjatuhkan undangan yang baru saja Ia baca setelah itu dirinya ikut tersungkur di lantai. Lara tidak bisa menopang tubuhnya yang tiba tiba lemas tak berdaya.


Sekali lagi Lara mengambil undangan itu dan membaca nama pria yang akan bertunangan hari ini, Raiden Arshaka Putra nama itu seperti nama Aiden yang baru kemarin mengucap ijab kabul untuk menikahinya lalu kenapa Aiden bisa bertunangan hari ini?


Nadira Sekar Putri, nama wanita yang akan bertunangan dengan Aiden.


Lara kembali menjatuhkan undangan itu, Ia ingin tidak percaya dengan apa yang baru saja Ia baca, Ia ingin menganggap jika itu bukan Aiden namun membaca nama lengkap itu Lara menyakini jika memang itu Aiden.


"Apa yang sebenarnya terjadi? apa yang Ia inginkan dari ku?" gumam Lara masih tak mengerti dengan keadaan yang terjadi.


Lara duduk terdiam cukup lama hingga akhirnya Ia berdiri, berjalan lemas keluar dari garasi mobil.


"Nona..." panggil Mbok Nah melihat Lara berjalan dengan tatapan kosong.


"Ada apa Nona? apa Nona baik baik saja?" tanya Mbok Nah merasa ada yang tidak beres dengan Lara.


"Haruskah saya memanggil Tuan Nona?" tawar Mbok Nah kala Lara mengacuhkan dirinya.


"Tidak perlu!" balas Lara singkat lalu memasuki kamar, mengunci pintu dari dalam.


Mbok Nah mengerutkan keningnya, mencoba menerka apa yang terjadi pada Lara.


"Tadi saat keluar bersama Tuan sepertinya mereka baik baik saja." gumam Mbok Nah.


"Sudahlah mungkin mereka bertengkar saat berada diluar." mbok Nah mencoba mengabaikan dan melajutkan pekerjaan nya.


Tepat pukul tujuh pagi, Mbok Nah mengetuk pintu kamar Lara untuk membawakan sarapan karena Lara tak kunjung keluar untuk sarapan.


"Nona bukan pintunya, Nona harus sarapan dan segera minum vitamin." kata Mbok Nah mengetuk pintu menggunakan tangan kiri sementara tangan kanan Ia gunakan untuk membawa nampan berisi sarapan.


Tidak ada sahutan dari dalam membuat Mbok Nah khawatir.


"Nona buka pintunya atau saya akan meminta Nathan untuk mendobrak paksa pintunya!" Teriak Mbok Nah dari luar.


Cukup lama dan Masih tidak ada sahutan dari dalam, "Baiklah, saya akan meminta Nathan untuk mendobrak pintunya." kata Mbok Nah dan barulah pintu terbuka.


"Aku tidak lapar dan aku tidak ingin makan apapun." kata Lara dengan wajah pucat.


Tanpa menunggu ijin, Mbok Nah memasuki kamar Lara, meletakan nampan di meja lalu mengajak Lara duduk di pinggir ranjang.


"Nona sebenarnya apa yang terjadi?"

__ADS_1


Lara tidak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya pelan.


Mbok Nah mengenggam tangan Lara, "Jangan menyiksa diri seperti ini, jika memang ada masalah ceritakan pada Mbok Nah, apa Nona bertengkar dengan Tuan?" tanya Mbok Nah lagi.


Lara kembali menggelengkan kepalanya pelan,


"Nona jika seperti ini, Nona bisa menyiksa calon baby yang ada diperut." kata Mbok Nah yang akhirnya membuat Lara menangis.


Mbok Nah memeluk Lara, memberikan kehangatan seorang ibu untuk Lara.


Cukup lama Lara menangis hingga akhirnya Ia merasa lega dan menghentikan tangisnya.


"Ceritakan pada Mbok, mungkin memang Mbok tidak bisa membantu tapi mbok mendengar apapun yang akan Nona ceritakan." kata Mbok Nah.


"Na nama lengkap Aiden itu benar Raiden Arshaka putra?" tanya Lara pada Mbok Nah.


"Benar Nona."


"Lalu siapa Nadira sekar putri?"


Mbok Nah mengerutkan keningnya, "Saya tidak mengenalnya Nona. sebenarnya ada apa Nona?"


"Ak aku melihat ada undangan pertunangan di kursi mobil dan yang bertunangan adalah Aiden." jelas Lara yang membuat Mbok Nah terkejut.


Lara mengangguk dan kembali menangis, "Apa Mbok tahu sesuatu tentang ini?"


Mbok Nah langsung menggelengkan kepalanya, "Saya tidak mengetahui apapun tentang ini Nona."


"Setahu saya Tuan sangat mencintai Nona, rasanya tidak mungkin jika Tuan melakukan ini." kata mbok Nah lagi.


"Apa berarti itu orang lain? bukan Aiden kita?" tanya Lara lagi masih sesenggukan menangis, berharap jika bukan Aiden yang bertunangan hari ini.


Mbok Nah membawa Lara ke dalam pelukan nya, "Sebaiknya Nona menenangkan diri, menunggu Tuan datang dan tanyakan kebenaran nya pada Tuan." kata Mbok Nah.


"Lalu bagaimana jika memang ini benar Mbok? bagaimana jika Aiden bertunangan hari ini?"


"Jika memang benar, Nona meminta Tuan menjelaskan segalanya agar Nona bisa mengetahui posisi Nona sekarang dan harus melakukan apa setelahnya." kata Mbok Nah yang akhirnya membuat Lara sedikit tenang.


Lara sendiri juga tak mengerti kenapa dirinya bisa merasa nyaman saat bersama Mbok Nah. Apapun yang dikatakan Mbok membuat hatinya merasa tenang.


"Sekarang sebaiknya Nona sarapan dan minum vitamin nya." kata Mbok Nah yang langsung di angguki Lara.

__ADS_1


Selesai sarapan, Lara kembali ke garasi mobil untuk mengambil undangan yang Ia jatuhkan disana. Lara ingin menyimpan undangan itu dan menanyakan pada Aiden nanti malam jika Aiden sudah pulang.


Saat memasuki Villa tak sengaja Lara menabrak Risa membuat undangan itu kembali jatuh ke lantai. Dengan cepat Risa mengambilkan undangan itu tak lupa Ia kepo dengan isi undangan itu.


Lara merebut undangan itu namun sayang terlambat karena Risa sudah membacanya.


"Sudah ku duga pasti Tuan tidak akan setulus itu dengan Nona." ejek Risa sambil tersenyum senang.


Lara tak mengubris ucapan Risa, berjalan melewati Risa begitu saja,


"Jika Tuan memang tulus mungkin sudah menikahimu sejak awal namun kenyataan nya Tuan menikahimu setelah kau hamil. mungkin jika kau tidak hamil Tuan tidak akan pernah menikahimu." kata Risa membuat Lara mengepalkan tangan nya.


"Aku sangat kasihan dengan mu!" kata Risa lagi.


"Apa kau mengatakan ini karena aku dekat dengan Nathan kekasihmu?" tanya Lara tersenyum mengejek membuat Risa langsung kesal.


"Mungkin jika aku merayunya sedikit lagi dia akan menjadi milik ku, lalu bagaimana denganmu? kau akan di buang begitu saja." kata Lara lagi.


"Kau..." Risa ingin menampar Lara namun dengan cepat Lara menahan tangan Risa.


"Jadi siapa yang kasihan sekarang aku atau dirimu?" tanya Lara lalu melepaskan kasar tangan Risa.


Setelah puas membalas Risa, Lara segera pergi meninggalkan Risa yang kini sangat marah.


"Dasar ******! aku pasti akan membalasnya!" umpat Risa.


"Kau berulah lagi?" suara Nathan mengejutkan Risa.


"Se sejak kapan kau berada disana?"


"Kenapa? apa kau ingin menanyakan juga apa aku mendengar apa yang kau katakan pada Nona?" sinis Nathan.


"Sayang dengarkan aku, aku tidak bermaksud-"


"Kita putus!" kata Nathan membuat Risa sangat terkejut.


"Jangan bercanda, apa yang kau katakan. kita akan segera menikah jadi tidak mungkin kalau-"


"Aku sudah tidak tahan lagi dengan sikap buruk mu jadi lebih baik kita putus. jangan menganggu ku lagi!" kata Nathan lalu pergi meninggalkan Risa yang masih tidak percaya.


Bersambung...

__ADS_1


jangan lupa like vote dan komenn


__ADS_2