SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)

SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)
56


__ADS_3

Dengan wajah memar biru Rena berjalan memasuki sebuah kost dimana Ia bisa mendapatkan perlindungan disana.


Rena mengetuk pintu kost dan tak berapa lama pintu terbuka, Nana sahabatnya yang tinggal di kost sangat terkejut melihat memar di wajah Rena.


"Masuklah." ajak Nana lalu menutup pintu.


Nana membuatkan teh hangat untuk Rena lalu duduk disamping Rena, "Apa Tama berbuat kasar lagi padamu? dia memaksamu melakukan lagi?" tanya Nana terlihat khawatir setelah beberapa minggu yang lalu Rena bercerita jika Tama berubah bahkan Tama selalu meminta berhubungan badan dengan Rena.


"Tidak, bukan Tama, dia sudah tidak memaksaku lagi."


"Lalu siapa? apa keluarganya lagi?" tebak Nana yang langsung membuat Rena menunduk.


"Astaga Rena, mau sampai kapan kau seperti ini? jika memang keluarga Tama tidak merestui cinta kalian, lepaskan saja dia!"


Rena menggelengkan kepalanya, "Aku tidak bisa melakukan nya, aku sangat mencintai Tama dan juga saat ini aku sedang mengandung anak Tama." ungkap Rena yang membuat Nana sangat terkejut.


"Kau hamil Rena? astaga Rena!" Nana sangat kesal dengan sikap Rena yang sangat lemah, tidak tegas.


"Bahkan sejak sekolah orangtuanya sudah tidak menyukaimu, seharusnya kau sadar dan menjauhinya tapi apa yang kau lakukan sekarang!"


Rena akhirnya menangis, "Aku tidak tahu lagi harus melakukan apa Nana, baru saja aku di ancam jika tidak meninggalkan Tama, mereka akan menghabisi keluargaku."


Nana akhirnya memeluk Rena, "Sudah Rena, tenangkan dirimu lebih dulu agar kau bisa mengambil keputusan terbaik untuk hidupmu."


Rena menurut Ia diam sejenak untuk memikirkan apa yang akan Ia lakukan setelah ini.


Dan paginya, Rena akhirnya sudah membuat keputusan, "Mungkin aku akan meninggalkan Tama, aku akan menyelamatkan keluargaku dan bayi ini." kata Rena sambil mengelus perutnya yang masih rata.


"Apapun keputusan mu, aku percaya itu yang terbaik. kamu berhak untuk bahagia Rena." kata Nana membuat Rena memeluk sahabatnya itu.


Rena akhirnya pulang kerumahnya, Ia segera memasuki kamar untuk mencari tespack yang Ia gunakan kemarin untuk mengetes kehamilannya.


Rena mengenggam erat tespack itu, Ia sudah bertekad akan melepaskan Hutama dan memulai hidup baru.


Seseorang mengetuk pintunya membuat Rena segera keluar untuk membuka pintu.


"Hay Nona..."


....


Hutama masih tersungkur dilantai, Ia masih tidak mempercayai apa yang Nana ucapkan.


"Ti tidak mungkin. keluargaku sama sekali belum mengenalnya, bagaimana bisa dia diganggu keluargaku?" gumam Hutama.


"Kau benar benar bodoh, tentu saja orangtuamu menutupi semua ini agar kau tidak tahu. hampir setiap hari Rena mendapatkan ancaman."

__ADS_1


"Rena tidak pernah menceritakan ini padaku."


"Tentu saja tidak karena dia tidak ingin hubungan mu dengan orangtua mu rusak hanya karena dia."


Hutama kembali menundukan kepalanya,


"Dia memang menikah dengan pria lain tetapi dia tidak pernah mencintai pria itu bahkan pria itu juga tidak pernah menyentuh Rena karena Rena ingin hanya kamu yang menyentuhnya. Rena memang bodoh, dia sangat bodoh karena mencintai pria sepertimu!" umpat Mbok Nah yang membuat mata Hutama memerah, entah menangis atau marah.


"Kurung dia ke kamarnya, aku sudah tidak ingin mendengar omong kosongnya lagi." perintah Hutama pada Anak buahnya.


"Kau bodoh Tama, kau benar benar bodoh, aku menyesal memberikan sahabatku padamu. kau bodoh dasar pria brengsek!" umpat Mbok Nah sebelum mulutnya di begap oleh anak buah Hutama agar diam.


Hutama memasuki kamarnya, ucapan Nana masih teringat jelas di kepalanya. tiba tiba Hutama kembali teringat saat Ia pulang dari rumah Rena dan mendengar Ayahnya menelepon seseorang,


"Kau sudah membereskan wanita itu? bagus aku akan memberimu bonus."


Juga pria yang ada diranjang bersama Nana adalah salah satu anak buah Ayahnya yang sudah lama mengundurkan diri bekerja dengan Ayahnya.


Hutama ingat, ia benar benar ingat sekarang membuat Hutama sadar jika ucapan Nana mungkin benar. benar jika Rena mendapatkan ancaman selama bersama dirinya.


Tanpa disadari, Air mata Hutama menetes, entah Ia menagisi kebodohan nya atau menyesal namun Hutama merasa Ia semakin hancur setelah mengetahui fakta ini padahal sudah hampir lima belas tahun lamanya berlalu.


Hutama keluar, Ia membuka pintu kamar Mbok Nah, "Jika dia anakku, lalu dimana dia sekarang? dimana putriku sekarang?" tanya Hutama pada Mbok Nah.


"Katakan dimana dia sekarang, aku tidak butuh omong kosongmu yang lain!"


"Aku tidak tahu, sudah lama aku kehilangan jejak setelah Rena meninggal. yang aku ingat Roy membawa putrimu pergi bersamanya."


"Roy?"


"Anak buah ayahmu yang menikahi Rena." jelas Mbok Nah yang membuat Hutama semakin yakin jika keluarganya lah yang membuat Ia salah paham hingga menjadi pria berdarah dingin yang suka membunuh orang.


Tanpa mengatakan apapun, Hutama kembali keluar dari kamar Mbok Nah.


Ia mengambil ponselnya di saku untuk menghubungi seseorang.


"Cari tahu keberadaan Roy sekarang, pria yang pernah bekerja dengan Ayahku." kata Hutama lalu mengakhiri panggilan.


Hutama memandangi kamar Lara, saat ini fokusnya ingin mencari putrinya lebih dulu, Ia tak ingin memikirkan hal lain.


Sementara itu Nathan saat ini tengah membawa Dokter Devan untuk membantu menyelamatkan anak buah Aiden, tanpa sengaja Ia melihat dua pria berbadan kekar membawa masuk seorang wanita ke dalam hutan.


Nathan memperlambat laju motornya, Ia merasa wanita yang dibawa dua pria itu tidak asing untuknya.


"Ada apa?" tanya Devan yang saat ini memboceng di belakang.

__ADS_1


"Dok, bisakah Dokter membawa motor saya ke villa, saya ada urusan lain." kata Nathan menghentikan motornya.


Mata Nathan terus memandangi ke arah hutan, tak ingin kehilangan jejak.


"Enak saja, di villa sedang ada masalah besar jika aku kesana sendiri bisa bisa aku ikut mati." omel Devan tidak mau.


"Ya sudah jika tidak mau, Dokter tunggu saja disini." kata Nathan langsung meninggalkan Devan begitu.


"Hey, sialan! kau sama saja seperti bosmu!" umpat Devan.


Tak ingin menunggu sendirian di pinggir jalan, Devan akhirnya ikut memasuki hutan.


"Lepaskan aku, lepaskan." ucap Risa saat ini tangan nya terikat dan Ia dibawa memasuki hutan.


Dua pria berbadan kekar itu melempar tubuh Risa hingga Risa tersungkur ditanah.


"Gadis ini lumayan juga, bagaimana kalau kita cicipi dulu sebelum kita habisi." kata Salah satu pria membuat Risa ketakutan.


"Ku mohon jangan lakukan itu, jangan bunuh aku!" mohon Risa.


Kedua pria itu tertawa, "Kami tidak akan membunuh Nona, kami hanya ingin mencicipi rasamu sedikit saja."


"Tidak, ku mohon jangan." Risa memundurkan tubuhnya namun kakinya sudah di cekal oleh salah satu pria.


"Tidak... jangan." tangis Risa saat satu pria sudah menyibak rok yang Ia pakai.


Bughh... Nathan yang datang tepat waktu memukul punggung pria yang ingin menyibak rok Risa menggunakan kayu.


"Sialan, siapa kau!" teriak pria itu kesakitan.


Dua pria itu menghajar Nathan hingga babak belur, Risa yang meyaksikan itu hanya bisa menangis.


"Sebaiknya kalian mati berdua." anak buah Hutama sudah mengeluarkan pistolnya, hendak menembak Risa dan Nathan namun sayangnya tangan nya sudah di tembak lebih dulu hingga pistol yang Ia bawa jatuh.


"Bisa bisanya kalian bermain dengan anak kecil seperti ini." ucap penembak yang tak lain adalah Devan.


"Sialan, siapa kau!"


"Pergi atau ku bunuh." kata Devan sambil menodongkan pistolnya.


Dua anak buah Hutama tidak menyerah, malah mengambil pistol mereka yang jatuh dan hendak menembak Devan namun sayang Devan lebih dulu melepaskan tembakan hingga dua anak buah Hutama mati.


"Aku sudah mengingatkan kalian untuk pergi dan kalian malah memilih mati." kata Devan santai lalu pergi meninggalkan Nathan yang memeluk erat Risa yang masih menangis.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2