SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)

SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)
80


__ADS_3

Dorrrr...


Dorrr...


Dua kali suara tembakan kembali terdengar sesaat tubuh Aiden oleng dan jatuh ke lantai.


Hutama melihat ternyata Hendra masih bisa menembak pinggang kiri Aiden, Ia akhirnya melepaskan tembakannya mengenai kedua tangan Hendra agar Hendra tidak kembali berulah.


Lara tampak menangis histeris, Vans dan Raka langsung mendekat dan membawa tubuh Aiden ke bawah agar bisa segera kerumah sakit.


"Bertahanlah sayang, bertahan. jangan tinggalkan aku." ucap Lara sambil menangis.


Aiden yang masih sadar pun tersenyum, Ia mengenggam tangan Lara, "Jangan khawatir, aku baik baik saja." kata Aiden terlihat tenang. saat ini keduanya berada di mobil yang dikemudikan Raka dengan kecepatan tinggi, dibelakang mobil mereka ada mobil Hutama yang juga melaju tak kalah kencang.


Beruntung jalanan malam ini sangat sepi jadi mereka cepat sampai dirumah sakit dan Aiden segera di tangani.


"Beruntung pelurunya tidak menembus pinggang terlalu dalam jadi bisa diangkat dan kemungkinan akan segera pulih." kata Dokter yang baru saja menangani Aiden membuat semua orang bernafas lega karena Aiden baik baik saja.


Aiden kini sudah berada di ruang perawatan, Lara duduk disampingnya dan mengenggam erat tangan suaminya itu seolah tidak mau ditinggalkan.


"Pikirkan kesembuhanmu, Hendra biar aku saja yang urus." kata Hutama pada Aiden.


Aiden mengangguk, "Apa dia mati?"


Hutama menggeleng, "Sepertinya dia tidak mati, tapi polisi segera mengurusnya."


Aiden mengangguk, "Baiklah, sebaiknya kalian segera pulang dan istirahat." kata Aiden yang diangguki semua orang.


Hutama, Rena dan Vans segera keluar dari ruang inap Aiden sementara Raka masih berdiri disana.


"Kau juga pulanglah, katakan pada orang Villa jika kita baik baik saja." perintah Aiden pada Raka.


"Tapi Tuan-"


"Kita bicara lagi setelah aku pulang."


Raka akhirnya menyerah, "Baik Tuan."


Raka seolah masih ragu untuk keluar, Ia merasa sangat bersalah pada Aiden. Yang terjadi hari ini karena kesalahannya.


"Dan terimakasih sudah menembak Hendra untuk ku." kata Aiden membuat Raka tersenyum dan akhirnya keluar dari ruangan Aiden.

__ADS_1


Kini tinggalah Lara dan Aiden didalam ruangan itu,


"Kenapa menatapku seperti itu?" heran Aiden melihat tatapan Lara yang sangat sedih.


"Selama ini aku pikir hidupku yang paling menyedihkan, aku tidak ingat apapun tentang masa lalu ku, aku juga harus putus sekolah dan bekerja untuk pria yang nyatanya bukan Ayahku, namun sekarang melihat apa yang terjadi padamu dulu, penderitaan ku masih belum seberapa." ungkap Lara membuat Aiden tersenyum.


"Setidaknya penderitaan ku tidak sebagai tukang cuci piring dan melihat ayahnya bercinta dengan wanita lain setiap hari dirumah."


Lara memukul pelan kaki Aiden, "Kau menyindirku!" ucap Lara.


Aiden tertawa, "Itu berlalu, kita lupakan saja."


"Jika begitu kenapa kamu membalas perbuatan Hendra pada Ibumu dulu?"


"Awalnya aku dulu mengira Ia jahat pada Ibuku, Ia menyakiti Ibuku namun sekarang aku sadar, Ibuku yang bersalah karena sudah jatuh cinta dengan pria yang salah saat itu."


"Hey, kau tidak bisa menyalahkan perasaan seseorang seperti itu!" protes Lara.


Aiden kembali tersenyum, "Jika saja ibuku tidak jatuh cinta pada pria itu, mungkin Ibuku tidak akan mati dengan cara seperti itu."


"Memang itu sudah menjadi takdirnya, sekarang ikhlaskan semuanya, jangan terus berselimut dengan masa lalu."


"Benar, aku tidak akan lagi menyelimuti hidupku dengan masa lalu kelam itu karena sekarang aku mempunyai selimut baru yang akan membawaku ke masa depan yang lebih baik lagi." kata Aiden membuat Lara tersipu malu, tahu maksud dari ucapan Aiden.


"Jangan lagi menyalahkan Raka, semua juga salahku. aku tidak menuntaskan kematian Friska kekasihnya."


Lara menundukan kepalanya, "Apa benar Tuan Hut- eh Ayahku yang melakukan itu?"


Aiden menggelengkan kepalanya, "Aku juga tidak tahu, kami bahkan tidak memiliki bukti untuk menuduhnya."


Lara menghela nafas panjang, "Aku harap itu bukan Ayahku."


Aiden tersenyum, "Jadi sudah menganggapnya Ayah sekarang?" ejek Aiden.


"Ck, bagaimana lagi dia suami ibuku." balas Lara membuat Aiden tertawa.


Setelah kasus Hendra di tangani polisi kini berita tentang Hendra menyebar luas ke seluruh kota. Tentang mantan menteri yang melakukan pembunuhan di masa lalu, bekerja sama dengan para mafia juga tentang penculikan yang sudah dilakukan Hendra.


Semua warga kota sangat terkejut dan tidak menyangka karena selama ini Hendra di anggap sebagai menteri terbaik yang sangat memperdulikan warganya.


"Kau pengkhianat!" ucap Hendra saat Hutama menjengukanya disebuah rumah sakit setelah operasi pengangkatan peluru.

__ADS_1


"Bukan aku yang pengkhianat, kau yang mengkhianati dirimu sendiri."


Hendra tertawa, "Aku sudah membantu pekerjaan gelapmu selama ini dan ini balasanmu!"


"Kau bahkan menerima imbalan dari apa yang sudah kau lakukan kenapa masih menyalahkan orang lain padahal kau juga sangat membutuhkan imbalan itu." balas Hutama tampak santai membuat Hendra semakin emosi.


"Kau sudah berada diposisi paling bawah dalam kehidupan, sekarang waktunya kau untuk berubah dan memperbaiki diri." kata Hutama mengingatkan.


Hendra tertawa, "Kau pikir kau baik bisa menceramahi ku seperti ini huh!"


"Aku memang pernah menjadi tidak baik tapi aku pastikan aku sudah belajar lebih baik sekarang."


"Sialan, seharusnya aku membunuhmu kemarin" umpat Hendra masih sangat marah.


Hutama terdiam, Ia merasa percuma berbicara pada Hendra, tanpa mengatakan apapun lagi Hutama meninggalkan ruangan Hendra.


"Sialan, mau kemana kau! urusan kita belum selesai!" teriak Hendra seolah masih tak terima namun Hutama tak mengubrisnya, Ia tetap keluar dari ruang rawat Hendra.


"Apa terjadi sesuatu Tuan?" tanya Vans yang menunggu diluar.


"Dia hanya marah dan masih tak terima." ungkap Hutama "Tapi sudahlah jangan pikirkan lagi biarkan polisi yang mengurusnya."


"Baik Tuan."


Selesai mengurus urusannya, Hutama kembali ke istananya dan dirinya mendapati Rena masih termenung sedih.


"Jangan di ingat lagi." kata Hutama sambil mengeluas kepala Rena.


Rena menatap Hutama dengan wajah sedih, Ia lalu memeluk Hutama erat, sangat erat.


"Dia hampir saja menyentuhku jika kau tidak datang tepat waktu, rasanya tubuhku sangat kotor." ungkap Rena akhirnya terisak menangis.


Setelah pulang dari rumah sakit semalam, Hutama hanya mengantar Rena sampai terlelap setelah itu Ia mengurus Hendra dan baru pulang pagi ini.


"Sudah sudah, dia tidak akan melakukan nya lagi. polisi sudah mengurusnya." kata Hutama menenangkan Rena.


"Bagaimana jika suatu saat nanti ada orang lain melakukan hal yang sama seperti ini, aku takut."


"Tidak sayang, aku akan menjagamu dengan baik mulai sekarang."


"Bisakah kau tinggalkan pekerjaan ini? aku tidak ingin kau memiliki musuh hingga membuat nyawa keluarga kecil kita terancam." kata Rena membuat Hutama terdiam, entah apa yang Ia pikirkan.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


Jangan lupa like vote dan komenn yahh


__ADS_2