
Risa sangat tidak menyangka, Ia pikir akan mati hari ini namun dirinya salah. Nathan datang dan menyelamatkan dirinya. Ya Nathan mantan kekasihnya yang sangat Ia benci menatap khawatir dirinya bahkan rela di pukuli sampai babak belur hanya karena ingin menyelamatkan nyawanya.
"Kau baik baik saja? kau baik baik saja?" tanya Nathan secara berulang.
Risa mengangguk, "Kau yang tidak baik baik saja." kata Risa sambil menangis.
"Tidak masalah, luka ini tidak seberapa asal kau baik baik saja." kata Nathan membuat tangis Risa semakin pecah.
"Maafkan aku Nathan, maafkan aku."
Nathan memeluk Risa erat, memberi ketenangan untuk Risa, "Bagaimana bisa kau bertemu dengan orang orang jahat itu? maafkan aku tidak bisa menjagamu dengan baik." kata Nathan.
Risa menggelengkan kepalanya, "Tidak Nathan, kau yang terbaik."
"Ck, sampai kapan aku harus melihat drama ini huh?" Suara Devan kembali terdengar, tadinya Devan sudah pergi namun Ia kembali lagi.
"Maaf Dokter dan terimakasih banyak atas bantuan Dokter." kata Nathan tak menyangka jika Devan membawa pistol dan menyelamatkan dirinya juga Risa.
"Cepat bawa aku pergi dari sini!"
Nathan bergegas bangun mengajak Risa, ketiganya keluar dan kembali ke pinggir jalan dimana motor Nathan berada disana.
"Jadi, siapa yang kita tinggal disini?" tanya Devan melihat motor hanya ada satu dan mereka bertiga.
Nathan dan Risa menatap Devan bersamaan,
"Sialan, aku tidak ingin disini sendirian!" kesal Devan.
Setelah berpikir cukup lama akhirnya mereka menaiki motor itu bertiga. Risa yang menyetir didepan, Nathan berada ditengah dan Devan berada paling belakang.
"Sial, memalukan. beruntung tidak ada siapapun disini." omel Devan menutupi wajahnya mengunakan masker.
Sesampainya divilla, Devan segera merawat anak buah Aiden sementara Nathan dirawat oleh Risa.
"Kenapa kau menyelamatkan ku?" tanya Risa disela sela Ia mengobati Nathan.
"Karena aku tidak ingin kehilanganmu."
Risa menghentikan gerakannya dan memilih menatap Nathan,
"Aku memang mengakhiri hubungan kita tapi aku masih mencintaimu, sangat." kata Nathan yang akhirnya membuat Risa tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis.
"Aku masih mencintaimu Risa, aku hanya ingin kau berubah lebih baik sebelum aku menikahimu, aku salah, seharusnya aku membimbingmu bukan meninggalkanmu." kata Nathan lagi membuat tangis Risa semakin kencang.
"Maafkan aku, maafkan aku." ucap Risa memeluk Nathan.
"Sudah sudah, lebih baik sekarang tenangkan dirimu, pasti kamu masih shock dengan kejadian tadi." kata Nathan yang diangguki oleh Risa.
Sementara itu di tempat lain, Aiden dan Raka baru saja sampai ditempat tujuan setelah melewati perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan hampir lima jam lamanya.
__ADS_1
"Apa kau yakin ini tempatnya? kenapa sepi sekali?" tanya Aiden saat keduanya turun dari mobil yang Ia sewa.
Raka mengamati bangunan baru dan melihat foto di ponselnya agar"Yakin Tuan, sepertinya memang ini tempatnya."
Aiden memberanikan diri memasuki rumah yang cukup besar itu, jika dilihat hampir seperti istana yang sangat besar dan mewah.
Aiden dan Raka baru memasuki pintu, seseorang sudah menutup pintu dan tiba tiba lampu menyala ada banyak pria berbadan kekar yang menodongkan pistol ke arah Aiden dan Raka.
"Sial." umpat Aiden dan Raka bersamaan karena mereka sudah terjebak.
Keduanya dikejutkan oleh suara seorang pria yang sangat familiar hingga pria itu keluar dan kini berada didepan Aiden.
"Selamat datang putraku, selamat datang di neraka mu." ucap pria itu yang tak lain adalah Hendra Ayah Adira.
Aiden tersenyum sinis, "Rasanya mengelikan sekali menyebut seseorang putramu padahal kau tidak pernah merawatnya."
"Bukankah itu yang kau mau? ku anggap sebagai putraku?" tanya Hendra terdengar sengit.
Aiden tertawa, "Aku tidak sudi memiliki Ayah sepertimu."
Hendra sudah emosi, Ia menodongkan pistolnya tepat di kening Aiden, "Kalau begitu mati saja!"
Hendra baru ingin melepaskan tembakannya namun sayang tangan ditembak lebih dulu oleh seseorang dari arah kanan.
"Sialan, beraninya dia!" umpat Hendra kesakitan karena terkena peluru.
Entah siapa yang sudah menolongnya, Aiden dan Raka mengambil pistol milik anak buah Hendra dan dengan kelincahan keduanya terjadi baku tembak hingga anak buah Hendra banyak yang terluka.
"Tuan baik baik saja?" tanya Raka tampak khawatir.
"Sial, bisa bisanya kau teledor seperti ini!" kesal Aiden pada Raka.
"Maafkan saya Tuan."
"Cepat cari dan tangkap mereka!" suara dari luar membuat Raka segera melajukan mobilnya dan pergi dari rumah itu.
Raka melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga anak buah Hendra tidak dapat mengikuti mobilnya.
Aiden yang duduk dibangku belakang tampak membuka kemejanya dan melihat tidak ada peluru yang tembus ke tubuhnya karena dia memakai rompi anti peluru.
"Apa ada peluru yang masuk Tuan?" tanya Raka yang sedari tadi melirik ke arah spion.
"Tidak ada, bagaimana denganmu?"
"Saya juga aman Tuan."
"Apa kau tahu siapa yang sudah menolong kita tadi?"
Raka menggelengkan kepalanya, "Saya melihat orangnya namun tidak mengenalnya."
__ADS_1
"Ck, aku sangat penasaran."
"Apa mungkin jika kiriman dari Hutama?"
Aiden tertawa, "Tidak mungkin karena pria bangka itu juga menginginkan aku segera mati."
Raka terdiam sejenak, "Bagaimana jika memang benar dia anak buah Hutama."
"Tentu aku akan berterimakasih padanya karena sudah menolongku tapi aku merasa itu tidak mungkin." balas Aiden sambil tertawa.
Hening di antara Aiden dan Raka, mereka sibuk dengan pikirannya masing masing.
"Apa kau yakin tidak ada yang membuntuti kita?' tanya Aiden setelah mereka hampir sampai di villa.
Raka melihat ke semua spion "Sepertinya tidak ada Tuan."
"Jika kau sampai ceroboh lagi, akan ku penggal kepalamu!"
"Ti tidak Tuan, tidak akan lagi."
Raka dan Aiden sampai di villa tengah malam dan Aiden merasa heran melihat Villa sangat sepi, tidak ada satupun penjaga yang berjaga di pintu gerbang.
"Kemana mereka!" Aiden sudah emosi.
Saat membuka pintu Aiden terkejut melihat Devan berbaring terlelap di sofa ruang tamu.
"Hey bangun, apa yang kau lakukan disini!" Aiden menggerakan badan Devan.
"Kau menganggu tidurku!" kesal Devan yang kini sudah terbangun.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Jika aku tidak disini mungkin anak buahmu sudah mati karena luka tembak!"
"Luka tembak?" Aiden sangat terkejut,
"Sepertinya ada salah satu musuhmu yang datang. mereka menghabisi anak buahmu juga menculik istrimu."
"APA!"
....
"Jadi kau sudah menyelamatkannya?" tanya Hutama dari dalam telepon.
"Bagus, pastikan dia aman dan tidak diserang lagi."
Hutama mengakhiri panggilan nya, "Bukankah aku ayah angkat yang baik? menyelamatkan putra angkatku dari ayah kandungnya sendiri." gumam Hutama lalu tersenyum.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
jangan lupa like vote dan komenn