SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)

SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)
48


__ADS_3

Dengan raut wajah tersenyum dan bahagia, Risa membawa masuk koper menuju kamar barunya. Kamar villa yang akan menjadi tempat tinggalnya mulai sekarang.


"Aku tidak menyangka Tuan itu sangat baik hati, meskipun sudah berumur namun dia masih terlihat tampan. jadi simpanan nya pun aku pasti mau." gumam Risa terkikik geli.


"Dia juga terlihat kaya raya, aku yakin jika aku bisa mendapatkan nya pasti Villa mewah ini akan menjadi milik ku." kata Risa berbicara sendiri.


"Daripada bersama Nathan yang hanya menginginkan tubuhku tapi tidak pernah memberiku uang hanya sakit hati yang ku dapat lebih baik aku bersama pria tua kaya asal dia bisa menuruti semua keinginanku." kata Risa lagi dan tersenyum senang membayangkan jika dirinya menjadi nyonya muda yang kaya raya.


Setelah membereskan barang barangnya, Risa keluar untuk menemui Hutama yang terlihat berada di taman belakang.


"Tuan, anda ingin makan malam apa? saya bisa memasak untuk makan malam Anda." kata Risa pada Hutama yang sedang memandangi taman belakang.


"Tidak perlu, untuk hari kau bisa istirahat dan mulai bekerja besok pagi saja." kata Hutama yang membuat Risa mengangguk senang.


"Baiklah Tuan, sekarang saya minta ijin untuk pergi ke pasar membeli bahan makanan karena didapur tidak ada apapun."


Hutama mengangguk, "Ajak lah sopir ku dan minta uang padanya untuk berbelanja."


"Baik Tuan."


Risa segera meninggalkan Hutama yang kini menatap punggungnya, "Sepertinya dia sedikit berguna." gumam Hutama lalu tersenyum.


Sementara itu Gadis yang tinggal di hutan bersama kakeknya tampak senang tersenyum didepan cermin sambil mengenakan kalung berlian yang diberikan Hutama.


"Ternyata aku sangat pantas mengenakan barang barang mahal seperti ini." gumam Gadis bernama Weni itu didepan cermin.


Anto kakek tua yang sedang sakit, terdengar berbatuk membuat Weni segera berlari menuju kamar kakeknya.


"Minum dulu kek," dengan telaten Weni merawat kakek nya yang sudah membesarkan dirinya itu.


Selesai minum air yang diberikan Weni, Anto melihat ada yang berbeda dari cucunya. Ia menatap mencari tahu apa yang berbeda dari cucunya hingga Anto menemukan Cucu satu satunya itu mengenakan sebuah kalung yang sangat indah.


"Dimana kamu mendapatkan ini? kamu tidak mencuri kan?" tanya Anto khawatir.


Weni menatap kakeknya sebal, Ia selalu saja di tuduh mencuri barang padahal Ia tak pernah melakukan nya.


"Apa cucu mu terlihat seperti pencuri kek?"


"Bukan begitu maksud kakek, kalung ini terlihat sangat mahal. kamu tidak mungkin mempunyai uang untuk membelinya." jelas sang Kakek tak ingin Weni salah paham.

__ADS_1


"Aku tidak mencurinya kek, seseorang memberikan padaku."


"Seseorang? apakah Tuan Aiden?"


Weni menggelengkan kepalanya, "Mana mungkin dia memberikan barang mahal seperti ini. dia hanya mencukupi kebutuhan makan kita saja!"


"Astaga Weni, seharusnya kau bersyukur karena Tuan Aiden sudah mencukupi kebutuhan kita. jika saja bukan karena kebaikan Tuan Aiden mungkin sekarang kita masih mencari ranting kayu untuk dijual." kata Anto menasehati putrinya.


"Baiklah baiklah kek, maafkan aku."


"Lalu siapa yang memberikanmu kalung itu?"


"Aku tidak mengenalnya, kakek mungkin juga tidak mengenalnya. dia terlihat asing namun sangat baik." kata Weni mengingat kebaikan dan ketampanan Hutama.


Anto menghela nafas panjang, kini dirinya dibuat pusing memikirkan pria yang sudah memberikan kalung itu pada Weni. Takut jika ada maksud lain dari pemberian kalung pada cucunya itu.


"Jika kau melihat orangnya lagi, kembalikan kalung itu padanya." kata Anto yang membuat Weni terkejut tak terima.


"Tidak mau kek, tidak mau!"


"Weni, bagaimana jika orang yang yang memberikan kalung itu adalah orang jahat yang memiliki niat lain pada kita?"


Anto menghela nafas berkali kali melihat begitu sulitnya menasehati Weni.


"Semoga semua baik baik saja."


...


Risa memasuki mobil mewah milik Hutama, Ia baru saja berbelanja ke pasar di antar Sopir Hutama. Risa sangat senang karena untuk pertama kalinya Ia menaiki mobil mewah. Selama Risa bekerja di Villa Aiden, sama sekali belum pernah naik mobil mewah Aiden. Jika ke pasar Risa selalu naik ojek langganan nya.


"Tuan mu sangat baik padaku, padahal aku cuma seorang pembantu tapi di ijinkan menaiki mobil mewahnya." ucap Risa pada sopir Hutama yang sedari tadi hanya diam saja.


Sopir Hutama tampak tersenyum, "Kau beruntung karena Tuan membutuhkan mu jika tidak mungkin kau sudah ditembak mati Nona." batin Sopir Hutama kembali tersenyum.


"Ada apa dengan mu? aku mengajak mu berbicara dan kau hanya tersenyum!"


"Tidak apa apa, sebaiknya kau jaga jarak dengan ku, jangan sok baik padaku." ucap Sopir Hutama membuat mata Risa melotot tak percaya.


"Hey, kau terlalu percaya diri. memangnya siapa yang ingin mendekati mu!" kesal Risa pada sopir Hutama yang lagi lagi tersenyum.

__ADS_1


"Jika aku menjadi nyonya, aku akan meminta Tuan memecatmu!" ucap Risa penuh percaya diri.


Sopir Hutama pun tertawa, "Kau pikir selera Tuan wanita kampungan sepertimu heh!" ejek Sopir Hutama yang menambah kekesalan Risa.


"Kita lihat saja nanti, jika aku berhasil mendapatkan hati Tuan mu, kau akan merasakan akibatnya karena telah menghina ku." ucap Risa lalu keluar dari mobil dan membanting pintu mobil cukup keras.


Sopir Hutama masih tertawa, "Dia terlalu percaya diri, jika saja dia tahu jika Tuan hanya memanfaatkan nya, pasti akan sangat kecewa, sungguh gadis yang malang."


Risa memasuki Villa dengan wajah manyun karena masih kesal dengan ucapan sopir Hutama.


"Kemana wajah cantik mu pergi?" tanya Hutama yang melihat Risa manyun.


Mendapatkan perhatian dari Hutama tentu saja membuat Risa senang, segera Risa mendekat pada Hutama, "Sopir Tuan sangat menyebalkan, dia mengatakan aku kampungan." adu Risa pada Hutama.


"Benarkah seperti itu? tenang saja aku pasti akan memarahi nya nanti." kata Hutama membuat Risa tersenyum senang.


Hutama segera keluar meninggalkan Risa yang masih tersenyum sendiri, "Sudah ku duga, dia pasti menyukaiku. huh sebentar lagi aku pasti akan menjadi Nyonya."


Malam hari setelah makan malam, Risa merias wajahnya begitu cantik, Ia juga mengenakan ligerie seksi yang sering Ia pakai untuk mengoda Nathan.


"Malam ini pasti Tuan tergoda padaku dan kami bercinta lalu aku akan hamil anaknya dan kita akan menikah." kata Risa didepan cermin.


Risa pergi ke dapur untuk membuatkan susu hangat lalu naik ke kamar Hutama sambil membawa susu hangat.


Risa mengetuk pintu kamar Hutama, tak berapa lama Hutama keluar dengan wajah terkejut melihat penampilan Risa.


"Saya hanya ingin mengantar susu ini untuk Tuan." kata Risa dengan tatapan mengoda dan nakal.


Hutama yang sebenarnya ingin marah pun ditahan karena mau bagaimanapun Risa sudah membantunya menemukan Aiden.


"Terimakasih cantik, tapi maaf aku mungkin tidak bisa melakukan nya." kata Hutama menaikan ligerie yang dipakai Risa agar menutupi belahan gunung kembar milik Risa.


"Aku sedang tidak ingin melakukan nya, mungkin kau bisa menawarkan lain kali." kata Hutama lalu menutup pintu kamarnya.


Hutama membuang susu di wastafel lalu tersenyum sinis "Dasar wanita murahan."


Bersambung....


Jangan lupa like vote dan komeenn

__ADS_1


__ADS_2