SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)

SENANDUNG LARA (PEMILIK HATI SANG MAFIA)
44


__ADS_3

Lara membuka matanya, Ia melihat sekelilingnya dan merasa jika ini bukan kamarnya. Lara mencoba mengerakan tangan nya namun merasa tubuhnya sangat sakit apalagi di bagian perut, rasanya sangat sakit sekali.


"Kau sudah bangun sayang?" suara Aiden yang ternyata berada di sampingnya.


"Kenapa aku masih disini?" tanya Lara tak mengingat apapun. Lara hanya ingat saat Aiden pergi ke kamar mandi, Ia merasa perutnya sangat sakit dan Lara beranjak ingin meminta tolong Aiden malah sudah jatuh lebih dulu ke lantai dan merasakan darah mengalir di kaki nya.


"Apa bayi kita baik baik saja? aku merasakan perut ku sangat sakit."


Aiden tersenyum, "Semua akan baik baik saja."


"Akan baik baik saja? apa ini berarti kalau bayi kita-"


"Jangan pikirkan apapun, istirahatlah." potong Aiden sambil mengelus kepala Lara.


"Bayi kita sudah meninggal? aku keguguran?" Lara masih ingin tahu.


"Sayang ku bilang jangan-"


"Katakan saja! jangan menyembunyikan dari ku!"


Aiden akhirnya diam, tidak lagi menjawab ucapan Lara.


"Katakan padaku, bagaimana dengan bayi kita?" Lara masih tidak menyerah.


"Maafkan aku, semua salah ku. aku yang sudah membuat mu seperti ini." kata Aiden akhirnya.


Lara menangis sejadi jadinya, mendengar ucapan Aiden yang menandakan jika memang bayi mereka sudah tiada, Ia keguguran.


Aiden mencoba mengenggam tangan Lara, memberikan ketenangan untuk Lara bahwa semua baik baik saja.


"Maafkan aku sayang." ucap Aiden penuh penyesalan.


Aiden menyesal karena tidak menceritakan rencana pertunangan nya dengan Adira waktu itu. Jika saja Lara mengetahui lebih awal mungkin semua tidak akan seperti ini. Mungkin Lara tidak akan shock dan terlalu memikirkan sampai membuat bayi mereka tiada, semua memang salahnya.


Lara menghentikan tangisnya, "Bayi nya sudah tidak ada, apa setelah ini kau akan mencampakan aku?" tanya Lara yang entah mengapa membuat hati Aiden sakit karena Lara berpikiran seperti itu.


"Tentu saja tidak sayang, kita akan tetap bersama apapun yang terjadi."


"Lalu bagaimana dengan tunangan mu?"


"Sudah ku bilang itu hanya drama, aku tidak benar benar bertunangan dengan nya. percaya padaku." jelas Aiden masih mengenggam erat tangan Lara.


"Sulit mempercayai mu lagi setelah apa yang terjadi."


Aiden mengangguk paham, "Aku tahu, aku memang salah, semua salah ku karena tidak jujur sejak awal. aku minta maaf sayang hmm."


Lara kembali menangis, mendengar permintaan maaf dari Aiden yang terdengar tulus membuatnya menangis.

__ADS_1


"Sudah, jangan pikirkan apapun lagi, sebaiknya kau istirahat jika besok sudah pulih aku akan membawa mu kembali ke villa." kata Aiden.


"Lalu kau tidur dimana malam ini?"


"Aku akan tidur di kursi ini." balas Aiden yang memang saat ini dirinya duduk di kursi yang ada disamping ranjang.


"Badan mu bisa sakit semua, pulanglah aku baik baik saja." kata Lara.


"Lebih baik badan ku sakit semua dari pada harus meninggalkan istriku sendirian disini." ungkap Aiden membuat pip Lara memerah malu.


"Dasar perayu!" cibir Lara.


Aiden tersenyum, merasa lega akhirnya Lara sudah mau berbicara baik padanya meskipun Ia kini sangat hancur karena kehilangan buah hati mereka namun setidaknya Lara sudah tidak marah lagi.


"Jadi aku sudah di maafkan sekarang?" tanya Aiden sambil tersenyum nakal.


"Tidak, aku belum mengatakan jika aku memaafkan mu!"


Aiden kembali tersenyum, "Aku akan terus merayu mu sampai aku mendapatkan maaf dari mu." kata Aiden.


"Terserah!"


Ponsel Aiden yang ada disaku celana nya berdering membuat Aiden mengeluarkan ponselnya.


"Ada apa?" tanya Aiden pada Raka yang menghubunginya.


"Oh, hanya itu? biarkan saja. aku sudah tidak membutuhkan tempat itu lagi." kata Aiden lalu mengakhiri panggilan nya.


"Kenapa dia tidak masuk?"


Aiden tersenyum, "Dia pasti sungkan karena telah membuat mu seperti ini."


Lara mengerutkan keningnya tak mengerti,


"Karena dia menaruh undangan sembarangan membuatmu tahu dan marah padaku." jelas Aiden.


"Kau pasti memarahinya!" cibir Lara.


"Tidak, aku bahkan belum mengatakan apapun padanya karena terlalu mengkhawatirkan mu." kata Aiden yang lagi lagi membuat pipi Lara tersipu.


"Lalu apa yang dia bicarakan di telepon? aku ingin tahu."


Aiden terdiam,


"Kau bilang akan jujur padaku mulai sekarang nyatanya kau hanya membual." cibir Lara lagi.


Aiden tersenyum dan mengelus kepala Lara, "Kenapa sekarang ucapan mu pedas sekali huh, sepertinya kau minta di cium agar ucapan mu tidak pedas lagi!" protes Aiden membuat Lara tersenyum.

__ADS_1


"Jadi apa yang dia katakan?"


"Raka melaporkan jika devil club milik ku terbakar."


Lara tampak terkejut, "Terbakar? kenapa kau masih disini? bukan kah itu tempat usahamu? cepat pergilah kesana." kata Lara panik.


Aiden tertawa, "Tidak perlu, aku tidak membutuhkan tempat itu lagi."


Lara masih saja terkejut, "Jika kau tidak bekerja disana lalu kemana kau akan mendapatkan uang? apa kau memiliki pekerjaan lain?"


"Apa hanya uang yang kau pikirkan hmm?" Aiden menoyor dahi Lara lalu tersenyum.


"Tentu saja, jika kau tidak mempunyai uang bagaimana kita bisa hidup."


Aiden tersenyum geli, benar benar tak menyangka dengan ucapan Lara, "Uang ku sudah banyak, bahkan tidak perlu bekerja uangku cukup untuk hidup sampai kita memiliki cucu dan cicit nanti."


"Kau terlalu sombong Tuan, " cibir Lara membuat Aiden tertawa.


"Musuh ku sangat banyak sekarang dan aku tidak ingin membuat mu celaka. jika kita tetap tinggal di Villa semakin lama semakin di ketahui orang luar jadi mungkin nanti aku akan pergi beberapa hari untuk mencarikan tempat tinggal untuk kita."


Lara terdiam, "Kau tidak mengajak ku pergi bersama mu?"


"Sangat berbahaya jika kau ikut dengan ku. Aku ingin kau tetap di villa dan aman disana."


Lara menghela nafas panjang, "Apa kau yakin pergi untuk mencari rumah baru?"


Aiden tertawa lalu mencubit pipi Lara gemas, "Kenapa kau jadi pecemburu seperti ini hmm."


"Aku hanya bertanya karena aku tidak ingin di tipu lagi!"


Aiden kembali tertawa, "Kau bisa ikut jika tidak percaya namun jangan salahkan aku jika mungkin di jalan kau akan di dor oleh seseorang."


Lara melotot tak percaya, "Apa sekejam itu musuh mu?"


"Tentu saja, jadi sebaiknya kau tetap di villa agar tetap aman."


"Lalu bagaimana denganmu? bagaimana jika kau di dor ditengah perjalanan."


Aiden tersenyum, "Aku baik baik saja. jangan terlalu memikirkan aku." kata Aiden.


Lara terdiam, bagaimana bisa Ia tidak memikirkan Aiden, jika terjadi sesuatu pada Aiden lalu bagaimana dengan dirinya? sungguh meskipun sempat kecewa dengan Aiden namun Lara juga tidak ingin kehilangan Aiden.


Sementara di ruang kerjanya Hendra tersenyum puas mendengar anak buahnya melaporkan jika sudah membakar Devil Club juga berita di televisi yang menyiarkan kebakaran hebat yang terjadi di Devil club.


"Dia tidak nampak di sana bos."


"Biarkan saja, ini baru permainan awal, kita lihat nanti apa dia masih bisa bersembunyi." ucap Hendra lalu tersenyum menyerigai.

__ADS_1


Bersambung...


jgn lupa like vote dan komen yaa


__ADS_2