
Sriing...!
Laciel sudah menyarungkan pedangnya kembali. Dia melakukan itu dalam sekejap mata.
“Masih mau melanjutkan?” tanya Laciel.
Raut wajahnya tercampur antara bosan dan meremehkan. Gerakan Gnoll itu sangat lambat di matanya. Dan kekuatan yang dikerahkannya pun dirasa tidak dapat melukainya. Jadi, dia memanfaatkan itu untuk menunjukkan jurang perbedaan yang sangat besar antara dirinya dengan Gnoll tersebut.
“Aku ini baik hati, loh. Tetapi, kebaikan hatiku juga ada batasan syaratnya.” Lanjutnya.
“Grr! Grah!”
Tiga Gnoll lainnya marah melihat perlakuan Laciel dan segera maju tanpa berpikir panjang.
Slash!
Bum!
Laciel sudah berdiri di depan mereka bertiga yang kini tanpa kepala. Dan efek dari gerakannya menimbulkan ledakan yang mementalkan tubuh-tubuh tanpa kepala itu.
“Dimartium di katta anmiar, ya Daitsu. Breath of Death (Napas Kematian)!”
Di belakang barisan Gnoll ada seorang Magic Caster. Dan dia melafalkan mantra itu untuk menyerang Laciel.
Sebuah lingkaran sihir muncul dan mulai meluncurkan serangan berbentuk gas hitam yang mengarah ke Laciel. Rerumputan yang dilewatinya seketika layu dan mati. Tetapi Laciel masih tampak tenang.
Akhirnya ada lawan yang lumayan, walau masih lemah. Batinnya senang dan tampak kesenangan itu dalam bentuk senyuman yang terukir di wajahnya.
“Nafirium. Fireball!”
Telunjuk Laciel mengarah ke depan. Dan dari sana, sebuah lingkaran sihir berwarna merah terbentuk dan mengeluarkan sebuah bola api. Bola api itu bertabrakan dengan gas hitam. Dan yang terjadi adalah gas itu terbakar hingga habis, sedangkan bola api Laciel masih meluncur lurus ke arah target tanpa sedikit pun terhalang ataupun melambat.
“Tidak!” Pemimpin Klan berteriak dan menghadang bola api itu sendirian.
Blar!
Bola api itu menabrak si Pemimpin Klan dan membuatnya terpental hingga berbenturan dengan si Magic Caster beberapa meter. Untungnya, zirah miliknyalah yang terbakar, dan dia tidak mengalami luka selain dari sedikit
luka bakar dan beberapa luka memar.
“Uhuk, uhuk! Mohon, Tuan Yang Mulia, ... kita akan berbicara.”
...*****...
“Jadi, akhirnya kamu menyadari tempatmu?” tanya Hana dengan raut wajah dan nada dingin.
Ugh, entah kenapa, justru aku yang ketakutan dengan aura milik Hana. Batin Laciel yang berdiri tepat di samping Hana.
“Hentikan, Hana. Kamu, silakan bicara.” Ucap Laciel, lalu menunjuk Pemimpin Klan yang masih memuntahkan darah segar dari mulutnya.
“Uhuk, maafkan hamba. Kami adalah para Gnoll yang telah lama hidup di dalam hutan ini berdampingan dengan monster-monster yang lainnya, termasuk Orc di utara. Dan syukurlah, tahun ini kami tidak berperang dengan manusia di luar hutan sehingga seharusnya sumber makanan kami aman-aman saja.” Ujarnya. “Hanya saja, itu sebelum para Orc mulai menginvasi kami dan memojokkan kami hingga ke tepi barat ini.”
"Kekurangan makanan memaksa kami berburu ke luar hutan. Jika tidak, kami tidak akan melakukan hal demikian.” Lanjutnya.
__ADS_1
Kekurangan makanan, kah? Sepertinya aku harus membicarakannya dengan Garnamtiar dan yang lain. Dampak dari dungeon yang kubuat sudah mulai berefek besar ke area sekitar. Tidak lama lagi, pasti para Manusia akan sadar. Aku harus menjadi kuat dan memperkuat sebelum saat itu tiba. Pikir Laciel.
“Maaf kalau aku sebelumnya tidak tahu dampak apa yang diberikan ke sekitar oleh dungeon buatanku. Itu karena, hukum rimba adalah yang kuatlah yang menang.” Ucap Laciel.
“Guh!”
Pemimpin Klan sadar dengan kenyataan. Tetapi dia memilih untuk berjuang hingga akhir. Semuanya untuk klan yang dipimpinnya.
“Kalau kalian mau, bergabunglah di bawah pemerintahanku. Sebagai Raja Iblis, aku akan membagikan kekuatan untuk beberapa bawahan kepercayaanku.” Lanjut Laciel.
“Apa bukti dari perkataanmu itu?” Pemimpin Klan bertanya memastikan. Jika masih ada secercah harapan, dia akan berusaha keras menggapainya.
“Aku akan melakukan Giving Name kepadamu.” Jawab Laciel.
Para Gnoll terkejut. Mendapatkan nama dari makhluk yang kuat adalah keberkahan. Tetapi, mendapatkan sesuatu itu artinya kehilangan sesuatu juga. Makhluk yang diberikan nama akan otomatis terikat dengan yang memberikan. Itu artinya, kesetiaan mutlak.
“Sebelum itu, bolehkan aku meminta sesuatu?”
Pemimpin Klan Gnoll tampak sudah tidak mewaspadai Laciel. Itu tampak dari senjata yang dipegangnya sudah tidak dia arahkan ke arahnya.
“Silakan.” Laciel mengizinkan.
“Apakah boleh jika salah satu dari mereka berdua juga mendapatkannya?”
Tentu saja, yang dia maksud mereka berdua adalah antara Komandannya atau si Magic Caster.
“Dikasih hati, minta jantung. Apakah kamu sadar akan posisimu yang tidak seharusnya melakukan demikian?” Hana angkat suara. Dia sangat jengkel ketika mendengar permintaan itu.
Laciel mengangguk menyetujui dan berkata, “Baiklah, aku terima permintaanmu.”
dipikirkannya. Reis berarti pemimpin, Marshal berarti marsekal, dan merupakan pangkat tertinggi yang setara dengan jenderal atau laksamana, dan Ghul yang berarti hantu, yang dia ambil berdasarkan sihir yang digunakannya sebelumnya.
Dan sama seperti Garnamtiar, mereka berubah bentuk menjadi lebih baik dari sebelummnya.
Yang pertama adalah Reis. Tubuhnya seperti membengkak dua kali lipat. Kekuatannya juga meningkat signifikan. Zirahnya yang sebelumnya hancur, kini berganti menjadi zirah yang terlihat sangat kuat. Kapaknya juga tampak sangat tajam dan mampu memotong benda sekeras apapun.
...[Pemimpin Klan Gnoll sebelum diberi nama.]...
...[Reis, Pemimpin Klan Gnoll.]...
Lalu, selanjutnya adalah Marshal. Kulit coklatnya berubah menjadi lebih gelap. Tangan kirinya yang terputus kini digantikan dengan tangan yang terbuat dari logam. Dan tingginya hanya bertambah setengah dari ukuran awalnya. Tetapi itu sudah cukup untuk membuatnya semakin berbeda dari Gnoll yang lainnya.
...[Komandan Pasukan Gnoll sebelum diberi nama.]...
...[Marshal, Komandan Pasukan Gnoll.]...
__ADS_1
Dan terakhir adalah Ghul. Awalnya dia terlihat seperti seekor Gnoll yang ber-class Shaman. Aura kematiannya sangat terasa, dan dia juga tampak tua. Kini, dia tampak lebih muda dan aura sihirnya semakin kuat. Bajunya yang lusuh dan tongkat kayunya yang tua berganti dengan jubah yang bagus dan tongkat sihir yang tampa elegan sekaligus mengerikan.
...[Penyihir Gnoll.]...
...[Ghul, Penyihir Gnoll.]...
“Pergilah dari sini ke dungeon milikku.” Ujar Laciel.
Mendengar perintah itu, mereka segera melaksanakannya. Kembali masuk ke dalam hutan dan pergi tanpa meninggalkan jejak sama sekali.
Saat itu, Nadja baru saja kembali setelah mengevakuasi para warga desa.
“Eh! Sudah selesai?” tanya Nadja kecewa melihat hanya tersisa tiga mayat Gnoll di sana.
“Apa yang selanjutnya kita lakukan, Laciel-san?” tanya Hana.
“Nadja, buat tempat ini kacau.” Ucap Laciel yang mengambil tiga mayat itu dan memasukkannya ke dalam inventory. “Gunakan sihirmu saja.”
“Baiklah.” Jawab Nadja.
...*****...
“Itu mereka, penyelamat desa kita!” salah seorang warga desa berteriak.
“Hore!” yang lain berteriak senang.
“Ah, para Petualang Yang Terhormat, terima kasih telah membantu mengatasi masalah desa kami. Maaf jika kami tidak bisa membalas perbuatan baik kalian. Yang bisa kami lakukan hanyalah menjamu kalian di pesta malam ini.” Ucap Kepala Desa yang kelihatan sudah berumur dan rambutnya berubah semua. Dia berjalan membungkuk dengan bantuan sebilah tongkat.
“Tidak apa-apa. Ini sudah menjadi kewajiban kami. Lagipula, kami hanya berburu monster seperti biasa, dan secara tidak sengaja bertemu dengan mereka.” Jawab Laciel dengan senyuman yang terlihat lembut dan sangat menenangkan.
“Syukurlah masih ada Petualang yang baik hati sepertimu, Anak Muda. Jarang-jarang ada remaja sepertimu. Jika kamu mau, aku akan menikahkanmu dengan anak gadisku.” Lanjut Kepala Desa.
Mendengar ucapan itu, timbul percikan yang menciptakan api di dalam mata Hana dan Nadja. Aura membunuh mereka merembes keluar dan membuat warga desa berkeringat dingin.
Pletak! Pletak!
Laciel memukul kepala mereka.
“Haha, maafkan mereka, Kepala Desa. Mereka ini tipe-tipe tsundere dan over posesif.”
Setelah dipukul, mereka langsung mengontrol diri mereka kembali dan aura membunuh itu menghilang seperti tidak ada sebelumnya.
“Hahaha, hati wanita memang seperti itu.” Ujar Kepala Desa menganggukkan kepalanya.
Bercakap-cakap ringan, malam itu dihabiskan dengan pesta besar. Laciel dan kawan-kawannya dijamu sebagai tamu kehormatan. Bercengkrama ria menghabiskan makanan dan minuman dengan lahap.
Sepertinya, itu adalah akhir yang bahagia untuk semua orang.
...*****...
__ADS_1
...Jangan lupa like, komen, dan klik favorit, ya....