
12 Mei 1163 Zaenium.
Dungeon Pusat, Hutan Redwood, Kerajaan Iblis Lucifer.
Malam hari.
‘Enyahlah! Itu mustahil. Aku bukanlah Elf yang suci. Aku adalah Iblis, makhluk yang menyebarkan keburukan dan membawa kehancuran serta kematian.’
[Benar kah demikian? Kurasa kamu mengetahui kalau yang suka berbuat kerusakan bukanlah Iblis, melainkan Manusia. Alasanku dapat berkata demikian, itu karena dua Peperangan Agung terjadi karena dimulai oleh Manusia, bukan? Juga, Peperangan Suci, dan peperangan kecil lainnya. Semuanya melibatkan Manusia.
[Aku harap kamu mengetahui dan sadar akan hal itu.]
Laciel mengiyakannya. Faktanya memang demikian. Jika Iblis adalah lambang kejahatan, maka Manusia lebih Iblis daripada Iblis itu sendiri.
[Kehadiran Ras Iblis dan Elf adalah Penyeimbang dari dunia ini. Hanya karena Elf baik, bukan berarti kalian memerankan karakter jahat.
[Dan, izinkan aku memberitahumu, di atas Iblis dan Elf, kami, para Roh, adalah Penyeimbang dunia ini yang sesungguhnya. Dan karena kelalaian kalian, kami harus turun tangan membantu membereskan kekacauan yang telah kalian perbuat.
[Dan itu semua dimulai dari mengawasimu.]
‘Kamu adalah Penyeimbang? Omong kosong macam apa itu! Haha! Jika kamu adalah Penyeimbang, maka di mana kamu di saat para Manusia itu membunuh Ayahandaku?!’
[Bukankah itu adalah hukum alam? Yang kuat akan hidup berjalan di atas mayat orang lemah? Jika kamu ingin menyalahkan seseorang atas kematian ayahmu, maka dialah orangnya, bukan orang lain.]
Laciel kehabisan kata. Dia juga kesal dan tidak mau menerima kenyataan itu. karena sudah tidak ada pilihan, Laciel menggunakan pilihan lain. Pilihan yang dia sendiri tidak tahu akan berefek atau tidak. Dia hanya dapat berharap itu
berhasil.
“Kuperintahkan kamu untuk tunduk kepadaku!” perintah Laciel kepada Nameer.
Namun, tidak ada tanda-tanda cara itu berhasil.
[Aku tidaklah terikat dengan siapa pun. Jika pun dulunya tubuh ini terikat oleh Tuan, maka sekarang sudah tidak lagi. Kehadiranku seorang sudah lebih dari mampu untuk mematahkan hubungan yang lemah itu,] ujar Nameer.
[Aku tidak ingin menumpahkan darah. Jadi, terimalah keadaan ini. Aku akan selalu ada di sampingmu. Mengawasi. Jangan lakukan hal bodoh,] lanjut Nameer.
__ADS_1
‘Kalau aku tidak mau?’
[Kalau kamu tidak mau, maka terimalah hukuman yang akan kuberikan.]
Setelah mengatakan demikian, Nameer mengubah wujudnya kembali menjadi kucing putih kecil.
[Tidak usah pedulikan keberadaanku. Kamu dapatkan lanjutkan rapatnya. Ah, maaf soal dinding ini. Lain kali aku tidak akan menghancurkan apa pun. Tehe~]
Laciel memerintahkan bawahannya menurunkan penjagaan dan kembali melanjutkan rapat yang tertunda.
...*****...
Setelah situasi dan kondisi yang kembali kondusif, rapat pun dilanjutkan seolah tidak ada keributan sebelumnya.
Laciel lalu mengangkat Zalfarin sebagai Jenderal dan Master dari Dungeon Utama, ditemani oleh Jashi yang diangkat menjadi Kepala Bendahara Kemaharajaan Iblis. Lalu Garnamtiar menjadi Master dari Red Skull’s Dungeon di timur laut, ditemani oleh istrinya, Shrin. Dan Reis menjadi Master dari Dungeon di barat laut. Sisanya adalah monster yang baru mendapatkan nama.
Lalu, Laciel juga menambahkan penjaga di empat Dungeon arah mata angin. Mereka yang diberikan tugas itu adalah Muthawla si Skeleton raksasa, Taurus si Minotauros, Gamlak si Troll, dan Gahar si Ogre.
Selain itu, Hex si Magic Wraith dan Ygir Razen diangkat juga menjadi Jenderal. Ygir akan menemani dan membantu Medusa mengurus penjagaan daerah Hutan Redwood dan sekitarnya. Meskipun dia mungkin akan lebih sering berada di laboratoriumnya nanti.
Hari sudah pagi di saat Laciel membubarkan rapat. Dia menuliskan sebuah surat dan mengirimkannya ke Istana Raja Kerajaan Zamara. Hazura sendiri yang membawanya, ditemani oleh 9 Iblis bawahannya dan beberapa monster yang dapat terbang lainnya. Tidak terlalu banyak hingga menghambat perjalanan, tetapi juga tidak terlalu sedikit hingga dapat kalah jika dikepung musuh.
Di kamarnya, Laciel membaca buku-buku yang diberikan oleh Oul. Hanafsah berada di sisinya. Dia juga membaca buku lain yang sedang tidak dibaca. Mereka berdua membahas masalah sihir hingga terganggu dengan suara ketukan dari luar.
Sehabis diizinkan, Nadja dan Hana memasuki kamar.
“Ada apa, Nadja?” tanya Laciel.
“Ah, tidak ada apa-apa. Aku hanya menemani Hana. Dia memiliki sesuatu untuk ditanyakan.” Nadja melirik Hana. Dia sudah menyelesaikan tugasnya.
“La– Laciel,” ucapan Hana terpotong.
“Panggil beliau dengan sebutan Yang Maha Agung. Bukankah itu sudah diberitahu?” Hanafsah berkata dengan sedikit keras.
“Ma– maaf, Yang Maha Agung. Aku hanya ingin bertanya, apa pekerjaanku? Semuanya mendapatkan tugas selain aku. Meski aku adalah Manusia, tetapi aku yakin aku dapat berguna sedikit,” ungkap Hana.
__ADS_1
Sebelum berkata apa-apa, Laciel merasakan sebuah tatapan dari lubang pintu. Itu adalah Nameer dengan wajah yang seolah berkata, “Ingatlah perkataanku.”
Laciel jadi urung mengucapkannya. Dia mendecih dengan sengaja.
“Menyingkarlah dari hadapanku. Aku memang sengaja melakukan demikian. Mulai sekarang, kamu tidak boleh keluar dari dungeon ini. Beruntunglah karena kamu tidak kubunuh. Bersyukurlah kamu dibiarkan hidup,” ucap Laciel kepada Hana.
“Sekarang, pergilah. Aku bukanlah aku yang kamu kenal.”
Setelah Hana dan Nadja keluar, tersisa Laciel dan Hanafsah berdua di sana.
“Aku ingin kamu menempatkan beberapa monster untuk mengawasinya,” ujar Laciel kepada Hanafsah.
“Baik, Yang Maha Agung,” jawab Hanafsah.
“Selain perubahan ke tingkat yang lebih tinggi dan kekuatan yang bertambah, apakah ada hal lain yang berubah?” tanya Laciel.
“Selain itu, aku tidak merasakan apa-apa. Memangnya seharusnya ada sesuatu yang terjadi?” Hanafsah bertanya balik.
“7 Dosa Besar memiliki artifak atau senjata pusakanya masing-masing. Aku bingung kenapa Hazura sudah memegang Pusaka Trisula dari lama sebelum dia menjadi bagian dari 7 Dosa Besar,” jelas Laciel.
“Lalu, bagaimana dengan Yang Maha Agung? Bukankah Anda dulu juga merupakan anggota dari 7 Dosa Besar?”
“Benar. Dan sekarang, aku mengetahui di mana lokasi Zen menahanku. Sepertinya dia juga menyimpan pusakaku di sana. Lagipula, meski memilikinya, tidak lantas membuat Pemegangnya mampu mengeluarkan kekuatan dari pusaka tersebut. Hanya mereka yang dipilih yang dapat.
“Mungkin aku akan ke sana sebelum berperang dengan Kerajaan Zamara. Mau kah kamu menemani?” Laciel menatap Hanafsah dengan tatapan yang mengandung banyak arti.
“Tentu saja, Yang Maha Agung. Kehadiranku adalah untuk Anda,” balas Hanafsah.
“Kamu juga harus secepatnya menemukan senjata pusakamu sendiri. Karena kemungkinan di sana juga adalah tempat mereka ditahan, sama sepertiku. Aku hanya bisa mengharapkan keselamatan mereka, setidaknya.”
...*****...
...Jangan lupa like, komen, dan klik favorit, ya....
...Satu like dan komen kalian sangat berharga bagiku....
__ADS_1