
4 Mei 1163 Zaenium.
Lapangan Arena Duel, Kota Pelabuhan Dorsal, Ibu Kota Kerajaan Sarkarius, Kekaisaran Beastman Marhamzan.
Sore hari.
Ledakan dari Darkness Meteor terlihat seperti kembang api yang dapat mengalahkan sinar matahari. Laciel terkejut dan tertegun melihat serangan terkuatnya dapat dihempaskan dengan mudah.
Syarka tidak memberikan waktu lebih. Dia segera berlari ke arah Laciel. Kuda-kudanya berganti ke semula. Laciel tidak memiliki pilihan selain menahan Syarka selama mungkin untuk memulihkan Mana Point-nya. Tetapi, dia memiliki keraguan akan hal itu. Mana Point-nya sudah diserap habis karena berkali-kali melancarkan sihir serangan, dan skill Tower of Mana tidak dapat menanganinya.
BUK! BUK! BUK!
Syarka meninju Absolute Barrier Laciel dengan serangan seni beladiri yang dicampurkan energi sihir. Kini Laciel tahu mengapa Yagwar takut akannya, tetapi masih tidak paham kenapa perbandingan kekuatan tempur mereka berdua terbalik.
Laciel melancarkan sihir Fireball, Mana Arrow, Rock Bullet. Namun tidak ada yang mengenai Syarka satu pun jua. Syarka sudah terbiasa dengan serangan Laciel dan dapat memprediksinya.
BUK! BUK!
BUK! BUK!
BUK! BUK!
Syarka terus-menerus menyerang. Tidak membiarkan Laciel beristirahat mengumpulkan Mana Point. Laciel semakin terpojok. Serangannya tidak ada yang mengenai Syarka sama sekali.
Hingga akhirnya, Laciel tahu kalau itu adalah akhirnya. Mana Point miliknya sudah tidak mencukupi, dan Syarka masih tetap menyerang.
BUK!
PYAR!
Absolute Barrier Laciel hancur berkeping-keping karena dia kekurangan Mana.
BUK!
Dia dipukul hingga melayang ke belakang. Ke luar arena.
“Fly!”
Untungnya, Laciel sudah mempersiapkannya. Dia melayang di udara dan tidak jadi keluar arena. Sekalian, dia juga menghela napas untuk mengistirahatkan diri.
Tiba-tiba ....
...
“Pemenangnya, Raja Iblis Lucifer!”
Wasit berteriak mengumumkan. Laciel terkejut.
“Apa! Apa yang terjadi?!”
Saat dia melihat Syarka di arena, dia tahu alasannya.
Syarka sudah berbaring lemas di arena. Tidak mungkin untuk melanjutkan duel.
__ADS_1
“Yang Mulia!”
Beberapa pelayan kerajaan segera masuk ke dalam arena dengan ember yang penuh air. Mereka langsung menyiramkannya ke tuan mereka. Membuat lantai arena menjadi basah seketika.
‘Apa ... yang sebenarnya ... sedang terjadi?’ Laciel melongo melihat mereka melakukan itu kepada tuan mereka sendiri.
“Uhuk! Ugh!”
Syarka siuman. Dibantu duduk oleh para pelayannya.
“Aku kalah, ya?” dia bergumam.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Laciel.
“Ha ha! Tenang saja. Aku hanya kelelahan saja. Bagaimanapun, aku tetaplah ikan dan tidak bisa jauh dari air,” jelas Syarka.
“Be– begitu kah?” Laciel terlihat tidak percaya. ‘Jadi, apakah karena ini kekuatan tempurnya berada di bawah Yagwar? Untung saja skill Appraisal-nya tidak error. Tapi, kenapa baru dikasih tau sekarang?!’
[Nama : Syakir Syarka
Ras : Beastman
Title : Raja Hiu, Kapten Syarka, Kapten Bajak Laut.
Kekuatan Tempur : B+
Catatan : Kekuatan tempur menurun drastis karena dehidrasi.]
‘Jadi ... dia tidak sedang berada di puncak kekuatannya,’ pikir Laciel. ‘Sangat merepotkan sekali.’
“Ha ha! Jika saja kamu menggunakan sihir ait tadi, mungkin saja aku akan bertahan lebih lama.” Syarka berdiri dalam keadaan segar kembali.
“Aku bahkan tidak pernah berpikir bahwa kamu masih membutuhkan air setelah menjadi Beastman,” balas Laciel.
Mereka berdua tertawa dengan lepas seolah sudah menjadi teman sejak lama.
“Ada sesuatu yang ingin kuberitahukan kepada kalian, khususnya kamu. Kita bicarakan di istanaku.”
...*****...
...[Iklan sebentar]...
Laciel merasa ada sedikit yang mengganjal. Ada sesuatu yang dia lupakan.
“Yah, jika sesuatu itu adalah hal yang penting, aku akan segera mengingatnya kembali,” gumamnya.
Seketika, dia merasa seperti sudah pernah mengalami hal yang serupa. Namun, dia tidak dapat mengingat di mana dan kapan.
“Jika aku tidak dapat mengingatnya, maka hal itu pasti tidak terlalu penting.”
...*****...
“Selamat datang, Kapten!”
__ADS_1
Pasukan Beastman Hiu menyambut tuan mereka di depan gerbang istana.
Tidak seperti bayangan Laciel di mana para Pembajak Laut adalah ‘orang’ yang tidak memiliki moralitas dan cenderung hidup secara urak-urakan tak teratur. Namun, yang ada di hadapannya adalah semacam istana yang lebih hebat dari milik Count Blackwood dan Marquis Harbisium. Maklum, dia belum pernah mengunjungi istana Bangsawan selain mereka berdua. Dan ‘istana’ milik Yagwar atau Raja Panda juga tidak dapat dibandingkan.
“Ada apa? Merasa tidak sesuai dengan ekspektasi? Aku sudah sering mendapatkan pandangan seperti itu.” Syarka berhenti berjalan bersamaan dengan Laciel yang terdiam.
“Ah, iya. Aku tidak menyangka kamu memiliki istana yang sagat besar.” Laciel kembali berjalan.
“Kamu pasti akan terkejut jika melihat Kastil Kaisar. Usianya bahkan hampir 16 abad.”
Saat memasuki istana, mereka disambut kembali dengan puluhan pelayan dari berbagai ras Beastman. Kepala pelayan maju lalu memandu mereka ke ruangan besar dengan meja panjang di tengahnya yang dikelilingi banyak kursi.
“Kalian pasti sangat lapar. Aku juga sama.”
Setelah ucapannya, puluhan pelayan kembali muncul dari berbagai pintu membawakan berbagai hidangan dan makanan. Aromanya menguar ke seluruh ruangan dan menggugah selera. Denting gelas dan bunyi cacing di perut menghasilkan orkestra yang seirama. (Ok, itu terlalu berlebihan.)
“Kita ‘kan bicara setelah makan. Kamu tidak keberatan?”
“Tentu tidak.”
...*****...
4 Mei 1163 Zaenium.
Kerajaan Unkazar, Kekaisaran Beastman Marhamzan.
Sore hari.
Hutan terbakar dengan dahsyat. Rumah-rumah yang dibangun sudah dihancurkan, dan tidak ada yang tersisa. Pasukan gabungan Ratu Tigris dan Jenderal Heremia sudah bersiap untuk kembali sembari membawa tawanan.
“Aku tidak menduga kalau kamu yang berada di sini, sedangkan dia sedang berpergian.” Tigris berjalan ke sana kemari di depan Viksen dan Qormon yang ditangkap. “Jadi, ke mana si Yagwar pergi?”
“Enjahlah!” Viksen meludah.
“Tenang saja. Aku tidak berniat mengejarnya. Justru aku berniat untuk memancingnya,” balas Tigris yang tidak mendapatkan jawaban yang dia kehendaki.
“Bunuh saja kami!” timpal Qormon.
“Kalian lebih berharga dalam keadaan hidup.”
“Yang Mulia, salah satu warga mengatakan kalau Yagwar pergi ke arah tenggara, ke Kerajaan Panda,” lapor prajurit Elang yang baru saja datang.
“Ssaa!” Viksen memberontak. Namun, usahanya sia-sia saja.
“Kirimkan surat ini.” Tigris memberikan selembar surat yang tersegel.
“Baik, Yang Mulia.” Prajurit tersebut menunduk, lalu pergi menjalankan tugasnya.
“Nah, aku tidak sabar melihat wajahnya nanti akan seperti apa.”
...*****...
...Jangan lupa like, komen, dan klik favorit, ya....
__ADS_1
...Satu like dan komen kalian sangat berharga bagiku....