
Musim semi, 24 Maret 1163 Zaenium.
Mansion Duchy Zerestia, Kerajaan Zamara.
Duke Fazerin de Zerestia II, yang juga merupakan salah satu dari empat Jenderal Besar Kerajaan Zamara, sedang berjalan menuju ruangan kerjanya. Di sana, sudah menunggu Bangsawan bawahannya dan seseorang yang baru.
“Ah, kamu akhirnya datang juga, Marquis Ezar de Atlanta.” Ujar Duke Fazerin.
Marquis Ezar de Atlanta adalah seorang Bangsawan berpangkat Marquis, dan merupakan bawahannya di dalam struktur kerajaan. Wilayah yang dikelolanya berada di Duchy Zerestia bagian barat. Itu artinya, dia berada di ujung barat laut Kerajaan Zamara, dan berbatasan langsung dengan Kekaisaran Zaenia.
Sebab kemampuan dan kegigihannya dalam berperang melawan invasi Kekaisaran, dia mendapatkan gelar Jenderal, setara dengan Marquis Falimus de Harbisium dan Count Azuma de Morsela.
Tubuhnya ramping, tetapi tidak kurus, hanya sedikit berisi. Ototnya memang tidak menonjol di baju, tetapi bisa terlihat jika dia membukanya. Rambutnya dia cukur pendek. Dan mata birunya tajam laksana mata elang yang siap memangsa kelinci.
“Tidak perlu formal begitu, Duke.” Balas Marquis Ezar tersenyum ramah. “Tentu saja, jika dipanggil, aku akan datang secepatnya.”
“Haha, itu yang kusuka darimu. Cekatan. Ngomong-ngomong, silakan duduk dulu.” Duke mempersilakan. Mereka duduk di sofa tengah ruangan. “Bagaimana dengan wilayahmu jika kamu meninggalkannya?”
“Tenang saja, anakku sudah kulatih dengan keras. Setidaknya, dia sudah berada di tingkat Komandan sekarang.”
Marquis meminum teh yang diantarkan pelayan.
“Sangat enak.” Lanjutnya. “Lalu, ada apa kali ini? Raja Iblis dari Hutan Redwood? Lelucon yang lucu.”
“Kamu pasti tidak akan datang bila menganggap itu hanyalah lelucon.” Duke menatap matanya.
“Hehe, tentu saja tidak. Aku tidak bermain-main untuk urusan ini. Tadi hanyalah lelucon untuk meringankan suasana. Lagian, itu karena kamu yang tampak murung dari tadi.” Ucapnya terkekeh.
“Jadi, kamu dapat mengetahuinya, ya?”
“Kita sudah dekat sejak kecil. Tentu saja aku dapat mengetahuinya.” Marquis menyesap teh lagi. Selain gerah setelah perjalanan jauh, itu juga untuk melancarkan tenggorokannya. “Mereka juga dapat merasakannya. Hanya saja, pasti tidak enak mengatakannya kepadamu.”
“Tu– Tuan Ezar,” tangan kanan Duke Fazerin, Marquis Berliano de Zister, bersuara dengan sedikit keras.
Dia ingin menghentikan Marquis. Tetapi, menyelanya adalah etika yang buruk bagi seorang Bangsawan, apalagi dirinya yang merupakan seorang Marquis dan keluarganya hanya keluarga cabang dari keluarga Zerestia. Itu akan sangat mencoreng nama baik keluarga Zerestia.
Bagaimanapun, itu sudah terjadi. dan ucapan yang keluar tidak bisa ditarik kembali.
Dia ditatap dengan tajam oleh Duke Fazerin. Lalu, Marquis Ezar pun menoleh ke kanan, ke arahnya. Tersenyum seperti biasanya.
“Tidak apa-apa untuk mengatakannya, Berliano. Kamu harus berani berkata jika Duke melakukan kesalahan.”
__ADS_1
Untuk sekarang, Berliano merasa aman dan dapat bernapas dengan lega. Lalu, dia mendengar Duke menghela napas.
“Seumur-umur, aku hanya pernah menghadapi invasi Kekaisaran dan serangan monster dari Hutan Blackwood, ataupun Hutan Redwood.” Ungkap Duke. “Berhadapan dengan seorang Iblis pun belum pernah. Dan kini, aku sudah dihadapkan dengan Raja Iblis.”
“Oya, oya. Jadi, kamu merasa minder, nih?” goda Ezar. “Mana Duke Fazerin yang dulu sangat gagah sekali menghadapi dan mengalahkan pasukan Kekaisaran?”
“Tuan Ezar, berkata demikian kepada seorang Duke rasanya ....”
Ucapannya tertahan.
“Tidak apa. Memang, rasanya aku sedikit pesimis. Denganmu di sisiku, aku tidak akan merasa takut lagi.”
Duke lalu berdiri dan duduk di kursinya.
“Raja sudah mengirimkan titah. Si Jenderal Besar akan datang dan menyerang dari selatan. Marquis Harbisium akan menyerang dari barat. Dan kita akan mengepung serta menyerang dari arah utara dan timur. Kuserahkan komando pasukanmu kepadamu untuk menyerang dari utara.” Ucapnya menjelaskan.
“Kalau begitu, aku akan kembali lagi untuk mengatur pasukanku.” Marquis Ezar pamit pergi.
Entah akan ke arah mana pertempuran ini. Dan entah akan seperti apa dampaknya.
...*****...
Musim semi, 25 Maret 1163 Zaenium.
Siang hari.
“Marquis merekrut para Petualang untuk menjadi pasukan tambahan?” tanya Laciel.
Mereka kini sedang berada di penginapan Petualang. Hanya mereka bertiga, ditambah Nameer.
“Iya. Tapi, sifatnya hanya sukarela, lalu nantinya akan diberikan hadiah. Dan yang membunuh monster akan mendapatkan tambahan hadiah.” Jelas Nadja. Dia tadi secara tidak sengaja mendengar berita itu di saat pergi keluar untuk membeli makanan. “Dan khusus kelompok Petualang yang dinilai mampu, mereka diajak dan ditawarkan hadiah eksklusif. Salah satunya adalah kelompok kita.”
Laciel agak lama merenung. Niat awalnya, dia mencari informasi dari para Bangsawan, dan nantinya akan turun langsung ke medan pertempuran sebagai Raja Iblis. Tentu saja, dia akan mengenakan topeng untuk menutup mukanya, dan mengganti pakaiannya. Dia tidak menyangka kalau akan diajak oleh Marquis.
“Kenapa kita termasuk?” tanya Hana. “Apa alasannya? Apakah mereka memberitahumu?”
“Tidak, mereka tidak memberitahu. Tapi, mungkin saja itu karena Laciel. Berita tentangnya yang menaklukan Blade Tiger sudah tersebar hingga sini. Walaupun, banyak juga yang meragukannya, karena yang dibawanya sekarang ke sini adalah kucing imut dan bukannya Blade Tiger.” Jawab Nadja.
Saat mereka masih hangat membicarakan tentang itu, seseorang mengetuk pintu kamar.
Untungnya, mereka sudah siap dan memasang barier anti suara, sehingga tidak akan terdengar ke luar. Meski masih bisa mendengar suara dari luar.
__ADS_1
Hana menonaktifkan barier itu, lalu mengizinkan orang itu masuk.
Itu adalah salah seorang pegawai yang bekerja.
“Maaf, Tuan dan Nona-nona. Ada seorang tamu VIP yang ingin berbicara dengan kalian.” Ucapnya menjelaskan kedatangannya.
...*****...
Laciel mencoba untuk menerka-nerka siapa yang disebut-sebut sebagai tamu VIP tersebut. Mereka bertiga–Nameer sudah tidur di atas kasur–berjalan naik ke lantai empat. Tata letaknya hampir mirip dengan Gedung Serikat Petualang cabang County Blackwood. Yang berbeda hanyalah total lantainya yang selisih satu lebih banyak.
Di lantai keempat ini adalah penginapan dan ruangan khusus untuk tamu atau Petualang VIP. Tidak sembarang orang dapat memasukinya, bahkan walau hanya untuk menginjakkan kakinya di sana, bahkan bagi Hana dulu.
Pegawai Serikat membawa mereka menuju sebuah ruangan yang sangat khusus, lebih khusus dibanding yang lain. Jika begitu, maka orang yang akan ditemuinya memang benar-benar sangat penting.
Saat mereka memasukinya, di sana sudah menunggu dua orang. Pegawai itu hanya mengantarkan mereka dan tidak masuk ke dalam. Yang dilakukannya terakhir kali adalah menutup pintu dan pergi seolah tidak ada yang terjadi.
“Duduklah," ujar seorang pria paruh baya yang sangat besar dengan otot-ototnya yang menonjol.
Untuk mengetahui siapa mereka, Laciel hanya perlu merapalkan mantra Appraisal dan melihatnya.
[Nama : Gilzura | Ras : Manusia
Title : Guild Master cabang March Harbisium.
Kekuatan Tempur : A]
Jika dia adalah Guild Master, maka, tamu yang sesungguhnya adalah ....
Laciel mengalihkan matanya kepada seorang pria paruh baya dalam balutan jubah bagus yang tubuhnya lebih kecil dibanding Guild Master. Tampak lebih ramping dengan beberapa otot yang menonjol. Gaya duduknya sangat elegan layaknya seorang Bangsawan.
[Nama : Falimus de Harbisium | Ras : Manusia
Title : Kepala Keluarga Harbisium, Marquis Harbisium, Jenderal Kerajaan Zamara.
Kekuatan Tempur : A+]
Marquis datang sendiri menemuiku? Laciel tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Entah alasan apa yang harus dia gunakan untuk menolak ajakannya nanti.
Mereka bertiga duduk di sofa, dengan Laciel di tengahnya. Marquis di hadapan mereka. Dan Guild Master berada di kanan, sebagai penengah dan pihak netral dalam diskusi ini.
“Jadi, ada yang bisa saya bantu, Tuan Marquis Harbisium?”
__ADS_1
...*****...
...Jangan lupa like, komen, dan klik favorit, ya....