Sent To Isekai As Demon King

Sent To Isekai As Demon King
Eps 34 : Sekumpulan Bandit Hutan


__ADS_3

Musim semi, 23 April 1163 Zaenium.


Hutan Red Cliff, Duchy Canaria, Kerajaan Zamara.


Malam hari.


Sebentar lagi tengah malam. Kelompok Laciel telah makan dan sekarang mengantuk karena kekenyangan. Tetapi mereka masih terjaga. Mata tajam mengawasi sekitar.


“Mereka sudah datang.” Ujar Nadja.


Mereka sudah mengetahui dari awal kalau ada sekelompok bandit yang telah mengamati mereka sejak mereka memasuki Hutan Red Cliff.


Bagi orang biasa, dikepung bandit merupakan bencana, atau minimal ancaman bahkan gangguan. Tetapi bagi Laciel, ini adalah bagai mendapat durian runtuh. Maksudnya adalah mendapatkan sesuatu tanpa disangka-sangka.


Mereka pasti memiliki beberapa barang bagus, seperti senjata atau zirah. Dan tak jarang, bisa saja dia mendapatkan beberapa barang berharga seperti emas atau artefak sihir milik bos para bandit, atau hasil curian bandit tersebut. Selain itu, dia juga dapat melatih kemampuannya yang lain dan melatih bawahannya.


Laciel pergi mengendap-endap dalam kegelapan. Dari bayangan tubuhnya, muncul beberapa siluet mata. Mereka adalah sebagian kecil dari Wraith yang dibawanya. Selain berfungsi sebagai pengirim kabar atau surat, dia bisa menggunakan mereka untuk “mempermainkan” para bandit, dan mengetahui batasan mereka.


Durian runtuh dan melempar burung dengan satu batu.


Dengan skill Mana Sense-nya, dia merasakan ada 13 orang bandit yang mengepung mereka. Dan ada sisa dua orang yang berada jauh di belakang, mengawasi. Sepertinya dia lah bos dari para bandit ini.


...*****...


Suasana malam sangat mencekam. Rigrit, nama bandit yang tadi melapor kepada bosnya, sekaligus orang yang dipercayakan untuk memimpin penyergapan ini, merasakan atmosfer yang sangat tidak biasa. Entah kenapa, dia merasa kalau bulu kuduknya berdiri. Jantungnya juga berdetak lebih cepat karena andrenalin.


Dengan menggenggam dua buah pisau panjang yang melengkung, dia memimpin jalannya penyergapan. Tangan kirinya dia angkat. Penyergapan akan dilaksanakan begitu tangan kirinya diturunkan. Tetapi, dia tidak akan pernah melakukan itu lagi. Lebih tepatnya, tidak akan bisa. Selamanya.


Seekor monster halus tak kasat mata baru saja melewatinya dan memotong tangan kirinya secara halus. Dia tidak merasakan rasa sakitnya. Belum. Jika dia tidak menoleh ke kiri, dia tidak akan pernah tahu kalau lengan kirinya baru saja sudah tidak ada.


“ARGH!!!”


Setelah sadar dan menerima konfirmasi dari tubuhnya berupa rasa sakit itu dia barulah berteriak kesakitan. Dan ketakutan.


Teman-temannya bingung dengan apa yang terjadi. Tetapi segera mereka akan mengetahuinya.


BUUMMM!!!

__ADS_1


Di area yang berbeda, sebuah ledakan terjadi. Itu berasal dari arah temannya yang seharusnya sudah mengepung. Tetapi tidak ada dari teman-temannya yang mampu melakukan serangan sebuah ledakan sebesar itu. Jika begitu, maka pasti yang melakukannya adalah kelompok yang mereka kepung. Hanya itu satu-satunya penjelasan yang masuk akal.


Akan tetapi, itu bukan saatnya dia mengkhawatirkan temannya. Di sini, saat ini, nyawanya sedang berada dalam bahaya. Melihat sekitar. Dia sudah tidak menemukan dua orang temannya yang seharusnya berada di sana. Bahkan dia tidak bisa merasakan saat tangannya dipotong atau temannya menghilang.


Dia belum pernah merasakan sesuatu seperti ini. Biasanya, mereka lah yang memburu. Bahkan jika mereka dikejar oleh Ksatria Kerajaan, Hutan Red Cliff adalah rumah mereka. Hal itu membuat merekalah yang memburu, bukan diburu.


Tetapi sekarang dia merasakannya. Dia merasakan untuk pertama kalinya bagaimana rasanya menjadi seseorang yang diburu. Bulu kuduk yang berdiri. Jantung yang berdetak cepat. Andrenalin yang terpacu.


Dengan panik, dia melihat sekitar. Meningkatkan kewaspadaannya hingga tingkat tertinggi. Dengan insting yang telah diasahnya selama bekerja di kelompok tersebut, kemampuannya sekarang dapat dinilai sebagai Petualang Peringkat B, atau bahkan A awal. Tetapi, di hadapan kekuatan yang mengerikan, dia merasakan bagaimana tidak berdaya dirinya.


Tidak ada tempat lari. Ini adalah rumahnya. Tidak ada yang dapat dilakukan. Semuanya terasa melambat.


Dia melihat sekilas seekor monster berwujud kabut berwarna hitam dengan dua mata biru menghampirinya secepat cahaya.


Meski secepat itu, rasanya sangat lama sekali. Dia kembali teringat ketika bos, orang yang sangat dihormatinya itu, memungutnya saat dia adalah seorang anak yatim kecil. Tanpa kerabat di mana pun. Mengajarinya cara bertahan hidup di kerasnya lingkungan dan bahaya alami.


Apakah ini adalah kilas balik kehidupan sebelum kematian? Batin Rigrit.


Apakah dia memiliki penyesalan? Tentu saja! Jika reinkarnasi benar-benar nyata, dia berharap di kehidupan selanjutnya dia menjadi seseorang yang baik. Jika itu mungkin, dia berharap. Berharap dengan sangat.


Slash...!


...*****...


Tumpukan barang-barang yang dikumpulkan oleh para Wraith menggunung di hadapan Laciel. Dia lalu memasukkan semuanya ke dalam inventory-nya.


“Meski kurang bagus, tetapi tak apa. Apa yang bisa diharapkan dari sekumpulan bandit.” Gumam Laciel. “Baiklah. Sekarang saatnya menjemput pemeran sekali pakai terakhir dari episode ini yang belum muncul.”


...*****...


Bos bandit bernama Grid itu sedang menunggu bersama salah satu anak buah kepercayaannya ketika sebuah ledakan besar terjadi. Saat itu, mereka berdua panik. Tidak menyangka kalau ternyata rombongan itu membawa orang yang sangat kuat hingga bisa mengeluarkan sihir sedahsyat itu.


Tetapi itu masih kurang. Magic Caster sangatlah lemah terhadap Assassin. Assassin mampu membunuh seorang Magic Caster dalam sekejap, sebelum si Magic Caster mengeluarkan sihir. Dan karena si Magic Caster masih mampu mengeluarkan sihir sebesar itu, entah si Magic Caster yang sangat kuat sehingga mampu merapal cepat, atau ada orang lain yang berguna sebagai Tank pelindung.


Grid terlihat berpikir keras. Dan karena dia ingin menghindar terlebih dahulu, hingga bawahannya telah mengalahkan mereka semua, dia memilih untuk pergi menjauh sebentar. Baru saja dia berdiri, dia merasakan bulu kuduknya berdiri. Dia merasa merinding. Bukan karena hawa dingin, melainkan karena hawa membunuh yang sangat difokuskan kepadanya dan bawahannya.


Ctang!

__ADS_1


Refleksnya sangat cepat setelah terlatih bertahun-tahun. Dia menangkis serangan yang dilancarkan oleh seekor Wraith beraura hitam.


Wraith? Di saat seperti ini? Grid berpikir, tapi dia tidak bisa menduga apa-apa.


Dia sudah terkepung. Ada lima Wraith yang datang.


Sebenarnya, apa yang terjadi? Batinnya bertanya-tanya.


Tap tap tap


Saat itu, dia mendengar sebuah suara langkah kaki yang mendekat ke arah mereka. Itu adalah seorang remaja berambut putih dengan mata merah menyala penuh akan hawa membunuh. Yang menjadi fokusnya adalah dua bola yang dia bawa di genggaman tangannya.


Saat orang itu sudah mendekat, dia melemparkan dua benda bulat itu ke arahnya. Tidak terlalu jauh. Cukup tepat jatuh dan berhenti di depannya.


Dua benda berbentuk bulat itu ternyata adalah dua kepala bawahannya yang lain. Salah satunya adalah bawahan kepercayaannya.


Di– dia sudah mati! Grid merinding. Anak yatim yang kupungut, yang memiliki bakat bagus. Telah mati!


“Si– siapa sebenarnya kamu?” Grid bertanya dengan lidah yang gemetar karena intimidasi.


“Aku sangat terkenal akhir-akhir ini. Aku adalah Raja Iblis Lucifer.” Jawab Laciel.


“Hii...!”


Dua orang itu ketakutan setengah mati. Dan kini mereka sudah sepenuhnya mati setelah melihat wujud dari kematian yang sangat ditakuti di Kerajaan Zamara saat ini.


...*****...


“Hah, mereka sangat mengganggu liburanku.” Gumam Laciel mengeluh setelah menghabisi nyawa para bandit. “Untunglah mereka memiliki beberapa barang yang terlihat berguna. Meski aku tidak yakin apakah masih berguna atau tidak.”


Tatapannya jatuh kepada setumpuk zirah dan pedang serta pisau yang digunakan oleh para bandit yang menggunung.


“Yah, mungkin aku bisa menjual semuanya ke kota nanti.”


...*****...


...Jangan lupa like, komen, dan klik favorit, ya....

__ADS_1


...Satu like dan komen kalian sangat berharga bagiku....


__ADS_2