
11 Mei 1163 Zaenium.
Luar Ibu Kota Kekaisaran Beastman Marhamzan.
Siang hari.
“Bersiaplah!”
Leo juga ikut memasang kuda-kuda. Begitu pula Tigris.
“Grr! Hya!”
Leo, Tigris, Yagwar, dan Zhen melesat menuju satu titik yang sama. Kecepatan pergerakan mereka tidak dapat dilihat apalagi diikuti hanya dengan kekuatan mata telanjang. Dan saat mereka bertemu, suara pukulan, tendangan, dan berbagai jurus lainnya memekakkan telinga bagi orang-orang di sekitar. Prajurit dari kedua pasukan hanya dapat melihat dengan raut wajah merasakan kengerian dan ketakutan akan kekuatan pemimpin mereka masing-masing.
BUK! BUK! BUK!
BUK!
Yagwar melancarkan pukulan 3 dan 1 kali yang sangat efektif untuk menyerang target yang lincah. Namun itu tidak terlalu memberikan dampak yang cukup untuk Leo, yang tidak hanya cepat, namun juga kuat.
“Hanya segini? Rasakan milikku!”
BUK! BUK! BUK! BUK!
Leo mengeluarkan empat kali pukulan yang mengenai titik vital Yagwar. Serangannya begitu cepat dan sangat akurat.
BUM!
“UHUK!!!”
Yagwar terjatuh. Mulutnya mengeluarkan darah merah segar. Lagi.
Pandangannya mengabur. Lalu dia pun pingsan.
...*****...
Buk buk buk!
Buk!
Seorang anak kecil Beastman Jaguar sedang berlatih tinju di dasar hutan lebat. Bekas tinjunya terlihat membekas di pohon sasaran yang digunakan untuk latihan selama ini. Tak kenal lelah dan tak kenal waktu, ia terus berlatih. Siang dan malam.
“Itu ... aku?”
Yagwar melihat diri versi kecilnya sedang berlatih keras.
“Mimpi kah? Atau ... kilas balik sebelum kematian?” gumamnya bertanya-tanya.
Lalu, adegan selanjutnya berganti. Dia kini sedang berada di kediaman ayahnya, Raja Jaguar, Yagwar I.
“Ayah.”
Namun, suaranya tidak didengar. Tidak hanya tidak dipedulikan, dia juga tidak dianggap oleh ayah dan kakaknya. Sejak dulu. Hanya ada satu orang yang menyayanginya.
Saat dia berbalik, dia melihatnya.
“Ibu,” panggilnya.
Sosok yang dipanggil ibu olehnya tersenyum kepadanya. Anak kecil itu berlari ke pangkuan ibunya. Di setiap langkahnya, dia menjadi dewasa hingga menyatu dengan Yagwar.
“Kamu tidak seharusnya berada di sini,”ungkap ibunya. Matanya melihat ke balik punggung Yagwar. “Kamu memiliki mereka.”
Yagwar berbalik. Menatap ke arah yang sama dengan yang ditatap ibunya. Di sana ada mereka semua. Qormon, Viksen, Syarka, Laciel, Oul, dan yang lainnya.
“Aku senang kamu sudah tidak sedih lagi, tidak sendiri lagi, tidak membawa semua beban di pundak sendiri lagi. Ibu senang.”
Yagwar menatap ibunya kembali.
“Aku ingin bersamamu.”
“Tempatmu bukan di sini.”
“Yagwar.”
__ADS_1
Yagwar mendengar ada yang memanggilnya. Itu adalah Qormon dan Viksen. Akhirnya dia sadar kalau dia masih memiliki pekerjaan untuk dilakukan.
“Aku akan menunggumu,” ucap ibunya sembari mengelusnya dengan lembut.
Namun, Yagwar masih ingin berada di sini lebih lama lagi. Hingga akhirnya, kesadarannya dibalikkan paksa oleh suara yang memanggilnya.
“Yagwar!”
“Huh?!”
Yagwar terbangun di tengah medan perang. Dia sudah dibawa mundur ke sisi Laciel dan Oul yang sedang menyembuhkannya.
Tatapan matanya kosong dan terlihat masih terkejut. Detak jantungnya bergerak cepat.
“Berapa lama aku pingsan?” tanyanya.
“Tidak terlalu lama sampai-sampai kita kalah,” jawab Laciel dengan candaan.
Yagwar melihat sekitar. Syarka dan Zhen sedang menangani Leo dengan serius, juga Tigris beberapa kali. Dari belakang, Hanafsah dan Laciel membantu. Menyisakan dirinya yang disembuhkan Oul.
“Aku sudah sembuh,” ucapnya.
Setelah memastikan, Oul kembali terbang dan membantu Syarka di depan. Tetapi, belum lama dia terbang, sesuatu datang dengan kecepatan penuh dari belakang barisan musuh langsung menuju ke arah Oul.
KLANG!!!
Sebuah panah yang melesat ditangkis olehnya. Tetapi, serangan kejutan itu sudah tentu meninggalkan luka untuknya.
“Ratu Elang,” ujar Yagwar melihatnya di ujung sana. Jauh dari medan perang.
[Nama : Kalinda von Lukaszan
Ras : Beastman
Title : Ratu Elang.
Kekuatan Tempur : A+]
‘A+, ya? Setidaknya dia tidak lebih kuat dari Yagwar dan Zhen.’
BUK! BUK!
BUK! BUK!
Zhen, Yagwar, dan Syarka saling bertukar tinju dan teknik dengan Leo dan Tigris. Bahkan bantuan dari Hanafsah pun tidak banyak membantu. Dan Laciel serta Oul sedang disibukkan dengan penembak, penyerang jarak jauh, yang meski lemah, tetap saja merepotkan.
“Oul, jaga diriku sebentar!” teriak Laciel.
Oul menyanggupi. Dia turun ke depan Laciel. Setelahnya, dia memasang banyak lingkaran sihir. Beberapa merupakan serangan jarak jauh, dan sisanya adalah jebakan jika ada musuh yang berusaha untuk mendekatinya.
Di sisi musuh, Kalinda menyimpan busur yang tadi dia gunakan, dan menggantinya dengan busur yang baru. Gagangnya terbuat dari kayu berkualitas tinggi sehingga nyaman digenggam dan kuat. Sedangkan dahannya dibuat dari batu sihir. Talinya juga sudah diberikan sihir yang membuat anak panahnya dapat melesat dengan sangat cepat.
Hanya dengan menarik talinya ke belakang, sebuah anak panah sihir muncul. Laciel yang melihatnya terkejut.
“Busur macam apa itu? Bahkan aku tidak pernah melihatnya di dalam game! Appraisal!”
[Nama Item : ???’s Magic Bow
Tipe : Magic Bow
Syarat Penggunaan : Kekuatan Tempur A
Catatan : Sebuah senjata legendaris milik ??? dan diwariskan kepada ???. Mampu mengeluarkan serangan dua kali lebih tinggi tingkatan dari Kekuatan Tempur Pengguna.]
‘Peningkatan dua kali lipat? Itu artinya kekuatan serangannya akan menjadi S+?!’
Laciel tidak bisa berkelit ataupun mengelak. Serangan itu sangat cepat sampai-sampai Oul tidak menyadarinya.
PYAR!!!
Absolute Barrier milik Laciel berkeping-keping. Tetapi, anak panah itu masih melaju dengan kencang.
CRATS!
__ADS_1
Panah itu menembus melalui dada kiri atasnya, di bawah tulang selangka. Dan akhirnya tertanam ke bumi sedalam beberapa meter.
“Ugh! Uhuk!”
Laciel jatuh terduduk. Membasahi tanah di bawahnya dengan darah merah segarnya.
“Si.ya.lan kau!” Dia mengutuk Kalinda.
Kalinda kembali menarik tali busur sihirnya. Siap menembakkan anak panah sihir lainnya.
Namun, sebelum itu, sebuah senjata berbentuk rantai dengan jangkar kecil di ujungnya muncul dari bawah mengarah kepadanya. Melilit kakinya. Dan dengan satu gerakan, Kalinda tersentak ke atas tanah.
“Siapa kamu?!” tanyanya dengan emosi marah.
Masih dalam keadaan di atas tanah, dia mendongak, melihat siapa pelakunya. Itu adalah seorang Beastman dengan wujud Paus Orca dengan beberapa fitur seperti Manusia.
“Raja Orca?” ujar Kalinda dan Laciel bersamaan.
Tangan kirinya menggenggam rantai. Tangan kanannya memegang kapak.
“Sepertinya kamu sangat merepotkan. Tapi, aku tidak akan membunuhmu.”
Setelah mengucapkan itu, dia memukulkan kapak di tangan kanannya ke kepala Kalinda. Membuatnya pingsan seketika.
“Tidurlah sebentar.”
Lalu, dia menengok ke arah Laciel.
“Bala bantuan sudah tiba,” ujarnya.
Setelah kedatangannya, arah jalan pertempuran sudah terlihat dengan jelas akan berjalan ke arah mana.
“Bisakah kamu mengeluarkan sihir air sebentar. Aku haus setelah pergi selama berjam-jam,” ucapnya kepada mereka berdua.
“Oh, oke,” balas Laciel.
Laciel dan Oul segera membasahi Raja Orca dengan guyuran air.
[Nama : ???
Ras : Beastman
Title : Raja Orca.
Kekuatan Tempur : ???
Catatan :
Kekuatan tempur menurun drastis karena dehidrasi.]
‘Kekuatan tempurnya bahkan tidak terukur saat ini meski sedang dalam keadaan lelah seperti Syarka pada saat duel waktu itu.’
“Mencoba untuk mengintip, huh?” tanya Raja Orca memergoki Laciel menggunakan skill Appraisal kepadanya.
“Eh?! Ah. Itu ....” Laciel gelagapan. Dia tidak pernah ketahuan sebelumnya.
“Biarkan saja. Toh, dia melakukan itu untuk memperkirakan jalannya pertempuran ini,” ucap Oul.
“Eh, kamu juga sudah tahu?” tanya Laciel semakin gugup.
“Aku bahkan dapat melihat masa depan. Bukankah aneh bila aku tidak bisa mendapatkan informasi dasar setiap orang?” jawab Oul.
“Ah, baiklah. Iya, iya.” Raja Orca terlihat membalas ucapan Oul dengan malas. “Perkenalkan, aku adalah Killa Uell, Raja Orca. Kamu dapat memanggilku Arkan. Orang-orang memanggilku begitu." Dia mengulurkan tangannya.
Laciel membalas uluran tangan tersebut.
“Baiklah. Sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat untuk berkenalan.”
Arkan melihat ke medan perang. Leo dan Tigris masih dalam kondisi prima. Sedangkan Yagwar, Zhen, Syarka, dan Hanafsah terlihat kesulitan mengimbangi.
“Saatnya merusak keseimbangan kekuatan dan jalan sejarah.”
...*****...
__ADS_1
...Jangan lupa like, komen, dan klik favorit, ya....
...Satu like dan komen kalian sangat berharga bagiku....