Sent To Isekai As Demon King

Sent To Isekai As Demon King
S2 Eps 16: Peperangan Zamara I


__ADS_3

14 Mei 1163 Zaenium.


Benteng Utara, Ibu Kota Kerajaan Zamara.


Pagi hari.


Matahari baru muncul di saat Count Diego sampai di atas benteng. Dia adalah yang terakhir datang sebagai utusan 4 Bangsawan. Sisanya sudah datang terlebih dahulu, termasuk Komandan Argus dan Wakil Komandan Zirka.


“Kenapa kamu datang lama sekali, Tuan Diego?” tanya Count Dafin de Emynia. Dia adalah utusan dari Marquis Falimus de Harbisium.


“Ada suatu hal yang harus kuurus,” jawab Count Diego.


Belum sempat Count Dafin mendesak Count Diego, sebuah suara menarik perhatian mereka semuanya.


Di kejauhan, pasukan monster memainkan sebuah musik yang mengerikan. Berbagai alat musik sederhana dimainkan dengan ritme tertentu. Memberikan perasaan pesimis bagi lawan, tetapi perasaan optimis bagi kawan.


“Kapan para Petinggi akan menyelesaikan rapat?” tanya salah seorang pemuda dari mereka.


Namanya adalah Kazor de Gazor. Seorang Jenderal di usia yang masih muda. Anak dari Duke Hozart de Gazor yang tewas di Peperangan Hutan Redwood. Ibarat pepatah “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”, sepasang ayah anak ini memiliki prestasi yang tinggi di bidang militer.


Untuk saat ini, dia adalah satu-satunya orang yang memegang jabatan Jenderal, tetapi tidak memiliki gelar Bangsawan. Dia tidak mendapatkan gelar Duke Royal karena beberapa keadaan. Salah satunya adalah dia hanya memiliki kemampuan militer, bukan politik dan ekonomi, sama seperti ayahnya. Sedangkan kondisi kerajaan saat ini lebih membutuhkan kemampuan politik dan ekonomi untuk mengembalikan keadaan menjadi tenang seperti sebelumnya.


Untung saja dia tetap dibutuhkan dalam situasi seperti ini. Dan jika dia berhasil menorehkan prestasi pada peperangan kali ini, maka dia akan mendapatkan lebih banyak reputasi baik untuk dapat mengambil title Duke Royal seperti ayahnya.


Sama seperti gelar Bangsawan yang lainnya yang menjadi rebutan di antara anggota keluarga, begitu pula dengan gelar Duke Royal. Perbedaannya adalah perebutan gelar Duke Royal lebih ketat karena hanya bisa didapat oleh anggota keluarga kerajaan, sementara anggota keluarga kerajaan jumlahnya lebih banyak dari yang dipikirkan oleh orang awam. Saking banyaknya, bahkan keluarga mereka sudah bercabang menjadi beberapa keluarga cabang. Dan salah satu keluarga cabang tersebut adalah keluarga Gazor.


Kembali ke situasi terkini, salah satu utusan Bangsawan yang lain menjawab pertanyaan Kazor sembari menunjuk ke arah jalanan menuju istana. Ratusan kuda yang dikendarai prajurit berlari ke arah gerbang. Dan pemimpin mereka adalah Adipati Fazerin de Zerestia.

__ADS_1


“Sepertinya mereka akan sampai sebentar lagi.”


Sebelumnya, setelah utusan empat Bangsawan keluar dari ruangan rapat untuk mempersiapkan pasukan, rapat strategi pun dilakukan. Dipimpin oleh Raja Zed von Zamara serta dibimbing oleh para Petinggi Kerajaan.


Keputusan mereka adalah pasukan utama yang jumlahnya terbanyak akan dikerahkan ke Gerbang Utara untuk menarik perhatian musuh. Selain itu, sekitar 200 sampai 300 prajurit akan dikerahkan ke masing-masing tiga gerbang yang tersisa, yaitu Gerbang Selatan, Gerbang Timur, dan Gerbang Barat, untuk menjaga agar gerbang-gerbang tersebut tidak terjatuh ke tangan musuh.


Semuanya adalah hasil dari pikiran Zed. Lalu disempurnakan oleh para Petinggi Kerajaan, seperti penentuan pasukan siapa yang bertugas di mana dan menjadi apa. Perdebatan di sini agak alot karena masing-masing pihak ingin terjun di pasukan utama, tetapi juga menginginkan posisi yang aman. Akhirnya tugas menjaga gerbang lain diserahkan kepada Bangsawan kecil yang pengaruhnya sedikit sehingga tidak dapat protes.


Setelah rapat ditutup, para Bangsawan segera bersiap untuk melaksanakan tugasnya. Adipati Fazerin de Zerestia mendapatkan mandat menjadi Panglima, dengan Marquis Falimus de Harbisium mendapatkan mandat sebagai Wakil Panglima. Sedangkan Adipati Varvarus de Canaria bertugas untuk menjaga keluarga kerajaan dan istana.


Adipati Fazerin de Zerestia menjadi Panglima dikarenakan dia membawa Pedang Pusaka Kerajaan. Pedang yang sama yang membuat Adipati Hozart de Gazor menjadi Panglima di semua peperangan yang diikutinya.


...***...


Di luar benteng Ibu Kota, sepasukan monster sedang bersiap melancarkan serangan. Mereka sedang menunggu perintah dari seseorang yang sedang duduk dikelilingi para Petinggi Kemaharajaan Iblis. Dia adalah Laciel Lucifer yang sedang dikelilingi oleh 7 Dosa Besar.


“Maharaja Yang Maha Agung, kapan kita akan memulai serangan? Lebih cepat, lebih baik. Sebelum mereka mempersiapkan pasukan,” usul Hazura Enfador kepadanya.


Setelah beberapa saat, sesuatu mendekati mereka. Namun, mereka mengetahui apa itu sehingga tidak kaget begitu sesosok hantu yang terbuat dari asap hitam menunjukkan wujudnya di hadapan mereka. Wraith itu lalu bersujud di hadapan Laciel sebelum melapor.


“Yang Maha Agung, pasukan musuh dipusatkan di Gerbang Utara. Sementara gerbang lainnya tidak begitu dijaga ketat,” ucap si Wraith.


“Hmm. Bagus. Tetap awasi semua gerbang, jangan sampai ada yang keluar tanpa sepengetahuanku, dan laporkan semuanya,” balas Laciel.


“Baik, Yang Maha Agung!”


Setelah selesai melaporkan, Wraith itu segera pergi kembali secepat kedatangannya. Hazura terdiam karena dia tidak menduga kalau Laciel sedang menunggu laporan. Dia berpikir mereka akan langsung menyerang.

__ADS_1


‘Betapa bodohnya aku mengganggu Maharaja!’ batin Hazura.


Laciel diam saja. Dia tahu kalau Hazura adalah salah satu bawahannya yang terpintar. Tanpa ditegur pun dia akan mengetahui kesalahannya sendiri.


“Segera kerahkan pasukan! Tetapi cukup fokuskan di Gerbang Utara,” perintah Laciel.


“Yang Maha Agung, kenapa kita tidak melakukan pengepungan?” Kali ini Hanafsah yang angkat bicara.


“Bukankah kamu melihat apa yang terjadi di Peperangan Kekaisaran Beastman Marhamzan?” Bukannya menjawab, Laciel justru menanyakan peperangan sebelumnya.


“Tentu saja, Yang Maha Agung. Aku mengikuti peperangan itu,” jawab Hanafsah. Dia tidak mengetahui ke mana arah pembicaraan ini.


“Menurutmu, apa yang terjadi kepada Kaisar Leo?” Laciel tetap bertanya, belum menjelaskan apa yang dimaksudnya.


“Kaisar Leo?” Hanafsah bingung. Dia sudah tidak menebak apa yang ada di pikiran Laciel.


“Pasukan Aliansi kita mengepung dari utara, timur, hingga selatan. Sedangkan di arah barat ada Kekaisaran Teokrasi Kavizen yang memusuhi Beastman. Kaisar Leo jelas terpojok. Dan kamu tahu apa yang dia lakukan?”


Hanafsah segera menyadarinya. “Dia mengeluarkan segala kekuatan yang dimilikinya.”


“Benar sekali. Seperti itulah kondisi musuh yang terdesak, terpojok, terkepung. Bahkan aku sendiri harus turun tangan bersama dengan Raja Beastman yang lainnya,” jelas Laciel.


“Intinya adalah jangan menekan musuh yang terpojok. Tetapi, dengan aku membiarkan gerbang lain tak dikepung, bukan berarti aku akan membiarkan mereka melarikan diri dengan mudah. Jika itu hanyalah rakyat biasa, aku akan membiarkannya. Tetapi, jika itu adalah Bangsawan, apalagi keluarga kerajaan, Wraith akan mengurusnya. Aku hanya membiarkan keberadaan jalur pelarian, bukan tidak mengawasinya.”


Hanafsah dan Hazura belajar banyak. Pangeran asli memang tidak dapat diremehkan.


...*****...

__ADS_1


...Jangan lupa like, komen, dan klik favorit, ya....


...Satu like dan komen kalian sangat berharga bagiku....


__ADS_2