Sent To Isekai As Demon King

Sent To Isekai As Demon King
S2 Eps 18: Peperangan Zamara III


__ADS_3

14 Mei 1163 Zaenium.


Tenda Komando Pasukan Kemaharajaan Iblis, Kerajaan Zamara.


Pagi hari.


Laciel mendapatkan kabar tentang perubahan komposisi pasukan Kerajaan Zamara dari Wraith bawahannya. Gelombang kedua ini membuat Hanafsah membawa Drayd mundur karena mampu membunuh para Orc dalam waktu sekejap.


“Tidak buruk,” komentarnya. “Kirimkan Pasukan Dukungan.”


“Baik, Yang Maha Agung,” balas Dwi Nadja dan Medusa yang merupakan pemimpin dari Pasukan Dukungan.


Mereka lalu mengundurkan diri dari hadapan Laciel. Tersisa Hazura dan Nameer yang masih menemani Laciel.


“Menurutmu, sampai kapan mereka bisa bertahan? Sampai Pasukan Dukungan dikerahkan? Atau sampai Pasukan Cadangan? Atau mereka mampu memaksaku untuk turun tangan?” tanya Laciel kepada mereka berdua.


Hazura terdiam. Dia mencoba mengkalkulasikan semua yang terjadi sampai saat ini. Setelah selesai, dia berkata, “Jika keadaannya masih seperti sekarang, mereka tidak akan bertahan jika Pasukan Dukungan sudah dikerahkan. Namun, jika ada sesuatu yang di luar perkiraan terjadi, maka saya yakin kalau pasukan Cadangan sudah cukup, Yang Maha Agung.”


Laciel mencoba mencerna jawaban Hazura.


“Jika ada sesuatu yang terjadi sampai Pasukan Dukungan tidak cukup, maka aku yakin kalau Pasukan Cadangan tidak akan cukup juga. Pasti kamu harus turun tangan langsung, Laciel,” ucap Nameer.


Laciel baru saja mau mengatakan sesuatu seperti itu kepada Hazura. Akan tetapi, Nameer sudah menjawabnya terlebih dahulu sebelum ditanyakan.


“Benar. Lagi pula aku ingin agar Pasukan Cadangan fokus kepada penangkapan para Petinggi Kerajaan. Jika pertempuran telah usai, para Wraith akan melaporkan kepadamu letak mereka. Kumpulkan semuanya di Istana,” titah Laciel.


“Baik, Yang Maha Agung.” Hazura menunduk dalam-dalam.


Setelah itu, mereka kembali menunggu laporan dari medan perang.


***


Dwi Nadja menyerahkan tanggung jawab Pasukan Dukungan kepada Medusa dan Zalfarin sepenuhnya. Medusa akan memimpin Sayap Kanan, sedangkan Zalfarin akan memimpin Sayap Kiri.


Bagaimana dengan dirinya sendiri? Nadja langsung menggunakan wujud Dragon-nya yang memiliki sisik ungu. Menerobos langsung ke tengah-tengah medan perang.


Nadja melewati Hanafsah dan Dryad yang menunggu di belakang pasukan. Melihat Nadja menerobos seorang diri, Hanafsah kembali mengajak Dryad untuk mendukung Nadja.


Melihat kedatangan seekor Dragon langsung ke arah mereka membuat pasukan Kerajaan Zamara di atas benteng menjadi kaget sekaligus khawatir dan takut akan kematian.

__ADS_1


“Tuan Adipati! Ada seekor Dragon mengarah ke kita!” lapor salah satu Komandan kepada Adipati Zerestia.


“Hmm? Dragon ungu? Sepertinya aku pernah melihatnya,” gumam Adipati Zerestia. “Ah, dia pasti si bawahan dari Raja Iblis!”


Adipati Zerestia lalu menggenggam Pedang Suci yang tersarung di pinggangnya.


“Sepertinya ini saatnya. Buka gerbang! Kita akan menghadapi monster secara langsung!” teriak Adipati Zerestia.


“Tuan Adipati, apa maksudmu?! Anda berniat membawa kami menuju kematian?” tanya Komandan yang lain.


“Tidak ada tempat yang aman untuk kita! Di belakang kita adalah orang-orang yang kita lindungi. Dan cepat atau lambat, kita memang akan berhadapan dengan mereka. Lebih baik kita menyambut mereka dengan tangan terbuka!”


Tanpa menunggu jawaban dari Komandan-Komandan itu, Adipati Zerestia segera loncat dari atas benteng ke bawah sambil mengayunkan pedangnya.


Sring!


Dalam sekali loncatan dan tebasan, dua Orc yang bernasib buruk, karena berada di tempat Adipati Zerestia mendarat, terbelah menjadi dua.


“Tuan Adipati!” panggil Marquis Falimus.


Dia adalah Wakil Panglima. Sudah seharusnya selalu berada di samping Adipati Zerestia yang menjadi Panglima saat ini. Akan tetapi, daripada seorang Ksatria, dia sendiri sebenarnya adalah seorang Assassin. Sangat tidak cocok dengan gaya bertarung Adipati Zerestia yang seorang Ksatria.


Marquis berpikir sebentar sebelum akhirnya memberikan perintah, “Buka gerbangnya sekarang!”


Gerbang Ibu Kota adalah tipe yang terbuka ke atas. Diperlukan tenaga besar untuk membukanya, tetapi hanya butuh gravitasi untuk menutupnya. Pasukan pun bersiap dan menunggu di balik gerbang. Setelah beberapa saat menunggu, gerbang akhirnya terbuka sepenuhnya. Dan di balik gerbang itu ada sebuah pemandangan yang tidak akan dapat dilupakan.


Terlihat dua sosok manusia yang berdiri di atas tumpukan mayat dan lautan darah.


...***...


“Tidak kusangka, ternyata kamu sama hebat dan berbakatnya dengan ayahmu, bahkan mungkin lebih,” puji Adipati Zerestia.


“Tetapi bahkan ayahku hampir tidak bisa melampauimu jika tidak memiliki pedang itu,” balas Kazor.


Mereka berdua sedang mengatur napas setelah membantai beberapa belas Orc. Kini para Orc mulai menjauhi mereka. Membuat area di depan gerbang menjadi sedikit lebih lega sampai waktunya tepat. Pasukan Kerajaan Zamara mulai keluar beraturan. Segera membentuk barisan pertahanan dengan perisai yang diangkat dan tombak yang terhunus.


Seolah tidak diberikan waktu istirahat, Nadja sampai di waktu yang tepat.


“Minggir!” teriaknya mengusir para Orc.

__ADS_1


Nadja mendarat di depan gerbang. Berhadapan dengan Adipati Zerestia.


“Manusia, sepertinya kamu sangat berbahaya!” geram Nadja melihat banyaknya mayat Orc yang bergelimpangan.


Adipati Zerestia mengacungkan pedangnya seolah untuk menakuti Nadja.


“Aku tidak akan kabur lagi! Aku tidak akan takut lagi!” teriak Adipati Zerestia. “Aku telah bersumpah akan membalaskan dendam!”


“Manusia, sepertinya kita pernah bertemu, tetapi aku tidak ingat sama sekali.” Nadja penasaran kenapa Adipati Zerestia sangat marah kepadanya.


“Hehe. Ha ha ha!” Adipati Zerestia tidak menjawab. Justru dia tertawa dengan lantang. “Benar! Tentu saja! Mereka yang lemah memang tidak pantas untuk diingat. Oleh karena itu, aku akan mengukirkan namaku di ingatanmu!


Fazerin de Zerestia! Adipati Zerestia! Jenderal Besar sekaligus Panglima! Aku harap kamu mengingat nama itu.”


“Dwi Nadja. Anggota 7 Dosa Besar : Dosa Besar Iri Hati.” Nadja membalas dengan memperkenalkan dirinya juga.


...***...


Zed terduduk di atas singgasana. Raut wajahnya terlihat seperti orang yang baru saja melihat setan.


“Dragon?!” tanyanya memastikan dia tidak salah dengar.


“Benar, Yang Mulia,” jawab prajurit yang menyampaikan pesan dari medan perang.


Dia lalu keluar setelah diperintahkan oleh Adipati Canaria.


“Yang Mulia, lebih baik Anda pergi dari Ibu Kota untuk menyelamatkan diri,” sarannya setelah melihat si prajurit keluar dan hanya mereka berdua yang tersisa di dalam ruangan takhta. “Ibu Kota sudah tidak memiliki harapan. Lebih baik tetap hidup untuk membalaskan ini di masa depan.”


Zed terlihat berpikir lama. Akhirnya dia menyetujui saran si Adipati.


“Tetapi, lewat mana? Tidak mungkin aku pergi terang-terangan,” ujar Zed.


“Anda tidak perlu khawatir, Yang Mulia. Saya mengetahui jalan rahasia Ibu Kota. Saya akan menyiapkan keretanya. Anda hanya perlu mencari ibu dan adik Anda,” jelas Adipati Canaria.


Akhirnya Zed pun pergi ke kamar Ratu, sedangkan Adipati pergi ke arah lain.


...*****...


...Jangan lupa like, komen, dan klik favorit, ya....

__ADS_1


...Satu like dan komen kalian sangat berharga bagiku....


__ADS_2