
12 Mei 1163 Zaenium.
Istana Kerajaan, Ibu Kota Zamara, Duchy Royal Capital, Kerajaan Zamara.
Malam hari.
Di sebuah lorong, Adipati Canaria berdiri sambil mengobrol dengan seorang bangsawan yang merupakan bawahannya. Mereka berada di sudut yang sepi dan jarang digunakan, sehingga sedikit kemungkinan orang-orang akan datang memergoki mereka. Walaupun topik yang mereka bicarakan tidak seberbahaya itu.
“Apakah kabar ini semua benar?” tanya Adipati Canaria.
“Benar, Tuan. Tidak salah lagi. Kaisar Beastman Leo telah dikalahkan,” jawab bangsawan itu.
“Kalau begitu, ini adalah waktunya. Invasi kita harus dilancarkan secepat mungkin,” ujar Adipati.
“Tapi, Tuan, ... saya juga mendapatkan kabar kalau Aliansi Beastman yang memberontak itu mendapatkan dukungan dari pihak Raja Iblis dari timur. Sepertinya invasi ini tidak akan semudah kelihatannya.”
Mendengar julukan itu disebutkan, dia merinding seketika. Dia sudah tahu siapa yang dimaksudkan. Siapa lagi kalau bukan Raja Iblis yang baru-baru ini muncul di timur, jauh dari tempat Iblis seharusnya di barat, dan mampu mengalahkan pasukan Kerajaan Zamara meski kalah dalam hal kuantitas.
Dia membaca surat itu lagi. Memastikan. Saat sudah sadar, dia berkata, “Raja pasti akan mengadakan rapat lagi besok pagi. Siapkan pasukan. Akan kupastikan Raja mengambil kesempatan ini. Karena, apa pun akan terjadi. Antara kita yang menghampiri, atau justru dihampiri.”
Bawahannya terlihat tidak mengerti semua perkataannya. Tetapi, dia hanya harus mematuhi perintah atasannya. ‘Tidak perlu paham alasannya. Cukup laksanakan.’
Dengan berbekalkan dan berdasarkan pemikiran seperti itu, dia pergi dari sana. Menyampaikan pesan ini ke orang lain.
Setelah memastikan dia telah ditinggal pergi, Adipati pun pergi ke arah yang berlawanan. Dia berjalan dengan pikiran penuh akan perhitungan dan spekulasi hingga tidak sadar kalau ada seorang keluarga kerajaan yang lewat di lorong yang sama dengannya. Mereka berdua bertemu di sebuah persimpangan.
“Ah! Nona Muda.” Dia menundukkan kepala begitu melihat Putri Kerajaan berjalan dari arah lain.
“Tuan Adipati,” balas Putri sembari mengangkat sedikit gaunnya.
“Ada apa Tuan Putri berada di sini? Bukankah ini adalah area pria?” tanyanya.
“Aku ada sedikit urusan dengan kakandaku,” jawab Putri. “Permisi.” Dia kembali mengangkat gaunnya.
Putri beserta empat orang pelayan dan pengawalnya pun pergi dari sana. Berbelok ke lorong yang mengarah ke kamar Pangeran Kerajaan. Menyisakan Adipati seorang diri dalam keadaan diam.
“Sepertinya aku harus menunggu,” ujar Adipati. Dia juga memiliki urusan dengan Pangeran.
Tak lama berjalan, Putri sudah sampai di depan kamar kakaknya. Terlihat dua orang ksatria menjaga ruangan tersebut. Hanya mengizinkan Putri seorang diri yang masuk ke dalam setelah sebelumnya mengetuk pintu, meminta izin, dan diizinkan.
“Kakanda, kamu ada di dalam?” tanya Putri setelah mengetuk pintu.
“Masuklah,” jawab suara seorang laki-laki dari dalam ruangan.
__ADS_1
Putri lalu masuk dan menutup pintu di belakangnya. Setelahnya dia berjalan ke sebuah kursi di depan meja rias sambil menghadap kakaknya.
“Kak, kamu tahu, ‘kan, kalau aku sebentar lagi berulang tahun?” tanya Putri.
“Tentu saja aku ingat. Tapi, bukankah 27 Mei masih lama? Ada apa ini?” Pangeran duduk di pinggiran kasurnya.
“Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin meminta hadiah spesifik dari Kakak,” jelas Putri.
“Apa itu?” tanya Pangeran.
“Aku ingin sepuluh Beastman budak. Aku lebih suka jika mereka sangar. Tetapi, jika tidak apa, maka aku ingin yang imut. Bisa kan, Kak?” pinta Putri.
“Huft. Kukira kamu akan minta apa. Tentu saja. Aku akan berusaha mencari yang sesuai dengan kriteriamu.” Pangeran lalu berdiri dan mengelus rambut adiknya. “Apa, sih, yang tidak untukmu?”
“Hehe~” Putri tertawa kecil. “Kalau begitu, karena sudah selesai, aku akan kembali ke kamarku. Selamat malam, Kak!”
“Selamat malam juga,” balas Pangeran.
Pangeran mengantar sampai keluar. Melihat kepergian adik satu-satunya. Saat dia ingin masuk kembali ke kamarnya, dia melihat bayangan dari arah lain yang berlawanan.
“Tuan Adipati Canaria?” Pangeran bertanya keheranan. ‘Tidak biasanya dia menemuiku malam-malam.’
“Selamat malam, Tuan Muda. Maaf mengganggu waktunya. Tapi, aku memiliki beberapa hal penting untuk dibahas secepatnya. Ini masalah mengenai Beastman,” ucap Adipati Canaria begitu sampai di hadapan Pangeran.
Mereka berdua lalu masuk ke dalam kamar. Meninggalkan dua orang ksatria berjaga di luar.
“Ada apa tiba-tiba?” tanya Pangeran.
“Aku baru saja mendapatkan informasi. Kaisar Beastman Leo telah dikalahkan oleh pasukan pemberontak,” jawab Adipati.
Pangeran mengira akan mendapatkan informasi buruk. Tetapi ternyata kebalikannya. Dengan informasi ini, dia bisa dengan segera memberikan adiknya hadiah.
“Berarti, kita bisa melancarkan invasi secepatnya? Aku juga sudah tidak sabar. Tadi Putri baru saja mengatakannya kepadaku kalau dia menginginkan hadiah berupa sepuluh budak Beastman sebagai hadiah untuk hari ulang tahunnya,” ungkap Pangeran.
Adipati merasa bersalah. Dia seharusnya segera menyampaikannya.
“Maaf, Tuan Muda. Tetapi, ini adalah berita buruk,” kata Adipati setelah Pangeran selesai bicara.
Pangeran diam. Menunggu Adipati melanjutkan ucapannya.
“Sebenarnya, Raja Iblis Lucifer membantu mereka,” lanjut Adipati.
Ekspresi Pangeran berubah drastis. Pikirannya tiba-tiba kosong. Dia bahkan hampir jatuh pingsan jika saja Adipati tidak sigap menopangnya dan mengarahkannya ke kasur.
__ADS_1
“Rencana kita ... gagal lagi?” Suara Pangeran tercekat.
Adipati hanya diam saja. Menunggu saat yang tepat.
“Tuan Muda, kita harus segera membereskan akar masalah ini.”
Pangeran menatap Adipati. Mulai mengumpulkan fokusnya.
“Kita harus berperang dengan Kerajaan Iblis laknat itu! Entah kita yang menghampiri, atau kita yang dihampiri!”
Perkataan Adipati menyadarkan Pangeran. Masalah ini harus diselesaikan secepatnya. Tetapi, Raja yang sekarang sangat lambat setelah kehilangan Adipati Kerajaan.
“Akan kupastikan kita berperang dengan Raja Iblis.” Pangeran mengepalkan tangannya lalu memukul kasur.
...*****...
Di salah satu balkon dekat kawasan wanita, seorang gadis dengan rambut emas bergelombang sedang menatap bulan bertengger di angkasa. Kulit seputih susunya diterangi oleh cahayanya yang syahdu dan berkilau indah.
Ada seseorang yang berdiri di belakangnya. Seorang Ksatria dengan zirah besi berwarna perak. Menunggu tuannya dengan khidmat.
“Nona Muda, sekarang sudah malam. Sebaiknya Anda tidur,” ujar Zirka, ksatria yang berada di belakangnya.
“Baiklah,” balas Isabella, gadis berambut emas tersebut. “Ngomong-ngomong, apakah kamu mendapatkan kabar tentang Lucifer? Sejak dia pergi ke March Harbisium, aku sudah tidak pernah melihatnya kembali. Dia baik-baik saja, ‘kan?”
“Itu ... saya tidak tahu, Nona Muda. Mohon maafkan saya.” Zirka menunduk saat Isabella berbalik badan.
“Aku menjadi khawatir karena Raja Iblis yang baru-baru ini muncul juga menggunakan nama Lucifer. Semoga dia tidak mendapatkan masalah dengan namanya dan tidak tewas di Peperangan Redwood.” Isabella mulai berjalan menuju kamarnya.
Di persimpangan jalan, dia bertemu dengan sekelompok orang. Melihat orang yang dikawal, dia segera menunduk sebagai tanda hormat dan mengangkat gaunnya.
“Selamat malam, Tuan Putri,” ucap Isabella dengan nada ramah.
Isabella menatapnya. Dia tidak dapat menghafal semua nama orang, apalagi jika dia hanya anak dari seorang bangsawan rendahan di ujung kerajaan.
“Ah, iya. Selamat malam,” balas Putri dengan nada campuran antara terkejut dan enggan. Dia segera berlalu melewati dua orang yang membungkuk karena merasa tidak nyaman.
“Tuan Putri memang sangat anggun, ya,” gumam Isabella yang dapat didengar oleh Zirka.
Setelah tidak melihat Tuan Putri lagi, Isabella kembali ke kamarnya, sedangkan Zirka berjaga di depan kamarnya seorang diri. Beberapa kali sepasang prajurit melewatinya untuk patroli. Selain itu, dia tidak melihat orang lain sampai pagi.
...*****...
...Jangan lupa like, komen, dan klik favorit, ya....
__ADS_1
...Satu like dan komen kalian sangat berharga bagiku....