Sent To Isekai As Demon King

Sent To Isekai As Demon King
S2 Eps 1: Peperangan Agung I


__ADS_3

Abad pertama dalam kalender Zaenium, atau sekitar abad keseribu menurut kalender Iblis. Sekitar 1100 tahun yang lalu.


Kemaharajaan Iblis di barat benua Zaenia.


Siang hari.


“Maharaja Yang Maha Agung, para Manusia nan bodoh itu mengirimkan pasukan untuk menyerang kita! Sebaiknya kita beri mereka pelajaran bagaimana rasanya mengalami ancaman kepunahan untuk yang kedua kalinya!” ujar seorang Iblis yang sekujur kulitnya berwarna merah gelap dalam balutan pakaian yang mewah dalam keadaan bersujud di hadapan tuannya.


Terdapat keributan yang tidak seperti biasanya di aula istana Kemaharajaan Iblis. Saat ini sedang diadakan rapat besar di dalamnya yang melibatkan banyak bangsawan, petinggi, dan penasihat berkumpul untuk membahas sebuah masalah yang sangat genting, yaitu sebuah invasi dari musuh bebuyutan mereka, Manusia.


Maharaja Iblis masih duduk di atas takhtanya tanpa berderak sesenti pun. Dia hanya mengetukkan tongkat sihirnya dengan keras ke lantai hingga membuat semua hadirin terdiam seketika. Tak ada yang tak bergeming setelahnya.


“Berapa banyak jumlah pasukan mereka?” tanyanya dengan nada suara yang berat serta sedikit serak.


“Sekitar 250.000 pasukan, Yang Maha Agung,” jawab Penasihat di sisi kanan ruangan. “Namun, mereka bergerak dengan cepat. Sebagian besar adalah Manusia. Sebagian lainnya adalah High Elf.”


“Yang Maha Agung, apa tindakan kita?” tanya seorang Bangsawan sambil menunduk.


Semuanya sedang fokus memperhatikan Maharaja dan menunggu jawabannya saat ini.


“Persiapkan pasukan serta 7 Panglima Dosa Besar. Mungkin kita akan mengalami Peperangan Agung kembali setelah seratus ribuan tahun lamanya,” ujar Maharaja setelah berpikir lama.


Setelahnya, rapat itu tetap berjalan untuk membahas banyak detail-detail kecil lainnya, seperti pasukan siapa akan berada di mana, masalah pasokan makanan, dan lain-lain. Setelah selesai, semuanya keluar dari ruangan dan menyisakan hanya enam orang selain Maharaja.


“Ananda Laciel Lucifer, Sang Kesombongan,” Maharaja memanggil anaknya.


Mereka berdua memiliki ciri-ciri fisik yang sama. Rambut putih dan mata merah menyala. Bahkan, bukan hanya mereka berdua, tetapi mereka berempat. Dua yang lain adalah perempuan. Yang satu terlihat seusia dengan Maharaja, dan yang lain terlihat lebih muda, seusia dengan Laciel.


“Hamba menjawab panggilan Engkau, oh, Maharaja Yang Maha Agung,” balas Laciel.


“Sepertinya sudah saatnya kami menganugerahkan kekuatan turun-temurun ini. Kamu telah memenuhi kualifikasinya.” Maharaja Iblis mengeluarkan sebuah batu sihir berbentuk bintang segi tujuh. “Gunakanlah ini untuk memimpin sebagian besar pasukan Iblis di Peperangan Agung nanti. Kamu akan menjadi Panglima utamanya.”

__ADS_1


Semua orang menatap Maharaja dengan tatapan yang dapat diartikan sebagai tatapan kebingungan. Penilaian Maharaja atas kualifikasi Putra Mahkota memang dilakukan seorang diri dan secara tertutup. Namun, mereka tidak pernah menyangka kalau kekuatan itu akan diberikan semudah dan secepat ini. Apalagi selama ini Maharaja selalu memandang sebelah mata kepada Laciel yang “berbeda” dari Iblis yang lainnya.


Laciel menerima itu dengan tampang penuh kerendahan hati dari luar di hadapan Maharaja. Sangat berbanding terbalik dengan isi hati dan julukannya, Sang Kesombongan.


Beberapa patah kata dari Maharaja pun disampaikan. Sehabis itu, semuanya pergi dari ruangan takhta. Meninggalkan Maharaja seorang diri.


“Adinda Luci, apa yang telah kamu lakukan sampai-sampai ayahanda berbuat seperti demikian?” tanya seorang gadis yang memiliki fitur tubuh yang mirip dengan Laciel, tetapi terlihat lebih dewasa.


“Aku tidak tahu, Kakanda Lucy. Bahkan kukira ayahanda tidak akan pernah menganggapku ada karena aku berbeda tidak seperti yang lainnya,” jawab Laciel kepada kakaknya.


“Ini memang sudah saatnya, Anandaku.” Seorang Iblis wanita lainnya mendekati mereka lalu memeluk mereka berdua. “Kalian ingat apa perkataan ayahanda? Ini bisa jadi adalah Peperangan Agung seperti Peperangan Agung Kuno ketika Iblis melawan Malaikat.


“Sekarang, bersiap-siaplah. Pasukan akan segera siap. Jadi ... berhati-hatilah.”


...*****...


Di dalam ruangan takhta, Maharaja masih merenung. Dia kembali mengambil surat yang diterimanya dan membacanya lagi. Itu adalah surat dari Kaisar Agung Zen kepadanya. Isinya adalah ancaman perang. Tetapi, bukan itu yang menjadi fokusnya, melainkan sebuah kalimat yang menyinggung kalau perang ini akan menjadi Peperangan Agung terakhir.


Maharaja merasa kesal dan marah.


“Zen, ya? Dia terlalu berbahaya untuk dibiarkan terlalu lama.”


...*****...


Di tempat yang jauh dari Istana Kemaharajaan Iblis.


Sore hari.


Lautan dari barisan makhluk hidup yang berjalan di atas dua dan empat kaki terlihat dari kejauhan hingga ke ujung cakrawala. Meski demikian banyak, entah bagaimana caranya, mereka dapat bergerak dengan efisien seperti pasukan semut yang berbaris.


Di depan lautan Manusia dan Elf itu ada sekumpulan orang yang tampak berbeda dari orang yang lainnya, terlihat dari baju yang mereka kenakan. Seseorang di antaranya mengenakan sebuah jubah putih berbahan halus, memegang tongkat sihir yang panjangnya sekitar dua meter, berambut hitam pekat, serta mempunyai wajah yang tampan rupawan. Dia terlihat seperti berasal dari bangsawan kelas atas, setidaknya. Dia adalah Kaisar Agung Zen Alexander vi Zaenia, seorang Kaisar termasyhur yang pernah dikenal dan tercatat sepanjang sejarah peradaban.

__ADS_1


“Kita akan mengistirahatkan pasukan di sini,” perintah Zen agar mereka semua berhenti.


Sepasukan tentara yang membawa terompet perang pun mengirimkan sandi atau kode dengan meniup terompet beberapa kali dengan kecepatan tertentu yang teratur. Beberpa puluh meter sekali juga ada pasukan lain yang seperti itu dan terus-menerus mengirimkan pesan yang serupa setelah mendengarkannya. Hingga akhirnya semua pasukan mendengarnya dan berhenti bergerak secara serempak.


Sebagian dari mereka segera bergerak cepat dengan mengeluarkan tenda dari kantung sihir yang mampu menyimpan banyak benda besar. Dan, dengan teratur, mereka mendirikan tenda bersebelahan satu sama lain untuk masing-masing kelompok yang telah dibagi sebelumnya. Beberapa yang lain segera menyiapkan perapian untuk menghangatkan tubuh dan memasakkan makanan untuk teman sekelompoknya.


Di depan mereka, Zen berdiri seorang diri. Menjauh dari yang lain. Dengan kedua tangan terangkat, dia merapalkan suatu mantra sihir yang pendek. Lingkaran sihir yang berjumlah banyak tiba-tiba muncul di sekeliling tubuhnya. Semua berputar di atas garis edarnya masing-masing.


“Obelisk!”


Dengan satu kata itu, memancar keluar sebuah menara yang menjulang tinggi dari bawah tanah. Tingginya puluhan meter, sedangkan lebarnya sepuluh meter dan semakin mengerucut di atasnya. Berwarna hitam karena terbuat dari batu semacam Obsidian. Bentuknya segi empat. Inilah Obelisk.


Setelah selesai, terjadi perubahan tak kasat mata di sekitar mereka. Semua energi sihir atau mana diserap oleh Obelisk dan ditransfer kepada Zen. Dari dari dirinya sendiri, Zen mengirimkannya kepada delapan bawahannya. Dan dari bawahannya kepada bawahannya lagi. Begitu seterusnya. Semakin sedikit yang didapat oleh pasukan tingkat rendah.


Selain menyerap energi sihir yang belum matang dan mengolahnya menjadi energi sihir yang dapat digunakan, Obelisk juga memiliki beberapa fungsi lain, seperti secara otomatis menyerang sesuatu yang dapat dianggap musuh berdasarkan algoritma yang telah dipasang.


“Berapa lama lagi hingga kita sampai, Zen?” tanya salah satu bawahannya yang merupakan mantan kepala kelompok Petualang yang pernah merekrutnya. Dia adalah seorang Manusia berperawakan besar dengan kelas Barbarian dan membawa pedang besar di atas pundaknya.


“Mungkin sekitar satu atau dua hari lagi, Ark,” jawab Zen. “Sekarang, apa yang harus kita lakukan?” Zen bergumam.


“Ark, kamu pimpin pasukan sementara. Sementara, aku akan kembali ke Ibu Kota,” ujar Zen membuat lingkaran sihir di bawah kakinya. “Ivy, ikutlah denganku.”


Seorang Elf perempuan berambut pirang mendekat kepadanya memasuki lingkaran sihir berwarna biru itu. Lalu, mereka berdua saling berangkulan. Dan ... menghilang dalam sekejap.


“Hah, seandainya aku menjadi Zen, mungkin aku akan bermalas-malasan dengan harem di kastil,” ujar Ark kepada enam orang lainnya.


“Tentu saja kamu tahu kalau dia tidak akan melakukan itu. Lagipula, dia bukanlah seorang pria museum hidung belang mata keranjang sepertimu,” balas seorang wanita.


“Memangnya kamu yakin bisa menghadapi Maharaja Iblis meski membawa pasukan sebanyak tiga kali lipat dari ini tanpa bantuan dari Zen? Aku bahkan ragu jika tiga ras utama selain Iblis, yaitu Manusia, Elf dan Beastman, bersatu sekalipun dapat mengalahkannya. Dia adalah monsternya monster. Apalagi keberadaan 7 Dosa Besar yang merepotkan,” tambah laki-laki lain.


...*****...

__ADS_1


...Jangan lupa like, komen, dan klik favorit, ya....


...Satu like dan komen kalian sangat berharga bagiku....


__ADS_2