
14 Mei 1163 Zaenium.
Gerbang Utara, Ibu Kota Kerajaan Zamara.
Pagi hari.
“Akhirnya kita bertemu kembali. Kali ini aku tidak akan kabur!” teriak Adipati Zerestia kepada Laciel.
Tatapan matanya menjadi tajam. Amarah terpancar dari matanya. Pedang Suci pun dia acungkan. Dia sudah siap untuk “Menang secara adil atau kalah secara terhormat”.
Di sisi lain, Laciel tidak memperhatikannya. Dia lebih tertarik kepada Pedang Suci yang digunakan oleh Adipati Zerestia. Aura suci yang dipancarkannya dapat dirasakan oleh Laciel.
‘Entah mengapa, aku merasa pedang itu tidak biasa. Selain itu, pedang itu juga mampu melukai Nadja, meskipun panah tidak bisa,’ batin Laciel.
Diam-diam, dia merapalkan mantra Appraisal kepada pedang tersebut.
.
[Nama Item : Pusaka Pedang Suci Zamara
Tipe : Sword
Syarat Penggunaan : Kekuatan Tempur A+
Catatan : Sebuah senjata legendaris yang mampu meningkatkan kekuatan tempur pengguna sebanyak satu tingkatan.]
.
‘Meningkatkan kekuatan sebanyak satu tingkat? Itu akan cukup merepotkan jika lawannya sangat kuat.’ Pandangan Laciel kini beralih ke Adipati Zerestia.
.
[Nama : Fazerin de Zerestia | Ras : Manusia
Class : Warrior
Title : Kepala Keluarga Zerestia, Duke Zerestia, Jenderal Besar Kerajaan Zamara, Jenderal Besar dari utara, Panglima Perang.
Kekuatan Tempur : A+ | Kekuatan Tempur Saat Ini : SS
Catatan : Sedang dalam kondisi Rage, meningkatkan kekuatan tempur pengguna sebanyak dua tingkat.]
__ADS_1
.
‘Kekuatannya meningkat sebanyak tiga kali. Dua kali oleh skill Rage, dan satu lagi oleh Pusaka Pedang Suci. Dia akan menjadi lawan yang cukup merepotkan.’ Laciel menghela napas. ‘Kalau begitu, aku harus mengeluarkan
kekuatan penuh.’
Laciel lalu mengambil sebuah pedang dari inventory miliknya setelah menyimpan Tongkat Sihirnya ke dalam. Itu adalah sebuah pedang yang dibuat dari baja Zaenia, baja terkuat di dunia ini. Tanpa menunggu lama, dia pun merapalkan mantra penguat diri dan armor.
“Strengthen Body, Reinforce Armor, Speed Acceleration.”
Sekejap dia merapal mantra, sekejap kemudian dia sudah berada di depan Adipati Zerestia. Menebaskan pedangnya secara vertikal, lurus ke bawah.
Sring!
Bunyi logam berbenturan dengan logam terdengar membuat sebagian besar orang yang mendengarnya merasa ngilu.
Adipati Zerestia menyambutnya. Dia sudah tidak sabar untuk bertarung, tetapi dari tadi Laciel terus menerus terbang di langit. Di saat dia melihat Laciel mengeluarkan pedang entah dari mana, dia sudah merasa antusias. Dan di saat Laciel bergerak, dia sudah siap.
Bagi orang lain, kecepatan Laciel tidak dapat dilihat dengan mata telan.jang. Namun, Adipati Zerestia mampu melihatnya berkat kemampuannya yang sedang meningkat pesat. Karenanyalah dia dapat menahan serangan pedang Laciel.
Tidak berhenti sampai di sana, Laciel sudah mengeluarkan serangan selanjutnya.
“Fireball.”
Adipati Zerestia mampu mengelakkan serangan itu ke arah lain. Hasilnya beberapa Orc tewas seketika. Beberapa tewas karena ledakan, beberapa lainnya menyusul karena terbakar.
Sring! Sring! Trang!
Mereka berdua beradu pedang beberapa saat.
“Great Slash!”
Adipati Zerestia mengayunkan Pedang Suci yang besar secara horizontal. Laciel menghindar dengan mundur ke belakang. Tetapi, serangannya tidak berhenti hanya sampai di sana. Sebuah energi sihir terbentuk setelah Adipati Zerestia mengayunkan pedangnya.
Energi sihir berbentuk tebasan itu berhasil ditahan Laciel. Tetapi akibatnya adalah dia termundur ke belakang beberapa langkah.
Saat itu, Laciel tersenyum. Dia sudah menunggu saat ini.
Laciel adalah seorang Penyihir, meski memiliki kemampuan berpedang juga. Sehingga dia berniat untuk membuat Adipati Zerestia lupa kalau dia adalah Penyihir. Dan setelah dia mendapatkan kesempatan berada jauh darinya, dia mulai merapalkan mantra lain. Sebuah mantra yang akan menghasilkan sihir yang sangat kuat.
“Dija samerium, ya Drakonir. Dimartium dika anmiarus sa. Darkness Meteor!”
__ADS_1
Setelah merapal mantra, beberapa lingkaran sihir dengan segera muncul di hadapan Laciel. Lingkaran sihir itu selesai tepat setelah mantra telah dirapalkan. Berwarna merah gelap, lingkaran sihir itu mengeluarkan aura kematian dan kegelapan yang menakutkan. Lalu, Laciel melepaskan kekuatan itu ke arah musuh di hadapannya.
Psyu!
Kekuatan yang dilepaskan Laciel meluncur dengan kecepatan suara. Bergerak cepat ke arah sasarannya, Adipati Zerestia. Untungnya, suara tidak lebih cepat dari cahaya. Adipati Zerestia sudah melihatnya terlebih dahulu dan segera menghindar dari area serangannya.
Sayangnya, kecepatan tubuhnya tidaklah secepat suara. Dan lagi, dia juga baru tahu kalau selama ini Kazor berada sangat dekat dengannya. Anak muda itu pasti ingin membantu dirinya di saat kesusahan.
Tidak memiliki pilihan lain, Adipati Zerestia mendorong Kazor agar dia keluar dari area serangan. Tenaga dan waktu yang dimilikinya sudah tidak cukup untuk melakukan hal lain selain itu.
Hasilnya adalah ... serangan Laciel melewatinya, seolah dia bukanlah apa-apa. Tubuhnya hancur dalam waktu kurang dari sepersepuluh detik. Dan sihir Laciel masih melaju dengan kecepatan penuh. Target selanjutnya adalah Gerbang Utara dan Ibu Kota.
BLAAAARRRR!!!!!
Gerbang Utara hancur lebur. Begitu pula perumahan di belakangnya. Serangan sihir Laciel menghasilkan sebuah kerusakan bergaris lurus sejauh 2 kilometer. Untung saja serangan itu tidak terarah ke istana, tetapi belok sedikit hingga tembus ke Gerbang Timur.
Selain menghancurkan dalam garis lurus, serangan Laciel juga meledak di kejauhan, di hutan. Area seluas 500 meter dari tempat ledakan hancur lebur. Tanah yang sebelumnya coklat gembur kini hitam gosong. Apinya melahap apa pun tanpa dapat ditahan.
Serangan Laciel berhasil memadamkan semangat pasukan Kerajaan Zamara. Di depan kekuatan absolut, mereka tidak dapat berbuat banyak. Belum lagi Panglima mereka juga ikut tewas oleh serangan tadi. Membuat kekosongan pemimpin untuk sementara waktu.
‘Seharusnya ada seorang Wakil Panglima yang mengambil alih kekuasaan saat ini,’ batin Laciel.
Tanpa sadar, dirinya juga sudah membunuh Wakil Panglima tersebut, yaitu Marquis Falimus yang memberikan arahan dari atas Gerbang Utara. Sedangkan sekarang gerbang itu juga sudah hancur tanpa sisa.
Laciel memperhatikan suasana sekitar. Tidak ada seorang pun yang terlihat akan mengambil alih posisi Panglima. Bahkan Kazor pun masih merasa syok dan terduduk di tempat.
“Tuan Adipati,” panggilnya lirih ke arah tempat Adipati Zerestia sebelumnya berada.
Laciel mendekati tempat itu. hanya tersisa Pusaka Pedang Suci dan sebagian lelehan armor. Bahkan sebagian besar zirahnya entah terbawa ke mana. Apalagi abunya yang tidak tersisa.
“Pedang ini memang layak disebut sebagai Pusaka Pedang Suci. Bahkan masih mampu bertahan dari seranganku yang begitu kuat,” ujar Laciel sebelum dia membeku sesaat. Dia merasa familiar dengan aura pedang itu.
Di saat dia ingin mengambilnya, seseorang sudah mendahuluinya.
Garnamtiar mengangkat pedang besar itu dengan satu tangannya. Tatapannya terfokus pada pedang, tidak mempedulikan Laciel yang menatapnya dengan heran.
“Borka (Milikku),” ujar Garnamtiar.
*****
Jangan lupa like, komen, dan klik favorit, ya.
__ADS_1
Satu like dan komen kalian sangat berharga bagiku.