
4 Mei 1163 Zaenium.
Lapangan Arena Duel, Kota Pelabuhan Dorsal, Ibu Kota Kerajaan Sarkarius, Kekaisaran Beastman Marhamzan.
Sore hari.
Syarka mengajak mereka ke lapangan di tengah kota. Dia lalu melobi petugas di sana untuk mengosongkan arena segera. Dan desas-desus tentang Raja Hiu akan melakukan duel pun tersebar ke penjuru kota. Menarik khalayak ramai bagai bunga menarik lebah.
“Hei, apakah duel adalah budaya Beastman? Berapa kali lagi aku harus berduel untuk menarik pihak lain?” Laciel bertanya kepada Yagwar di ruangan persiapan.
“Benar, duel adalah budaya Beastman yang masih diwariskan turun temurun. Biasanya dilakukan jika ada pihak yang dianggap lebih lemah atau peminta kepada pihak yang lebih kuat. Tapi, itu lebih kepada hiburan dan hasilnya sebenarnya tetap tergantung kepada keputusan pihak yang lain, bukan hasilnya.”
“Kalau begitu, aku harus berduel lagi untuk mengajak Raja Orca dan Raja Burung Hantu?”
“Raja Orca pastinya iya. Ia lebih kuat dari Syarka. Tapi, Raja Burung Hantu mungkin tidak. Ia netral, menyukai perdamaian dan keseimbangan, dan lebih cinta meneliti sihir daripada hal apa pun di dunia ini.”
‘Tetap saja aku merasa malas karena akan ada satu duel lagi setelah yang satu ini.’
Bel berbunyi. Suaranya bergema ke seluruh penjuru kota.
“Duelnya akan dimulai. Kali ini lapangannya lebih luas dari yang ada di tempatku. Untungnya bagimu, kamu dapat menggunakan sihir. TAPI jangan menghancurkan apa pun.” Yagwar menekankan aturannya.
“O– oke.”
‘Kira-kira, sihir apa yang cocoknya kugunakan.’
“UWOH!!!”
Penonton di sekliling area memberikan sambutan yang penuh semangat saat Laciel keluar dari ruangan. Dan sekali lagi, arena dipenuhi teriakan ketika Syarka juga keluar.
Seorang Beastman Kucing menjadi wasit.
“Bersiap!”
...
“Bersedia!”
...
“Mulai!”
__ADS_1
Syarka segera berlari guna memangkas jarak. Dan Laciel, sebagai seorang Penyihir, tidak akan mengizinkan musuhnya mendekatinya. Dia segera mengeluarkan sihir Fireball.
Syarka menghindar. Waktu yang terbuang pun dimanfaatkan oleh Laciel untuk melafalkan mantra Mind Acceleration.
“Dija baritium da santharah le fikreta sarifae! Mind Acceleration!”
BUK!
Syarka menghajarnya dengan tinju yang sudah dilapisi dengan energi. Laciel terlempar jauh. Namun, itu adalah sebuah keuntungan baginya.
Waktu berjalan cepat di dalam pikirannya. Dia dapat dengan mudah mendarat dengan aman dan segera melafalkan mantra Absolute Barrier. Syarka telat sedikit. Tinjunya terhalang oleh sebuah perisai tak terlihat di udara.
“Tower of Mana!”
Empat garis berwarna emas muncul di bawah kakinya saat dia merapal mantra yang panjang dengan cepat. Empat garis itu menyebar ke empat arah yang berlawanan. Segera garis-garis itu mulai membentuk lingkaran sihir di atas lantai arena dan selesai bersamaan dengan sempurnanya rapalan mantra sihir.
Itu adalah sihir yang sama dengan yang digunakannya saat melawan Nadja. Dengan Absolute Barrier yang menahan serangan musuh dan Tower of Mana yang mempercepat pengumpulan energi sihir, Laciel dapat dengan mudah menyerang saat ini.
“Sekarang, rasakanlah ini! Multiple Fireball!”
Laciel mengeluarkan banyak bola api dari banyak lingkaran sihir yang mana semuanya mengarah dan menarget Syarka seperti peluru kendali yang sudah mengunci target.
BUM! BUM! BUM!
“Aku tidak terkejut kalau Iblis biasa bertarung dengan cara licik!” teriak Syarka berusaha memanas-manasi Laciel.
“Aku baru tahu kalau Beastman juga menggunakan cara licik, seperti memancing emosi,” balas Laciel. ‘Dia cukup jauh dari jarak serangan. Di dekat saja dia tidak mudah untuk dijatuhkan.’
Masing-masing pihak sedang berpikir dengan keras.
‘Aku tidak tahu apa saja kartunya, tetapi, dia terlihat seperti petarung seni bela diri. Walaupun, Yagwar mengatakan kalau dia menggabungkan seni bela diri dengan sihir. Apakah dia akan menyimpannya hingga akhir? Kalau begitu, aku hanya perlu memaksanya.’
“Multiple Mana Arrow!”
Lingkaran sihir yang besar muncul di atas arena. Dan dari sana muncul ratusan panah sihir yang mengincar Syarka.
BATS! BATS! BATS!
Syarka menangkis panah sihir dengan seni beladiri yang digabungkan dengan sihir. Meski sudah berusaha sekuat tenaga, tentu saja ada banyak yang masih mengenainya. Tangannya terluka dan berlumuran darah.
“Huft ....” Syarka memasang kuda-kuda. Dia menghirup energi sihir dengan napas seperti Laciel dengan Tower of Mana-nya.
__ADS_1
Laciel merasa sesuatu yang buruk akan terjadi bila dia tidak mengantisipasi apa yang akan dilakukan oleh Syarka, khususnya serangannya. Dia khawatir Absolute Barrier tidak dapat menahannya.
Memang, Absolute Barrier memiliki untuk menetralkan semua serangan, baik fisik maupun magis. Namun, itu hanya berlaku bila Penggunanya masih memiliki Mana Point. Dan setiap serangan yang diterima akan membuat Mana Point terbuang dengan cepat.
‘Pertahanan terbaik adalah dengan menyerang.’
Dia mengingat sebuah kalimat yang entah dia baca di mana. Dulu, dia masih belum paham apa maksudnya. Tetapi, kini dia telah mengetahuinya akibat pengalaman. Dia harus menyerang agar Syarka tidak jadi menyerang.
Satu-satunya serangan yang dia ketahui memiliki kekuatan terbesar yang dimilikinya saat ini adalah itu. Sihir yang pertama kali dia gunakan saat sadar di Hutan Blackwood. Sihir Darkness Meteor.
Entah bagaimana, dia dapat memahami bahasa di dunia ini saat langsung bertemu dengan orang, seolah-olah mereka berbicara dengan satu bahasa. ‘Mungkin ini adalah kekuatan akibat terkirim ke dunia lain,’ adalah apa yang
dipikirkannya.
Dengan begitu, dia dapat menghayati makna setiap mantra yang dilafalkannya. Dan jika dilakukan dengan sepenuh hati, mungkin saja, efeknya akan membesar seperti karakter-karakter di anime.
“Dija samerium, ya Drakonir! (Dengarkanlah aku, wahai Dewa Kegelapan!) Dimartium dika anmiarus sa! (Hancurkanlah musuh-musuhmu!) DARKNESS METEOR!”
Beberapa lingkaran sihir rumit muncul di hadapannya. Jumlah dan kerumitan itu, serta masih membutuhkan pelafalan mantra, bahkan bagi Raja Iblis setingkat Laciel, sangat menunjukkan tentang kehebatan dari sihir yang dilancarkan.
Lingkaran-lingkaran sihir berwarna merah gelap itu mengeluarkan aura kematian dan kegelapan yang sangat menakutkan. Membuat orang-orang merasakan kengerian hanya dengan berada di radius beberapa ratus meter.
Setelah mantra dan lingkaran sihir selesai dan sudah sempurna, Laciel melepaskannya. Serangan itu meluncur dengan kecepatan yang tinggi.
‘Memangnya hanya kamu yang memiliki kartu AS di akhir?’ Syarka tersenyum saat melihat berapa banyak yang Laciel lakukan hanya untuk serangan tersebut. ‘Jelas pelindungnya akan berada di kondisi yang sangat rentan. Tetapi, aku tidak dapat membiarkan serangan tersebut menerobos keluar arena, ke tempat penonton.’
Syarka mengubah kuda-kudanya. Kedua kakinya semakin dilebarkan. Dua tangannya terarah ke depan.
“Seni Beladiri Syarka: Jurus Kelima: Malkhese.”
Alih-alih menghindar atau menepis serangan, Syarka menerimanya dengan kedua belah tangan dalam kondisi terbuka. Dan dengan gerakan halus, dia mengalihkan arah serangan Laciel ke langit.
Pada dasarnya, serangan Darkness Meteor akan meledak setelah menabrak benda keras. Tetapi, jika terlalu tidak meledak, ia akan meledak dengan sendirinya. Dan itu yang sedang terjadi sekarang.
Darkness Meteor yang terbang ke langit meledak. Suara ledakannya terdengar sangat keras. Tetapi, serpihan-serpihannya menyebar seperti kembang api. Jika kembang api dinyalakan saat malam hari agar bisa dinikmati keindahannya karena cahaya matahari terlalu terang. Maka, ledakan yang ini mampu mengalahkan sinar matahari.
Laciel menganga melihat serangan terkuatnya dapat dihempaskan dengan mudah.
...*****...
...Jangan lupa like, komen, dan klik favorit, ya....
__ADS_1
...Satu like dan komen kalian sangat berharga bagiku....