
Di tempat yang jauh dari Istana Kemaharajaan Iblis.
Sore hari.
Sesaat kemudian, mereka bertiga, Lucy, Satan, dan Livy, melesat ke arah Zen yang diam di dalam penghalang sihir miliknya.
“Matilah kau!” teriak Lucy sembari menghunuskan belatinya lalu mengarahkannya ke depan.
Krak! Krak! Krak!
Belati itu hanya mampu menggores bagian luar dari penghalang sihir Zen. Kekuatan belati dan penghalang sihir itu saling bergesekan satu sama lain sehingga menghasilkan suara keras nan memilukan telinga.
Di sisi kanan, Satan si Dragon menyiapkan sebuah jurus. Mengumpulkan sebagian besar energi sihirnya di tangan kanannya. Dan setelah beberapa saat, dia menyerang penghalang sihir Zen dengan kekuatan penuh.
BUM!
Sedangkan di saat yang bersamaan, di sisi kiri, Livy, seorang Iblis berwujud Manusia dengan ras High Slime, juga menyiapkan serangan. Energi sihirnya dia kumpulkan dan pusatkan ke dalam pedangnya. Dan dia pun menyerang bersamaan dengan Satan.
BUM!
Diserang dari tiga sisi secara bersamaan, sebuah retakan kecil terlihat menyebar di penghalang sihir Zen. Dan tidak lama kemudian, penghalang sihir itu hancur terpecah-belah. Zen pun menghindar dengan teleportasi ke tempat yang jauh dari mereka.
“Wah, wah. Tidak kusangka kalian bertiga bisa menghancurkan penghalang sihir ini,” ujar Zen yang menjaga jarak.
“Kamu terlalu lengah untuk ukuran Kaisar yang sombong,” ucap Laciel.
Kedua tangannya diselimuti oleh lingkaran sihir. Di depannya ada sebuah buku sihir yang melayang. Dan tak lama setelah dia berkata demikian, berbagai lingkaran sihir lainnya muncul di dekat Zen serta mengeluarkan banyak rantai yang mengejarnya.
“Masih bisa tersenyum hingga akhir hayatmu?”
Kali ini Maharaja ikut bersuara.
“Rasakan ini!”
Sedari tadi, Maharaja telah melafalkan mantra yang sangat panjang. Kemudian saat ini sebuah lingkaran sihir bersar dengan berbagai lingkaran sihir kecil di sekitarnya mengelilingi dirinya. Kekuatan yang terkumpul lalu membentuk sebuah lubang hitam di langit.
Lubang hitam itu menarik segala sesuatu ke dalam dirinya. Khususnya Zen yang berada paling dekat dengan lubang hitam tersebut.
__ADS_1
“Hahaha! Matilah kau!”
Zen tersenyum dengan mata tertutup.
Melihatnya tersenyum, Maharaja berkata, “Kamu masih dapat tersenyum di saat-saat seperti ini?”
Zen tidak membalasnya. Mulutnya bergerak sedikit. Dan dari sana, keluar beberapa kata yang digumamkan sepelan mungkin sampai tidak mungkin terdengar oleh telinga Manusia biasa.
“Cancel Magic.”
Sesaat setelahnya, semua sihir dalam radius tertentu, sekitar satu kilometer, menjadi lenyap, tidak aktif, menghilang. Apa pun sebutannya untuk itu. Semua sihir, termasuk rantai dari Laciel maupun lubang hitam dari Maharaja. Dan mereka yang terbang dengan sihir Fly seketika terjun bebas. Tak terkecuali Zen.
Namun, itu hanya sesaat. Mereka yang cukup cepat tanggap langsung mencoba untuk melafalkan sihir dapat selamat. Sedangkan, mereka yang dapat terbang dengan dibantu oleh sihir orang lain, kebanyakan tidak dapat selamat tepat waktu dan hanya menjadi sebuah petasan daging dan darah setelah jatuh ke atas tanah.
Jumlah mereka tidak sedikit.
“Apa ... apa yang baru saja kamu lakukan?!” tanya Maharaja kepada Zen dengan nada yang kebingungan dan marah.
“Kalian tidak tahu beritanya?” Zen bertanya balik dengan ekspresi polos sekaligus mengejek. “Di kotaku dulu, aku dijuluki sebagai Dewa Sihir. Jadi, hal seperti ini adalah hal biasa bagiku.”
“Kamu akan menyesal jika tidak segera serius dalam bertindak,” balas Maharaja.
Zen menggerakkan tangannya. Sebuah lingkaran sihir kecil berwarna emas terbentuk di atas telapak tangannya. Kemudian, dia melemparkan serangan itu ke arah Maharaja Iblis. Serangan itu pun melesat dengan cepat.
Maharaja Iblis dapat menghindarinya dengan mudah hanya dengan menggerakkan sedikit badannya ke samping. Tetapi, keputusannya untuk menghindari serangan Zen itu justru membawakan kematian bagi pengikutnya dan kekesalan bagi dirinya.
Sebuah ledakan tercipta di pasukan Iblis setelah serangan Zen mengenai salah seorang Iblis yang tidak sigap menghindar. Ledakan itu sangat besar sampai menghabisi banyak pasukan Iblis khusus.
Melihat itu, Maharaja semakin kesal.
“KAMU!!!”
Saat dia dalam keadaan marah, dia melihat titik-titik kecil di ujung cakrawala. Pasukan Kekaisaran Agung Zaenia menyusul Kaisar Agung mereka. Mendekat ke arah medan perang.
“Akan kulakukan hal yang sama, yang kamu lakukan kepadaku, kepadamu!”
Sebelum melafalkan mantra sihir apa pun, sebuah suara ledakan kecil terdengar dari belakang pasukan Iblis. Semua orang terlihat penasaran akan apa yang terjadi dan menoleh ke arah sumber suara, tak terkecuali Maharaja. Hanya Zen yang terlihat telah mengetahui akan hal itu.
__ADS_1
Di belakang pasukan Iblis ada sebuah kelompok besar berjalan ke arah mereka. Panji-panji mereka berkibar tinggi. Isinya adalah sebuah lambang berlatar belakang warna biru.
“Mereka mengepung kita?” tanya Lucy.
“KAAMUUU!!!” Maharaja meraung marah.
Berbagai lingkaran sihir berwarna gelap mengelilingi tubuhnya. Dia berniat melancarkan serangan skala besar secara serius.
“Matilah kalian! Pergilah ke neraka!”
Sebuah gelombang energi memancar dari Maharaja ke pasukan Zen. Auranya terasa sangat jahat. Zen mengeluarkan sebuah sihir untuk membalas serangan Maharaja.
“Reflecting Magic Mirror.”
Sebuah cermin besar muncul di arah laju serangan Maharaja. Cermin itu tidak berdiri tegak, melainkan miring dengan sudut sebesar 45 derajat. Begitu mengenai cermin tersebut, serangan Maharaja memantul ke atas. Ke arah langit biru. Dan beberapa saat kemudian serangan itu menimbulkan suara ledakan yang besar.
“Ba– bahkan, serangan pamungkas milik Maharaja dapat dipantulkan dengan mudah,” ujar Satan dengan mata yang melotot.
“Ini sudah bukan ranah Manusia lagi,” sambung Livy.
Laciel menyaksikan itu semua tanpa berkedip sekalipun. Kewarasannya menghilang seiring dengan kemarahan yang meluap akibat kebanggaannya yang diinjak-injak. Belum pernah ada Manusia yang pernah meremehkan Iblis sejauh ini.
Laciel marah akan hal itu. Zen memiliki sesuatu yang seharusnya dia miliki. Sebuah kekuatan yang sangat besar sampai dia mengasihi lawannya. Sebuah kekuatan yang akan membuatnya menjadi seiblis Kesombongan sejati.
Dengan kewarasan yang menghilang itu, dia menerjang Zen tanpa berpikir matang-matang kembali. Dia mengeluarkan semua senjata yang ada di inventory-nya dan mengarahkannya ke Zen. Tetapi, Zen masih dapat tersenyum tanpa beban.
“Dapat kau.”
Sehabis itu, pandangannya menggelap. Kesadarannya memudar.
Di saat kepalanya terputar hingga dapat melihat ke belakang, dia melihat 7 Dosa Besar dengan raut wajah khawatir dan sedih. Meski tidak dapat mendengarnya, dia yakin kalau mereka memanggil namanya.
Begitulah dia tertidur. Entah kapan akan terbangun.
Mungkin di kehidupan selanjutnya jika reinkarnasi atau akhirat itu memang nyata.
...*****...
__ADS_1
^^^Jangan lupa like, komen, dan klik favorit, ya.^^^
...Satu like dan komen kalian sangat berharga bagiku....