Sent To Isekai As Demon King

Sent To Isekai As Demon King
S2 Eps 11: Assassin I dan Pedang Suci I


__ADS_3

13 Mei 1163 Zaenium.


Taman Kerajaan Zamara.


Pagi hari.


Putri Ayashe menemui seseorang di dekat istana harem tempat tinggalnya. Walaupun ayahnya hanya memiliki seorang istri sah dan menjadi ratu, dia memiliki beberapa simpanan lainnya. Dan karena istana itu begitu dijaga ketat dan hanya boleh dimasuki oleh perempuan dan para kasim, dia hanya dapat menemui orang ini di luar istana meski sangat ingin bertemu di tempat yang lebih nyaman.


Di pojokan taman yang terpencil, di sebuah gazebo yang dinaungi sebuah pohon rindang, seseorang dengan jubah Assassin hitam duduk di salah satu kursi gazebo. Meski dia tidak membawa senjatanya, karena disita saat memasuki istana, dia tetaplah berbahaya.


Sorot mata tajamnya menatap Ayesha. Dia lalu berdiri dan mendekatinya sampai dihentikan oleh salah seorang ksatria. Saat itulah dia menundukkan kepalanya, meniru gaya formal ketika menyapa bangsawan–meskipun postur tubuhnya tidak benar karena tidak pernah diajarkan, gerakannya tetap patut diapresiasi.


“Perkenalkan, Yang Mulia, namaku adalah Ulbert. Aku adalah seorang Petualang dengan kelas Assassin,” ujar Ulbert di saat menunduk.


Ayashe terlihat tidak peduli dengan keformalitasan yang ditunjukkan oleh Ulbert. Tatapan matanya tidak kalah dinginnya. Begitu pula dengan suara dingin yang tidak disangka akan keluar dari mulut imutnya.


“Langsung saja ke intinya. Aku menginginkan informasi tentang seseorang yang bernama Laciel. Pertama, apa hubunganmu dengannya?”


“Saya pernah kalah sidang dengannya,” jawab Ulbert.


“Ceritakan dengan lengkap.” Di balik pakaiannya, Putri selalu mengenakan sebuah Kalung Kebenaran yang dapat mengetahui apakah ada orang yang berkata bohong di sekitarnya.


Untuk menggunakan Kalung Kebenaran, Mana Pengguna akan terus diserap setiap waktu. Itulah kenapa kebanyakan orang hanya mengenakannya di waktu-waktu tertentu. Akan tetapi, Putri Ayashe berbeda. Dengan berkah jalur keturunan yang dimilikinya, dia memiliki Mana yang lebih banyak dari orang biasa.


Lalu, kekurangan dari Kalung Kebenaran adalah tidak dapat mendeteksi kebenaran universal, hanya kebenaran relatif, kebenaran yang diketahui oleh orang-orang secara individu. Dan bukannya kebenaran universal atau hakiki.


Seperti misalnya seseorang mendengar rumor bahwa seseorang lain adalah seorang Iblis, maka dia akan terhitung sebagai kebenaran jika mengatakannya, meski kebenarannya tidaklah demikian.


Kembali ke pertemuan Putri Ayashe dan Ulbert. Ulbert pun menceritakan tentang pertemuannya pertama kali dengan Laciel di Gedung Serikat Petualang. Dia mendengar kalau Hana bergumam bahwa Laciel adalah Iblis, lalu menyebarkan rumor tersebut. Hingga akhirnya dia ditangkap oleh Isabella de Virmanda, putri dari Count Virmanda, atas dasar pencemaran nama baik, kalah dalam sidang, dan akhirnya diberikan hukuman kerja bakti sosial selama setahun.


Salah seorang pelayan datang memberikan selembar kertas. Ayashe membacanya dengan cekatan. Itu adalah kertas hasil sidang Ulbert yang dimenangkan oleh Laciel.


...***...


[Pengadilan County Blackwood, Kadipaten Zerestia, Kerajaan Zamara]


[No                  : B/018/ZR-BL-02/18/III/1163


Hakim              : Count Sergio de Blackwood

__ADS_1


Penasehat H.   : Viscount Fareza de Hanzarim, Baron Diezel Ylarzan


Penuntut          : Laciel


Masalah           : Pencemaran nama baik


Terdakwa        : Ulbert


Keputusan       : Terdakwa dinyatakan bersalah


Keterangan      : ...]


[Tertanda | Sergio]


...***...


“Di sini disebutkan kalau kamu dihukum kerja bakti sosial selama setahun. Kamu melarikan diri?” tanya Ayashe.


“Saya merasa ini tidak adil, Yang Mulia. Itulah kenapa saya meminta keadilan Anda. Dia adalah Iblis jahat yang dapat memanipulasi orang-orang di sekitarnya,” jelas Ulbert.


“Kamu dinyatakan bersalah atas pencemaran nama baik, bukan? Bagaimana kamu membuktikan bahwa kamu tidaklah salah?” lanjut Ayashe.


“Jika bukan karena dia mampu memanipulasi, bagaimana mungkin dia bisa melakukan hal tersebut.” Ulbert menjelaskan dengan cepat dan bernada tinggi.


“Aku yakin dia adalah Iblis mata-mata, jika bukan Raja Iblis. Dia pasti sudah memasukkan mata-mata ke dalam kerajaan, memanipulasi banyak orang, mendapatkan banyak informasi, hingga akhirnya Kerajaan Iblis yang baru muncul itu dapat memenangkan pertempuran dengan mudah.” Ulbert menyerahkan sebuah surat.


Itu adalah surat asli dari Serikat Petualang tentang keberadaan seorang Petualang bernama Laciel dan ciri-cirinya. Rambut dan kulit putih, serta tingginya. Semuanya cocok dengan cerita dari pasukan yang berhasil selamat.


‘Jika bukan karena topeng itu, pasti mudah mengklarifikasi wajahnya,’ pikir Ayashe.


Ayashe langsung terkejut. ‘Topeng? Apakah dia tidak ingin wajahnya terlihat? Itu pasti karena wajahnya sudah terkenal, bahkan oleh Bangsawan!’


Mata Ayashe langsung terbelalak. Dia langsung teringat dengan laporan dari Marquis Harbisium.


‘Raja Iblis menyerang kemah komando utama dengan menggunakan topeng setelah bertemu dengan Marquis Harbisium. Walaupun seharusnya Marquis berada di selatan hutan, tetapi dia bertahan di barat karena pasukannya diserang.


‘Apakah mungkin dia mengenakan topeng karena mengira Marquis akan ada di selatan? Itu artinya ada informasi yang bocor sehingga dapat diketahui olehnya. Dia sangat berbahaya untuk dibiarkan,’ pikir Ayashe.


“Menurutmu, siapa saja yang dapat dicurigai sebagai mata-matanya?” tanya Ayashe.

__ADS_1


“Itu pasti adalah Putri Isabella dan Count Sergio,” jawab Ulbert.


Ayashe langsung berpikir cepat. ‘Count Blackwood akan berpartisipasi dalam perang. Menahannya akan melemahkan pasukan. Tersisa Isabella. Ayahnya akan ikut berperang. Mungkin saat itulah waktu yang tepat untuk mengambil kebenaran darinya.’


...*****...


Istana Kerajaan Zamara.


Setelah kejadian memalukan tadi–ditampar oleh ibunya sendiri–Zed pergi bersama Adipati Canaria dan beberapa Penasehat Raja ke ruangan ayahnya. Ada beberapa hal yang harus dilakukannya.


Kamar Raja berada di pusat Istana Harem. Di perjalanan, Zed melihat adiknya memasuki Taman Kerajaan bersama dengan beberapa pelayan dan pengawalnya. Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan perjalanannya kembali.


Pintu masuk untuk ke ruangan Raja berbeda dari ruangan yang lainnya. Hal ini dikarenakan yang bisa memasuki Istana Harem hanyalah perempuan dan para kasim. Sedangkan para Raja membutuhkan beberapa orang tepercayanya untuk mengurus beberapa hal. Inilah hal yang mendasari perbedaan jalur masuk tersebut.


Di ruangan ayahnya, dia melihat sebuah pedang yang digantung di dinding. Sebuah pedang panjang dua tangan berbalut emas dengan ukiran yang indah. Tertulis di atasnya “Kejayaan Bagi Kerajaan Zamara” dan “Kemuliaan Untuk Raja Zamara” dalam bahasa Zaenia.


Seharusnya Adipati Kerajaan, Gazor, membawanya di peperangan terakhirnya, Peperangan Hutan Redwood. Tetapi, entah apa alasannya, dia tidak membawanya.


Zed mendekati pedang yang digantung tersebut. Pedang tersebut mengeluarkan aura suci. Akan tetapi, di saat Zed menggenggamnya, dia meringis kesakitan. Tangannya gosong akibat terbakar. Tidak dapat menahannya, dia menjatuhkannya. Semua bangsawan yang melihatnya terkejut.


Ternyata, rumor tersebut benar adanya. Sebuah rumor yang dikatakan bahwa Pedang Suci ini hanya dapat dipilih oleh seseorang yang pantas. Selain darinya, akan terbakar kulitnya. Dan hanya dengan kematianlah kepemilikan pedang tersebut dapat diganti.


Zed telah mengetahui akan hal itu. Dia hanya mencoba untuk memastikannya. Sejak Adipati Gazor tewas, belum ada lagi yang mencobanya.


Tiba-tiba, pedang tersebut bergetar sedikit. Lalu berhenti sesaat kemudian sebelum pintu diketuk dari luar.


Adipati Zerestia memasuki ruangan, setelah mengetuk dan diberi izin, bersama dengan beberapa bawahannya. Di saat dia masuk, dia melihat semua orang yang terlihat terkejut. Dan beberapa dari mereka masih menatap pedang emas yang tergeletak di atas karpet ungu.


Pikiran Adipati Zerestia teralihkan dan fokus kepada pedang itu. Dia menatapnya terus-menerus seolah dihipnotis. Tanpa menghiraukan perkataan orang lain, lebih tepatnya tidak dapat mendengarnya, Adipati Zerestia menggenggam pedang tersebut dan tidak terbakar tangannya. Tanpa adanya penolakan, Pedang tersebut telah memilihnya sebagai Tuan yang baru.


Adipati Canaria berteriak, “Lepaskan pedang tersebut!” sambil berniat untuk menjatuhkan pedang tersebut. Tetapi, tangannya yang dilapisi sarung tangan besi justru terbakar, dan dia pun meringis kesakitan dengan wajah jengkel.


Melihatnya, Zed hanya tersenyum.


‘Keseimbangan kekuasaan antar Adipati sepertinya akan seimbang untuk saat ini.’


...*****...


...Jangan lupa like, komen, dan klik favorit, ya....

__ADS_1


...Satu like dan komen kalian sangat berharga bagiku....


__ADS_2