
13 Mei 1163 Zaenium.
Istana Kerajaan, Ibu Kota Zamara, Duchy Royal Capital, Kerajaan Zamara.
Pagi hari.
Semua orang tengah sibuk mempersiapkan rapat. Para pelayan hilir-mudik menyiapkan ruangan dan makanan. Dan para bangsawan berkumpul bersama kelompok mereka masing-masing untuk mendapatkan berita tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Pemberitahuan Adipati Canaria membuat Raja mengumumkan rapat dadakan. Pasukannya pun sudah siap dikerahkan kapan saja. Menunggu perintah darinya.
“Yang Mulia, Kaisar Beastman Leo telah dikalahkan oleh pasukan pemberontak,” ujar Adipati Canaria di dalam aula rapat kerajaan. “Ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk menginvasi mereka,” lanjutnya. Tetapi, dia menutupi sebuah fakta penting yang dapat mengubah keputusan semuanya. Karena itu, dia menutupinya.
Di saat Raja sedang mendiskusikan masalah ini kepada semua menterinya, dan para bangsawan sedang berbicara satu sama lain mengenai topik ini, seorang Ksatria berjalan terburu-buru. Di tangannya terdapat sebuah gulungan.
“Permisi. Yang Mulia!”
Seorang Penasihat Raja mengambil gulungan tersebut. Lalu dia membukanya. Memastikan tidak ada sesuatu yang berbahaya, yang dapat mengancam keselamatan raja, di sana. Setelahnya, dia memberikan itu kepada Raja.
Raja membaca surat tersebut. Seketika, dia terkejut. Matanya menajam lalu melotot.
“Ini dari Raja Iblis Lucifer. Dia mengancam akan mengobarkan perang,” jelasnya.
Penjelasan singkat darinya membuat para Bangsawan kaget. Mereka tidak menduga akan mendapatkan sesuatu seperti ini secepat ini.
‘Bukankah kita baru saja berperang dengan mereka?’ adalah pemikiran dan pertanyaan dari semua orang. Tatapan mata dan ekspresi wajah mereka menunjukkan hal demikian.
Awalnya mereka akan menginvasi Kekaisaran Beastman Marhamzan yang sedang dalam kondisi rentan setelah pergantian kaisar lewat jalur pemberontakan. Akan tetapi, sebuah surat ancaman membuat semuanya berubah total. Membuat mereka mengurungkan niat mereka.
“Ah, tidak. Dia baru saja mengganti julukannya. Sekarang dia adalah Maharaja Iblis Lucifer,” ralat Raja.
“Haha! Memang apa bedanya kalau dia mengubah nama dari Raja menjadi Maharaja? Itu hanyalah sebuah julukan. Mari kita tunjukkan kekuatan kita yang sebenarnya kepadanya agar dia tidak bermulut besar!” ungkap Adipati Canaria.
Namun, tidak semua bangsawan setuju kepadanya. Justru yang dikatakannya terlihat seperti kebalikannya.
‘Dia berkata demikian. Padahal, terakhir kalinya kita berhadapan, dia terlihat takut dan enggan mengirim prajurit. Dia pasti memiliki rencana di balik ini semua,’ pikir Adipati Zerestia.
“Ada apa? Kalian diam saja dan takut kepada Raja Iblis yang hanya menghuni sebuah hutan, padahal kalian memiliki benteng-benteng?” Adipati Canaria menatap satu per satu para bangsawan di aula istana.
Para bangsawan berbisik-bisik. Meski hanya tahu sebagian kekuatan Raja Iblis itu, bahkan kebanyakan hanya berdasarkan cerita dari mereka yang pernah berhadapan dengannya, mereka tetaplah mengetahui seberapa berbahayanya makhluk tersebut. Tetapi, perkataan Adipati Canaria sedikit mengusik rasa superioritas mereka.
“Kita akan tunduk,” ungkap Raja. “Tidak ada gunanya berperang dengan mereka.”
Aula kerajaan seketika menjadi hening dan sunyi, untuk sesaat kemudian menjadi gaduh kembali.
__ADS_1
“Yang Mulia, bagaimana Anda bisa mengatakan hal seperti itu?”
“Yang Mulia, apa yang sebenarnya Anda pikirkan?”
“Yang Mulia, apa maksud Anda berkata demikian?”
“Yang Mulia, ....”
Berbagai pertanyaan dilontarkan oleh para bangsawan dan Penasihat Raja. Mereka seketika menjadi gila setelah Raja mengatakan akan melepaskan kerajaan ini dan memberikannya kepada Raja Iblis kejam tersebut.
Raja mengangkat tangan sebelum kerusuhan semakin tidak terkendali. Meski dengan susah payah, akhirnya para bangsawan dapat menenangkan diri mereka.
“Ayah, apa maksudmu? Apa kauyakin?” tanya Pangeran yang berdiri dari kursi di samping Raja.
Sebagai penerus satu-satunya, dia diharuskan mengikuti berbagai kegiatan politik kerajaan dan dipersiapkan dengan sungguh-sungguh. Salah satunya adalah dengan mengikuti sidang pengadilan dan rapat semacam ini.
“Iya, anakku,” jawab Raja. “Bukankah kalian semua telah melihat dampak dari peperangan di Hutan Redwood? Kita mengalami krisis terparah selama sejarah kerajaan, selain karena letusan Gunung Berapi 3 Tanah, dan para pedagang kabur dari kerajaan kita akibat krisis itu, dan malah semakin memperburuk krisis ini.
“Jika kita bersinggungan lagi dengannya, kita harus mengalah. Atau tidak akan ada kebaikan dari melawannya. Kalian semua sudah mengetahui hal itu.
“Tuliskan suratnya. Tuliskan kalau kita ... urgh!”
Raja berhenti berbicara setelah dia merasakan sebuah logam dingin menembus perutnya. Begitu dia melihat ke bawah, dia melihat Pangeran yang menusukkan pedangnya menembus baju. Dia melihat darah merah kentalnya berceceran, tetapi tidak merasakan sakit.
“Yang Mulia!”
Beberapa Penasihat yang sadar terlihat panik dan mulai beranjak mendekati Raja.
“DIAAMM!!! BERHENTI DI SANA!” Pangeran berteriak.
“Anakku, apa yang kamu lakukan?” tanya Raja dengan suara yang mulai melemah dan pandangan yang mengabur.
Akan tetapi, Pangeran tidak berniat menjawab pertanyaan tersebut. Hingga akhirnya dia menghembuskan napas terakhirnya. Dan tubuh tanpa nyawa itu terjatuh secara perlahan. Menyentuh lantai istana yang dingin.
Yang dilihatnya terakhir kali adalah Adipati Canaria memasang senyuman bahagia yang licik.
‘Kakak ipar ....’
Pangeran berbalik setelah menarik pedangnya dari mayat si Raja. Menatap tajam para Penasihat dan bangsawan di ruangan rapat kerajaan.
Dia lalu berteriak, “Apakah kalian akan mendengarkan omongan mayat tua bangka ini? Apakah kalian akan menyerahkan kerajaan ini kepada makhluk laknat itu?”
“Tidak!” jawab semua bangsawan serentak.
__ADS_1
Semuanya memiliki pemikiran yang sama. Lebih baik berjuang secara mulia lalu tewas di peperangan daripada langsung tunduk dan dipermainkan.
“Pecundang ini tidak berhak memimpin kalian,” lanjut Pangeran sambil menatap mayat ayahnya. “Kita ... akan melindungi tanah kelahiran kita dengan tangan kita sendiri!”
“UWOOH!!!”
Para bangsawan berseru semangat dengan pidato singkat dari Pangeran.
“Mulai sekarang, akulah Rajanya," ujar Zed von Zamara III.
...*****...
PLAK!!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulusnya.
“Apa yang kamu lakukan?!” tanya ibunya histeris. “Kutanya sekali lagi, apa yang kamu pikir kamu telah lakukan, hah?!”
Ratu segera memasuki ruangan rapat begitu mendengar kabar tentang pembunuhan suaminya oleh anaknya.
“Kalau begitu, biarkan aku menanyakan ibu satu pertanyaan saja. Apakah Ibu juga berniat menyerahkan kerajaan ini kepada Raja Iblis?” tanya Raja.
“Tapi, tidak perlu sampai membunuhnya, ‘kan?” Ratu mulai menangis. Dia tidak dapat berdiri dengan kakinya sendiri saat ini.
Sebelum terjatuh, seseorang merangkulnya dari belakang.
“Maafkan Abang. Tapi, Abang yakin kalau kamu dapat menemukan orang lain yang lebih baik daripada dirinya,” ucap Adipati Canaria, kakak kandung dari suami mantan Raja dan ibu Raja, serta paman dari Raja yang sekarang.
Dia masih menangis. Malah lebih kencang. Dia tahu kalau kesehatan suaminya memburuk setelah kekalahan mereka di Hutan Redwood. Tetapi, dia tidak menyangka kalau suaminya akan mengatakan hal bodoh seperti itu.
Dia juga merasa jadi tidak berguna. Jika saja dia menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dan mendengarkan keluh-kesah suaminya, suaminya tidak akan perlu tewas dibunuh oleh anak kandungnya.
Apa pun itu, dia tidak membalikkan waktu.
Di sisi ruangan yang lain, Putri Ayashe von Zamara melihat semuanya dengan ekspresi datar. Dia terlihat sedang kesal akan sesuatu.
“Nona Muda, dia sudah datang,” ucap salah seorang pelayannya.
...*****...
...Jangan lupa like, komen, dan klik favorit, ya....
...Satu like dan komen kalian sangat berharga bagiku....
__ADS_1