
26 April 1163 Zaenium.
Hutan Red Cliff bagian selatan, Kerajaan Servini, Kekaisaran Beastman Marhamzan.
Pagi hari.
“Uwah!” Laciel merenggangkan tubuhnya di luar tenda. “Entah kenapa, rasanya sedikit sepi sekarang. Tidak seperti biasa.”
“Itu mungkin karena kita tidak olahraga tadi malam,” celetuk Nadja sembarangan. Dia baru keluar dari tenda. Mengucek matanya.
“Sepertinya bukan begitu. Aku juga merasa seperti ada yang kurang,” tambah Hana.
Aigis adalah yang terakhir keluar.
“Hmm, bukankah kalian memiliki seekor kucing?” tanya Aigis.
Ketiga orang itu lalu saling menatap satu sama lain. Ekspresi mereka sulit dijelaskan.
‘Si*l, kita meninggalkan Nameer saat pergi menyelamatkan teman-temannya Aigis!’ teriak batin mereka bertiga.
Sementara itu, di Gedung Serikat Petualang.
“Keluar kau, dasar kucing jalanan.” Seorang Pegawai wanita tua melemparkan Nameer keluar bangunan.
Dia mendapatkan jadwal untuk membersihkan kamar penginapan. Dan tanpa disangka, dia melihat ada Nameer dalam bentuk kucing yang tertidur di atas kasur di sebuah kamar yang sudah ditinggalkan.
‘Penyewanya sudah pergi, dan ada seekor kucing entah datang dan masuk dari mana, lalu tidur di sana. Huh, menyusahkan saja,’ batinnya lalu kembali masuk ke dalam ruangan. Melanjutkan pekerjaan bersih-bersihnya.
‘Tuanku, kamu di mana?’ Nameer menangis duduk di pinggiran jalan. ‘Apakah Tuan sudah tidak memerlukanku, sehingga membuang aku?’
...*****...
Laciel baru saja kembali bolak-balik membawa Nameer. Mereka sudah meminta maaf dan membujuknya, tetapi dia masih galau dan merajuk.
“Maafkan aku, Nameer. Aku lupa untuk kembali ke kamar penginapan untuk membawamu pulang.” Laciel duduk di depan Nameer meminta maaf.
__ADS_1
“Maafkan kami.” Nadja dan Hana juga duduk di sampingnya.
Laciel juga mengeluarkan banyak makanan dari inventory-nya, dan menjejerkannya di depan Nameer. Mereka kini tampak seperti sedang melakukan persembahan berupa sesajen kepada Dewa.
Melihat mereka benar-benar meminta maaf secara tulus, Nameer sudah merasa baikan. Dia tidak dibuang. Tapi tetap saja, dia dilupakan. Sebagai tanda sudah menerima permintaan maaf, dia menggosok-gosokkan kepala dan lehernya kepada Laciel.
‘Dia benar-benar mirip seperti kucing. Aku akan menganggapnya demikian bila tidak tahu fakta kalau dia adalah seekor Blade Tiger. Kemana Blade Tiger garang yang kupunya?! Apakah karena dia berjenis kelamin betina. Aku belum memastikannya.’
Laciel lalu mengusap kepalanya. Saat dia ingin mengecek, dia merasakan sesuatu dan berdiri.
“Sepertinya ada yang datang.” Ujarnya.
Yang lain juga segera menyadarinya.
...*****...
Ketiga Beastman Kelinci muda sedang beristirahat. Semalaman mereka pergi melarikan diri dari para pengejar mereka. Mereka bisa beristirahat pun berkat pengorbanan abang mereka.
Yang paling tua dari ketiga adalah laki-laki dan berdiri lalu berkata, “Kita harus segera pergi. Kemungkinan mereka masih berada di dekat kita.”
Yang dipanggil Fala hanya menatapnya, lalu membalas uluran tangannya. Berdiri dalam diam. Dan mereka segera melanjutkan perjalanan mereka.
Sesaat kemudian, mereka mendengar suara dari kejauhan. Itu adalah suara langkah kaki dan geraman pengejar mereka.
“Si*l! Mereka sudah mengejar kita hingga ke sini. Segera lari!” teriak yang tertua.
Mereka berlari dengan cepat menggunakan kedua kaki mereka. Mata mereka fokus menatap ke depan, menganalisa medan agar tidak terjatuh karena tersangkut akar pepohonan. Sedangkan telinga mereka mereka fokuskan untuk mendengar suara musuh. Memperkirakan kecepatan dan arah mereka berlari.
Dengan jantung yang berdetak bertalu-talu dengan cepat, ******* napas yang tak beraturan, mata dan kaki yang bersinkronisasi, mereka melarikan diri dengan gesit melewati pepohonan yang rindang. Pepohonan demi pepohonan mereka lewati. Tapi celakanya, pengejar mereka mampu menutup jarak yang dengan lekas memendek.
Perhatian mereka terfokus ke arah belakang hingga tidak sadar jika di depan mereka ada beberapa sosok lainnya. Fokus ke belakang hingga tidak sadar tersandung akar pepohonan.
“Fala!” si kakak perempuan berteriak.
Pengejar mereka adalah Beastman Kucing Hutan. Rambutnya berwarna putih dengan corak abu-abu hitam yang menghiasi sekujur tubuh mereka. Mereka mendekat ke arah Fala dengan cepat. Cakar mereka sudah siap mencabik-cabik mereka.
__ADS_1
Tapi, sebelum mereka dapat melakukan itu, beberapa peluru api melesat dengan cepat. Menyambar mereka semua sebelum mereka menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Peluru api itu lalu membakar semuanya sampai habis. Keadaan itu terjadi dengan sangat cepat hingga membuat kedua belah pihak bingung apa yang sebenarnya terjadi.
“Pergilah, atau matilah!” ujar Laciel dengan nada dingin. Aura membunuhnya menguar keluar menyebar ke sekitar.
Sisa Beastman Kucing Hutan menatap terkejut ke arahnya. Dapat membunuh mereka dengan cepat dan tanpa susah payah, serta memiliki aura membunuh yang kuat. Sudah jelas kalau Laciel adalah sebuah ancaman yang harus dihindari. Dan hal itu membuat nyali mereka surut.
Mereka pergi secepat kedatangan mereka. Tidak berani menoleh ke belakang, ke arah sosok yang mampu disebut sebagai Kematian, seolah itu adalah hal terakhir yang dapat dilakukan sebelum menghadapi kematian.
Setelah mereka semua sudah pergi dan menghilang dari pandangan, ada sebuah jeda sunyi yang tercipta di antara mereka. Dan Aigis memecahkan situasi anehnya sunyi itu dengan bertanya memastikan kondisi si Beastman Kelinci yang terjatuh.
“Kamu tidak apa-apa?” tanyanya memastikan.
Karena dia sendiri adalah Beastman Kelinci, meski berbeda jenis, hal itu membuat mereka tidak terlalu waspada kepadanya. Berbeda dengan yang lainnya, khususnya Laciel yang bahkan mampu membakar banyak Beastman Kucing Hutan hanya dengan beberapa serangan saja. Alam bawah sadar mereka memerintahkan untuk menjaga jarak darinya.
Melihat kalau mereka masih takut dan syok dengan kekuatan milik Laciel, Aigis menjelaskannya kepada mereka.
“Tenang saja, dia adalah orang yang akan menolong kita,” ucapnya dengan nada bersahabat.
Meski belum dapat mencerna situasi tersebut karena masih syok, mereka setidaknya sudah mengurangi kewaspadaan mereka terhadap Laciel dan teman-temannya. Jika mereka mau, tentu saja mudah memusnahkan mereka seperti mereka memusnahkan para Beastman Kucing Hutan. Dan juga, rasanya akan kurang ajar bila mereka justru tidak memercayai sosok penyelamat mereka.
“A– anu, te– terima kasih telah menyelamatkan kami,” ujar dua anak Beastman Kelinci itu.
Tidak perlu menggunakan item pendeteksi kebohongan. Dengan melihat ekspresi dan nada suara mereka saja sudah dapat dipastikan kalau mereka benar-benar berterima kasih secara tulus.
Tanpa acuh kepada perkataan mereka, Laciel berjalan mendekati debu bekas Beastman Kucing Hutan yang dia bakar. Semuanya sudah menjadi abu. Bahkan orang yang tidak melihat kejadian itu pasti akan berpikir kalau abu itu adalah abu dari api unggun.
‘Mereka sangat lemah. Sepertinya hanya keroco saja.’ Pikir Laciel melihat debu itu.
“Jadi, apa yang sebenarnya terjadi kepada kalian?” tanya Laciel berbalik menghadap mereka.
...*****...
...Jangan lupa like, komen, dan klik favorit, ya....
...Satu like dan komen kalian sangat berharga bagiku....
__ADS_1