Sent To Isekai As Demon King

Sent To Isekai As Demon King
Eps 28 : Penyergapan Redwood II


__ADS_3

Musim semi, 3 April 1163 Zaenium.


Daerah pesisir Hutan Redwood sebelah utara, Duchy Zerestia, Kerajaan Zamara.


Malam hari.


Marquis Ezar de Atlanta. Seseorang dengan penampilan yang dapat dibilang proporsional. Dia baru saja menyelesaikan rapat kecil yang diadakannya dengan bawahannya. Membahas hal-hal penting yang akan dilakukan ketika terjadi sesuatu selama dia menghadiri Rapat Besar.


Di sebelahnya adalah seorang Count, bawahannya, yang memiliki pangkat Wakil Jenderal. Usianya terlihat lebih muda sedikit dibandingkan dengan dirinya. Meski begitu, raut wajahnya menunjukkan kalau dia adalah seorang profesional yang telah dilatih untuk mendapatkan posisinya saat ini.


“Malam yang indah, bukan?” Marquis bersuara. Menatap langit malam yang dihiasi oleh ribuan cahaya kerlap-kerlip bintang.


“Benar, Tuan.” Jawab singkat si Count.


“Seandainya tidak ada masalah seperti ini.” Curhat Marquis.


“Benar, Tuan.” Count muda itu tetap menjawab singkat.


Mereka berdua berdiri di sana menunggu kedatangan kereta kuda yang akan digunakan untuk menghadiri Rapat Besar. Marquis sendiri tidak akan berangkat. Dia hanya mengirimkan Count muda itu sebagai wakilnya. Itu karena dia ingin berada di sana sebagai pemberi komando.


Takutnya, ketika tidak orang penting pemberi perintah dan monster menyerang, pasukan akan tercerai-berai dan dikalahkan. Tetapi rasanya, kereta itu sedikit terlambat.


“Di mana kereta kudanya? Apakah ada suatu masalah?” Marquis tidak bisa bertanya setelah beberapa saat menunggu.


“Apakah perlu saya datangi, Tuan?” Count muda itu menawarkan dirinya. Meski, tentu saja, itu hanyalah pertanyaan retorika. Tuannya hanya kesal dan menumpahkannya lewat perkataan. Dia sudah terbiasa dengan itu.


“Tidak perlu. Itu dia.” Ujar Marquis.


Lalu, mereka berdua melihat ke arah seorang lelaki dalam balutan zirah perak berlari mendekati mereka. suara bising zirah bergesekan terdengar seiring dia mendekat.


“Lapor, Tuan. Ada sedikit masalah dengan kudanya.” Lapor Ksatria itu.


Dia adalah kusir yang seharusnya telah membawakan kereta kuda Tuannya. Tetapi, karena ada masalah, dia terlambat melakukannya. Karena masalah itu tak kunjung usai, dia memilih untuk melaporkan ini.


“Ada apa? Cepat katakan!” tanya Marquis itu penasaran.


Jika hanya karena masalah kecil, dia sudah menyiapkan banyak ucapan yang akan dikeluarkan. Apakah dia sangat tidak berkompeten sehingga masalah kecil saja tidak bisa?


“Semua kuda yang ada tidak bisa diam atau pun berhenti bergerak. Mereka terlihat risau dan meringkik terus menerus.” Ujar si kusir.


Karena itukah dari tadi aku mendengar suara ringkikan kuda? Batin Marquis bertanya-tanya.


“ARGH!!!”


Suara teriakan pasukan terdengar dari arah selatan, arah Hutan Redwood. Lalu berganti teriakan itu menjadi suara seperti gesekan logam dengan logam. Area itu meluas hingga ke seluruh sisi selatan dari ujung ke ujung.


Seorang Ksatria datang menghampiri Marquis yang berdiri di depan tenda utama dengan tergopoh-gopoh. Napasnya berat dan tidak beraturan.


“Tuan Marquis! Tuan Marquis!” Ksatria itu memanggil.

__ADS_1


“Ada apa?!” yang bertanya adalah si Count muda.


“Monster! Pasukan monster telah menyerang kita!” jawabnya.


Jrash!


Sebuah pisau panjang yang melengkung telah menembus tubuh Ksatria yang membawakan pesan itu. Darahnya bermuncratan ke sekitar hingga mengotori pakaian dan wajah tiga orang di depannya. Kesadarannya menghilang seiring mata pisau itu ditarik kembali.


Jasad Ksatria itu terjatuh dalam kondisi sudah tak bernyawa. Yang membunuhnya adalah seorang Assassin Wraith. Makhluk yang berwujud seperti roh hitam itu melayang tak menyentuh tanah.


“HIII!!!!” si kusir berteriak histeris. Dia bahkan terjatuh dan mulai merangkak mundur.


Meski dia adalah seorang Ksatria yang telah terlatih, melihat seseorang yang terbunuh tepat di depannya secara tiba-tiba tentu saja membuatnya sangat syok berat hingga tidak mampu berbuat apa-apa selain melarikan diri.


Count maju mengeluarkan pedang membelakangi Marquis. Sebagai seorang Wakil Jenderal dan bawahan, dia bertugas untuk melindungi Tuannya meski nyawanya adalah taruhannya.


“Hia!”


Dia maju menebaskan pedangnya. Tetapi, lawannya adalah roh yang telah mati. Serangan fisik tidak akan mempan terhadapnya.


“Hiro, mundurlah!” teriak Marquis mengingatkannya kepada kenyataan kalau musuhnya bukanlah musuh biasa. “Hanya seorang Magic Caster yang dapat melukai Roh.”


Tersadar, dia mundur dan menjaga Tuannya sebagai perisai daging.


“Tuan, kita harus mundur segera!” sarannya.


BLAR!!!


“Groa!”


Marquis melihat ke arah barat. Di sana pasukannya sedang bertarung dengan sepasukan Orc berkulit merah. Tanpa komando, dan kurang dari segi kekuatan, pasukannya dapat dengan mudah dibuat mundur secara berkelanjutan.


Mampu memerintah sepasukan monster banyak yang berbeda-beda, musuh kita kali ini sudah pasti adalah monster dengan kekuatan luar biasa. Marquis berpikir sejenak.


“Tuan!” salah seorang Ksatria yang baru datang memanggil. Dia membawa serta beberapa Ksatria lainnya dan para Penyihir.


Di sisi lain, dari pasukan monster muncul beberapa sosok yang terlihat kuat dan merupakan pemimpin dari pasukan ini. Ada beberapa Naga, Iblis Tingkat Rendah, High Orc, dan beberapa monster lainnya yang dipimpin oleh Zalfarin si Half Dragon.


“Kamu adalah Pemimpin para Manusia ini, bukan?” Zalfarin bertanya kepada Marquis.


“Tuan, apa yang harus kita lakukan?” Count berbisik.


“Tidak ada pilihan lain. Kita akan bertarung jika itu yang mereka inginkan.” Jawabnya. “Benar, aku adalah Marquis Ezar de Atlanta. Salah satu Jenderal Kerajaan Zamara yang berada di bawah perintah Duke Zerestia.”


“Baguslah. Dengan membunuhmu, itu akan sangat memudahkan pekerjaan kami.” Timpal Zalfarin dengan seringai kejam. “Semuanya, serang para Manusia itu. Aku akan membunuh pemimpinnya dengan tanganku sendiri.”


Selesai ucapannya dikatakan, pasukan monster yang berada di bawah komandonya kini bergerak serempak melancarkan serangan kepada Manusia. Lizardman, Iblis, Orc, Wraith, dan Skeleton. Meski jumlah mereka lebih sedikit, tetapi perbedaan kekuatannya jelas terlihat dari pasukan Manusia yang berlari berhamburan tak terkendali.


Dan kemudian, dia sendiri turun tangan dengan melesat ke arah Marquis. Tangannya yang terbuat dari kulit nan keras dia gunakan sebagai senjata. Tetapi, seorang Manusia, si Count muda, menghalanginya. Dia menggunakan pedang serta zirahnya untuk melindungi Tuannya dari serangan musuh.

__ADS_1


“Aku tidak akan membiarkanmu! Lewati mayatku terlebih dahulu!” teriaknya dengan semangat yang membara.


“Kamu hanyalah seekor tikus kecil yang mengganggu.” Ujar Zalfarin menghempaskan tangannya hingga membuat Count itu terpental belasan meter jauhnya.


Buak!


“Uhuk!”


Dia baru berhenti setelah menabrak tumpukan kotak kayu berisi makanan. Mulutnya memuntahkan darah segar. Wajah dan sekujur tubuhnya lebam membiru.


“Para tikus sudah disingkirkan. Sekarang giliranmu untuk dicabut nyawanya!” Zalfarin berteriak dan menebaskan cakar tajamnya.


Marquis menahannya dengan pedangnya dan kuda-kuda. Meski sudah mengerahkan seluruh tenaganya, dia tetap didorong ke belakang. Meninggalkan bekas dua garis lurus di tanah yang sebelumnya dijadikan pijakan.


“Fireball!”


Dia merapalkan mantra. Tapi, Zalfarin memiliki kekebalan terhadap serangan lemah itu, juga terhadap sihir elemen api. Serangan yang dilakukannya tadi tidak memberikan dampak apa-apa.


“Sepertinya Manusia memang makhluk yang sangat bodoh dan lemah.” Ucap Zalfarin.


Seketika, dia sudah berada di depan Marquis dengan serangan yang siap dilancarkan.


“Earth Shield!”


Sebongkah tanah muncul dan mencuat keluar dari bumi. Menciptakan sebuah layar perlindungan. Tetapi, itu sangat tipis hingga mampu ditembus oleh Zalfarin.


Bruak!


“Guh!”


Marquis melihat ke bawah. Di sana, tangan Half Dragon itu sudah menembus tubuhnya. Dadanya terasa sangat sesak.


“Selamat tinggal.”


Ucapan itu adalah suara yang terakhir kali dia dengar dan ingat. Setelahnya, hanya ada medan hitam tak berujung. Entah apa yang menunggunya.


...*****...


Setelah menyelesaikan urusan dengan pimpinan pasukan musuh, Zalfarin terbang ke atas. Melihat pemandangan pasukannya sedang membantai habis musuh.


“Tidak hanya jumlah musuh yang sangat sedikit. Bahkan, pemimpinnya juga sangatlah lemah.” Gumam Zalfarin sendirian.


Saat itu, seorang Iblis yang berwujud seperti Goblin berkulit merah dengan ekor panjang dan sayap kelelawar menghampirinya.


“Tuan Zalfarin, urusan di sini sebentar lagi selesai. Tuan Hazura baru saja memerintahkan untuk membantu pasukan yang lain di barat dan timur.” Ucapnya saat sudah berada di dekat Zalfarin.


“Baiklah.” Jawabnya singkat.


Dia masih mau merasakan hawa membunuh, darah, dan kematian di sini. Setidaknya, sedikit lebih lama.

__ADS_1


...*****...


...Jangan lupa like, komen, dan klik favorit, ya....


__ADS_2