
Laciel membagi pekerjaan yang cocok terhadap para bawahannya sesuai kemampuan yang dimiliki. Dia masih mempertahankan status Penguasa Dungeon kepada Medusa, dan Divisi Keamanan, sekarang dijuluki sebagai Jenderal, kepada Garnamtiar. Sisanya, dia menjadikan Hazura sebagai tangan kanannya sekaligus Jenderal Besar yang berada langsung di bawahnya. Dengan begitu, dia berada satu tingkat di atas Medusa.
Lalu, dia memerintahkan Reis untuk membuat sebuah dungeon yang baru di tengah-tengah Hutan Redwood. Dungeon itu nantinya kan menjadi pusat, tetapi menjadi cabang untuk saat ini. Gnoll dan Goblin akan tinggal di sana. Reis merangkap tugas sebagai Penguasa Dungeon sekaligus Jenderal.
Kemudian, Ygir Razen juga akan berada di sana bersama dengan para Lizardman panggilan Nadja dan Half Dragon panggilan Laciel. Ini dia rencanakan sebagai pasukan pelindung awal ketika Reis membuat dungeon.
Si Skeleton mantan Bangsawan korup dia jadikan sebagai bendahara. Dia memilihnya karena si Skeleton ini hanya memiliki sedikit kekuatan, tetapi dia sangat cinta terhadap harta. Meski demikian, di bawah perintah Laciel, dia akan selalu menuruti. Jadi, aman aman saja memercayakan harta kepadanya. Untuk lokasi gudang harta, saat ini masih berada di Red Skull’s Dungeon.
Dan terakhir adalah para Wraith. Mereka akan menjadi pasukan Assassin yang bisa digunakan Laciel untuk membunuh siapa saja yang menghalangi nantinya. Mereka akan menjadi kartu As yang dapat diandalkan.
Sebagai pembawa pesan, adalah para Imp bawahan Hazura, dan beberapa Wraith. Dengan begini, sudah selesai pembagian tugas mereka. Pasukan Skeleton akan dibagi rata di antara kedua dungeon nantinya.
“Sekarang, saatnya memberi nama.” Ucap Laciel.
Lalu, mereka semua keluar dari ruang pertemuan. Yang akan diberi nama bukan hanya mereka yang tadi berkumpul. Tetapi semua monster yang dipikir Laciel akan sangat berguna nantinya.
Sekarang semua yang dipilih sudah hadir. Mereka adalah Hazura si Iblis, Wraith Assassin, Wraith Magic Caster satu sebagai perwakilan, Skeleton Bangsawan korup, Skeleton mutasi raksasa, satu Skeleton Magic Caster, dan Half Dragon yang dipanggil bersama Medusa.
“Hazura si Iblis.” Laciel berkata. “Aku akan memberimu nama Hazura Enfador.”
Lalu Wraith Assassin mendapatkan nama Dalferine. Wraith Magic Caster mendapat nama Hex. Skeleton Bangsawan korup diberi nama Jashi. Skeleton mutant dinamai Muthawla. Skeleton Magic Caster mendapat nama Landazor. Dan terakhir adalah Half Dragon yang diberi nama Zalfarin.
Menghafal banyak nama sekaligus tidaklah masalah baginya. Sejak dia berada di tubuh ini, dia dapat menghafal sesuatu dengan cepat. Dan jika pun dia lupa, dia dapat menggunakan sihir Appraisal untuk melihatnya.
“Sudah hampir pagi, ya?” Laciel bergumam.
Dia saat ini sedang di luar dungeon. Mengawasi para Gnoll, Goblin, dan Skeleton pergi untuk membuat sebuah dungeon yang baru. Sinar merah matahari sudah terlihat di kejauhan. Beberapa pohon dipotong dalam jarak tertentu sehingga dia dapat melihat cahayanya dari sana.
“Apa kita akan kembali ke kota Galdazar?” tanya Hana.
“Iya. Kita perlu mengetahui keadaan di sana.” Jawab Laciel. “Hazura. Kupercayakan yang lain kepadamu.” Laciel berkata sambil menatapnya.
__ADS_1
Diberikan sebuah pekerjaan dari Tuannya dan dapat bermanfaat baginya, tentu saja dia merasa sangat terhormat.
“Siap, Yang Mulia. Anda bisa memercayakan mereka kepadaku.” Jawabnya sambil bertekuk lutut di hadapan Laciel.
Kemudian, mereka berempat kembali ke kota Galdazar menggunakan sihir Teleportasi Laciel. Dan di sinilah mereka sekarang. Mencoba mencari berita dengan mencuri dengar dari percakapan para Petualang.
“Sepertinya aku sudah membuat keributan yang tidak diperlukan.” Ujar Laciel.
“Pasukan Marquis, di bawah komando Jenderal Azuma, sedang menyisir dari Bukit Galatia. Kemungkinan mereka akan bergerak ke Hutan Redwood.” Tambah Nadja.
“Apakah Jenderal Azuma sangat hebat? Bagaimana jika dibandingkan dengan Komandan Argus atau Wakil Komandan Zirka?” tanya Laciel.
“Dari nama saja sudah ketahuan siapa yang lebih tinggi.” Jawab Hana. “Komandan memiliki tiga tingkatan, begitu pula dengan Jenderal. Jarak Jenderal ke Komandan adalah empat tingkat, dan lima tingkat ke Wakil Komandan.” Jelasnya.
“Empat? Bukannya tiga?” tanya Laciel.
“Ada pangkat Wakil Jenderal di atas Komandan Tertinggi.” Jawab Hana. “Berurutan dari atas adalah Jenderal Tertinggi, Jenderal Besar, Jenderal, Wakil Jenderal, Komandan Tertinggi, Komandan Besar, Komandan, dan Wakil Komandan.”
“Ah, begitu. Teruskan.”
“Dan terakhir, adalah prestasinya. Aku tidak tahu dengan Komandan Argus ataupun Wakil Komandan Zirka. Tapi yang pasti, Jenderal Azuma adalah orang yang lumayan hebat. Meski Pasukan Marquis beberapa bulan lalu imbang melawan Kekaisaran, itu karena jasa dari Jenderal Azuma sebagai pemimpin pasukan. Belum lagi prestasi-prestasinya di masa lalu saat Kekaisaran Zaenia dan Kekaisaran Beastman masih sering berperang dengan Kerajaan Zamara.” Lanjutnya.
“Tapi, tetap saja dia tidaklah lebih hebat dibanding Jenderal Besar yang berada di bawah perintah Raja langsung.”
Mereka diam mencerna informasi yang diberitahu oleh Hana. Laciel terlihat sedang berpikir serius.
“Bagaimana menurutmu, Nadja?” Laciel mencoba menanyakan pendapat temannya.
“Berpikir keras membuatku lapar lagi.”
Ucapan itu membuat Laciel dan Hana tertawa. Sepertinya adalah sebuah kesalahan untuk menanyakan hal itu kepadanya.
__ADS_1
...*****...
Seseorang berjalan dengan tergesa-gesa ke arah sebuah ruangan. Mengetuk pintu dan mengenalkan dirinya, dia diizinkan memasuki ruangan itu. Di hadapannya adalah sebuah ruangan kerja milik salah satu Duke Kerajaan Zamara.
Ada enam orang Bangsawan setingkat Count dan dua Marquis yang berada di masing-masing kanan dan kiri ruangan. Di tengahnya ada dua buah sofa panjang dan sebuah meja. Biasanya digunakan untuk meeting rahasia atau pertemuan yang akrab. Dan di ujung ruangan adalah sebuah meja dan kursi yang digunakan oleh Duke Zerestia saat ini, Fazerin de Zerestia II.
Dia adalah seorang pria paruh baya berusia 35-an. Sedang dalam masa puncaknya. Rambutnya hitam dan dipotong pendek sehingga terlihat rapih. Wajahnya berfitur keras dengan tatapan tajam nan dingin. Aura yang dikeluarkannya adalah aura milik seseorang yang mengatur hampir sepertiga kerajaan, dan sebuah pasukan yang sangat terlatih untuk menghadapi invansi dari Kekaisaran.
“Permisi, Tuan. Anda mendapatkan surat dari Tuan Marquis Harbisium. Sepertinya, surat ini sangat penting.” Ujarnya menahan rasa takut, dan memberikan surat itu kepada Tuannya di atas sebuah nampan yang tampak bagus.
Dia sudah sangat sering membawakan surat untuk Tuannya. Tetapi dia masih tidak bisa menahan rasa takut dan gemetar akibat aura yang dikeluarkan oleh Tuannya.
Duke mengambil surat itu, melihat dan memastikan keaslian cap stempel, membukanya, lalu membaca isi surat itu dengan saksama. Ekspresinya tidak berubah. Tapi bawahannya semua tahu kalau ada yang tidak beres.
Tanpa berkata apapun, dia memberikan surat itu kepada tangan kanannya. Salah seorang Marquis yang berada di ruangan itu.
“Raja Iblis?” gumam si Marquis tidak percaya. Matanya membelalak.
Gumaman itu terdengar jelas. Dan semua orang langsung merasa terkejut. Agar tidak ada yang simpang siur, si Marquis membacakan inti dari isi surat tersebut.
“Selumbari malam, Marquis Harbisium merasakan getaran dari Bukit Galatia dan mengirimkan pasukannya untuk melihat. Dan di sana, mereka melihat ribuan jejak kaki serta bekas mana sihir. Kemungkinan besar ada seorang Raja Iblis dengan kemampuan Necromancy yang membangkitkan zombie di sana.” Ucapnya menjelaskan.
[Selumbari artinya dua hari yang lalu. Tulat artinya hari setelah lusa. Dan tubin adalah hari setelah tulat.]
Suasana ruangan menjadi gaduh. Namun itu hanya sebentar saja sebelum Duke mengeluarkan aura membunuh yang pekat. Seluruh orang di dalam ruangan merasakannya.
Ruangan menjadi hening dan sunyi. Tidak ada yang berbicara sebelum diizinkan oleh Duke.
“Kita akan mengirim pasukan penyisir dan pasukan pengintai. Utamakan Hutan
Redwood dan Hutan Blackwood.” Ujarnya dengan nada berat.
__ADS_1
...*****...
...Jangan lupa like, komen, dan klik favorit, ya....