
Musim semi, 25 April 1163 Zaenium.
Hutan Red Cliff bagian selatan, Kerajaan Servini, Kekaisaran Beastman Marhamzan.
Malam hari.
Laciel, Hana, Nadja, dan Aigis sedang membuat sebuah perkemahan kecil di sebuah hutan yang luas. Mereka telah mendirikan tenda, bahkan sudah makan malam dan kini sedang beristirahat di depan api unggun.
“Sekarang, kita sedang berada di mana?” tanya Laciel.
Aigis, menggunakan sebilah ranting kayu kecil, menggambar garis-garis di atas tanah.
“Aku tidak terlalu bisa menggambar, dan juga tidak terlalu hafal dengan denah perbatasan negara-negara. Tetapi, seharusnya ini sudah cukup untuk menjelaskannya,” ujarnya setelah menggambar beberapa garis lurus horizontal dan beberapa lainnya vertikal.
“Di dalam Kekaisaran Beastman ada 11 wilayah, 1 di tengahnya adalah wilayah Dewan dan Kaisar, dan 10 sisanya adalah 10 Kerajaan. Kerajaan Servini, tempat kita berada dan kita tuju, sekaligus desaku. Dipimpin oleh seorang Raja dari ras Rusa,” jelas Aigis.
“Sebenarnya, di sana ada sebuah jalan yang aman, tetapi tidak aman,” tukasnya.
“Tunggu, tunggu! Apa maksudmu aman, tapi tidak aman?” tanya Nadja heran.
“Er, itu ... itu karena ... tempat itu dipimpin oleh ras Jaguar, dan ... dan kebanyakan warganya ... adalah ras karnivora. Jadi, um, kudengar dari nenekku, kalau neneknya pernah berkata bahwa nenek dari neneknya, neneknya lagi pernah diburu oleh para Kucing Hutan yang tinggal di sana,” ucap Aigis berkata dengan nada ketakutan.
Laciel, Hana, dan Nadja hanya mampu menepuk jidatnya mendengar penjelasan aneh semacam itu. Mereka tahu kalau kelinci adalah mangsa buruan dari hewan karnivora seperti kucing hutan. Tapi, membandingkannya dengan ras Beastman yang sudah berevolusi dan memiliki kecerdasan seperti Manusia, rasanya agak tidak nyambung.
Ada kemungkinan itu hanyalah rumor yang dibuat. Tapi juga, ada kemungkinan kalau itu adalah sebuah pesan yang benar adanya. Lebih baik mereka menuju tempat teraman saja untuk menghindari masalah.
“Baiklah, baiklah. Lalu, bagaimana dengan dua yang lainnya?” Laciel bertanya sambil menunjuk dua Kerajaan yang berbatasan langsung dengan Kerajaan Zamara.
“Yang sebelah barat adalah Kerajaan Lukaszan, dan dipimpin oleh ras Elang. Di sana juga berbahaya.” Aigis berkata sambil menunjukkan tanda silang dengan menyatukan dua jari telunjuknya.
“Lalu, yang satu lagi?” Laciel bertanya.
“Ah, yang itu adalah Kerajaan Kelelawar, aku lupa namanya.” Jawab Aigis.
“Laciel, tempat itu juga berbahaya.” Hana membuka suara. “Dirumorkan kalau para Kelelawar adalah bawahan dari Raja Iblis Vampir.”
“Apakah kamu lupa kalau Laciel adalah Raja Iblis juga?”
“Ya~, aku tahu. Hanya saja, lebih baik kita ke Kerajaan Servini saja. Lagipula, kita sudah sangat dekat dengan tujuan kita,” jawab Hana. "Memutar untuk pergi ke tempat yang lebih jauh untuk memastikan hal yang tidak pasti adalah keputusan yang buruk, mengingat ada tempat yang aman dan sudah pasti."
“Sudah malam. Kalian tidurlah. Aku akan berjaga pertama kali.” Laciel berdiri. Membersihkan tanah yang menempel ke jubahnya.
Mereka bertiga juga ikut berdiri. Membersihkan peralatan makan dan segera tidur di dalam tenda.
...*****...
Di sisi lain hutan, terdapat tiga, tidak, empat Beastman Kelinci yang sedang beristirahat sejenak dengan napas terengah-engah.
“Kalian semua, pergilah terlebih dahulu. Abang akan memberikan kalian waktu.” Ujar salah seorang Beastman Kelinci yang tampak merupakan orang tertua di antara mereka.
Mereka berempat memiliki tubuh kelinci, hanya saja berdiri di atas dua kaki dan memiliki keserupaan dengan Manusia. Mereka adalah jenis yang berbeda dibandingkan Aigis, tapi masih diakui sebagai Beastman.
“Tapi, bagaimana dengan Abang?” seorang gadis Kelinci memegang tangannya.
__ADS_1
“Pergilah! Kita tidak akan bisa selamat jika begini terus!” Beastman Kelinci yang dipanggil Abang itu berteriak keras. “Pergilah! PERGI!!!”
Dibentak berkali-kali, mereka bertiga berlari pergi meninggalkan abang mereka.
“Dasar, adik-adik yang merepotkan. Setidaknya, kalian harus selamat. Jangan sia-siakan pengorbananku," gumamnya. “Sekarang.”
Telinga panjangnya mendengar ada beberapa sosok yang mendekat.
Dia berlari ke arah barat daya–arah yang berbeda dengan yang ditempuh oleh adik-adiknya–sambil mengeluarkan suara di setiap langkahnya agar para pengejar mengetahui keberadaannya dan fokus terhadap dirinya.
“Ugh,” dia mengaduh kesakitan karena beberapa kali tersandung akar belukar pepohonan.
Tanpa mengacuhkan lukanya, dia tetap berlari. Selama mungkin dia ingin menarik perhatian para pemakan daging tersebut.
“Semoga kalian semua selamat. Dewa Marham, tolong, lindungilah mereka.” Ucapnya lirih melantunkan doa kepada Dewa dari kepercayaan yang dianutnya. “Jika ada kehidupan selanjutnya, semoga kita bisa bertemu kembali. Maafkan abangmu yang egois ini.”
...*****...
26 April 1163 Zaenium.
Kuil Pusat Sadiszan, Ibu Kota Kekaisaran Kavizen.
Pagi hari.
Seseorang dengan pakaian jubah putih panjang dan topi tinggi yang juga putih berjalan dengan khidmat menuju panggung di bagian depan kuil. Tatapan mata semua orang tertuju padanya. Tua maupun muda, kaya maupun berkecukupan, berpangkat atau tidak. Semuanya hadir di kuil untuk melakukan sebuah upacara nan suci.
Enam orang remaja, laki-laki dan perempuan, satu per satu melangkah ke depan sesuai dengan arahan seorang pendeta. Cahaya matahari berubah menjadi emas akibat kaca berwarna emas di langit-langit ruangan kuil, dan menyinari wajah anak-anak itu, seolah-olah Dewa sedang memberikan mereka berkah.
“Serpihan kekuatan Dewa yang diberikan kepada enam anak-Nya, kini akan diwariskan kepada mereka. Mereka akan menjadi Pahlawan penerus dan akan membersihkan kejahatan dan kegelapan dari dunia ini.” Pidato itu mulai mencapai puncaknya.
“Haru makopta kumala, lla Abwa! Haru magori kumala asjas may fanira ta kuma, no nairas kana mamahu zhin!”
Begitu dia menyelesaikan perkataan di dalam bahasa kuno, cahaya mentari yang menyinari keenam orang remaja di depannya menjadi sangat terang hingga menyinari seluruh kuil. Sebuah keajaiban sedang terjadi. Ritual kebangkitan Pahlawan telah dilaksanakan.
Enam Pahlawan zaman ini telah terlahir. Entah dampak apa yang akan mereka berikan terhadap keseimbangan dunia.
...*****...
26 April 1163 Zaenium.
Di sebuah ruangan yang remang-remang pencahayaannya. Ada sebuah meja berbentuk segi delapan dengan kursi di masing-masing sisinya. Dan semua kursi itu sudah diduduki semuanya, kecuali satu kursi kosong yang pemiliknya sedang absen. Kursi yang kosong di pertemuan sebelumnya sudah diisi oleh seorang remaja laki-laki.
“Huft, ada apa lagi kita mengadakan rapat saat ini?” tanya seorang pria paruh baya yang biasa dipanggil Leo.
“Dia membuat masalah lagi, kah?” tanya pria paruh baya lainnya.
Untuk lebih jelasnya, di ruangan ini ada tujuh orang. Seorang wanita dewasa dengan tubuh proposional di balik jubahnya dengan telinga runcing dan rambut pirang, dua orang pria paruh baya, yang satu bertubuh besar dan dipanggil Leo, satu lagi bertubuh lebih ramping dengan pipi tirus, seorang remaja perempuan yang dipanggil Javeline, tiga orang remaja laki-laki, Darkness, Zero, dan terakhir adalah orang yang baru. Satu yang tidak hadir, adalah seorang kakek-kakek yang jarang membuka suaranya dan hanya memperhatikan rapat berjalan begitu saja.
“Iya, dia membantai salah satu cabang dari organisasi 10 Tangan," jawab Darkness.
“Ah, organisasi boneka bawah tanah yang kau buat untuk misi itu, bukan?” tanyanya kembali.
“Si kakek juga sedang ada urusan lain, dan ada orang baru. Sepertinya kita sedang sibuk sekarang," ujar si wanita menghembuskan asap rokoknya.
__ADS_1
“Uhuk, berhentilah merokok di ruangan sempit ini," tegur Leo.
“Toh, hanya kamu yang merasa demikian.” Dia kembali menghembuskannya.
“Uhuk, uhuk.” Empat remaja itu batuk kecil bersamaan. Mereka terlihat melakukannya dengan sengaja.
“Cih, sepertinya remaja zaman sekarang memang tidak ada sopan santunnya.”
“Yang lebih penting dari itu adalah, apa tindakan dia selanjutnya,” ucap Leo menyela perkelahian kecil itu. “Dante, Merlin.” Dia melirik ke arah si pria paruh baya selain dirinya dan si wanita. “Yzar, maaf kalau kamu baru pertama kali ikut rapat ini, dan sudah dibebankan banyak pekerjaan, rapat tidak penting, dan perkelahian kecil ini.”
Pemuda yang duduk menggantikan nenek tua itu membalas, “Tidak apa-apa. Aku akan berusaha sekeras mungkin.”
“Jika kamu mendapatkan ramalan dari Dewa, segera beritahu kami. Kamu bisa bertanya lebih lanjut kepada si nenek tua itu," timpal si wanita itu. nada suaranya terdengar lembut sekarang.
“Baik, Nona Merlin," balas Yzar.
“Panggil saja aku Kakak Merlin, okay?”
“Ehem,” Darkness yang biasanya hanya diam dan menjawab ketika ditanya membuka suara. “Tindakan dia selanjutnya tidak ada hubungannya dengan Dewa. Dewa sudah memberikan kebebasan memilih kepadanya. Kita hanya bisa melanjutkan tugas kita mengawasinya.”
“Dan lagi, aku mendengar kalau Kekaisaran Teokrasi Kavizen sudah memulai pembangkitan Pahlawan baru. Kemungkinan besar sebentar lagi mereka akan memulai peperangan kembali dengan Iblis, dan dengan kita," lanjutnya.
“Cih, sekumpulan penghasut sok suci itu.” Merlin mendecak lidahnya dengan kesal. “Apakah kita akan terus-menerus membiarkan mereka memperluas pengaruh mereka, selagi Dewa kita mendukung dan bersama dengan kita?”
Semuanya terdiam mendengar keluhannya. Detik demi detik berlalu dengan kesunyian.
“Aku mengerti perasaanmu yang telah hidup lama," ucap Leo.
“Kamu, tidak, kalian tidak akan pernah mengerti rasanya! Aku undur diri. Lanjutkan saja rapat tidak berguna ini. Beritahu aku jika kita akan berperang dengan mereka.”
Sosoknya menghilang bersamaan dengan perkataannya yang berakhir.
“Hah, dia sudah berubah akhir-akhir ini," ujar Leo menghela napas.
“Dia tidak akan kecanduan rokok, kan?” tanya Javeline dengan sedikit nada khawatir.
“Tidak, tentu tidak. Lagipula dia adalah High Elf," jawab Leo.
“Kalau begitu, aku akan kembali belajar kepada Nenek Karen," ucap Yzar pamit undur diri.
Setelahnya, mereka semua membubarkan diri dan kembali ke tempat masing-masing.
Tersisa seorang pemuda, Darkness, yang masih duduk di kursinya.
Dari dalam sakunya, dia mengeluarkan selembar surat. Membacanya lagi, dan lagi.
“Jika begini terus, dia akan dikepung dari tiga sisi," gumamnya.
...*****...
...Jangan lupa like, komen, dan klik favorit, ya....
...Satu like dan komen kalian sangat berharga bagiku....
__ADS_1