Sent To Isekai As Demon King

Sent To Isekai As Demon King
S2 Eps 15: Assassin II


__ADS_3

14 Mei 1163 Zaenium.


Taman Istana Kerajaan Zamara.


Malam hari menjelang fajar.


Putri Ayashe tidak bisa tidur karena hatinya tidak tenang. Sebuah perasaan bergejolak di dalam hatinya. Dia sangat ingin secepat mungkin melakukan sesuatu kepada seseorang tertentu. Namun dia sadar, kemungkinan besar dia dapat melakukannya adalah dalam waktu yang lama.


“Hah ....” Ayashe menembuskan napas dengan kesal.


Pelayan yang menunggunya di belakangnya merasa takut. Dia sudah memiliki banyak pengalaman tentang embusan napas kesal Tuan Putri yang berakhir dengan sesuatu yang buruk. Dia ingin melakukan sesuatu, tetapi juga tahu kalau melakukan sesuatu di saat seperti ini justru bisa memperburuk situasi.


Ayashe berdiri dan menatap pelayannya. Tatapannya dingin, tajam, dan juga kesal. Untungnya, sebuah suara menyelamatkan si pelayan. Terdengar suara loncang beberapa kali dari kejauhan.


14 dentangan. Itu jelas bukanlah tanda untuk menunjukkan waktu. Lagipula saat itu adalah sekitar jam 5, bukan jam 12. Jadi kesalahan dalam hitungan lonceng itu sangat berbeda jauh. Akan tetapi, suara lonceng di atas 12 sangat jarang terdengar. Jika ada pesta, maka itu adalah 13, bukan 14. Lagipula, tidak ada perayaan untuk saat ini. Kecuali ...


Raut wajah Ayashe berubah. Dia jelas tidak mengharapkan waktunya datang secepat ini. Dia senang sekaligus khawatir. Tanda 14 dentangan lonceng adalah tanda perang, tanda kedatangan musuh. Jelas akan sangat jarang terdengar di Ibu Kota yang jaraknya jauh dari perbatasan dan harus melewati banyak kota.


Lain halnya bila itu adalah pasukan pemberontakan Bangsawan. Namun, para Bangsawan saat ini sedang menghadiri rapat penting di Ibu Kota. Cari mati jika melakukan pemberontakan di saat banyak Bangsawan membawa banyak pasukan masing-masing.


Kecuali ... pasukan itu dengan mudahnya dapat melewati kota-kota karena memang tidak melewatinya, alias musuh dalam selimut. Dan dalam sejarah Kerajaan Zamara, hanya ada satu musuh yang berada di dalam kerajaan. Itu adalah pasukan monster dari Raja Iblis.


Apa pun yang terjadi, kepanikan pasti sedang melanda Ibu Kota. Ini adalah waktu yang terbaik bagi Ayashe untuk menyelesaikan masalahnya.


“Panggil Ulbert si Assassin. Aku mempunyai tugas untuknya.” Ayashe meninggalkan pelayannya yang, setelah diberi perintah olehnya, berjalan ke arah lain.


...***...

__ADS_1


Situasi ruangan takhta kerajaan dipenuhi oleh kegelisahan penghuninya. Raja Muda Zed dan para Bangsawan sedang menunggu kabar pasti dari prajurit yang menjaga benteng Ibu Kota. Mereka jelas tidak berpikir akan mendengarkan suara lonceng sebanyak 14 kali di Ibu Kota dalam seumur hidup mereka.


Seorang prajurit masuk.


“Lapor, Yang Mulia! Terlihat sepasukan monster berjumlah sekitar 1.000 sedang berjalan ke arah Ibu Kota dari arah utara,” lapor prajurit tersebut.


Semua orang menahan napas begitu mendengarnya. Bukan masalah jumlah. Mereka punya lebih banyak pasukan di sisi mereka. Akan tetapi, itu adalah masalah laporan. 1.000 monster berkeliaran di kerajaan mereka, tetapi mereka tidak mendengarkan laporan apa pun sebelum monster itu terlihat di Ibu Kota? Ke mana tugas prajurit patroli dan prajurit yang berada di kota-kota? Itu sangat tidak masuk akal bahwa tidak ada satu pun laporan yang masuk terkait 1.000 monster.


Entah ini bisa disebut sebagai kabar baik atau buruk, tetapi mereka setidaknya mengetahui kalau 1.000 monster itu jelas dikendalikan oleh sesosok yang pernah mereka hadapi sebelumnya.


Zed memberikan keputusan cepat. “Segera kumpulkan pasukan!”


Mahapatih Damyar, Adipati Varvarus de Canaria, Adipati Fazerin de Zerestia, dan Marquis Falimus de Harbisium. Keempatnya adalah Bangsawan tingkat atas kerajaan dan memiliki pengaruh terkuat. Keempatnya mengirimkan salah seorang bawahannya untuk mengurus masalah pasukan. Sisanya dapat dengan tenang mengadakan rapat dadakan. Mencari cara untuk mengatasi pasukan monster yang datang.


“Gila! Bukankah mereka baru saja bertempur di Kekaisaran Beastman Marhamzan?! Kukira mereka akan berperang dengan kita beberapa pekan ke depan,” keluh salah satu Bangsawan kepada temannya. Tentu saja dengan bisik-bisik menggunakan nada rendah.


...***...


Count Diego de Virmanda adalah salah satu Bangsawan bawahan Adipati Fazerin de Zerestia. Dia adalah utusan yang ditugaskan untuk mengatur pasukan Adipati. Sebenarnya dia heran kenapa dia yang dipilih oleh Adipati dikarenakan dirinya bukanlah Bangsawan yang berpengaruh. Bahkan bisa dibilang dia berada di bagian bawah.


Alasan lain atas keheranannya adalah karena dia biasanya membawahi pasukan Armada Laut, bukan Pasukan Darat. Namun, jika dipikirkan, sepertinya karena itulah dia dikirim. Dia tidak akan terlalu berguna di dalam ruang sidang dan lebih baik mengerjakan tugas lain yang bisa dikerjakannya.


Meski keadaannya darurat, dia tetap melakukan hal lain yang menurutnya adalah prioritas. Dia berjalan bersama Komandan Argus ke kamar putrinya, Isabella de Virmanda. Ada dua orang yang berjaga. Salah satunya adalah keponakan Komandan Argus, Wakil Komandan Zirka.


Count Diego pun memerintahkan Komandan Argus dan Wakil Komandan Zirka untuk pergi terlebih dahulu mengumpulkan pasukan Adipati Zerestia. Menyisakan seorang prajurit menjaga kamar putrinya. Lalu dia memasuki kamarnya setelah mengetuk pintu dan dijawab oleh putrinya.


“Ayah, apa yang sebenarnya sedang terjadi?” tanya Isabella. Raut wajahnya penuh kegelisahan.

__ADS_1


Bagaimana tidak gelisah? Mereka berada di Ibu Kota di tengah kerajaan dan malah mendengar lonceng yang menandakan keberadaan musuh di luar benteng. Dan lagi, sekarang masih pagi.


Count Diego tidak segera menjawab. Dia memilih untuk menimbang jawaban apa yang sebaiknya diberikan. Namun, setelah beberapa saat, dia merasa tidak berguna untuk berbohong di situasi semacam ini dan memilih untuk mengatakan kebenarannya.


“Terlihat sepasukan monster di luar Ibu Kota. Jumlahnya sekitar 1.000,” jawabnya dengan nada yang diusahakan terdengar tenang. “Tenang saja, ayah hanya akan mengkoordinir pasukan. Ada banyak Jenderal dan Komandan yang akan memimpin peperangan.”


Count pun meninggalkan putrinya setelah membuatnya lebih tenang. Dia pergi tanpa mengkhawatirkan pengawasan putrinya sangat rentan. Hanya dikawal seorang prajurit biasa.


...***...


Beberapa saat setelah Count Diego pergi dari ruangan Isabella, seseorang tampak menyelinap mendekati ruangan tersebut. Kemampuan menyelinapnya sangat hebat sampai-sampai prajurit yang menjaga tidak menyadari kedatangannya hingga jatuh pingsan.


Bruk!


Si penyelinap menoleh ke kanan kiri. Memastikan aksinya tidak diketahui. Lalu memindahkan si prajurit ke gang, tempat yang lebih tertutup sebelum memasuki kamar target.


Saat sudah menyelesaikan aksinya, dia memasuki kamar Isabella di saat Isabella sedang duduk menulis.


“Ah, Zirka! Tolong lihat puisi buatanku. Bagaimana ....”


Isabella terdiam saat dia memutar badan dan menemukan seseorang yang mencurigakan memasuki kamarnya. Sebelum sempat dia menanyakan identitas si penyelinap, Ulbert telah lebih dulu menutup mulutnya dengan sapu tangan yang sudah dilumuri obat tidur. Perlu waktu beberapa menit sebelum Isabella berhenti memberontak.


...*****...


...Jangan lupa like, komen, dan klik favorit, ya....


...Satu like dan komen kalian sangat berharga bagiku....

__ADS_1


__ADS_2