Sent To Isekai As Demon King

Sent To Isekai As Demon King
S2 Eps 17: Peperangan Zamara II


__ADS_3

14 Mei 1163 Zaenium.


Benteng Utara, Ibu Kota Kerajaan Zamara.


Pagi hari.


Sesaat setelah pasukan Adipati Fazerin de Zerestia sampai di Gerbang Utara, Adipati langsung menanyai kondisi terkini kepada utusan empat Bangsawan. Jenderal Kazor menjelaskannya kepadanya.


“Pasukan musuh belum menyerang, tetapi musik mereka sudah menyiutkan nyali pasukan,” ucap Jenderal Kazor mengakhiri laporannya.


Adipati hanya mengiyakan. Musik perang adalah sesuatu yang elit. Erat kaitannya dengan budaya yang sudah berkembang lama. Selama ini mereka hanya pernah mendengar tentang musik perang Kekaisaran Agung Zaenia dan Kekaisaran Teokrasi Kavizen. Tetapi, musik perang dari kerajaan monster?


Bahkan Kerajaan Zamara lebih menitikberatkan penggunaan alat musik sebagai alat komunikasi. Meski mereka juga memiliki beberapa musik sederhana yang dapat digunakan untuk menaikkan moral pasukan.


Menimbang kondisi, Adipati lalu memerintahkan agar divisi komunikasi juga memperdengarkan musik milik mereka. Medan peperangan pun dipanasi dengan musik dari kedua belah pihak.


“Ingin berperang dalam lagu perang terlebih dahulu? Tidak apa-apa. Aku akan meladeni!” Laciel tersenyum di tenda komandonya saat mendengar suara musik Kerajaan Zamara.


Laciel lalu memerintahkan agar lagu perang pasukannya diubah setelah mendengarkan kalau Kerajaan Zamara juga mulai memperdengarkan lagu perangnya yang lebih terkoordinir. Lagu yang awalnya beritme lambat kini menjadi beritme cepat. Suaranya pun membesar dua kali lipat karena sebelumnya pasukan lagu Laciel bergiliran memainkan lagu, kini menjadi memainkannya bersamaan.


Selain ritme lagu yang lebih keras, cepat, dan teratur, Laciel juga mulai mengkoordinasi pasukannya untuk menyerang. Pasukan Utama yang dipimpin oleh Garnamtiar mulai berjalan dalam formasi.


Para prajurit di atas benteng melihat pasukan monster mulai bergerak mendekati mereka.


“Tuan Adipati, mereka mulai bergerak mendekat,” ucap Kazor yang berdiri di samping kanan Adipati Zerestia.

__ADS_1


“Apa yang harus kita lakukan, Tuan Adipati?” tanya Marquis Falimus di samping kirinya.


Adipati Zerestia terlihat diam sejenak. Hanyut dalam pikirannya.


“Kita akan bertahan! Siapkan para pemanah!” teriak Adipati memberi perintah.


Pasukan yang memegang instrumen mulai memainkan alat musik mereka. memberikan sinyal untuk seluruh pasukan, khususnya pemanah.


“Siapkan pemanah!” teriak beberapa Komandan yang berada di beberapa titik setelah mendengarkan dan menerjemahkan pesan yang diberikan. Memberikan arahan kepada pasukan di sekitarnya.


Pasukan monster mulai mendekat. Jarak mereka sekarang hanya tersisa sekitar 300 meter lagi sebelum masuk dalam jarak tembak panah. Akan tetapi, pasukan Kerajaan Zamara juga tidak bisa merasa tenang. Adipati lalu mengirim pesan lainnya untuk langsung segera menyerang begitu musuh memasuki jarak tembak.


Di saat pasukan monster sudah masuk, sinyal lainnya diberikan. Seketika ratusan panah melesat terbang, memenuhi langit, menghujani musuh. Namun, itu semua tidak cukup untuk menjatuhkan Pasukan Utama barisan terdepan yang diisi oleh Orc yang memiliki kulit keras dan memakai perlengkapan perangnya. Semuanya hanya mengalami luka ringan tanpa kematian seekor pun.


Pemanah berganti posisi. Pemanah lainnya maju menggantikan mereka. Menembakkan ratusan panah lainnya ke pasukan musuh. Beberapa Orc pun akhirnya mengalami luka berat. Ada beberapa yang matanya menjadi buta. Sesuai rencana, Dryad si Penyembuh muncul dari pasukan dan terbang ke langit. Dia mulai menyembuhkan pasukan monster.


Dryad tidak datang seorang diri. Dia ditemani oleh Hanafsah yang melindunginya. Untuk beberapa saat Hanafsah masih menggunakan wujud beberapa ekor kelelawar yang mengikuti Drayd. Lalu dia berubah wujud menjadi wanita cantik lainnya dengan sayap kelelawar di belakang punggungnya.


“Tuan Adipati, apa-apaan mereka?” tanya Kazor bingung ada dua makhluk menyerupai ‘manusia’ dari pasukan monster. “Apakah mereka adalah Raja Iblis?”


Adipati terdiam sebelum membuka mulutnya untuk menjawab, “Aku belum pernah melihat mereka. Sebelumnya tidak ada mereka di Pertempuran Redwood.”


Memang Adipati Zerestia belum pernah melihat mereka. Begitu pula bawahannya yang selamat dari Pertempuran Redwood. Itu karena Hanafsah baru masuk ke jajaran bawahan Laciel sejak perang di Kekaisaran Beastman setelah Pertempuran Redwood. Dan Dryad? Dia bahkan baru di-summon kemarin malam.


Tidak menunggu tanggapan dari musuh, Dryad mulai menyembuhkan pasukan monster. Luka yang dialami oleh para Orc mulai membaik. Walaupun jangkauan sihirnya tidak dapat menjangkau pasukan yang berada di pinggiran, jauh darinya.

__ADS_1


Adipati Zerestia terkejut melihat Dryad menciptakan dan sudah mengaktifkan lingkaran sihir, meski tidak tahu apa efeknya. Apa pun itu, dia berpikir itu pastilah bukan sesuatu yang baik. Dia lalu memberikan perintah lainnya.


“Tembak dia!” teriak Adipati.


Sinyal diberikan. Pemanah yang merasa dapat menjangkaunya mulai mengarahkan anak panahnya kepada Dryad, dan menembak. Ratusan panah berterbangan ke arahnya. Sebelum bisa mendekat, ratusan anak panah itu terpental ke arah yang lain seolah menyentuh sesuatu yang keras atau dipantulkan oleh sesuatu.


“Tetap lanjutkan heal-mu. Aku akan melindungimu. Tidak usah pedulikan mereka,” ujar Hanafsah kepada Dryad setelah mengaktifkan sihir yang memantulkan anak panah.


Sampai akhirnya para Orc menyentuh benteng, belum ada satu pun dari mereka yang tewas. Pasukan Kerajaan Zamara menjadi panik. Mereka tidak mengira kalau musuh masih dapat bertahan.


“Siapkan gelombang pasukan kedua!” teriak Adipati Zerestia memberikan perintah.


Gelombang pertama adalah panah. Meski lemah, tetapi jarak tembaknya adalah yang terjauh sejauh ini. Dan jika serangan lemahnya tidak mempan, tidak berguna lagi untuk menghabiskan panah.


Setelah sinyal diberikan, pasukan di atas benteng berganti orang.


Komposisi dari pasukan gelombang kedua adalah Penyihir, Penombak, dan Peminyak. Serangan sihir memang kuat, tetapi sedikit yang bisa dilemparkan dalam jarak yang jauh. Itulah sebabnya mereka masuk ke dalam gelombang kedua, bukan pertama. Penombak adalah versi lain dari Pemanah. Tombak lebih besar dan kuat daripada panah.


Terakhir adalah Peminyak. Itu adalah pasukan yang memiliki tugas untuk menyiramkan pasukan musuh di bawah benteng dengan minyak panas yang masih mendidih dan baru saja dipanaskan. Gabungan serangan dari mereka baru bisa membunuh para Orc dalam sekali serang sebelum sempat disembuhkan oleh Dryad.


Melihat kemampuan Dryad sudah tidak terlalu berguna, Hanafsah mengajaknya kembali ke sisi Laciel. Di kejauhan, Laciel sudah menerima kabar tentang gelombang kedua pasukan Kerajaan Zamara dari Wraith.


“Tidak buruk,” komentarnya. “Kirimkan Pasukan Dukungan.”


...*****...

__ADS_1


...Jangan lupa like, komen, dan klik favorit, ya....


...Satu like dan komen kalian sangat berharga bagiku....


__ADS_2