Sent To Isekai As Demon King

Sent To Isekai As Demon King
S2 Eps 4: Eksperimen


__ADS_3

Tempat Dan Waktu Yang Tidak Diketahui


Laciel terbangun setelah mengalami sebuah mimpi buruk bahwa keluarganya dibantai. Saat tersadar, dia melihat dirinya yang terikat pada sebuah kursi di dalam sebuah ruangan berwarna putih. Tidak ada lilin di dalamnya. Hanya sebuah lantai, dinding dan atap yang mengeluarkan cahaya putih.


“AAARGH! Di mana ini?! Lepaskan!” teriaknya.


Namun, tidak ada yang menyahuti.


Laciel mulai mengingat-ingat kembali apa yang telah terjadi. Dia hanya ingat sedang memimpin pasukan khusus Iblis melawan pasukan Manusia. Lalu, dia tidak ingat bagaimana itu berakhir.


‘Di mana yang lain? Ayahanda? Ibunda? Kakanda? 7 Panglima Dosa Besar?’


Tatapannya bergerak ke sana kemari. Mencari jawaban yang tidak kunjung datang.


‘Apa yang sebenarnya terjadi?’


Dia tidak ingat.


“Guh! Syalan! Kursi apa ini?!”


Dia tidak bisa bergerak bebas. Seluruh anggota tubuhnya diikat logam.


“Baja apa ini? Bagaimana ini bisa sangat kuat sekali?!”


“Itu adalah Baja Zaenia,” jawab seseorang dengan suara yang dikenalinya. “Didapatkan dari tempat terbaik. Ditempa oleh penempa terbaik. Dan didukung oleh sihir dari penyihir terbaik,” lanjutnya.


“KAUU!!!” Laciel meraung marah.


“Ha ha. Anak-anak sangat mirip dengan orang tua mereka. Seharusnya kalian berdua ini mendapatkan gelar Kemarahan, dan bukannya Keserakahan dan Kesombongan,” ejek Zen.


“Di mana yang lain? Apa yang kau lakukan padaku dan mereka?” tanya Laciel dengan nada dan raut muka tak bersahabat.


“Ah, aku sudah lama tidak melihat Iblis. Baru kali ini aku mendapatkan banyak spesimen yang sangat bagus. Keturunan Murni.” Zen berjalan memutari kursi Laciel.


“Oh iya. Kamu bertanya, ‘Di mana yang lain?’, ‘kan? Mereka ada di tempat terpisah. Sangat berbahaya jika meletakkan kalian semua di satu tempat. Itu seperti meletakkan sepuluh telur di dalam satu keranjang.


“Dan ‘Apa yang akan kulakukan?’ Entahlah. Aku jadi bingung mau melakukan eksperimen apa saja. Ada banyak spesimen berharga dan ada banyak eksperimen yang menyenangkan.


“Oh, tentu saja. Dia yang sudah tidak berguna karena terlalu tua. Aku sudah membunuhnya.”

__ADS_1


Laciel melotot kepada Zen.


“Siapa yang kamu maksud?!”


“Ayahmu. Dia itu tua bangka yang cerewet. Seandainya lebih muda lagi, tubuhnya akan cocok untuk eksperimen tertentu. Sayang sekali.”


Zen berjalan ke pinggir ruangan. Dari dinding itu muncul beberapa layar kaca. Zen mengetikkan beberapa perintah. Laciel yang penasaran hanya dapat melihatnya secara pasrah tetapi penuh dendam.


“Bagaimana dengan eksperimen ingatan, dan kepribadian juga jiwa ganda?” Zen berbalik. Wajahnya kini berubah sepenuhnya dari tenang dan dingin menjadi seperti seorang maniak pembunuh. “Aku sedang penasaran tentang hal itu. Sepertinya kamu akan menjadi tikus percobaan yang cocok.”


...*****...


Waktu seolah berjalan lambat di tempat ini. Atau mungkin, kesengsaraan memang memiliki kekuatan untuk melakukan itu.


Saat ini, Laciel terus-terusan meraung kesakitan. Dia melihat banyak memori yang berseliweran di dalam pikirannya. Bukan. Itu bukan memori miliknya. Entah milik siapa, tetapi yang pasti, Zen yang menyebabkan hal tersebut.


Zen memasukkan berbagai memori, entah itu bahagia, indah, sepi, sengsara, sakit, dan sebagainya, ke dalam otak Laciel setiap hari setiap malam. Laciel bahkan sampai bermimpi tentang dunia lain yang tidak diketahui, tentang orang lain yang tidak dikenal, dan tentang tempat-tempat aneh yang belum pernah dikunjungi bahkan terfikirkan.


Sampai seringnya menerima informasi, dia sampai merasa kalau dia pernah mengunjungi tempat tersebut dan mengenali orang-orang yang belum pernah dijumpainya. Otaknya penuh sampai mau meledak rasanya. Meski begitu, tidak ada sedikit pun ingatan asli tentang dirinya muncul. Membuatnya mulai melupakan tentang jati dirinya.


Hal ini terjadi setiap hari hingga waktu yang tidak diketahui.


...*****...


‘TIDAK!!! Tidak! Ini bukanlah diriku! Orang tuaku tidak menelantarkanku!’


Laciel terbangun dari mimpi buruknya di atas kursi dan ruangan yang sama. Entah sudah berapa lama karena dia tidak sadarkan dirinya selama itu.


“Aku harus keluar dari neraka ini!”


Dengan sisa-sisa tenaga, dia memberontak. Beberapa engsel dan sekrup sudah berkarat dan hancur dengan mudah. Setelah terbebas dari kursi itu, dia kembali melihat sekitar. Memastikan tidak ada lagi Zen di sana.


Ruangan itu sudah tidak terlihat putih lagi. Cahaya dari lampu sudah berubah kuning, dan beberapa ada yang sudah mati.


Setelah memastikan Zen tidak ada di sekitar, dia pun kabur keluar menggunakan sihir teleportasi dengan tenaga terakhirnya ke permukaan bumi.


‘Akhirnya ... aku keluar.’


Namun, energi yang dimiliknya tidak banyak. Jiwanya tertidur, sedangkan raganya tidak. Dan raga itu pun diambil alih oleh salah satu jiwa ganda yang tercipta dari berbagai siksaan.

__ADS_1


Sebuah lingkaran sihir berwarna biru mengelilingi dirinya. Secara pelan-pelan, lingkarans sihir itu memudar. Kini dia dapat melihat dengan jelas sebuah hutan di depannya.


“Apa yang sebenarnya terjadi? Di mana aku?” tanyanya kebingungan.


...*****...


Alam Pikiran Laciel Lucifer


“Itulah yang sebenarnya terjadi. Akulah Laciel yang asli. Dan kamu ... kamu hanyalah pengganggu. Bisa dibilang, jiwa penasaran yang gentayangan?” ucap Laciel yang asli kepada Laciel yang duduk di kursi di ruangan putih.


“Ini adalah alam pikiranku, dan itu adalah tubuhku. Kuharap kamu sudah memahaminya.”


“Lalu, apa yang terjadi setelahnya? Maksudku, apa yang kamu rasakan dan lakukan?”


“Aku mengawasi sambil menunggu waktu yang tepat untuk mengambil alih tubuhku. Kamu ingat saat aku berbicara kepadamu dalam mimpi?”


“Aku ingat.”


“Saat itu, energiku sudah terisi sebagian. Dan ketika hampir cukup, nyawamu dan aku terancam.”


“Oleh?” Dia tidak dapat tidak bertanya.


“Oleh Kaisar Singa. Kamu tidak ingat? Memangnya siapa lagi yang dapat memojokkanmu dengan kekuatanku? Hanya Zen. Aku terpaksa mengambil alih untuk sementara waktu. Terpaksa pula aku harus menunggu lagi demi mengumpulkan kekuatan.”


“Lalu, bagaimana caranya kamu dapat mengambil alih sekarang?”


“Berkat Hanafsah. Dia yang membuatnya menjadi mungkin. Aku yang asli mampu menahan efek dari ramuan rendahan. Sedangkan yang palsu tidak akan bisa.


“Memangnya siapa yang akan percaya kepada sebuah cerita tentang jiwa seseorang


yang pindah ke dunia lain dan langsung menjadi kuat tanpa ada hujan, tanpa ada angin? Pasti dunia itu sudah sangat gila.


“Cih! Untuk apa pula aku menceritakan semuanya kepadamu. Aku akan pergi sekarang.”


“Kamu akan pergi? Ke mana? Bukankah ini adalah alam pikiranmu?”


“Alam pikiran itu sangat luas. Yang kamu lihat hanyalah secuil dari secuil. Aku tidak masalah meninggalkanmu di ruangan sempit ini, asalkan aku tidak melihatmu lagi di kesempatan berikutnya. Selamat tinggal, Laciel yang palsu.”


...*****...

__ADS_1


...Jangan lupa like, komen, dan klik favorit, ya....


...Satu like dan komen kalian sangat berharga bagiku....


__ADS_2