
27 April 1163 Zaenium.
Ibu Kota Kerajaan Unkazar, Kekaisaran Beastman Marhamzan.
Malam hari.
Setelah mengalahkan Raja Jaguar di dalam duel, Laciel disambut dengan pesta mewah pada malam harinya. Banyak Beastman lain yang berkumpul untuk merayakannya.
“Anda sangat kuat sekali, Tuan Lucifer. Bahkan Anda adalah tipe Penyihir, bukan Petarung,” puji Yagwar.
“Ha ha, Anda terlalu memuji saya. Tidak perlu memanggilku tuan. Biasa saja,” balas Laciel. “Jadi, aku sudah lolos dari persyaratan sebagai rekan, bukan?”
“Tentu saja,” jawabnya.
“Apa rencanamu setelah ini?” tanya Laciel. “Kita tidak akan dapat menggulingkan Kekaisaran Beastman tanpa bantuan dari Kerajaan Beastman yang lain, kan?”
“Tentu saja, tentu saja. Silakan ikuti aku.”
Raja Jaguar berdiri lalu berjalan menjauhi kerumunan. Memasuki lorong ke arah istananya diikuti Laciel. Ruangan itu minim cahaya dan ventilasi. Tetapi, Laciel dan Yagwar sama-sama dapat melihat dalam kegelapan dan tidak terganggu dengannya.
“Yang Mulia, Tuan Lusifer,” Qormon menyambut mereka di ujung lorong. Membukakan pintu untuk mereka, dan menutupnya kembali setelah semua orang sudah masuk.
Ruangan itu diterangi cahaya bulan yang masuk lewat cerobong di tengah-tengah ruangan yang sekaligus menjadi ventilasi udara. Juga ada banyak lilin yang bertebaran di dinding. Ruangan itu terlihat seperti ruangan komando, rapat, atau semacamnya karena terdapat sebuah meja bundar besar di tengahnya, kursi-kursi yang berjejer, serta rak-rak buku.
“Qormon, tolong ambilkan peta Kekaisaran Beastman.”
“Siap, Yang Mulia.”
Tak lama, sebuah peta berukuran besar yang terbuat dari kulit dihamparkan di atas meja bundar. Peta itu hanya fokus pada Kekaisaran Beastman Marhamzan yang terbagi menjadi sebelas wilayah. Sepuluh di antaranya adalah Kerajaan Beastman yang masing-masing dikepalai oleh satu raja, dan sisa satunya adalah wilayah milik Kaisar yang diatur dan dibantu kepengurusannya oleh Dewan Kekaisaran.
Yagwar mengeluarkan 11 batu berwarna.
“Biru, mereka berpihak kepada Kaisar. Merah, mereka adalah pihak oposisi. Hitam, mereka belum memilih atau netral,” jelas Yagwar.
Ada 4 batu biru, 4 batu merah, dan 2 batu hitam.
__ADS_1
“Biru. Mereka adalah Kerajaan Lukaszan, Kerajaan Leo–pastinya, karena Kaisar yang sekarang adalah Beastman Singa–, Kerajaan Demondeus, dan Kerajaan Tigris.”
“Pihak oposisi. Yang sudah kupastikan untuk saat ini hanyalah Kerajaan Servini dan Kerajaanku. Pihak oposisi yang belum kupastikan adalah Kerajaan Orcus dan Sarkarius. Jika kita bisa meyakinkan keduanya, kita akan memiliki
kendali penuh di perairan Kekaisaran Beastman.”
“Dan pihak netral adalah Kerajaan Melankula dan Kerajaan Skandiazan. Jika kita bisa meyakinkan Raja Burung Hantu, setidaknya kita akan memiliki rekan yang bisa mengurus pasukan Ratu Elang.”
“Pertama, kita harus pergi Kerajaan Melankula, Panda. Dari situ, seharusnya kita bisa bertemu dengan Raja Beastman yang lainnya. Aku akan mengirimkan surat untuk mengabarkan kedatangan kita,” jelas Yagwar.
Laciel berpikir keras.
“Hmm, benar. Wilayahmu sangat tidak diuntungkan karena berbatasan dengan Kerajaan Demondeus di timur, wilayah Kaisar di selatan, dan Kerajaan Zamara di utara. Lalu, bagaimana dengan keamanan wilayahmu jika kamu pergi?” tanyanya.
“Kepengurusan kerajaanku akan aku serahkan kepada Qormon untuk sementara waktu. Dia adalah orang kepercayaanku. Juga, Raja Rusa akan membantuku menjaga keamanan wilayah,” jawab Yagwar.
Saat itu, pintu diketuk dari luar. Qormon membukanya.
“Sniff. Itu dia datang,” ujar Yagwar.
“Hoi, baramun halatur? (Yo, apa kabar?)”
*****
27 April 1163 Zaenium.
Sebuah dungeon di Kekaisaran Teokrasi Kavizen.
Malam hari.
Enam remaja terlihat sedang duduk dan beristirahat di sebuah ruangan yang kosong. Ruangan itu memiliki kegunaan seperti save point di dalam game. Sebuah ruangan istirahat sebelum melanjutkan perjalanan. Ruangan itu tidak terlalu luas, tetapi sudah cukup luas untuk membuat formasi pertahanan jikalau ada monster yang datang. Pintu menuju ruangan itu juga kecil. Membuat musuh hanya dapat berjalan satu per satu, hanya untuk dihabisi setelah sampai.
‘Siapa pun yang mendesain dungeon ini, dia sangatlah bodoh. Aku harus berterima kasih padanya,’ batin salah seorang remaja berjubah biru.
“Istirahat sudah selesai. Ayo, kembali bergerak,” ujarnya sambil berdiri dan memastikan pedangnya aman.
__ADS_1
“Anu ... Pangeran Heru,” salah seorang anggota party Pahlawan membuka suara.
Ia adalah Pahlawan Ranger yang dapat mengenakan banyak senjata, dari pisau, belati, pedang satu tangan, hingga busur panah.
“Ada apa?” tanya Pangeran Heru, si Pahlawan Pedang.
“Setelah berlatih di dungeon ini, kita akan mengalahkan Raja Iblis, bukan?”
“Benar. Dan sebelum itu, kita harus menjadi lebih kuat lagi. Ayok, kita pergi.” Heru segera berjalan memasuki lorong gelap. Diikuti oleh dua Pahlawan lainnya. Menyisakan Heru dan satu orang lagi.
“Arzilon, bagaimana menurutmu tentang latihan kita? Dan bukankah dia terlihat sangat merendahkan rakyat jelata, seperti kita? Dia bahkan tidak perlu repot-repot menghafal nama kita, apalagi memanggil dengan nama asli,” ujar
Zanero.
“Memang begitulah Bangsawan,” jawab temannya yang dipanggil Arzilon tersebut. “Bagaimana pun, ayok, kita semangat! Banyak orang yang menunggu di desa.”
Arzilon lalu melangkah pergi memasuki lorong.
“Kamu akan tetap diam di situ?”
Seseorang muncul dari kegelapan.
“Ka ... kamu! Zhean? Kamu mengagetkanku! Untuk apa kamu melakukan itu?” Zanero menyumpahinya telah melakukan itu. ‘Bahkan jika dia Pahlawan Assassin sekali pun, tidak perlu mengejutkan teman sekelompoknya.’
“Aku bisa melaporkanmu telah menghina Bangsawan, khususnya keluarga Kekaisaran, Pangeran Heru sekaligus Pahlawan Pedang,” ucap Zhean.
“Ka ... kamu ... serius akan melakukan itu?! Bukankah kamu juga hanya rakyat biasa dan tidak dipedulikan?” teriak Zanero.
“Aku hanya memperingatkanmu. Aku mungkin akan tutup mulut, tetapi tidak dengan bawahan Pangeran. Jangan sampai kamu terdengar, karena bahkan ... tembok memiliki telinga.”
Setelah mengatakan itu, Zhean kembali menghilang ke kegelapan seolah dia memang tidak pernah ada. Zanero juga segera menyusul yang lain di depan.
Tanpa seorang pun menyadari, sesosok bayangan muncul dari tempat mereka istirahat sebelumnya. Hanya sesaat, lalu sosok seperti asap tersebut menghilang sepenuhnya.
*****
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan klik favorit, ya.
Satu like dan komen kalian sangat berharga bagiku.