
14 Mei 1163 Zaenium.
Gerbang Utara, Ibu Kota Kerajaan Zamara.
Pagi hari.
“Grr. Graa!”
Nadja mengayunkan lengannya. Adipati Zerestia sudah berpindah tempat. Tempat berdirinya sebelumnya pun hancur dan tanahnya berhamburan. Kekuatan fisik Nadja sebagai Dragon memang besar. Akan tetapi, tentu saja dia tidak berniat untuk hanya menggunakan kekuatan fisiknya.
“Fire Breath!” Nadja pun memuntahkan api dari mulutnya.
Api merah membara itu merambat ke sekitar. Membakar mayat Orc dan pasukan kerajaan sekaligus membuat dinding pertahanan bagi Nadja. Dia pun tidak melewatkan kesempatan itu dan mulai menyerang Adipati Zerestia secara terus menerus.
“Fire Breath! Fire Breath!”
Adipati Zerestia terpaksa menghindar. Dia bahkan berusaha untuk menjauh dari pasukan agar serangan Nadja tidak mengenai mereka. Tetapi, akhirnya Adipati Zerestia tersadar kalau serangan Nadja sedari tadi masihlah sangat sederahana. Hanya serangan fisik serta Fire Breath. Itu menunjukkan kalau usianya masih muda.
Melihat Adipati Zerestia memancingnya untuk menjauh, Nadja tetap mengikutinya. Di saat dia berpaling ke samping, beberapa prajurit ada yang menembakkan panah, tombak, dan sihir kepadanya. Akan tetapi, itu semua sia-sia saja. Nadja tidak terluka sedikit pun. Malahan dia secara tidak sengaja mengayunkan ekornya sehingga menghancurkan sebagian gerbang sekaligus mengenai dan melempar beberapa orang yang tadi berusaha menyerangnya.
Adipati Zerestia terkejut melihat kalau Nadja secara tidak sengaja menyerang, tetapi dampak yang dihasilkannya sangatlah besar. Dia hampir saja terkena pukulan Nadja karena terkejut sebentar tadi.
“Melihat ke mana kamu?!” Nadja merasa diremehkan.
Dia lalu memporakporandakan area yang luas, tetapi tidak ada yang bisa mengenai sasarannya. Sedangkan Adipati Zerestia ....
Sring!
Sekali tebas dia tepat mengenai lengan Nadja. Sebuah luka yang dalam ditorehkannya.
“Grr ... !!! Pedang yang berbahaya!” Nadja mundur untuk menjaga jarak.
“Heal!” Dryad yang sedari tadi mengamati mulai mengobati Nadja begitu dia terluka.
“Terima kasih,” ucap Nadja.
__ADS_1
“Nadja, pedang itu terlihat tidak biasa. Berhati-hatilah,” ujar Hanafsah memperingatkan.
Tanpa diperingatkan sekali pun Nadja sudah mengetahuinya. Kulitnya sangatlah keras. Bahkan panah, tombak, dan sihir yang sebelumnya ditembakkan ke arahnya tidak ada satu pun yang mampu memberikan goresan sekecil apa pun. Akan tetapi, pedang itu ... sekali tebas bisa memberikan luka yang sangat dalam.
Mereka berdua masih berdiam. Nadja mulai berhati-hati terhadap pedang Adipati Zerestia. Sedangkan Adipati Zerestia sendiri mulai khawatir dengan staminanya. Semakin lama dia bertarung satu lawan satu dengan Nadja, dia yakin kesempatan untuknya menang akan semakin menipis. Dia merasa harus secepatnya mengakhiri duel ini.
Belum sempat si Adipati Zerestia melancarkan serangan yang lain, sesuatu terjadi. Hawa di medan pertarungan berubah menjadi pekat dan berat. Dua orang muncul dari ketiadaan.
Mendengar laporan dari Wraith kalau Nadja bisa terluka hanya karena satu goresan pedang membuat Laciel memutuskan untuk turun tangan. Dia tidak bisa kehilangan anggota 7 Dosa Besar. Dia pun segera berteleportasi ke medan perang setelah memerintahkan Hazura agar menggerakkan pasukan Cadangan. Sedangkan Nameer akan menemani Laciel.
Saat ini, di hadapan Adipati Zerestia adalah Laciel dan Nameer.
Laciel mengenakan Lamina of Darkness dan jubah sihir berwarna merah gelapnya. Dia juga membawa Pusaka Buku Sihir Tongkat Sihir warna hitam sepanjang satu meter. Sedangkan Nameer adalah sosok perempuan muda dengan rambut dan jubah putih.
“Kamu pasti adalah Maharaja Iblis, Laciel Lucifer, bukan?!” Adipati Zerestia berteriak marah.
Dia yakin dengan ingatannya bahwa Iblis di hadapannya saat ini adalah orang yang sama dengan orang yang membunuh Adipati Gazor.
“Tuan Adipati, tenanglah.” Kazor berdiri di sampingnya.
“Kazor, biar kuberitahu kamu. Ayahmu ... dibunuh olehnya.”
Adipati Zerestia menjelaskan alasan kemarahannya. Secara tidak langsung, dia juga ingin agar Kazor bertindak sama dengannya. Namun, reaksi Kazor sama sekali berbeda dengan harapannya. Dia tetap santai, lalu berkata, “Lalu? Apakah dengan marah bisa menghidupkan ayahku kembali?”
Perkataan sederhana dari Kazor menyadarkan Adipati Zerestia. Dia tidak sadar sudah termakan oleh amarah.
“Berpikirlah dengan kepala yang dingin. Amarah hanya akan membuatmu mati lebih cepat,” lanjut Kazor.
Adipati Zerestia menatapnya dengan keheranan. Dia tidak menduga kalau anak muda di depannya lebih bijaksana dari anak-anak lain seusianya, bahkan lebih kepala dingin daripada dirinya sendiri.
Setelah menyadarinya, akhirnya Adipati Zerestia mendinginkan kepala. Sesudahnya dia berkata kepada Laciel, “Akhirnya kita bertemu lagi. Kali ini aku tidak akan kabur!”
Tatapan matanya menjadi tajam. Kesadarannya sudah dia ambil alih dari amarah. Pedang Suci pun sudah dia acungkan. Dia sudah siap untuk mempertaruhkan nyawanya.
...***...
__ADS_1
14 Mei 1163 Zaenium.
Istana Ibu Kota Kerajaan Zamara.
Pagi hari.
Di saat pasukan Kerajaan Zamara sedang terfokus kepada Gerbang Utara, sebuah rombongan kecil justru sedang sibuk di dalam istana.
“Ke mana adikmu itu? Kenapa dia justru menghilang di situasi seperti ini?”
Mantan Ratu Zimeira von Zamara, ibu dari Raja Zed yang sekarang, sedang berlarian kecil di dalam istana. Bersama dengan Zed, mereka sibuk mencari keberadaan Putri Ayashe. Para prajurit pun juga dikerahkan. Tetapi mereka tidak pernah bisa menemukannya.
“Kita harus pergi sekarang. Kudengar Raja Iblis sudah turun tangan ke medan perang,” ujar Adipati Canaria kepada mereka berdua.
Mantan Ratu Zimeira pun sudah kalap. Dia tidak peduli dengan orang lain, bahkan anaknya sendiri. Yang lebih penting adalah dirinya sendiri selamat.
“Kalau begitu kita harus segera pergi!” teriaknya.
Mereka bertiga bersama dengan beberapa ksatria memasuki sebuah ruangan rahasia yang mengarah ke bawah tanah. Adipati Canaria menuntun mereka. Di bawah sana sudah ada dua kereta kuda yang siap berangkat beserta sedikit persediaan dan beberapa maid.
Tanpa menunggu lebih lama, mereka segera pergi meninggalkan istana melalui lorong tersebut.
Ibu Kota Kerajaan Zamara sudah memiliki struktur bawah tanah yang digunakan sebagai sistem saluran pembuangan air berupa lorong-lorong panjang. Pada akhirnya, lorong-lorong ini berarah ke luar kota. Sebagai antisipasi perluasan Ibu Kota dan meminimalkan kemungkinan lorong-lorong ini diketahui, semua ujung lorong itu dibuat sangat jauh dari Ibu Kota dan disamarkan sebagai sungai kecil.
Lorong evakuasi yang sedang digunakan oleh Zed dan yang lainnya pun tidak berbeda terlalu jauh. Tidak ada penerangan di dalamnya. Udaranya pun pengap karena tidak ada ventilasi udara. Kereta kuda mereka berjalan pelan karena jarak pandang yang terbatas meski sudah membawa obor.
Setelah beberapa waktu, akhirnya mereka sampai di ujung terowongan yang disamarkan menjadi berbentuk seperti goa. Hanya saja dasarnya dibuat sedikit rata untuk memudahkan kereta kuda melewati tempat tersebut.
Mereka pun akhirnya dapat bernapas lega dan melihat cahaya matahari. Kini mereka berada di hutan, selatan dari Ibu Kota. Adipati Canaria memilih lorong yang menuju selatan agar mereka bisa segera sampai ke daerahnya, Kadipaten Canaria di selatan.
Karena berada di hutan, terhalang pepohonan, mereka merasa aman karena mengira musuh tidak akan bisa melihat mereka. Sayangnya, mereka tidak mengetahui kalau Laciel sudah mengantisipasi dengan cara mengirim para Wraith ke sekitar Ibu Kota. Dan saat tadi mereka keluar dari sana, salah satu Wraith segera pergi untuk melapor, sedangkan sisa temannya mengikuti dua kereta kuda tersebut.
...*****...
...Jangan lupa like, komen, dan klik favorit, ya....
__ADS_1
...Satu like dan komen kalian sangat berharga bagiku....