
“Ugh!”
Laciel mengerang kesakitan. Kepalanya terasa sangat sakit sekali. Seperti baru saja diputar-putar ribuan kali tanpa jeda. Ingin rasanya muntah, namun tidak ada yang bisa dikeluarkan.
Setelah beberapa saat, kondisi mulai membaik. Saat itulah dia menyadari kalau ada suara berisik dari ruangan di seberang.
Melihat sekitar. Dia tahu sekarang sedang berada di mana. Dia sedang berada di dunia pikiran berdasarkan perkataan suara orang yang didengarnya.
Klang! Klang!
Suara logam berjatuhan terdengar. Lalu ada suara langkah kaki.
“Jadi, kamu baru sadar?” tanya suara itu dari sisi gelap.
Klang!
Laciel mencoba untuk bergerak, namun tidak bisa. Kedua kaki dan tangannya tersegel.
“Bagaimana rasanya terkunci seperti itu?” tanyanya lagi setelah Laciel tidak menjawab. “Kamu tidak akan dapat membayangkannya terkunci seperti demikian selama puluhan abad.”
“Siapa kamu? Kenapa kamu ada di dalam pikiranku?!” teriak Laciel.
“Pikiranmu? Sepertinya memang kamu tidak mengetahui keberanannya. Sebenarnya, ini adalah pikiranku,” jawab suara itu.
“Apa maksudmu ini adalah pikiranmu? Kenapa aku berada di sini?”
“Pertanyaan yang bagus.” Dia berjalan mendekati Laciel, namun belum sampai keluar dari bayangan. “Untuk menjelaskannya, lebih mudah kalau aku menunjukkan diri.”
Perlahan, sosok itu muncul di hadapan Laciel yang sedang terduduk. Sosoknya sama persis seperti dirinya. Seperti pinang dibelah dua.
“Aku adalah Laciel Lucifer ... yang asli!”
Laciel terdiam. Mencoba untuk mencerna dan memahami kalimat yang jelas artinya tersebut.
“Apa maksudmu?” tanya Laciel.
Sosok yang mengaku sebagai Laciel asli menghampirinya.
“Biar kuberitahu kamu.” Dia menatapnya lekat-lekat. “Kamu adalah jiwa buatan Zen, dimasukkan ingatan palsu seolah kamu reinkarnasi ke dunia lain, lalu menggunakan tubuhku berkeliaran sebagai Petualang.”
“Untunglah kamu tidak mencoreng nama baikku.” Dia membalikkan badan.
“Kamu tidak dapat dipercaya. Begitu pula cerita buatanmu!” cecar Laciel.
“Terimalah kenyataannya, Bo.doh.”
“Memangnya apa bukti dari perkataanmu?!” balas Laciel.
“Kalau begitu, biar kutanya. Dari mana kamu berasal?” tanya sosok Laciel.
“Tentu saja, dari dunia lain,” jawab Laciel.
“Tepatnya di mana, Bo.doh.”
“Jangan panggil aku bodoh!” Laciel merasa kesal dipanggil begitu.
“Kalau begitu, jawab saja pertanyaanku. Tepatnya, dari mana kamu berasal? Nama tempatnya? Budayanya? Nama kotanya? Nama ibu kotanya?”
__ADS_1
“Itu ....” Laciel terdiam. Dia berusaha keras untuk mengingatnya. Menggali informasi di dalam otaknya.
“Ada apa? Tidak bisa menjawab? Maka terimalah kenyataannya. Itu semua hanyalah ingatan palsu. Semuanya.”
Laciel masih diam. Dia tidak percaya ini.
Sosok Laciel yang menyebut dirinya adalah yang asli menoleh. Setelah melihat Laciel terduduk diam, dia berkata, “Jangan sebut dirimu Laciel Lucifer. Itu namaku. Carilah nama yang lain. Kalau tidak ada yang mau dibicarakan, maka aku akan pergi. Sampai jumpa lain kali.”
Sosok Laciel menghilang. Menyisakan Laciel seorang diri terkunci di atas kursi yang berada di ruangan bercahaya putih.
...*****...
12 Mei 1163 Zaenium.
Dungeon Utama, Hutan Redwood, Kerajaan Iblis Lucifer.
Malam hari.
“Ugh!” Laciel terbangun.
“Laciel! Untunglah kamu sudah sadar. Kamu tidak apa-apa?” tanya Hana dengan nada khawatir. Selainnya, ada Nadja dan Aigis yang juga mengerubungingnya.
“Menyingkirlah!” teriak Laciel memaki. “Di mana si vampir itu?” tanyanya.
Mereka bertiga merasa terkejut. Mereka juga takut kalau Laciel akan berbuat sesuatu yang buruk kepada Hanafsah.
“Dia sedang ditahan oleh yang lain di ruangan utama,” jawab Nadja.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Laciel segera berjalan.
Di ruangan utama, Hanafsah masih bertahan. Dia menolak untuk ditahan oleh bawahan Laciel yang lain.
“Kalau kamu memang bisa, maka lakukanlah. Aku menolah untuk menyerah!” balas Hanafsah.
“Kamu telah memberontak. Kamu berniat untuk mencelakakan Yang Mulia!” cecar Medusa.
“Ha ha ha! Iblis Tingkat Tinggi tidak akan kalah semudah itu kepada ramuan rendahan,” ucap Hanafsah. “Itu tidak akan menjadi masalah, seharusnya.”
“Tetap saja, tindakanmu tidak dapat dimaafkan!” kata Ogar si Orc.
Mereka semua mengelilingi Hanafsah.
“Aku yakin Tuanku yang asli akan memaafkanku. Justru beliau akan sangat berterimakasih kepadaku,” tambah Hanafsah.
“Perkataanmu sangat tidak masuk akal,” timpal Medusa. “Terpaksa kita harus menggunakan kekerasan. Semuanya, serang!”
Klang! Klang! Klang!
Semua serangan mereka terhenti di udara. Ada selaput sihir tipis yang melindungi Hanafsah.
“Cukup sampai di situ!” teriak Laciel mendekati ruangan utama.
“Yang Mulia!” Mereka semua mematuhi.
“Anda baik-baik saja?” tanya Medusa dan Hazura.
Laciel diam. Dia hanya terus berjalan hingga sampai di depan Hanafsah. Mereka berdua saling menatap satu sama lain. Mata mereka berdua sama-sama hitam dengan pupil merah.
__ADS_1
“Selamat datang, Yang Mulia Pangeran Agung Laciel Lucifer!” Hanafsah menunduk di depan Laciel. “Maafkan hamba yang baru dapat menyelamatkan Anda sekarang.”
“Aku ucapkan terima kasih. Tanpa bantuanmu, mungkin aku akan membutuhkan waktu yang lebih lama dari sekarang. Kekuatan yang kusimpan untuk kembali malah kugunakan saat diri ini terdesak saat berhadapan dengan Kaisar Leo,” balas Laciel.
“Kumpulkan semuanya. Aku akan mengadakan rapat penting.”
Setelah berkata demikian, Laciel pergi. Entah ke mana.
...*****...
Kastil Timur, Ibu Kota Kekaisaran Beastman Marhamzan.
Malam hari.
Seorang Beastman Kambing sedang berjalan di perpustakaan bawah tanah. Setelah sampai, dia mencari sesuatu. Tangannya bergerak lincah mengetikkan kata-kata seolah hidupnya memang didedikasikan untuk hal tersebut. Dengan otoritas admin, dia mengetikkan kata kunci ... “Laciel Lucifer”. Banyak artikel tertulis di sana.
[Nama : Laciel Lucifer
Ras : Iblis Tingkat Atas
Class : Dark Warrior, Summoner, Dark Magus, Fire Magus, Water Magus, Earth Magus, Wind Magus, [lihat selengkapnya]
Kekuatan Tempur : ...]
Saat itu, seseorang datang.
“Ternyata tempat ini dipasangi penghalang sihir teleportasi,” ucap Laciel mendekati si Beastman.
Si Beastman segera menutup layar digital. Namun, Laciel sudah melihatnya.
“Sepertinya ada banyak hal yang sebenarnya bisa terjawab di sini, jika kamu memiliki otoritas tertentu, bukan?” Laciel semakin mendekat.
“He he he, apa maksud Yang Mulia?” Beastman itu terlihat sedikit gugup. “Ugh!”
Laciel segera mencekiknya dan mengangkatnya ke udara.
“Ohani baal o atani odrah le iraat zikarat. Memory Reading!”
Laciel membaca ingatan milik si Beastman. Hingga akhirnya dia mengetahui tentang semua rahasia dari perpustakaan ini, dari kode masuk dan kode adminnya.
Bruk!
Dia melemparkan Beastman itu ke tanah. Kesakitan memegang lehernya.
“Kamu sudah tidak diperlukan lagi. Matilah!”
Slash!
Kepalanya terpisah dari badannya.
“Hmm. Jika ditinggalkan, lumayan sayang juga. Mungkin bisa kugunakan untuk memberi makan bawahanku.”
Dengan begitu, Laciel memasukkan mayatnya ke dalam inventory.
“Sekarang ....” Laciel melihat perpustakaan digital itu. “Sepertinya aku memiliki banyak waktu sebelum rapat dimulai.”
...*****...
__ADS_1
...Jangan lupa like, komen, dan klik favorit, ya....
...Satu like dan komen kalian sangat berharga bagiku....