
Laciel, Hana, Nadja, serta Nameer sedang berjalan di dalam hutan yang gelap. Memimpin di depan adalah Nadja yang terlihat seperti sedang mencari sesuatu.
“Sepertinya di sini.” Ujarnya membuyarkan keheningan.
“Sebenarnya, apa yang sedang kita cari?” tanya Hana.
Pertanyaan itu juga sangat ingin ditanyakan oleh Laciel sejak awal, tetapi dia menahannya dan membiarkan Nadja yang memberitahukannya ketika waktunya tiba.
“Arwah yang jasadnya telah mati, dan jasad yang telah ditinggalkan arwah.” Jawab Nadja.
“Apa yang ingin kamu lakukan?” tanya Laciel yang sudah tidak bisa menahannya lagi.
“Laciel,” Nadja memanggil.
“Ya?”
“Kamu adalah Iblis, bukan?”
“Benar.” Jawab Laciel singkat.
“Maka panggillah Iblis.” Ucapnya. “Aku tidak tahu bagaimana kamu bisa memanggil Naga dan Half Dragon. Tapi seharusnya kamu dapat memanggil Iblis yang tingkatnya berada sedikit di bawahmu, sama seperti aku yang memanggil spesies yang mirip denganku dengan kekuatan yang lebih lemah.” Lanjutnya.
“Lalu, kenapa kita harus mencari tempat yang ada arwah dan jasad yang telah mati?” tanya Hana.
“Bagaimana aku menyebutnya, ya?” Nadja tampak berpikir keras. Wajah imutnya tampak menjadi lebih imut di saat dia berpikir. “Iblis adalah Iblis. Dan monster adalah monster. Tetapi terkadang, monster yang memiliki kekuatan besar akan mendapatkan semacam pengakuan sebagai Raja Iblis. Seperti aku contohnya.”
“Laciel adalah Iblis dengan kekuatan yang besar. Dia bahkan bisa melakukan Summon terhadap yang bukan spepiesnya. Jadi seharusnya dia dapat memanggil Iblis lainnya. meski demikian, ada kemungkinan akan gagal, walau sedikit. Jadi, kita di sini agar Laciel dapat menggunakan kekuatan dari arwah dan jasad tersebut, lalu mengubahnya menjadi Ghost atau Wraith dan Undead, Zombie atau Skeleton, sebagai rencana cadangan.” Jelas Nadja.
Ah, begitu. Laciel akhirnya memahami. Ini sangat mirip, tidak, bahkan sama, dengan sistem di dalam game. Memang benar, di awal permainan, aku memulai karakterku dengan ras Undead. Aku memilih Undead tentu saja karena sudah memikirkannya secara matang. Banyak keuntungan yang didapat dibandingkan memilih monster ras lainnya, seperti Skeleton, ataupun Wraith.
Tapi, melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan ataupun kulihat? Bagaimana caranya? Laciel berpikir lama.
Sihir? Mantra? Rapalan? Ucapan? Bahasa?
Tunggu, mantra yang digunakan di dalam game dan di dunia ini menggunakan bahasa yang terprogram. Itu artinya, dengan mengubah sedikit di bagian monster yang akan dipanggil, maka berbedalah hasilnya. Itu dia. Laciel gembira seolah memenangkan sebuah kuis dan tertawa.
“Laciel, ada apa?” tanya Nadja.
Mereka berdua kaget dengan Laciel yang tiba-tiba melamun sendiri lalu tertawa seolah-olah dirasuki Jin. Tunggu, emangnya Iblis bisa kerasukan Jin?
__ADS_1
“Ah, tidak, tidak. Tidak apa-apa. Aku hanya berhasil menemukan caranya. Kini, saksikanlah kekuatanku yang sesungguhnya.” Ujarnya dengan percaya diri.
Dia lalu membaca mantra sihir Summon, dan mengubahnya sedikit di beberapa bagian. Dia juga membaca mantra sihir Pemulihan Mana untuk merestorasi mana-nya yang hilang akibat perapalan mantra.
Memang hasilnya akan membutuhkan waktu yang lumayan lebih lama. Tapi itu sangat efisien untuk digunakan sekaligus.
Sebuah lingkaran sihir, tidak, beberapa sekaligus, muncul dan mengelilingi Laciel. Lingkaran sihir berwarna biru di bawah kakinya adalah hasil dari mantra sihir Pemulihan Mana. Lalu sisanya ada tiga lingkarang berwarna hitam, satu besar, dan dua lainnya lebih kecil, berputar di sekeliling Laciel.
Mantra sudah selesai diucapkan. Kemudian, tanah bergetar. Burung-burung terbang dan berkicau panik. Para penjaga kota dan beberapa warga yang bangun panik.
Dari tanah yang bergetar itu, muncul sepasukan Skeleton, dan sisanya adalah Wraith. Skeleton, sebagian dari kalian pasti sudah tahu, adalah monster yang bangkit dari kematian dan berwujud tengkorak. Sedangkan Wraith adalah monster yang lahir dari kematian dan berwujud seperti hantu. Jumlah mereka semua mencapai puluhan, hampir seratus.
Beberapa ada yang bermutasi. Ini adalah efek dari eksperimen Laciel yang menamai mereka secara random. Dan itu berhasil.
Skeleton yang bermutasi menjadi monster tengkorak yang sangat besar, dan terkumpul dari beberapa potongan tulang makhluk hidup. Ada beberapa tengkorak yang terlihat di lutut, pinggul, dada, maupun pundaknya. Selain itu, ada sepasang gading di belakang punggungnya. Ada beberapa lainnya yang bermutasi juga, tapi tidak terlalu mencolok sepertinya.
Di lain sisi, adalah Wraith yang bermutasi. Ada tiga Wraith yang terlihat seperti Magic Caster, di saat yang lain terlihat menggunakan pedang. Lalu, di tengahnya adalah satu Wraith yang terlihat lumayan tinggi dan besar. Sebuah aura ungu berkilau di sekitarnya. Di masing-masing tangannya, dia menggenggam dagger yang memancarkan warna ungu pula.
Lalu, dari sebuah lingkaran sihir yang terakhir, muncul di hadapan Laciel, berlutut seorang Iblis. Tubuhnya berwarna merah menyala seolah terbuat dari magma. Tombak trisula yang digenggamnya tampak sangat mengintimidasi. Itu bahkan lebih panjang dari tinggi tubuhnya sendiri. Dua tanduknya panjang dan melengkung ke belakang atas.
Di sekitarnya ada empat makhluk yang mirip Imp. Warna kulitnya merah gelap. Memiliki sepasang sayap yang lebar, tanduk yang panjang, dan ekor yang melengkung.
Di hadapan Laciel, mereka semua bertekuk lutut.
...*****...
Malam hari.
“Apa yang terjadi?” tanya Marquis Falimus yang mengenakan pakaian tidur yang tipis yang terbuat dari sutra.
“Ada sebuah getaran, Tuan. Asalnya bersumber dari Bukit Galatia di utara.” Jawab salah satu dari Ksatria di hadapan Marquis.
“Apa penyebabnya sudah diketahui?” tanyanya sambil berjalan. Mengisyaratkan agar para Ksatria itu mengikutinya.
“Belum. Kami baru mengirim beberapa Ksatria dan sedang menunggu laporan.”
Mereka berjalan menelusuri lorong yang remang menuju ruangan kerja. Di depan pintunya ada empat Ksatria yang berjaga.
Di dalam ruangan sudah hadir empat Count bawahan Marquis, termasuk Count Dafin. Mereka terlihat menunggu dalam keadaan gelisah atas situasi yang belum diketahui ini.
__ADS_1
“Kapan Ksatria yang sudah dikirim akan melapor?” Marquis langsung bertanya begitu dia duduk di kursinya.
“Seharusnya tidak lama lagi.” Ujar Ksatria yang masih mengikutinya.
Dia adalah Jenderal Ksatria bawahan Marquis. Jabatannya bahkan dapat disetarakan dengan Count yang membantu pengurusan wilayahnya. Itu juga karena dia adalah Keluarga Bangsawan Count, sehingga dia dapat memasuki ruangan itu.
Situasi yang gawat ini, dan kita hanya bisa menunggu, huh? Batin Marquis tidak bisa tenang karena tidak ada yang bisa dia lakukan.
“Menurut kalian, apa yang terjadi? Apakah Kekaisaran yang ingin menyebabkan kekacauan atau ada hal lain?” Marquis bertanya sekadar menghidupkan suasana.
“Ada kemungkinan ini adalah ulah Kekaisaran, Tuan.” Ujar salah satu Count.
“Tidak. Kekaisaran memiliki harga diri. Mereka tidak mungkin melakukan hal sekotor ini.” Timpal yang lain.
“Mungkin saja mereka sudah bosan dan menggunakan cara licik?”
“Tuan, saya memiliki sebuah hipotesa.” Ucap Count Dafin.
Semua orang lalu memandang ke arahnya.
“Apa itu?” Pertanyaan Marquis mewakili setiap benak orang di dalam ruangan tersebut.
“Bukit Galatia adalah medan perang di masa lalu. Tidak ada yang tidak setuju jika disebut kalau bukit itu sendiri adalah makam raksasa.” Ucapannya didiamkan tanda semua orang setuju. “Kemungkinan besar, jasad dan roh dari perang masa lalu itu bermanifestasi menjadi monster dan baru terbangun sekarang.”
“Itu benar.”
“Bisa jadi.”
Seruan membenarkan terdengar.
Marquis dan Jenderalnya hanya terdiam. Memikirkan setiap kemungkinan yang ada, dan itu semua semakin membuktikan kebenaran ucapan Count Dafin.
“Apakah kita perlu menyiapkan pasukan sekarang?” Marquis bersuara setelah hening yang tercipta.
“Bersiap-siap sebelum terjadi sesuatu adalah sebuah kebijaksanaan, Tuan.” Sahut Jenderalnya mendukung.
“Jenderal Azuma, siapkan pasukan dan perkuat pertahanan di benteng utara. Kirim tiga regu pengintai secepatnya.” Marquis memberi perintah.
“Siap. Laksanakan.” Balas Jenderal.
__ADS_1
...*****...
...Jangan lupa like, komen, dan klik favorit, ya....