Sent To Isekai As Demon King

Sent To Isekai As Demon King
Eps 29 : Rapat Besar


__ADS_3

Musim semi, 4 April 1163 Zaenium.


Daerah pesisir Hutan Redwood sebelah selatan, Duchy Royal Capital, Kerajaan Zamara.


Siang hari.


Setelah perjalanan yang panjang, akhirnya Marquis Falimus de Harbisium telah sampai di pos utama pasukan Duke Royal Capital. Banyak Ksatria yang mondar-mandir mempersiapkan banyak hal. Banyak juga kereta kuda yang berlalu-lalang membawakan kotak kayu berisi senjata, zirah, maupun makanan.


Kereta kuda milik Marquis Falimus berjalan langsung menuju pusat komando di tenda utama. Tenda itu lebih besar dibandingkan yang lainnya. Berwarna merah, putih dan biru–merupakan warna yang terdapat di bendera Kerajaan. Di luar terlihat beberapa Ksatria yang menjaga pintu masuk.


“Jenderal Marquis Falimus de Harbisium dan Wakil Jenderal Count Dafin de Emynia, telah datang!” teriak lantang salah seorang Ksatria di sudut pintu masuk tenda.


Di dalam sana sudah terdapat beberapa orang Ksatria dan beberapa lagi terlihat seperti seorang petinggi pasukan telah duduk di kursi yang tersedia.


“Yo, apa kabar, Falimus?” Duke Fazerin de Zerestia menyapa ringan.


“Ah, halo, Duke Zerestia, Duke Gazor.” Marquis membalas sapaan informal itu.


Duke Gazor, alias Duke Royal Capital, menatap Marquis Falimus dan Count Dafin yang baru masuk dalam diam.


Duduk di salah satu kursi, masih ada satu kursi lain yang belum diisi. Tanpa bertanya pun dia sudah tahu siapa yang seharusnya duduk di sana.


“Apakah Marquis Ezar tidak datang bersamamu, Duke Fazerin?” tanya Marquis membuka percakapan sehabis ditatap oleh Duke Gazor tanpa berkata apa-apa.


“Ah, itu, tidak. Dia bilang kepadaku kalau ingin melakukan sebuah rapat kecil bersama pasukannya terlebih dahulu, lalu menyusul nanti. Kukira dia akan datang bersamamu.” Jawab Duke Fazerin. “Apakah belum ada kabar darinya?”


Seorang Ksatria di belakangnya menjawab, “Belum ada, Tuan.”


Saat itu, seorang Ksatria lainnya datang dan masuk ke dalam tenda.


“Tuan, Tuan Marquis Atlanta mengirim surat. Dia bilang hanya akan mengirimkan wakilnya saja untuk menghadiri rapat.” Ujarnya memberikan surat itu kepada Duke Zerestia.


“Dia …!” Duke Zerestia geram karena marah.


Bisa-bisanya bawahannya bertindak sendiri seperti ini. Ini sama seperti mencoreng namanya di depan orang lain.


“Isinya mengatakan kalau dia akan mengurus bila ada monster yang berencana kabur ketika para petinggi sedang berkumpul.” Jelas Ksatria itu menambahkan.

__ADS_1


“Meski begitu,” ucapan Duke terhenti oleh Marquis Falimus yang berusaha menenangkannya.


“Ah, tidak apa-apa, Tuan Fazerin. Bahkan aku juga meninggalkan Count Morsela di pasukanku untuk bertindak bila ada keadaan darurat. Itu dapat dipahami bila dia bertindak seperti demikian.” Ucap Marquis Falimus.


Duke Gazor tetap diam mendengarkan. Baginya, ada atau tidak adanya Marquis Atlanta tidak akan merubah keseluruhan rencananya. Itu karena arah utara dan timur adalah bagian Duke Zerestia. Jadi, dengan adanya dirinya, itu sudah lebih dari cukup.


“Huft. Lalu, bagaimana dengan wakilnya? Apakah sudah sampai?” tanya Duke Fazerin.


“Itu ..., belum. Seharusnya dia sudah sampai siang ini.” Jawab Ksatria itu lalu izin pergi karena telah menyelesaikan tugasnya dan tidak ingin berlama-lama di tengah kumpulan monster dalam wujud Manusia itu.


“Sepertinya kita sudah bisa memulainya sekarang.” Duke Gazor akhirnya berbicara setelah sekian lama berdiam diri.


Dengan ucapannya itu, dia mengakhiri perselisihan tentang wakil dari utara, dan membuatnya jelas kalau itu adalah tugas bagi Duke Zerestia.


Rapat itu lalu dimulai. Berawal dengan laporan Marquis Falimus di saat pertama kali bersinggungan dengan “Raja Iblis” di Bukit Galatia. Marquis mengatakan tentang ribuan jejak dan bekas sihir, yang sudah diketahui semua orang dari surat yang dikirimkannya. Lalu, ratusan monster yang menghilang sekejap. Dan terakhir tentang kemungkinan keberadaan mereka di Hutan Redwood.


Sampai sore hari, rapat itu masih berlangsung. Di saat Duke Royal Capital masih menjelaskan rencana penyerangan serta taktik dan keputusan di saat darurat, seorang Ksatria datang tergesa-gesa. Seharusnya, itu sangatlah terlarang mengganggu perkumpulan para Bangsawan. Tapi, melihatnya berani melanggar itu, itu artinya dia membawa sebuah berita yang sangat penting.


“Tuan! Para monster telah menyerang! Mereka telah menyerang sisi barat!” ujarnya.


...*****...


Menyerang di saat para petinggi pasukan sedang berkumpul adalah sebuah langkah cerdas yang hanya dapat dilakukan oleh makhluk berakal. Lawan mereka kali ini sudah dapat dipastikan adalah Raja Iblis, setidaknya.


Tetapi, bukan waktunya untuk itu. Duke Zerestia bangkit dengan wajah panik.


“Bagaimana dengan Ezar? Apakah ada kabar darinya?” tanyanya resah.


“Be– belum ada kabar dari utara. Kami baru dapat informasi dari barat.” Jawab Ksatria itu.


“Bagaimana dengan Jenderal Azuma?”


Kini yang bertanya adalah Marquis Falimus.


“Untungnya Tuan Azuma masih hidup. Berkat beliau, pasukan di barat masih dapat bertahan.”


Duke Zerestia berusaha berjalan keluar, tetapi tertahan oleh ucapan Duke Gazor.

__ADS_1


“Jika ia masih selamat, maka ia akan mengirim pesan. Jika tidak, maka tidak.”


“Aku akan tetap mencarinya.” Ujar Duke Zerestia.


Tetapi, belum sempat dia keluar, dia sudah merasakan aura membunuh yang ditujukan kepadanya.


Ctang!


Dia seketika mengeluarkan pedangnya dan menahan senjata musuh. Itu adalah Assassin Wraith. Mereka ada beberapa.


Bruk! Bruk!


Beberapa Ksatria di depannya sudah tewas di tempat bahkan sebelum dapat melakukan apa pun.


Ctang! Ctang! Ctang!


Duke Zerestia hanya dapat menangkis serangan yang diarahkan kepadanya. Dia tidak dapat menyerang atau melukai Roh kecuali dengan sihir. Untungnya, di dalam tenda itu ada beberapa Penyihir yang sudah mulai merapalkan mantra begitu melihat Wraith menyerang.


“Si*l! Si*l! Si*l!” Duke Zerestia berteriak sembari menangkis.


Merasa serangannya tak dapat menembus pertahanan Duke itu, si Wraith beraura hitam itu mulai mengincar orang lain. Dengan cepat, dia dapat menemukan seorang Manusia yang memiliki aura hebat sedang diam di pojokan tenda. Menghindari beberapa serangan sihir dengan mudah, dia sampai dengan cepat di hadapan targetnya.


Tapi, sepertinya itu adalah sebuah kesalahan.


Slash!


Hanya dengan satu serangan pedang yang dialiri dengan mana sihir, Duke Gazor mengakhiri hidup Roh itu. Sisanya juga dibereskan dengan cepat oleh Marquis, dan Duke Zerestia yang sedang terbakar emosi.


“Huft, huft. Sepertinya mereka masih banyak di luar.” Ujar Marquis Falimus.


...*****...


Antara pemanggil dan monster yang dipanggil terdapat suatu ikatan di antara mereka. Ikatan itu akan menghilang bila yang dipanggil telah mati. Dan monster yang dipanggil akan menghilang, kembali ke tempat asalnya, jika yang memanggil mati. Itu adalah peraturan di dunia ini.


Dan kini, Laciel merasakan ikatannya dengan beberapa Wraith itu menghilang secara bersamaan. Itu artinya, para Wraith itu telah dikalahkan. Tapi, dia tidak memedulikan itu. Dia dapat memanggil monster lainnya nanti. Yang dipedulikannya adalah fakta kalau orang yang mengalahkan mereka adalah seseorang yang kuat. Dia merasa bersemangat setelah mengetahui ada lawan yang cocok untuknya sejak kedatangannya ke dunia ini.


...*****...

__ADS_1


...Jangan lupa like, komen, dan klik favorit, ya....


__ADS_2