
3 Mei 1163 Zaenium.
Kerajaan Unkazar, Kekaisaran Beastman Marhamzan.
Malam hari.
Pertempuran berlangsung lama karena semua rakyat Kerajaan Unkazar tidak mau berevakuasi dan malah ikut bertempur di sisi prajurit. Apalagi, pertempuran dimulai pada sore hari. Dan dengan cepat malam datang membawakan keuntungan kepada pihak mereka.
Tidak mau mengambil kerugian yang lebih besar karena waktu dan geografi yang berbeda, Ratu Tigris memerintahkan pasukannya untuk mundur sementara.
“Apakah dia belum datang juga?” Tigris bertanya dengan ekspresi kesal.
“Belum, Yang Mulia,” jawab Lynx yang bernama Rins, pengawal pribadi Tigris.
“$S1.4L!” Tigris berteriak dan mengacaukan tenda komando.
Bawahannya memilih diam. Membiarkan ratu mereka melepaskan semua emosinya.
“Secara keseluruhan, kita seimbang dengan mereka. Jika tidak ada bantuan, maka kita hanya harus mengeluarkan yang terbaik,” ucap Tigris setelah emosinya sedikit terkendali.
“Siap, Yang Mulia!”
Malam itu, mereka beristirahat untuk memaksimalkan kekuatan mereka keesokan harinya.
Di sisi lain. Viksen sedang mengadakan rapat komando. Ditemani oleh Qormon dan banyak jenderal Kerajaan Unkazar.
“$1.4L! $1.4L, $1.4L, $1.4L, $1.4L, $1.4L!” Viksen menghentakkan kakinya dengan kesal. “Kita mungkin unggul dalam hal kuantitas, tapi kita kalah dalam hal kualitas.”
“Tuan Viksen, saya rasa, para warga tidak perlu ikut membantu. Banyak sekali korban, hampir semua dari mereka. Mari kita evakuasikan mereka dengan cepat,” saran Qormon.
“Itu benar, Tuanku. Kami di sini adalah untuk melindungi rakyat, bukan apa-apa,” ungkap jenderal yang lain.
“Tuan-tuan, izinkan kami ikut membantu!” Itu adalah salah satu warga yang dihormati, dan menjadi perpanjangan tangan untuk rakyat, serta pemimpin yang setara dengan kepala desa. “Lebih baik kami tewas karena melindungi tanah kami, daripada kabur menjadi seorang pengecut. Bukankah itu moto kita?”
“Hidup sebagai Pemenang, atau tewas sebagai Pejuang!” warga yang lain, yang ikut rapat, meneriakkan moto kerajaan mereka.
“Hidup sebagai Pemenang! Atau tewas sebagai Pejuang!” teriakan-teriakan itu terdengar berkali-kali di dalam ruangan rapat.
Bahkan, warga yang ikut menyimak di luar juga turut melantunkan moto itu. Semuanya semangat membela tanah kelahiran mereka. Mendengar keinginan mereka, Viksen tidak dapat menolak. Meski dia dipercayai oleh Yagwar, tetapi dia tetaplah orang luar, dan mereka adalah warga asli.
“Seharusnya kabar tentang kedatangan pasukan Kaisar ke kerajaan ini sudah terdengar oleh Raksus. Dia pasti sudah memobilisasi pasukan untuk membantu kita,” kata Viksen kepada Qormon setelah rapat selesai. Tersisa mereka berdua saja di ruangan tersebut.
“Ah, Tuan Raksus itu adik Anda, bukan?” tanya Qormon memastikan.
“Benar. Dia sangat gila perang. Bahkan hampir saja dia menolakku mentah-mentah karena kusuruh menjaga kerajaan saat aku pergi. Dia sangat tidak suka disuruh dan diam di satu tempat dalam waktu lama,” jelas Viksen.
“Lalu, kenapa beliau mau menerima perintah Anda?”
__ADS_1
“Tentu saja karena diperintahkan oleh ayahku. Untung ayahku masih menerima aku minta mengurus masalah internal kerajaan. Ah, aku ingat pernah mengatakan kepada adikku kalau bisa saja nanti akan ada perang mendadak, dan kuizinkan dia untuk membawa pasukan. Aku tidak menyangka kalau saat itu adalah sekarang,” lanjut Viksen.
“Ucapan memang memiliki dampak yang kuat, Tuan. Aku bahkan tidak menyangka kalau aku bisa menjadi tangan kanan tuanku. Apa Anda mau mendengar ceritanya?”
“Duduklah dan ceritakan. Malam masih akan sangat panjang.”
“Ah, tidak, itu hanya cerita singkat.” Qormon duduk di kursi seberang Viksen. “Dulu, aku berniat untuk menjadi kuat, berlatih setiap hari, meneriakkan kata-kata “Aku kuat” dan semacamnya, dan seterusnya. Hingga, aku dilihat oleh tuan Yagwar dan dia memintaku untuk menjadi tangan kanannya.
“Itu sangat memberikanku motivasi untuk menjadi kuat seiring berjalannya waktu. Hingga saat ini, cita-cita itu tercapai. Aku menjadi Beastman terkuat kedua setelah tuanku di kerajaan ini,” cakap Qormon.
“Dunia itu sangat luas, Qormon. Bahkan kamu saja masih menjadi yang terkuat kedua. Kamu tahu? Bahkan ada orang di luar sana yang menganggap dirimu biasa-biasa saja, bahkan tidak berharga. Bahkan meski ada 10 atau 100 dari dirimu.
“Apakah kamu tidak ingin menjaga tuanmu? Dunia ini kejam.”
Ucapan Viksen menyadarkannya. Apa yang baru saja dia capai saat ini masih jauh dari cita-citanya yang sesungguhnya.
“Tapi, kata tuanku, ‘Pelindung terbaik adalah diri sendiri’.”
“Tuanmu tidak salah. Itu adalah mindset seorang Pemimpin. Tetapi, kamu adalah tangan kanan, pelindung dan pengawal raja. Mindset-mu seharusnya adalah menjadi lebih kuat dari tuanmu. Agar, saat tuanmu kalah oleh seseorang, atau bahkan jauh sebelum dia kalah, kamu dapat melindunginya dengan kekuatanmu,” terang Viksen.
“Ah, begitu ternyata. Anda sangat bijak sekali, Tuan Viksen. Aku akan mengikuti saranmu!” puji Qormon.
“Sekarang, istirahatlah. Masih ada pertempuran di depan pintu kita.”
“Siap, Tuan!”
...*****...
Kerajaan Unkazar, Kekaisaran Beastman Marhamzan.
Siang hari.
Dua pasukan sudah siap di tempatnya masing-masing. Mereka terlihat seperti bermain petak umpet, polisi maling, atau kucing tikus. Pasukan yang dipimpin Tigris sebagai kucing, pihak yang mengejar. Sedangkan, pihak yang dipimpin oleh Viksen seperti tikus. Mereka bersembunyi di tempat-tempat yang mereka kuasai layaknya rumah sendiri. Bersiap menyerang musuh ketika sudah mendekat.
Untungnya, alam sedang memihak mereka. Angin bergerak dari arah selatan, dari pasukan Tigris, ke utara, di mana pasukan Kerajaan Unkazar berada.
“Belum ada kabar dari adikku?” tanya Viksen.
“Belum, Tuan,” jawab Qormon. “Seharusnya mereka sampai di sini pagi ini.”
Di sisi lain.
“Belum ada kabar dari Ratu Kelelawar?” tanya Tigris.
“Belum, Yang Mulia,” jawab Rins. “Sepertinya mereka sudah benar-benar berkhianat!”
“Cih, apa boleh buat. Kedatangan mereka akan menjadi sebuah keajaiban, dan aku tidak suka itu! Tidak ada perlunya lagi untuk mengulur waktu. Perintahkan pasukan untuk menyerang.”
__ADS_1
“Baik!”
Saat Rins hendak pergi, Lynx yang lain datang. Dia adalah pengintai.
“Yang Mulia, ada pasukan dari barat!” lapornya.
“Barat?! Apakah Viksen sudah mengirimkan pasukannya ke sini untuk membantu Yagwar?” Nada suaranya terdengar pesimis.
Dia mengulur waktu awalnya untuk menunggu kedatangan pasukan tambahan dari sekutunya. Tetapi, itu malah digunakan oleh musuh untuk mendapatkan bantuan juga? Tentu saja dia sangat kesal jika itu terjadi.
“Bukan, Yang Mulia. Itu bukan pasukan Kerajaan Servini. Itu adalah pasukan langit dari Ratu Elang Kalinda. Itu pasukan bantuan!”
“Pasukan bantuan?”
Seruan kegirangan terdengar di seisi tenda komando.
“Hah ... ha ha. Untunglah!” Tigris terduduk di atas kursinya. Dia sangat syok karena terlalu banyak berpikir buruk. “Baguslah. Apa yang kalian tunggu? Segera serang para pengkhianat itu!”
“Baik, Yang Mulia!”
Pasukan langit datang tak lama kemudian. Jenderal pasukan itu datang masuk ke tenda komando.
“Lapor, Nona Tigris VII,” Beastman Elang itu berlutut di depan Tigris. “Heremia, Jenderal Angkatan Udara Kerajaan Lukaszan, siap menerima perintah Anda. Yang Mulia Kaisar langsung yang memberikan perintah.”
‘Heh, jadi Kaisar juga sudah menduga tentang kemungkinan pengkhianatan Hanafsah,’ batin Tigris.
“Awalnya, aku mengira pasukan yang datang adalah dari Kerajaan Servini. Ternyata itu adalah kalian,” ucap Tigris.
“Pasukan dari Kerajaan Servini sudah diurus oleh Jenderal lainnya. Kaisar juga sudah mengantisipasi keterlibatan Raja Viksen dengan Raja Yagwar,” papar Heremia.
“Eh, jadi mereka beneran datang? Aku tidak menyangkanya.” Tigris terlihat terkejut. ‘Ternyata Kaisar lebih siap dari yang kuduga. Kukira dia hanyalah ‘Raja Hutan’ secara kiasan, tetapi sepertinya itu adalah benar apa adanya.’
Sifat optimis terlihat dengan jelas sekarang di wajah mereka. Sangat berbanding terbalik dengan sisi yang berlawanan.
“Yang Mulia! Ada pasukan dari barat!” lapor pengintai dari Kerajaan Unkazar.
“Akhirnya, adik Anda datang juga, Tuan Viksen,” ujar Qormon merasa lega.
“Bukan, Tuan. Itu adalah pasukan langit dari Kerajaan Lukaszan,” balas pengintai yang melapor.
Raut wajah yang senang kini berganti menjadi suram. Harapan tidak sesuai dengan kenyataan.
...*****...
...Jangan lupa like, komen, dan klik favorit, ya....
...Satu like dan komen kalian sangat berharga bagiku....
__ADS_1