
13 Mei 1163 Zaenium.
Ruangan Raja, Istana Harem Kerajaan Zamara.
Pagi hari.
Zed telah berhasil mengamankan pengaruhnya. Sebagian besar bangsawan telah mendukungnya. Sebagian adalah kelompok Adipati Canaria. Sebagian lainnya adalah mereka yang tidak setuju dengan ucapan ayahnya, setidaknya sedari kekalahan mereka di Peperangan Hutan Redwood dan meningkat saat rapat tadi.
Selain itu, dia juga berhasil mengamankan keseimbangan antar Adipati. Adipati Canaria dengan kelompok bangsawannya yang masih kuat dan semakin berkuasa di saat dirinya menjadi Raja, secara dia adalah keponakannya. Adipati Zerestia yang menjadi Tuan baru dari Pedang Suci. Dan terakhir adalah calon Adipati, Marquis Harbisium yang namanya melambung tinggi sejak dia berhasil bertahan di Peperangan Hutan Redwood.
Meski sudah berhasil mengamankan keseimbangan tersebut, dia tetap membutuhkan keberpihakannya, setidaknya salah satu dari dua yang belum. Dan orang yang paling memiliki pengaruh besar adalah Adipati Zerestia yang saat ini berada di hadapannya.
“Adipati Zerestia,” panggil Zed.
“Ah, maaf, Yang Mulia. Anda memanggilku?” Adipati Zerestia segera tersadar.
“Apakah kamu akan ikut denganku merubah kerajaan ini menjadi lebih baik lagi?” tanya Zed.
Adipati Zerestia terdiam. Dia lalu menatap Zed dengan tatapan yang sangat tajam disertai dengan hawa membunuh yang pekat. Beberapa pengawal pribadinya segera melindungi Zed karena takut Adipati Zerestia tidak setuju dan akan membunuhnya.
Adipati Canaria juga berdiri di tengah. Dia berdiri di barisan paling depan. Berhadapan langsung dengan Adipati Zerestia. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi ketakutan meski tahu kehebatan tentang Pedang Suci dan Penggunanya.
Jika Adipati Zerestia ingin, dia akan sampai ke Zed dengan mudah meski harus melewati banyak orang. Karena di tangannya saat ini ada sebuah senjata sekelas 7 Artifak Dosa Besar. Akan tetapi, dia tidak melakukan hal tersebut.
Sambil berdiri tegak, dia membuka mulut lalu berkata, “Tentu saja TIDAK!!! Aku TIDAK berniat untuk menyerah dan menyerahkan! Aku akan membalaskan dendam ini, dan dendam semua yang tewas di Peperangan Hutan Redwood! Aku TIDAK akan memaafkannya!”
Perkataannya dipenuhi dengan kebencian yang mendalam dan semangat yang membara berapi-api. Mendengarnya, Zed tersenyum. Lagi. Dia sudah berhasil mengamankan keseimbangan dan keberpihakan. Sifat dan ucapan ayahnya memuluskan semua perjalanannya.
Sebaliknya, Adipati Canaria memendam rasa benci yang amat kuat. Dia lebih rela tewas dibunuh Adipati Zerestia dan dikenang sebagai Pahlawan yang melindungi Rajanya, daripada harus bersaing dengannya dengan Pedang Suci.
__ADS_1
Dia juga takut kalau Adipati Zerestia akan kembali mendapatkan namanya jika dia berkontribusi banyak di medan perang nanti. Apalagi dengan Pedang Suci di sisinya.
Seorang Penasehat Raja yang pro dengan Adipati Zerestia dan kontra dengan Adipati Canaria berkata kepada Zed, “Yang Mulia, jadikanlah Adipati Zerestia sebagai Panglima Perang. Dia memiliki lebih banyak pengalaman dan kemenangan. Pedang Suci pun mengakui kemampuannya.”
Adipati Canaria membalas, “Yang Mulia Raja kami, Adipati Zerestia pernah kalah dari Raja Iblis Lucifer. Lebih baik kita tidak perlu bergantung banyak kepadanya. Izinkan saya yang menjadi Panglima Perang!”
Bisik-bisikan para bangsawan terdengar semakin memanas. Semuanya saling menjatuhkan, dan menyebutkan kesalahan satu sama lainnya. Zed semakin tersenyum. Dia bahkan harus berusaha lebih keras menahan senyumnya karena sangat senang sekali.
‘Setidaknya aku tidak akan dikhianati dan ditusuk dari belakang. Sepertinya cara adu domba dan faksi adalah hal yang bagus untuk membagi keseimbangan kekuatan.’
Selagi Zed menikmati perkelahian para bangsawan, Adipati Zerestia mengakhirinya dengan ucapannya yang menyadarkan semuanya.
“Berhentilah bertengkar. Kita sedang berada di hadapan Yang Mulia!
“Yang Mulia, aku tidak membutuhkan pengakuan atau penghargaan. Aku menerima fakta bahwa aku pernah kalah darinya, meski hanya sekali. Akan tetapi, aku mohon kepada Anda, tolong, jangan halangi aku dari membalaskan dendamku, dan dendam mereka yang mendahuli, kepada Raja Iblis terkutuk tersebut!”
Dengan ucapannya tersebut, pertengkaran antar bangsawan mereda. Meski faksinya agak tidak setuju dengan keputusannya, mereka tetap menerimanya.
...*****...
13 Mei 1163 Zaenium.
Pagi hari.
Hazura kembali dari Istana Kerajaan Zamara ke Dungeon Utama bersama dengan beberapa bawahannya. Mereka telah menyelesaikan tugas mengirim pesan kepada Kerajaan Zamara yang diberikan oleh tuan mereka. Meskipun belum tidur seharian ini, dia dapat menahannya dengan kekuatan tubuh Iblisnya. Apalagi setelah dia mendapatkan kekuatan baru dari tuannya.
Saat dia kembali, di depan pintu masuk Dungeon Utama, dia melihat Medusa berdiri menunggu seseorang. Dia bertanya setelah sampai di hadapannya, “Ada apa?”
Medusa menjawab, “Yang Maha Agung memanggilmu. Beliau menunggu di ruangan pribadinya.”
__ADS_1
Tanpa berkata apa-apa lagi, Hazura hanya mengangguk dan dibalas dengan Medusa dengan berjalan memimpin di depannya. Tak berapa lama mereka berdua sudah sampai di depan kamar tuan mereka. Akan tetapi, tidak ada seekor monster pun yang berjaga di sana. Hanya sebuah lorong sempit yang sepi seperti biasanya.
Melihat kondisi yang demikian, Hazura berpikiran untuk merenoviasi Dungeon Utama secara keseluruhan dan menjadikannya Istana sekaligus Ibu Kota yang pantas dari Kemaharajaan Iblis yang baru saja berdiri itu.
Imajinasi dan bayangannya akan infrastruktur yang megah yang dia pikirkan harus terhenti ketika dia mendengar suara Tuannya mengizinkan mereka masuk. Di waktu mereka berdua memasuki ruangan tersebut, mereka berdua tidak bisa tidak terkejut melihat tumpukan berbagai macam buku di dalamnya. Tetapi, mereka berdua tidak memiliki niatan untuk menanyakannya secara langsung tanpa diberitahu dan/atau diizinkan, karena akan dianggap sebagai kepo dan keterlaluan.
Laciel menatap mereka berdua. Di sampingnya ada Hanafsah yang menyandarkan kepalanya pada bahunya dengan nyaman.
Tanpa berbasa-basi, Laciel langsung berujar, “Hazura, aku ingin kamu menemaniku pergi sebentar. Medusa, aku ingin kamu menjadi Kemaharajaan selagi aku pergi.”
Meski terlihat tidak bersiap-siap, mereka sebenarnya sudah siap untuk melakukan apa saja. Itu karena semua barang dibawa di dalam kantong dimensi, termasuk senjata dan buku-buku sihir.
Mereka bertiga–Laciel, Hanafsah, dan Hazura–terbang dengan sayap mereka. Laciel memimpin di depan. Tujuan mereka adalah Hutan Blackwood, tempat dia keluar dari laboratorium penyiksaan milik Zen dan waktu kepribadian gandanya mengambil alih kesadarannya.
Hutan Blackwood adalah tempat yang cocok untuk memastikan semuanya dari awal. Dan yang lebih penting lagi adalah ....
“Aku berniat untuk mengambil senjata pusakaku. Energinya dapat kurasakan dari sana. Sepertinya Zen menyimpannya di tempat yang sama dengan tempatku ditahan,” jelas Laciel di dalam perjalanan. Dia tahu kalau Hazura sangat ingin bertanya-tanya, meski enggan.
“Ngomong-ngomong, dari mana kamu mendapatkan senjata pusaka artifak Iblis itu? Dan, dari mana sebenarnya kamu berasal?” tanyanya kepada Hazura.
“Maafkan saya, Yang Maha Agung, tapi, saya tidak tahu pastinya. Sejak awal, saya memang sudah merasa kalau tombak ini adalah milikku dan sudah ada bersamaku,” jawab Hazura.
Meskipun jawabannya sama sekali tidak menjawab pertanyaan Laciel. Laciel pun tetap bingung dan tidak tahu tentang asal-usul Hazura dan kebenaran tentang pusaka artifak 7 Dosa Besar yang berada di tangannya.
“Sepertinya kamu memang sudah ditakdirkan untuk menjadi Dosa Besar Kemarahan, Wrath,” ucap Laciel.
Hanya itulah kesimpulannya saat ini. Meskipun dia masih meragukan tentang keberadaan Dewa di dunia ini.
...*****...
__ADS_1
...Jangan lupa like, komen, dan klik favorit, ya....
...Satu like dan komen kalian sangat berharga bagiku....