Sent To Isekai As Demon King

Sent To Isekai As Demon King
Eps 59: Pasukan Aliansi II


__ADS_3

6 Mei 1163 Zaenium.


Hutan Red Cliff bagian selatan, Kerajaan Servini, Kekaisaran Beastman Marhamzan.


Siang hari.


Laciel berteleportasi ke tempat ini bersama dengan Hazura dan Yagwar.


“Kalau tidak salah, ini adalah tempat kita bertemu pertama kalinya, ‘kan?” tanya Yagwar.


“Benar. Itu sudah 9 hari yang lalu. Tapi sejak saat itu, kita telah mengalami banyak hal,” jawab Laciel.


[Bab 44: Duel dan Rapat I]


Mereka pun terbang ke arah Kerajaan Servini, dengan Hazura menggendong Yagwar.


“Turun atau akan kami tembak!” ancam prajurit Rusa di benteng Ibu Kota.


“Jadi, inikah Ibu Kota Kerajaan Servini?” gumam Laciel.


Di hadapan mereka adalah sebuah kota besar berbentuk segi delapan yang dikelilingi oleh dua lapis tembok tinggi di pinggirannya. Dan di luarnya ada ribuan hektar pertanian dan ladang.


“Batu sekali,” ketus prajurit tersebut. “Tembak mereka!” perintahnya.


Belasan prajurit Rusa yang memegang busur segera menyiapkan panah lalu menembak ke arah mereka bertiga.


Klang! Klang! Klang!


Panah-panah itu melesat dengan cepat, tetapi terpental ketika sudah hampir mengenai Laciel dan yang lainnya. Ada selaput tipis yang memantulkannya, yaitu Absolute Barrier milik Laciel.


“Khafirium. Fear.”


Begitu mantranya selesai diucapkan, kebanyakan prajurit Rusa jatuh berlutut. Kaki-kaki mereka bergetar dan tidak mampu menopang berat tubuh mereka. Ada juga yang pingsan dan ada pula yang refleks berlari karena ketakutan.


Laciel terbang mendekati benteng, tetapi tidak sampai mendarat dan masih berada di atas. Mencoba untuk menunjukkan kekuatan dan wibawanya.


“Panggilkan pemimpin kalian,” perintahnya kepada prajurit-prajurit tersebut.


Banyak yang pergi dari benteng itu. Bahkan hampir semua, kecuali yang pingsan di tempat.


“Laciel, tolonglah untuk menahan diri, ya? Setidaknya, sebagai teman dari anaknya,” pinta Yagwar.


“Aku sudah tidak peduli lagi,” tegas Laciel. “Waktu kita tinggal sedikit, dan aku akan membasmi apa pun yang menghalangi. Kalau dia memang rekan, maka dia harus menunjukkannya secara langsung.”


Sekelompok prajurit Rusa datang ke benteng. Mereka mengenakan zirah logam dan membawa senjata seperti tombak dan panah, mengelilingi seseorang di tengah mereka. Servus Yang Agung.

__ADS_1


“Kamu! Kamu adalah Raja Iblis dari Timur, ‘kan?! Aku tidak peduli apa maumu. Pergi dari sini, aku rasakan akibatnya!” teriak Servus.


“Ini kah Servus Yang Agung? Ternyata dia hanyalah seorang pengecut yang berlindung di balik prajurit-prajuritnya.” Laciel memanas-manasinya.


“Kamu!”


“Jadi, kamu berniat untuk memihak kepada Kaisar? Jika begitu, aku akan menghabisimu di sini,” ujar Laciel.


“Kamu tidak tahu apa-apa! Dua anakku diculik mereka. Agar mereka selamat, tentu aku harus memihak mereka! Apa kamu bahkan tidak bisa berpikir dengan jernih?”


‘Bukankah justru dia yang terlihat tidak berpikir jernih?’ batin Laciel.


“Hazura, lindungi aku sebentar.”


“Baik, Yang Mulia.”


Laciel merapalkan mantra.


“Apa yang mau kamu lakukan? Semuanya, serang dia!” Servus memerintahkan pasukannya.


“Hiya!”


Prajurit Rusa menerjang ke arah mereka.


Hazura menangkis serangan tombak mereka dengan tombak miliknya yang diambil dari inventory. Tombaknya dapat dengan mudah menghancurkan senjata, perisai dan zirah musuh karena merupakan salah satu dari 7 Artefak dari Dunia Iblis.


Tidak ada satu pun prajurit yang dapat menerobos garis pertahanan Hazura. Sementara di belakang Laciel sudah menyelesaikan mantranya. Kini sebuah celah terbuka di langit. Dari sana keluar puluhan monster.


“Tower of Mana!” Laciel menggunakan mantra yang lain untuk membantunya. Energi sihirnya cepat habis hanya dengan satu mantra itu saja.


Pasukan Iblis Laciel segera membantu Hazura. Melihat sudah tidak ada kesempatan, Servus memilih untuk berbalik badan dan mengeluarkan jurus seribu langkah.


“Aku tidak akan membiarkanmu kabur,” ucap Laciel.


Laciel mulai merapalkan mantra sihir yang lain. Kini sebuah lingkaran sihir terbentuk di hadapannya. Lingkaran itu berwarna hitam dengan aura mengerikan yang terpancarkan keluar darinya. Bahkan efeknya lebih menyeramkan dibandingkan dengan Skill Fear sebelumnya.


Lingkaran sihir itu terbentuk sempurna lalu memunculkan sepuluh rantai dengan aura hitam dan mulai melilit tubuh Servus dan semua pasukannya. Setiap rantainya memiliki kegunaan yang berbeda-beda. Ada yang menyerap energi sihir, menahan kekuatan, menahan pergerakan, dan yang lainnya.


“Ugh! Aku menyerah!” teriak Servus dengan nada putus asa.


Namun, Laciel tidak memedulikannya.


“Laciel.” Yagwar memegang bahunya.


Dia sedikit tersentak.

__ADS_1


“Sudah cukup,” ucap Yagwar.


Laciel pun berhenti. Menurunkan tangannya. Lingkaran sihir di depannya pun ikut menghilang. Tersisa mantra Portal dan Tower of Mana yang masih aktif.


...*****...


6 Mei 1163 Zaenium.


Istana Raja, Ibu Kota Kerajaan Servini, Kekaisaran Beastman Marhamzan.


Malam hari.


Laciel duduk di singgasana raja. Ukuran singgasana itu sangat besar karena memang digunakan oleh Beastman Rusa yang lebih tinggi daripada Manusia biasa.


Di depannya berkumpul Dewan Kerajaan Servini, Yagwar, dan beberapa bawahannya sendiri. Yang berada di pihaknya duduk di kursi di pinggiran ruangan. Sedangkan Dewan Kerajaan Servini berdiri di tengah. Mirip seperti anak SMA yang dihukum di ruangan OSIS.


Laciel mengetukkan tongkat sihr hitamnya ke lantai. Dia jarang menggunakannya karena tanpa tongkat sihir pembantu saja kekuatan sihirnya sudah besar.


“Tuan-Tuan sekalian, aku ingin bertanya kepada kalian, satu kali saja.”


Ucapan menggantung Laciel meningkatkan ketegangan di ruangan takhta.


“Siapa yang ingin kalian ikuti?” tanyanya. “Kaisar Singa yang menyandera Raja dan Pangeran kalian? Atau, Raja Iblis yang berada di pihak Raja kalian?” jelasnya.


Semua anggota dewan merasa gugup. Mereka berkeringat dingin. Membasahi pakaian lembut mereka.


Seharusnya mudah saja mereka menjawab pertanyaan Laciel tersebut. Tetapi, sebagian besar dari mereka lebih patuh kepada Servus dibandingkan Viksen. Ego mereka juga tinggi, setinggi tanduk mereka.


Tidak ada yang menjawab pertanyaan Laciel. Seorang pun.


“Masukkan mereka ke penjara,” titah Laciel.


Iblis bawahannya pun melaksanakan perintahnya. Mereka tetap tutup mulut.


Hanya ada seorang yang berkata, “Matilah kau, Iblis.”


Di luar, pasukan Iblis masih berdatangan bahkan hingga malam hari. Yang awalnya ingin melindungi, kini terlihat seperti sebuah invasi.


Semua pihak sudah saling mempersiapkan diri. Dan peperangan ini akan segera mencapai puncaknya.


...*****...


...Jangan lupa like, komen, dan klik favorit, ya....


...Satu like dan komen kalian sangat berharga bagiku....

__ADS_1


__ADS_2