Sent To Isekai As Demon King

Sent To Isekai As Demon King
S2 Eps 2: Peperangan Agung II


__ADS_3

Abad pertama dalam kalender Zaenium, atau sekitar abad keseribu menurut kalender Iblis. Sekitar 1100 tahun yang lalu.


Ibu Kota Deressia, Kekaisaran Agung Zaenia.


Zen dan Ivy berteleportasi ke atas kota itu. Mereka berdua melayang dengan sihir Fly. Memperhatikan kota bundar yang tertata rapih, yang tengahnya terpisahkan oleh sebuah sungai yang mengalir ke teluk besar atau lautan kecil Mase.


Di dekat kota, tepatnya di telut itu, berjejer rapih ratusan kapal laut yang siap berlayar kapan saja diperintahkan. Zen dan Ivy mendekat ke arah pelabuhan yang terlihat sibuk. Di sana, mereka berdua disambut oleh salah seorang Panglima Angkatan Laut Kekaisaran Agung Zaenia, Hira Hamriad.


“Yang Mulia Kaisar!” Hira bertekuk lutut. “Selamat datang kembali. Apakah terjadi sesuatu di medan perang?”


“Tidak. Belum ada apa-apa yang terjadi. Bagaimana dengan para pasukan?” Zen berjalan menyusuri dermaga.


“Semuanya telah siap sedia, Yang Mulia. Kapan saja Anda perintahkan, kami akan berangkat saat itu juga. Ngomong-ngomong, Anda yakin akan membawa semua sepuluh balon udara yang baru saja dibuat? Kukira kita baru saja melakukan uji coba satu kali.”


“Satu kali tanpa kegagalan sudah cukup. Aku sangat membutuhkan bantuan pasukan dari sepuluh balon udara tersebut untuk penyerangan dadakan ini,” jawab Zen.


Setelah beberapa saat berjalan, mereka sampai ke pangkalan balon udara. Terdapat berbagai teknisi yang masih bekerja untuk memastikan keamanan semua balon udara. Terlihat juga beberapa orang yang memakai pakaian kulit. Mereka adalah pasukan yang akan mengendarai balon udara ini. Dua orang untuk masing-masing balon udara.


“Ah, Yang Mulia!” Salah satu gadis dari mereka mendekat ke Zen. “Bagaimana keadaan di garis depan?”


“Belum ada masalah. Belum ada musuh yang terlihat satu pun,” jawab Zen. “Melihatmu masih energik seperti biasanya, sepertinya tidak akan ada masalah nantinya. Pulanglah dengan selamat.”


“Tentu saja,” balas gadis itu.


Ting!


Sebuah peringatan masuk ke dalam notifikasi sistem. Itu muncul sebagai sebuah jendela biru transparan di depan mukanya dan hanya dapat dilihat oleh dirinya sendiri, tidak oleh orang lain.


[Peringatan! Terdeteksi 7 musuh mendekati Obelisk dengan kecepatan tinggi.]


Tak lama, notifikasi lainnya muncul lagi.


[Peringatan! Terdeteksi 107 musuh mendekati Obelisk dengan kecepatan tinggi.]


[Peringatan! Terdeteksi 257 musuh mendekati Obelisk dengan kecepatan tinggi.]


Dan jumlahnya hanya meningkat seiring berjalannya waktu.


‘Mereka sudah mulai bergerak. Cepat juga,’ pikir Zen.


“Musuh sudah mendekat. Aku dan Ivy akan kembali ke garis depan.” Zen membelai rambut gadis di depannya. “Hira, siapkan pasukan dan gerbang teleportasi. Segera mulai rencana Dobrak Rumah!”


“Baik, Yang Mulia.”

__ADS_1


Segera setelahnya, armada empat ratus kapal berlayar menuju sebuah lingkaran sihir berwarna ungu yang menyerap air dan benda apa pun di sekitarnya. Sedangkan, Zen dan Ivy sudah kembali lebih dulu. Mempersiapkan


pasukan untuk berperang di saat mereka sudah siap untuk tidur.


Namun, tidak ada yang merasa kesal karena jadwal tidur mereka terganggu. Justru mereka merasa tidak akan bisa tidur dengan andrenalin yang mengalir deras ini.


Sisa waktu yang dimilikinya, Zen menggunakannya untuk mempersiapkan lingkaran sihir.


...*****...


Pasukan Iblis.


Sore menjelang malam.


Laciel terbang dengan sayap berbulu hitam bersama sisa 7 Dosa Besar. Mereka adalah 7 Panglima Iblis sekaligus 7 Iblis dengan kekuasaan dan kekuatan tertinggi. Selain dia, ada ayahnya, ibunya, dan kakaknya. Sisanya adalah Iblis bawahan ayahnya yang setia sehidup semati.


Dipimpin oleh Laciel adalah sebuah pasukan elit dari Kemaharajaan Iblis. Jumlah mereka adalah 500 Iblis Tingkat Tinggi, dan beberapa puluh Iblis Tingkat Atas.


Setelah merasakan sesuatu, Laciel berhenti. Seluruh pasukan pun ikut berhenti.


“Sekitar 10 kilometer, ada pasukan Manusia di depan,” ujar Laciel.


Dia lalu menoleh. Melihat apa reaksi ayahnya. Tetapi tidak ada ekspresi apa pun. Seolah dia sudah lepas tangan atas apa yang akan terjadi ke depannya.


“Kamu akan mati kalau lengah,” ucap ayahnya.


BUUM!!!


Sebuah ledakan menghempaskan mereka bertujuh. Salah seorang 7 Dosa Besar sudah berusaha membuat penghalang sihir sebelum kejadian. Namun, dia masih kalah cepat.


“Uhuk! Anda tidak apa-apa, Tuan Muda?” tanya Iblis itu.


Dia adalah seorang Dragon dalam bentuk Manusia. Panglima Satan, Sang Kemarahan.


“Manusia itu! Betapa rendahannya mereka. Menyerang di saat musuh belum siap!”


Aura membunuhnya menguar dahsyat.


“Hentikan, Satan!” Maharaja berteriak. “Itu adalah kelalaian seorang Pemimpin karena membiarkan musuhnya menyerang terlebih dahulu.”


Luka-luka di tubuh mereka segera sembuh, termasuk Laciel. Merupakan sebuah penghinaan jika serangan tadi dapat melukai mereka, apalagi bila sampai terbunuh.


“Yo, para Iblis. Ternyata serangan tadi memang kurang, ya?”

__ADS_1


Sebuah suara asing menyapa mereka.


“Kamu adalah .....”


“Perkenalkan. Aku adalah Kaisar Agung Zen Alexander vi Zaenia. Aku adalah Malaikat maut kalian.”


Zen datang seorang diri dengan sihir Teleportasi dan Fly. Jubah putihnya melambai ke sana kemari dimainkan oleh angin yang berhembus kencang.


“Mau menemaniku bermain-main sebentar?”


...*****...


BUM! BUM! BUM!


Tiga bola api biru meledak berturut-turut di tempat Zen berada. Namun, setelah asapnya menghilang, apa yang ada di baliknya adalah Zen dalam kondisi tak terluka, bahkan tersentuh, sedikit pun.


BUM! DUAAARR!!


7 Panglima Dosa Besar yang lain juga ikut menyerang setelah melihat Zen yang tidak kenapa-kenapa. Tetapi tetap tidak ada hasil. Barier sihir miliknya tidak tertembus.


“Kau ingin bermain-main dengan kami? Kenapa tidak kau lepaskan penghalang syalan itu, Bang Sate!” teriak salah dari tujuh Panglima Iblis.


“O, ya? Kukira kalian bisa lebih kuat lagi daripada ini. Aku hampir tertidur menunggu serangan lamban dan lemah kalian,” balas Zen. Dia lalu menatap sekitar. Mulai memperhatikan musuh-musuhnya.


Tak berapa lama, tatapannya jatuh kepada salah satu Iblis yang memiliki perawakan seperti Maharaja versi muda.


“Sepertinya perlu waktu lama bagi kalian untuk menghancurkan penghalangku. Kalau begitu, kenapa kalian tidak memperkenalkan diri terlebih dahulu? Mungkin waktunya akan cukup untuk menceritakan seluruh kisah kehidupan kalian masing-masing,” ejek Zen.


“Ha ha! Sangat lucu sekali.” Laciel membalas dengan tawa sinis. “Kamu masih memiliki waktu untuk berbasa-basi di tengah medan perang?”


Laciel menyiapkan sihirnya.


“Kakanda Lucy, bisa kamu alihkan perhatiannya sebentar?” ucapnya kepada kakaknya.


“Baiklah,” jawab Lucy, kakaknya. “Satan, Livy, ikut denganku.”


“Baik, Nona Muda!” respon mereka berdua bersamaan.


Sesaat kemudian, mereka bertiga melesat ke arah Zen yang diam di dalam penghalang sihir miliknya.


“Matilah kau!”


...*****...

__ADS_1


...Jangan lupa like, komen, dan klik favorit, ya....


...Satu like dan komen kalian sangat berharga bagiku....


__ADS_2