Sent To Isekai As Demon King

Sent To Isekai As Demon King
Eps 21: March Harbisium


__ADS_3

Laciel dan kawan-kawan segera pergi dari desa saat pagi hari. Tentu saja, setelah mereka berpamitan dengan Kepala Desa dan seluruh warga desa. Tujuan mereka sekarang sudah ditentukan. Ibukota March Harbisium, Kota Galdazar.


Marquis Harbisium adalah satu-satunya Marquis yang langsung berada di bawah perintah Raja, sama seperti dua Duke yang masing-masing berada di utara dan selatan. Dan juga, luas wilayahnya bahkan hampir seluas dua pertiga wilayah Duke. Selain itu, karena militernya yang kuat, keamanan daerahnya juga terjaga dengan sangat baik.


Dari sisi geografis dan geopolitik, kondisi wilayah miliknya relatif lebih aman dibandingkan Duchy Zerestia di utara. Duchy Zerestia berhadapan dengan Kekaisaran secara langsung di sisi barat dan utara. Belum lagi Hutan Redwood di selatan, dan Hutan Blackwood di timur. Itu sudah membuatnya harus dalam kondisi siap siaga setiap saat dari serangan segala sisi.


Sedangkan March Harbisium hanya berhadapan langsung dengan Kekaisaran di barat, dan Hutan Redwood di timur laut. Dan sebagai gantinya, itu juga memberinya keuntungan dari segi ekonomi. Daerahnya yang lumayan strategis menghubungkan jalur sutra dari dan ke Royal Capital di barat, Duchy Zerestia di utara, Duchy Canaria di selatan, Kekaisaran Zaenia di barat, serta Kekaisaran Beastman dan Kekaisaran Teokrasi di barat daya.


Meski masih sering berperang dengan Kekaisaran Zaenia, mereka tetap berdagang satu sama lain.


Sama seperti di County Blackwood, sebelum memasuki kota, mereka diperiksa satu per satu. Ini dilakukan karena lumayan penting untuk mengetahui mata-mata yang mungkin saja menyusup ke dalam. Selain itu, ini juga untuk mengeliminasi buronan yang kabur atau bandit yang suka berbuat onar dan menjarah barang dagangan.


Agar tidak menarik perhatian, Laciel menyuruh Nameer untuk mengubah bentuk tubuhnya menjadi seekor kucing. Meski mungkin kabar tentangnya sudah tersebar, dia tetap tidak ingin dikerumuni banyak orang seperti saat dia pulang waktu itu.


“Selanjutnya.” Ucap salah seorang Ksatria yang memeriksa.


Sekarang adalah giliran kelompok yang dipimpin Laciel. Mereka menyerahkan kartu Petualang mereka dan diperiksa dengan teliti.


Kartu itu tentu saja tidak sesederhana seperti kelihatannya. Di dalamnya dimasukkan sihir yang fungsinya untuk identifikasi, mirip seperti barkode di kemasan barang. Dengan sebuah alat berbentuk plat datar, Ksatria yang memeriksa dapat mengetahui apakah kartu itu asli atau palsu, dan apakah dimanipulasi atau tidak.


“Silakan masuk.” Ujar Ksatria itu setelah memeriksa lalu mengembalikan kartu.


Ini adalah Kota Galdazar, ibukota dari March Harbisium. Benteng yang mengelilingi kota ini lebih besar dibandingkan benteng di County Blackwood. Luas kotanya juga tentu lebih luas. Bangunannya besar-besar dan ditata rapih sedemikian rupa. Tidak terlihat ada pemukiman kumuh dari sini.


“Kita langsung pergi ke Gedung Serikat Petualang?” tanya Hana.


“Iya. Kita akan melapor sekaligus menjual hasil perburuan kita.” Jawab Laciel.


...*****...


Mansion Keluarga Marquis Harbisium, Kota Galdazar, March Harbisium, Kerajaan Zamara.


Marquis Harbisium saat ini, Falimus de Harbisium, sedang duduk di belakang meja kerjanya. Beberapa bawahannya yang berjumlah 4 orang, dan duduk di masing-masing samping kanan dan kirinya, membantunya dalam mengurusi dan mengatasi permasalahan yang luas wilayahnya cukup lumayan besar.


Marquis Falimus de Harbisium sendiri adalah seseorang yang sangat ambisius dalam masalah yang berkaitan dengan peperangan dan invasi wilayah. Otot-ototnya terlihat menonjol di balik pakaian ala Bangsawan miliknya. Tetapi, setiap orang memiliki kelemahannya tersendiri. Di hadapan surat-surat, khususnya laporan yang terkait dengan permasalahan wilayahnya, dia tidak mampu bertahan lama.


“Hah, kapan aku bisa pergi dari kumpulan kertas-kertas ini?” gumamnya mengeluh.


“Sayangnya, akibat invansi dari Kekaisaran beberapa bulan lalu, permasalahan yang muncul masih lumayan banyak, Tuan.”

__ADS_1


Yang berkata demikian adalah Count Dafin de Emynia. Dia adalah bawahan Marquis langsung, dan memiliki tugas untuk mengatasi permasalahan wilayah khususnya bagian pertahanan kota. Meski demikian, dia mendapatkan tugas lebih karena Marquis kurang ahli dalam hal mengurus wilayah.


“Benar. Kekaisaran si*l*n itu! Ah, benar, aku hampir lupa. Kapan kita bisa melakukan penyisiran tahunan ke Hutan Redwood? Jika begini terus, bisa-bisa keamanan warga desa tidak terjaga.” Ucap Falimus sembari menyingkirkan, maksudnya merapihkan, surat-surat itu dari atas mejanya.


“Meski Anda berkata demikian, yang Anda inginkan hanyalah kebebasan dari surat-surat itu dan melepaskan stres Anda dengan menebas, bukan?” Count Dafin juga membereskan pekerjaannya. Sebagian karena dia sudah menyelesaikannya, sebagian kecil lainnya karena sekarang adalah waktunya istirahat.


“Hehe, seperti yang diharapkan dari teman masa kecilku. Kamu bahkan lebih mengenal diriku dengan baik dibanding istriku.” Timpal Marquis.


"Jika Nona Emely mendengar ini, Nona mungkin akan marah, Tuan."


Emely adalah nama istri Marquis.


"Hahaha!"


Saat itu, ada seseorang yang datang dan mengetuk. Itu adalah seorang Ksatria yang membawakan laporan.


“Ada apa lagi sekarang?”


“Tuan, saya membawa berita baik, dan berita buruk.” Ujar Ksatria tersebut.


“Urutkan saja sesuai waktu kejadian.” Balas Marquis.


“Hampir diserang? Apa maksudmu?” Marquis Falimus terlihat penasaran.


“Itu adalah berita baiknya, Tuan. Sekelompok Petualang berhasil mengevakusai warga, membunuh beberapa Gnoll, mengusir mereka, dan menyelematkan desa. Sepertinya, mereka akan menuju ke sini dalam beberapa hari ke depan.” Jelas Ksatria itu.


“Oh, ya? Apakah itu adalah Kelompok Petualang Peringkat A? Atau Peringkat B?”


“Tidak, bukan sama sekali. Salah seorang anggotanya adalah Petualang Peringkat C, satu lagi Peringkat D, yang terakhir adalah Peringkat E. Tapi, dari kabar yang saya dapat, salah satu anggotanya merupakan seseorang yang mampu menundukkan Blade Tiger.”


“B– Blade Tiger? Apakah itu benar?”


Beberapa Bangsawan yang lain terkejut mendengarnya.


“Benar. Berita itu sudah tersebar dan sangat terkenal di County Blackwood.”


“County Blackwood? Jadi, dia ke sini lewat Hutan Redwood?” tanya Marquis sangat tertarik dan hampir tidak percaya.


“Apa? Lewat Hutan Redwood?”

__ADS_1


“Apakah itu mungkin?”


Yang lain berkata tidak percaya.


“Informasi yang saya dapatkan masih kurang. Tapi, se– sepertinya, memang benar begitu.”


...*****...


“Hatchim!”


Laciel bersin lalu mengusap hidungnya.


“Apakah kamu sakit?” tanya Hana.


“Ti– tidak. Sepertinya ada yang sedang membicarakanku.” Jawab Laciel. “Lagipula, seharusnya aku memiliki ketahanan yang lumayan tinggi terhadap penyakit serta perubahan suhu.”


“Hatchi!”


“Hatchi!”


Nadja dan Hana juga bersin setelahnya.


“Sepertinya yang dibicarakan bukan hanya aku, heh? Tetapi, di sini sepertinya memang dingin.” Ujar Laciel.


Mereka kini sedang berada di sebuah hutan di bukit yang berada di utara kota. Langit sudah gelap tanda malam. Tetapi mereka tetap mencari sesuatu. sesuatu yang hanya muncul di malam hari.


Semua bermula di sore itu. Setelah mereka menyelesaikan laporan dan penjualan material monster, Nadja memutuskan untuk pergi ke sana.


“Kamu adalah Iblis, juga Raja Iblis, jadi seharusnya mampu memanggil Iblis lain.” Kata Nadja di dalam kamar mereka.


Untuk menghindari orang yang diam-diam atau tidak sengaja mendengar, Hana merapalkan mantra barier penghalang suara.


“Di sana pasti ada ‘itu’. Kita akan mencarinya di malam hari.”


Lalu setelahnya, mereka pergi ke hutan itu untuk mencari ‘itu’.


...*****...


...Jangan lupa like, komen, dan klik favorit, ya....

__ADS_1


__ADS_2